
“Bertahan Jo, anak badung kayak kamu awas aja drama sok-sok-an mau melow ya, tak tabok luka ini ntar.” Dengus Dira melirik raut kesakitan dari wajah Jonathan.
“Beneran sakit, my darl.” Jawab Jonathan pelan, meringis.
“Heleh, luka kayak gini aja gak seberapa harusnya, anak laki juga.” Cibir Dira, mesti mulutnya kayak api kena samber bensin, tapi dalam hatinya berkecamuk rasa takut, cemas bahkan merasa bersalah karena Jonathan menjadi tameng pisau om-om preman ababil itu.
“Mau tidur, ngantuk.” Ucap Jonathan.
“Eihh ntar, awas matamu merem ya, aku lempar keluar loh.” Ujar Dira mengancam.
“Lempar aja kalo berani.” Kekeh Jonathan menutup matanya.
“Matanya jangan merem.” Ucap Dira mendelik, kepala Jonathan kini berada dalam pangkuan Dira, merebahkan tubuhnya yang sembari menekan luka di perut.
“Darl, jadi pacar aku lagi ya.” tiba-tiba Jonathan mengucapkan kata yang membuat Dira membeliakkan mata bulatnya.
“Jangan ngadi-ngadi.” Sahut Dira merasa konyol.
“Hayolah, kalo gue mati minimal mati sebagai pacar kamu, Darl.” Bujuk Jonathan tak patah arang.
“Jangan nganeh Jo, pacar aku itu Alexio, kamu tahu kan sebanteng apa itu cowok kalo tahu aku direbut sama kamu.” Timpal Dira memberikan penegasan.
“Aihh dia juga lagi sakit. Gak bakalan tahu kamu selingkuh sama aku.” Tak berhenti, terus saja menarik gas api itu.
“Kayaknya saraf kamu putus ya karena tikaman pisau abang ababil itu.” Cibir Dira
“Ck, pacaran belum ngapa-ngapain, eh udah putus. Nelangsa aku darl.” Sungut Jonathan masih memejamkan mata.
“Makanya move-on sana.” Sambar Dira memberi nasihat.
“Aku sukanya sama kamu gimana?” balas Jonathan bertahan. Karena baginya gadis yang menjadikan pahanya sebagai bantalan kepalanya ini tetap bertahtah dalam relung hatinya sejak kanak-kanak. Maka akan sulit membuang rasa itu begitu saja, ia akan bertahan bila perlu menikung pemuda yang menjadi rivalnya itu.
“Coba aja bukan Alexio rival ku, tentu mudah merebut kamu, darl.” Sambung Jonathan
“Kenapa sih sukanya sama cowok modelnya tripleks datar itu.” Lanjutnya
“Hati aku nyangkut ke tripleks itu masalahnya, Jojo.” Jawab Dira menggelengkan kepalanya.
“Ayolah selingkuh ma aku ya, aku bakalan tutup mulut deh.” Jonathan membuka matanya dan menatap lekat wajah Dira yang juga menatapnya.
“Jangan konyol eh, ini di mobil ada makhluk laen yang denger. Noh anak buah kamu sama anak buah Alexio.” ujar Dira gemas.
__ADS_1
“Dah tahu sakit bukannya diem, malah saraf gini.” Sambung Dira
“Ayolah darl. Kan kita mau ke Jepang bareng kan? Mau ambil jurusan apa?” tanya Jonathan
“Tokyo University deh kayaknya. Cuma lulus gak ya, secara otak aku kan masih SNI banget.” Keluh Dira yang berencana meneruskan pendidikannya ke universitas terbaik Jepang.
“Ambil apa? Bisniskah?” tanya Jonathan lagi namun Dira menggeleng.
“Paul udah ambil itu di sini, aku kayaknya ambil kedokteran aja ya.” ucap Dira pelan, merasa ragu dengan ucapannya barusan.
“Kedokteran? Yakin, mana kuat kamu.” Kekeh Jonathan tak yakin dengan pilihan gadisnya.
“Nehh, awas ya kalo aku lulus di sana, kasih aku saham kamu ya.” Dira menantang Jonathan
“Ok, kalo gagal kamu sama aku dan tinggalin itu tripleks, ya?” balas Jonathan menguji Dira.
Dira diam, bingung, jelas ia akan kalah kalo begini, jika ditukar dengan materi sih gak masalah, tapi kalo sama Alexio? berasa gimana gitu. Dapetnya susah masa harus jadi taruhan sih.
Menggigit bibir saking bingung
“Jangan gigit bibir gini, aku khilaf ntar tak sosor loh.” Jonathan menarik bibir bawah Dira yang digigit gadis itu. Jelas ia tergoda.
“Dihh.” Delik Dira menatap horor Jonathan
“Deal, setuju.” Dira menjawab yakin akan tantangan itu hingga Jonathan terkesiap akan tanggapan Dira.
Tersenyum miring, “Ok deal, my darl.” Sahut Jonathan
Ia akan berusaha dan berdoa agar Dira tidak masuk ke jurusan itu, aihhhh gedeg bener doamu bang Jo.
Tak lama obrolan ngalur ngidul itu harus terhenti ketika mobil sudah tiba di depan rumah sakit Ladh. Petugas medis sudah menunggu di depan karena Dira tadi menghubungi ayahnya untuk meminta hal itu.
Sigap meraih tubuh Jonathan, petugas medis membawa tubuh pemuda itu ke atas brangkar dan mendorongnya masuk.
Dira ikut berlari mengejar brangkar yang didorong cepat. Bajunya terkena noda darah dan tak ia pedulikan dulu.
“Dira?” Andi yang melihat Dira berlarian sontak memanggil hingga menghentikan langkah Dira.
“Eh aku ke sana dulu.” Ucapnya sebentar lalu berlarian lagi.,
“Siapa yang sakit?” tanya Barry penasaran.
__ADS_1
“Yok nyusul.” Barry menolak arah dan mengikuti Dira yang tentu saja menuju UGD untuk tindakan pertama.
Sampai di depan ruang UGD, brangkar masuk sementara Dira tertahan di depan pintu ruangan itu.
“Siapa yang sakit?” tanya Andi yang tiba bersama Barry
Dira menoleh, “Jonathan.” Sahutnya cemas
“Jonathan? Kena...” ucapan Andi terpotong manakala menangkap noda merah di baju kaus gadis itu.
Merasakan arah tatapan Andi, Dira meringis, “Jonathan tadi tertusuk pisau.” Jawab Dira
“Kok bisa?” Barry yang bertanya
“Tadi ketusuk anak buahnya sendiri,.” Jawab Dira semakin menambah gurat heran di wajah Andi dan Barry
“Ketusuk anak buah sendiri? Bagaimana bisa?” ujar Andi tak percaya
“Tadi kan aku ke markas kalian, eh pada berantem di sana. Ya udah aku ikut lah, eh pas mau nabok kepala om-om preman pasar, itu om-om malah mau nusuk pakek pisau, eh malah Jo yang ketusuk.” Jelas Dira panjang meleber.
Mendengar baku hantam dan itu di lokasi markas mereka, Andi dan Barry sama-sama terlonjak kaget.
“Baku hantam di markas?” ucap mereka berbarengan, dan diangguki oleh Dira.
“Gak tau apa masalahnya, yang pasti pas aku ke sana udah pada gelut mereka, dan lucunya geng Jonathan malah ada preman pasar yang ngikut jadi anggotanya, eiihh sebel aku.” Sungut Dira mengingat ada penyusup di luar usia remaja itu.
Timpang sekali rasanya. Apalagi wajahnya tak menarik sekali, coba tampan bolehlah buat hot om-om yang dilihat di tengah baku hantam itu. Nah itu, burik, bruntusan, kulitnya cenderung mendung, dan lagi, baunya itu aihhh gak banget.
“Nanti kami tanya lagi sama anak-anak di markas, kenapa bisa ada tawuran gini.” Ucap Andi menggelengkan kepalanya
“Kayaknya geng Jonathan itu cari masalah karena Alexio lagi gak ada, coba kalo ada Alexio, mana berani mereka. Cih.” Cibir Barry geram
Mendengar nama Alexio, menggetarkan hati gadis itu...
“Alexio, kalian dari sana tadi?” tanya Dira menatap Andi dan Barry bergantian
“Humm,” sahut keduanya
“Apa kabarnya?” tanya Dira gugup, rasa rindunya jelas membuncah saat ini. tapi terhalang oleh permintaan dokter Doni agar Alexio tidak mengalami episode lagi.
“Gak mau jenguk kah Dira? Dia rindu banget sama lo.”
__ADS_1
Rindu? Alexio pikir cuma dia yang rindu?