Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 89


__ADS_3

This that pink venom, this that pink venom


Thats that pink venom


Straight to ya dome like.....


Sayup-sayup pekikan lagu itu terdengar dari balik pintu ruang rawat inap pasien, Dira saking tak percaya, ia berulang melihat nomor kamar dan melirik nama si pasien, dan melirik lagi tapi tetap tidak berubah nomor itu.


“What, bener-bener deh yang punya kamar.” Dira berdecak lalu menarik handel pintu dan menampakkan pemandangan luar biasaaahh.


“Dome?!” ia tertegun saat melihat bocah dalam masa pubertas itu memegang microphone dengan layar tv penuh personil black pink yang tengah menyanyikan salah satu lagu mereka, Venom.


“Hai baby, kemari.” Ia memanggil Dira berikut lambaian tangannya agar gadis pujaannya mendekat sembari ia tetap bertahan pada posisi nyamannya.


Dira nyaris menjatuhkan rahangnya pada tingkah absurd bocah yang doyan menggambar kelamin dan juga berkelahi itu, seorang penganut girlband asal negeri gingseng sana rupanya.


“Kau bisa lagu blackpink?” saat lagu habis, ia bertanya pada Dira perihal itu.


“Sedikit.” Jawab Dira meringis, namun justru direspon Dome sumringah, ia memberi microphone pada Dira dan menekan tombol kontrol lagu kembali hingga barisan 4 anggota blackpink muncul kembali di layar.


“Ya Tuhan, ini bocah.” Dira menggeleng tak percaya, bagaimana bisa pemuda di sebelahnya ini tampak tak peduli dan tidak gengsi akan kecintaannya pada dunia girlband.


Hingga 30 menit berlalu, Dira sudah jengah menghadapi tingkah Dome yang jika tidak dihentikan maka bisa sampai larut malam duet bernyanyi ini akan dilakukan.


Tut!


Layar televisi besar ukuran 48 inch itu berubah gelap


“Yaaah kenapa dimatikan, baby.” Suara desah keluhan dari Dome pun mengiringi setelahnya.


“Kau ini, apa-apaan sih Dome, kau itu pasien, malah buat ruangan jadi mirip tempat karaoke. Dan gilanya lagi aku meladeni pula.” Ujar Dira mengingatkan sekaligus ingin menggetok kepalanya yang ikut dalam kegilaan pasiennya ini.


Dira yakin betul jika kamar Dome sudah diubah bocah itu sendiri. Lihat saja sudah ada playstasion (PS) 5 di atas buffet yang entah kapan benda besar itu berdiri di sana, lalu televisi besar itu masih cling sekali penampilannya, lalu di sudut sana ada mesin kopi dan di sudut lainnya ada poster besar terpampang pemain sepakbola yang terbaca Balloteli di sana.

__ADS_1


“Siapa yang kasih izin ngubah kamar jadi beginian, huh?!” todong Dira pada Dome yang menjawab dengan cengiran tengilnya.


“Dome!” panggil Dira gemas


“Iya, iya, aku jawab dokter. Itu semua aku yang nyuruh. Udah ngajuin ke yang punya kok, ayahku yang minta ke dokter Ladh buat kasih izin aku. Lagian aku bosan dokter, kamar apaan ini kosong, sembuh tidak, gila bisa jadi.” Jawab Dome enteng, seakan tindakannya tidak salah sama sekali.


“Tapi tetap salah Dome, kau itu pasien, dan semuanya diperlakukan sama, kalau mau menonton televisi sudah ada ruang terbuka bersama pasien lainnya.” Ujar Dira tak setuju. Lagian bagaimana bisa ayahnya menyetujui begitu saja untuk pasien mengubah kamar sendiri. Nanti akan Dira tanya sendiri pada ayahnya setelah ini.


“Aihh jangan begitulah, nonton bersama pasien lain itu tak asik, semuanya orang tua yang menonton sinetron atau tentang dunia tua semua, aku ini generasi energik dokter, tidak cocok dengan semua itu.” Elak Dome tak juga setuju saran Dira.


“Tapi itu salah satu metode untuk sosialiasi pasien, Dome, semua diperlakukan sama.” Balas Dira menatap Dome tajam


“Tidak mau, aku maunya seperti ini, bebas bersama para gadis-gadis idolaku itu.” Tunjuknya pada televisi yang sudah mati daritadi.


Tuk!


Dira mengetuk dahi Dome menggukana buku jarinya hingga terdengar suara dari sana, dan berikutnya ringisan dari Dome


“Kau tega sekali baby, sakit.” Keluh Dome memegang dahinya yang habis dijitak Dira dengan santai.


“Dokter Dira!!!!” setelah berhasil menutup pintu, Dira mendengar teriakan Dome yang terjangkau dari luar pintu. Ia terkekeh lalu matanya menatap benda yang berada di dalam genggamannya.


“Makanya jangan nakal kau bocah.” Seru Dira membawa kabur remote tv Dome dan melenggang menjauh, menuju ruangan pasien atas nama Rahayu.


Ceklek


Pelan, Dira membuka pintu dan mengintip sedikit ke dalam ruangan pasien yang dimaksud. Tenang. Brangkar kosong, mana pasiennya?


Ia melirik lebih dalam, dan akhirnya bernafas lega saat melihat pasiennya berdiri menatap luar jendela. Dira memutuskan masuk, perlahan melangkah menuju pasien.


“Selamat siang, nenek.” Sapa Dira mendekat, menarik perhatian pasien yang langsung menoleh keasal suara.


“Iya nak.” Sahut pasien dengan senyum senjanya yang begitu teduh bagi Dira.

__ADS_1


Kini Dira sudah berdiri tepat di sebelah pasien, ikut menatap pemandangan di luar yang hanya berisi tumpukan tanaman hijau berikut bunga bermekaran. Sejuk sekali mata rasanya.


“Nenek apa kabarnya?” tanya Dira menoleh pada pasien yang menatap kosong luar.


“Baik, sudah jauh lebih baik dokter.” Jawabnya, tapi tertangkap ada sedikit nada yang berat di sana hingga refleks Dira merangkul pundak si pasien karena tahu akan terjadi apa setelah ini.


Hiks hiks


Isakan yang keluar dari pasien semakin merekatkan rangkulan Dira, memberikan kekuatan pada pasien yang mau mengekspresikan kesedihannya.


Diketahui tragedi yang menimpa puterinya membuat pasien sibuk menyalahkan dirinya sampai mampu menghadirkan sosok halusinasi puterinya yang selalu terbaring di dekatnya. Hal itu, mengesampingkan emosi yang harusnya dikeluarkan pasien. Karena semakin menumpuk gejolak emosi di dalam sana, sama saja dengan menyakiti dan memupuk rasa depresi semakin dalam.


“Nanda pasti bahagia di sana, nek. Nenek hanya perlu mengikhlaskan agar Nanda bisa pergi dengan tenang.”ujar Dira menguatkan. Memberi pencerahan pada pasien di sebelahnya ini.


“Iya dokter. Sa-saya akan berusaha mengikhlaskan puteri saya.” Jawab pasien tergugu dalam tangisnya.


“Nanda,,, pergilah dengan tenang sayang.” Lirih ucapan pasien yang membuat suasana mengharu biru hingga Dira pun larut bersama bulir bening mengalir di wajahnya.


.


.


.


“Sialan! Bereskan mereka.” Dari dalam mobil, Alexio kepalang kesal, karena langkahnya yang baru saja hendak mencapai bandara harus terhalangi saat ia diberi tahu ada mata-mata ayahnya yang mengikuti.


Ia tak mau rencananya bertemu sang kakek dikacaukan ayahnya. Bisma tak tahu perbuatan pria yang dipanggil daddy itu. Mengakibatkan puterinya harus meregang nyawa dan sakit sendirian di usia yang bahkan masih sangat belia itu.


Dan Alexio akan menghukum perbuatan Suprapto itu dengan caranya, entah akan dicabikkah, dibuang ke hutan, di balas serupa, atau dibangkrutkan usahanya, yang pasti balasannya harus sama menyakitkannya dengan yang dirasakan oleh kembarannya, Alexia.


Decit suara mobil berhenti adalah awal dari Alexio yang akhirnya turut menghentikan aksi pengawalan ayahnya yang selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi.


“Kau, jika masih ingin hidup, diam, dan masuk ke dalam mobil.” Ia menunjuk kasar wajah pengawal ayahnya, lalu menoleh pada Roy agar menyekap pengawal itu agar tidak melapor dan menghalangi rencananya.

__ADS_1


“Sekap dia, jika ketahuan melapor, kau bunuh saja dia.” titah Alexio kejam tak peduli dengan raut cemas si pengawal yang sudah lebam beberapa bagian wajahnya karena dipukul pengawal Alexio dan juga Alexio sendiri.


__ADS_2