Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 111


__ADS_3

“Hiro, kau tahu jika puteramu memaksa puteriku menjadi kekasihnya?” Ladh saat ini menerima kunjungan Hiro Taoka yang habis menjenguk Dome.


“Entah. Itu urusannya, Ladh, kenapa memangnya.?” Hiro malah bertanya balik, ia dengan santainya menyikapi itu biasa saja.


“Wahh kau tidak merasa aneh sama sekali, mereka berbeda usia, Hiro.” Ladh mendesah frustasi atas tanggapan Hiro yang tidak mempermasalahkan sama sekali.


“Hei, usia itu hanya angka, Ladh, kau bukan hidup di era kolot.” Seru Hiro menggelengkan kepalanya, sebagai seorang dokter sukses yang memiliki pemikiran maju, Ladh tentu tidak menjadikan batasan itu sebagai masalah.


“Ini Indonesia, bukan negara luar sana.” Sembur Ladh sebal.


“Halah, biarkan saja. Yang menjalankan mereka, bukan kita. Jadi jangan pedulikan tanggapan liar orang-orang, Ladh.” Ujar Hiro memberi nasihat.


“Aku tidak setuju, sembarangan saja. Seolah puteriku tidak laku saja. Itu pun beralasan, karena untuk kebutuhan pengobatan puteramu saja, Dira menerima itu.” Kecam Ladh serius.


Sebagai seorang ayah, ia mempertimbangkan kebaikan masa depan puterinya, apalagi latar belakang keluarga Dome yang mencengangkan itu, diapit dua mafia besar sekaligus, tentu akan mengancam kehidupan puterinya kelak.


“Ck, maka dari itu biarkan saja. Itu negosiasi keduanya.” Sekali lagi, Hiro menanggapi dengan santai.


Dan yang sedang dibicarakan kan pun saat ini sudah mengenakan pakaian kasual kembali, tujuannya adalah kampus, ia ada kuliah siang hari ini. siulan yang keluar dari bibir pemuda itu menguar memenuhi telinga yang berpapasan dengannya.


Seperti biasa, akan banyak yang mencuri pandang pada sosok itu, pasien imut, menarik, tampan, cool, ramah, mempesona dan juga kaya raya. Siapapun akan terhipnotis melihat visual arogan seorang Dome.


Hanya saja, bocah itu terlalu gila dengan sosok calon dokter rumah sakit ini, padahal usia berbeda jauh, namun tetap saja tak patah arang, mengikuti kemanapun gadis itu pergi.


“Hai Dome, mau berkuliah?” sapa seorang perawat saat Dome melalui meja tunggu perawat.


“Iya, bye.” Ucapnya melambaikan tangan.


“Beruntung sekali anak dokter Ladh itu. Diobsesikan oleh anak konglomerat yang tampan, aku sih mau aja sampe diajak nikahpun ayo.” Ujar perawat yang masih menatap kepergian Dome sampai menghilang di balik pembatas tembok


“Aku juga mau lah. Tapi nona Dira bisa apa, padahal banyak yang menyukainya, bahkan pasien dulu yang dirawat dokter Doni pun menyukainya, kan?” ujar si perawat satu lagi mengingat Alexio.


“Iya, itu juga, anak dari Bisma Suprapto kan? Nona Dira memang seberuntung itu.” Mereka bergosip akhirnya, namun hanya pujian yang keluar, bukan kalimat buruk seperti para juliders pada umumnya.


Brummmm


Motor besar milik Dome sudah meninggalkan pelataran parkir, harley davidson keluaran terbaru yang beberapa jam lalu dibelinya tunai itu sudah berhasil ditungganginya.


Ia hanya perlu menekan panggilan dan apapun yang dimintanya akan tersedia cepat di depan matanya.

__ADS_1


Amazing!! Nak orang kayak!


“Aku akan membawa pacarku menaiki motor baru ini. yuhuuu!” ucapnya yang tak sabar menggapai kampus tempat dirinya akan bertemu Dira, sang kekasih yang tidak pernah membiarkannya melakukan hal romantis.


35 menit kemudian, kuda besi itu sampai di parkiran kampus, tapi baru saja tiba ia sudah dicegat oleh seseorang yang dikenalnya.


“Mau apa kau?” tanya Dome memicingkan matanya, ia melepas helm yang melindungi kepalanya, menggerakan rambut bagian depan lalu menggunakan tangan merapikan rambutnya yang acak-acakkan.


“Kau, putuskan Dira.” Titah Alexio, yang tengah menghadang Dome dengan motor besar pula. Sepertinya Alexio baru saja sampai sebelum Dome.


Dome mengerucutkan bibirnya lalu tertawa setelah itu.


“Putus? Kami?” tanya Dome masih membawa tawa dalam penuturannya.


“Iya.” Alexio masih datar dan serius meski tangannya gatal sekali ingin menghajar wajah bocah itu.


“Kenapa? Dan kau... siapa memangnya.” Dengan senyum mengejek dan menyisakan tawa, Dome malah mencebik pada Alexio.


“Dira milikku.” Jawab Alexio tegas tak terbantah, namun meski sikap itu cukup mengintimidasi tapi tidak bagi Dome, bocah itu kembali tertawa akan jawaban Alexio itu.


“Milikmu... what? Aku tidak salah dengar... bwhaahahahahhh.” Gelegar tawa Dome begitu keras, bahkan ia memukul-mukul bagian depan motornya mendramatisir kelucuan itu.


Greb!


Dome tidak berniat menepis tangan Alexio, ia malah menyeringai penuh ejekan, “Kau mau apa?” tantang Dome tak takut sama sekali, ia justrun memajukan kepalanya mendekati Alexio, seolah memberikan penegasan jika Alexio tidak bisa mengintimidasinya.


“Aku bilang putuskan Dira.!” Sergah Alexio, memberi perintah


“Heh, kau memerintahku? Kau bukan siapa-siapa.” Balas Dome tersenyum tengil


“Sialan kau!” maki Alexio.


Bugh


Bugh


Bugh


Kendali Alexio lepas saat itu juga, ia yang jarang melakukan aktifitas kasar seperti itu kini mengalir begitu saja. Merasa tertantang akan sikap Dome yang merendahkan dirinya daritadi.

__ADS_1


“Sialan, kau merusak wajah tampanku.!” Umpat Dome marah, ia yang tersungkur ke belakang dan menyentuh aspal parkiran segera bangkit, melempar tas selempangnya, melompati motor besarnya dan menyerbu Alexio.


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


“Itu bonus dariku, karena kau mengacaukan penampilanku, brengsek!” ujar Dome marah.


Suasana kampus yang saat itu cukup ramai mahasiswa yang ingin pulang dan yang datang pun berkumpul ketika melihat baku hantam dua pria tampan kampus itu.


Teriakan para gadis merangsek masuk bak iringan musik horor di antara keduanya, sementara para pria sibuk berteriak ingin melerai tapi nyatanya itu hanya omong kosong karena mereka menikmati tontonan pria saingan mereka di kampus itu.


Biar saja mereka berkelahi, agar wajah itu rusak dan mereka bisa mengencani gadis-gadis kampus lagi.


“Woyyy berhenti..”


“Arhhhh Alexio awas!!”


“Hati-hati Dome, awww.”


Suara sumbang pekikan itu menyela perkelahian mereka, sadar diperhatikan, keduanya berhenti, “Sialan! Semua gara-gara kau bajingan.” Umpat Alexio menatap tajam Dome. Bibirnya terasa sakit akibat pukulan keras Dome.


“Kau yang mulai sialan!” balas Dome tak kalah sengit, dipastikan jika wajahnya tentu lebam akibat tinjuan Alexio.


“Lawan aku di balapan motor jika kau berani.” Tantang Alexio pada Dome


“Balap motor? Apa taruhannya?” balas Dome


“Dira, siapa menang, akan mendapatkan Dira.” Jawab Alexio dingin.


“Oh ya??? hmmmmm...” Dome pura-pura berpikir, lalu tersenyum smirk setelahnya.


“Aku tidak mau. Kau silahkan balapan sendiri.” Jawab Dome melangkah maju meninggalkan Alexio yang kesal bukan kepalang atas jawaban Dome yang menginjak harga dirinya itu.


Ia ditolak dan dikacangi oleh bocah labil itu

__ADS_1


“Kau memang sialan, bocah!!” maki Alexio berteriak keras lalu kembali menarik kerah jaket Dome dan melayangkan pukulan di wajah bocah itu seperti tadi.


“Arghhhh,, Kau Alexio Bisma... wajah tampanku rusak!!!!” pekik Dome ketika Alexio kembali mendaratkan pukulan di wajahnya.


__ADS_2