
“Sudah.” Begitu ucap Alexio saat dirinya selesai melakukan panggilan pada Xia.
“Huh?!” Dira tergagap saat konsentrasinya terpecah akibat otaknya yang sibuk berpikir dicampur iba dari hatinya.
“Kamu kenapa?” tanya Alexio heran dengan sikap Dira yang seperti orang linglung.
“Ahh gak, aku gak apa-apa.” Dira mengibaskan tangannya lalu berbalik meninggalkan Alexio, jangan sampai dirinya tertangkap memperhatikan percakapan tidak masuk akal tadi.
“Kamu gak masalah keluar masuk rumah ini walau Xia gak ada?” tanya Dira saat mereka sudah keluar dari gerbang rumah dengan motor Alexio.
“Gak. Kenapa memangnya.” Jawab Alexio enteng.
“Gak apa-apa.” Sahut Dira.
Setibanya di rumah Dira. Mereka duduk di teras depan, mengistirahatkan tubuh sejenak, karena rumah lagi kosong, Paul dan ayahnya belum balik, bik Nah tadi ada urusan katanya. Alhasil Dira hanya berani menerima pemuda itu di teras saja.
“Alexio.” Panggil Dira
“Ya. sahut Alexio yang masih menatap sekeliling halaman rumah yang berwarna karena banyak tanaman segar.
“Kamu kenal Xia itu sejak kapan?” Dira berniat memulai introgasinya.
Alexio menoleh pada Dira, “3 tahun yang lalu.” Sahut pemuda itu.
“3 tahun yang lalu? Gimana ceritanya?” Dira seolah antusias ingin tahu cerita itu.
Alexio tersenyum namun ada makna lain dari goresan itu.
“Waktu aku udah dibolehin nyetir lagi setelah sempat kecelakaan dan aku nabrak Xia waktu itu di jalan Lingga.” Jawab Alexio
“Kamu nabrak Xia? Pakek mobil?” tanya Dira terbelalak.
“Iya, tapi untungnya dia gak apa-apa.” Sahut Alexio terkekeh.
“Jadi sejak itu kalian akrab?” tanya Dira lagi
“Iya.” Jawab Alexio.
“Dan itu alasan kamu menggunakan nama Xia untuk geng motor itu?” ujar Dira bertanya lagi
“Ya, lucu ya?” kekeh Alexio saat sadar akan tingkah konyolnya.
“Gak kok, bagus namanya. Kayak nama kembaran kamu, Alexia.” Celetuk Dira
“Aku penasaran deh sama Xia, cantik banget pasti.” Lanjut Dira
“Banget. Kamu kalah malah.” Sahut Alexio tertawa membuat bibir Dira mengerucut.
“Aku ada potonya kalo mau lihat.” Alexio mengeluarkan ponselnya lagi dan mengotak atik layar benda itu.
Hingga...
“Nah.” Alexio mengulurkan ponselnya di atas meja dan mendorongnya kearah Dira.
“Itu, Xia.” Ujar Alexio yang sudah membuka gambar Xia.
“Xia?” Dira lagi-lagi tertegun ketika menatap gambar yang ditunjukkan Alexio.
Ini..... gambar tanpa wajah dengan warna tubuh biru, kuning, merah.
“Cantik, kan?” celetuk Alexio memuji siluet itu.
“Ah, i-iya, cantik banget.” Angguk Dira menyetujui.
__ADS_1
Ya Tuhan!!!!
.
.
.
Sepeninggal Alexio, kini Dira sudah berbaring menelungkup di atas ranjangnya.
Ada buku dan pulpen menyertainya.
Danau
Rumah lama
Markas (Labirin, kamar pintu kuning)
Kamar yang dominan diisi bentuk lingkaran
Warna kuning, merah, biru
Wajah Xia
Pertemuan Xia dan Alexio
Diary merah muda
Alexia
Melingkari tulisan Diary Merah Muda serta Alexia di coretan buku yang sudah ditulisnya tadi.
“Jadi muaranya adalah pada Alexia serta Diary Merah Muda itu.” Gumam Dira lirih
Ia berpikir keras saat ini. apa yang ia temukan dari tingkah aneh Alexio semuanya karena cerita diary merah muda itu. Jika Dira mengansumsikannya, dendam Alexio tersirat di sana.
Siapapun manusia yang pernah mendendam, tak akan sampai pada tahap delusi. Mereka hanya melampiaskan kekesalannya pada si pelaku, tidak dengan mendirikan dinding tinggi di sekelilingnya lalu menciptakan dunia sendiri di dalamnya.
“Aku udah baca semua artikel skizofrenia itu.” Ucap Dira teringat akan kerajinannya membaca artikel kesehatan dari mbok google.
“Pemicu skizofrenia itu karena trauma atau gangguan kecemasan tinggi akibat kejadian masa lalu orang yang bersangkutan.” Lanjutnya berasumsi.
“Kalo Cuma unsur dendam, harusnya gak sampe ngebronjolin Xia-lun itu.” Gumamnya lagi.
Di saat Dira sibuk berpikir... lain pula dengan Alexio saat ini.
Saat ia sudah sampai di apartemennya. Ponselnya kembali berdering.
“Hal.....” ucapnya terpotong, karena ekspresi wajahnya mendadak berubah pucat.
“Apa?” ucapnya membelalakan mata.
“Tunggu, tunggu di sana, jangan ke mana-mana, aku langsung ke sana.” Lanjutnya menekan titah.
Sepatu yang tadi sudah ia lepas kembali harus dipasang kembali pada dua kakinya. Berlari cepat menggapai handel pintu dan terus hingga mencapai motornya.
Menghidupkan motornya dan menggas full... “Tunggu aku Xia, tunggu.” Ucapnya mengencangkan genggaman tangannya pada dua stang motor.
Jalan Lingga...
“Xia!!!” Alexio menjatuhkan motornya sembarang saat ia sudah tiba di tempat yang disebut Xia tadi.
Dilihatnya Xia tengah merengkuh dua lututnya dengan tangan bersimbah darah.
__ADS_1
“Xia!!!, tenang, tenang, ada aku.” Alexio memeluk tubuh Xia yang bergetar dan air mata membasahi wajahnya.
“A-aku, aku menusuk laki-laki itu.” Xia menunjuk ke sudut yang sudah tergeletak tubuh di sana, ia enggan menoleh.
Alexio mengikuti arah tunjuk itu. Matanya memejam seketika.
“Tenang, ada aku, gak apa-apa, aku bakalan menghandel semua.” Ucap Alexio pelan dengan tetap mengelus kepala Xia untuk menenangkan.
Tubuh Xia masih bergetar dalam dekapannya.
“Ayo kita ke rumah sakit.” Alexio sudah membawa tubuh Xia dan menaikannya ke atas motor.
“Tapi, apakah aman ?” gumamnya memperkirakan, lalu segera menggeleng.
“Kita naik taksi, tunggu dulu ya.” Alexio kembali mendudukan tubuh Xia di pinggir jalan dan melakukan pesan taksi online melalui ponselnya.
Jalanan di sudut tempat mereka berada memang sepi, jarang dilewati orang-orang, bahkan cenderung remang-remang karena lampu jalan tak rata posisinya.
Menunggu agak lama, sampai 15 menit kemudian taksi yang dipesan akhirnya datang.
“Pak tolong buka pintu belakang.” Pinta Alexio karena ia membopong tubuh Xia dalam gendongannya sehingga ia kesulitan membuka.
Sang sopir hanya menggelengkan kepala, tapi melihat penampilan Alexio yang kacau, ia menurut dan menekan tombol kunci dan membantu membukakan pintu,
“Kemana mas?” tanya sopir saat Alexio sudah duduk di kursi penumpang belakang.
“Rumah sakit pak, buruan pak ya, ada yang luka soalnya.” Jawab Alexio panik, ditatapnya Xia yang meringis sakit dan mata terpejam.
Jawaban Alexio barusan memantik raut heran sopir, ia menatap Alexio dari pantulan kaca.
“Anak muda jaman sekarang pada aneh, mabok kayaknya.” Gumam si sopir menilai sikap Alexio yang aneh.
Karena Alexio meminta cepat dan urgent. Maka yang bisa dijangkau hanya rumah sakit kecil mirip klinik tepatnya.
Membayar biaya taksi, Alexio bergegas melesak masuk ke dalam rumah sakit.
“Al. Tunggu.” Saat Alexio sudah sampai di lobby rumah sakit, Xia menghentikannya.
“Kenapa?” TA nya Alexio bingung.
“Turunin dulu.” Pinta Xia memohon.
“Tapi Xia.” Alexio enggan
“Please.” Mohon Xia penuh harap.
Terpaksa Alexio menurunkan tubuh Xia dan mendudukannya di salah satu kursi penunggu dekat pintu lobby.
“Aku mau duduk dulu.” Ucap Xia pelan. Nafasnya tidak lagi memburu, tubuhnya pun tidak lagi gemetaran.
“Aku panggil perawat dulu buat bawa kamu ya, nanti kita langsung periksa.” Ucap Alexio yang diangguki oleh Xia.
Alexio berlari menuju meja pendaftaran yang ada 4 orang staf di sana.
“Sus, saya mau minta ranjang buat bawa temen saya yan g butuh penanganan segera. Saya dudukan di depan” Kata Alexio saat sudah tiba di meja pendaftaran.
Melihat kondisi Alexio, mereka mengangguk untuk segera membantu.
“Baiklah, ayo.” Sahut perawat pria yang segera menarik ranjang dorong sesuai pesanan Alexio.
Tak lama mereka datang...
“Mana dek?” tanya si perawat.
__ADS_1
“Lah mana tuh anak?” setibanya di tempat tadi, Alexio tak menemukan keberadaan Xia di sana, ia sesak seketika, dan tubuhnya ambruk saat itu juga.
Alhasil Alexio yang kini dibawa menggunakan ranjang itu, “Cepet tolongin, kayaknya adek ini abis berantem, darah semua ini.” perintah si perawat tadi pada rekannya yang ada di meja pendaftaran.