Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 66


__ADS_3

“Bagaimana kondisi Alexio, dokter Doni?” Kairan Ladh yang berpapasan dengan dokter Doni di koridor menuju lobby rumah sakit menghentikan langkah dokter usia 30 tahun itu.


“Sejauh ini, Alexio sudah berkurang menghadirkan sosok Xia, dokter Ladh.” Jawab dokter Doni menatap penuh arti pada Kairan Ladh.


“Bagaimana hasil **Narcoanalysis** tempo hari, dokter Doni?” tanya Kairan Ladh menolak mengartikan tatapan dokter Doni


“Apakah dokter Ladh juga mau mencoba metode Narcoanalysis?”


.


.


.


Mata legam dan tajam pelan mulai terbuka, menyesuaikan dengan keadaan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya, ruangan putih, luas, nyaman namun... ahhhh aroma ini.


Rumah sakit.


Kenapa dirinya malah terbaring di sini.


Berusaha mencari tahu, bangkit tanpa sadar akan kondisinya membuat pemuda yang tak lain adalah Jonathan meringis sakit.


“Ashhhhh kenapa sakit sekali tubuh gue.” Keluhnya menyentuh bagian yang sakit.


Ceklek


“Jo?” Sosok yang membuka pintu memanggilnya dengan nada cemas. Berjalan cepat menghampiri brangkar Jonathan


Dira.


“Gimana keadaan kamu, apa ada yang sakit? Apa ada yang tidak nyaman? Hauskah? Atau lapar? Atau mau dipanggilin suster?” cerocos Dira bertubi-tubi melayangkan tanya tanpa jeda.


Jonathan menggeleng dengan senyum terbit manis di wajahnya, ahhh nyaman sekali rasanya ada sosok bawel ini di dekatnya.


“Aku hanya butuh belaian kasih sayang aja, darl.” Keluh Jonathan dengan wajah sedih, mata Dira sontak melayangkan tatapan sadis.


“Itu mulut kondisikan, lambemu sekarepmu eh.” Ucap gadis itu mencebik


“Hehe, aku suka banget kalo gini yang pertama kali menyambut bangun tidurku.” Kekeh Jonathan.

__ADS_1


“Ini buruan makan.” Dira menyendokkan bubur yang ada di atas meja nakas, masih hangat.


“Ya ampun darl, di sayang-sayang kenapa sih? Aku itu butuh perhatian.” Sungut Jonathan tapi mulutnya tetap menganga menerima suapan besar yang terus tak berjeda dilancarkan Dira padanya.


“Ini mhhmuluthh pennuhh darl.” Jonathan menjauhkan mulutnya saat Dira seperti sengaja menyogrokan sendok ke mulutnya, apa dia pikir ini mulut loss tanpa perhentian dulu, tenggorokannya itu masti ambil antrian juga kalo mau lewat.


“Makanya diem, gak usah bawel.” Sembur Dira.


“Kamu lagi datang bulan? Dijahilin Paul atau kurang belaian Alexio, ya? sadis amat itu muka.” Sindir Jonathan yang merasa menjadi korban pelampiasan emosi Dira.


“Makan, buruan.” Tekan Dira enggan menjawab. Ia lagi kesal bukan kepalang dari kemarin jadi tidak mau ada yang menambah merusak moodnya hari ini.


“Ihh orang nanya, darl.” Sungut Jonathan dengan wajah merajuk


Sementara di tempat lain...


“Pagi Alexio.” sapa perawat yang menyambangi kamar perawatan Alexio, membawa baki berisi sarapan beserta obat-obatan untuk Alexio.


“Pa-pagi sus.” Sahut Alexio, ia sudah bisa bersikap ramah pada petugas medis yang menyapanya meski gurat senyum itu masih terlalu pelit ia umbar.


“Bagaimana perasaanya hari ini, Alexio.” sembari menyuntikkan cairan obat ke infus pemuda itu, perawat tak pernah lupa mengajak pasiennya berbicara. Terutama pasien dengan indikasi kesehatan mental dan jiwa seperti Alexio.


“Ba-baik sus-suster.” Jawab Alexio pelan dengan matanya bergerak melihat rerimbunan tanaman di luar jendela kamarnya. Menyejukkan.


“Ya, Alexio ada apa?” sahut suster menoleh dengan senyum ramahnya.


“A-apa-kah sa-sa-ya bo-boleh ber-keli-ling di ta-man ru-mah sakit” Alexio mengajukan permintaan pada suster yang diharapkan akan mengabulkan hal itu.


“Tentu, nanti saya bantu meminta izin pada dokter Doni, ya Alexio.” ujar suster mengambulkan permintaan pemuda itu.


“Te-rima kasih suster.” Ucap Alexio tulus.


Ceklek


Pintu terbuka namun bukan dokter Doni atau perawat lain yang datang, pun bukan keluarga Alexio melainkan Dira... sosok yang ditunggu Alexio selama beberapa hari di sekap di sini.


Matanya menatap wujud gadis itu tanpa berucap sepatah kata pun, terus mengunci pergerakan Dira hingga sampai di sisi brankarnya.


“Hai.” Sapa Dira canggung tapi tak di jawab oleh Alexio. Dira dengan santainya duduk di sebelah Alexio, suster sudah beranjak pergi tak lama dari itu.

__ADS_1


Dira menatap lekat Alexio, tubuh pemuda itu tak segar, wajahnya layu, dan seakan ada hal yang menahan dirinya hingga terlihat tekanan itu.


Dira meraih telapak tangan Alexio, menjalin jemarinya dengan jemari Alexio, lalu menggenggam erat.


“Alexio.” Panggil Dira lagi.


Namun tak ada sahutan, tapi meskipun begitu tak sedikitpun netra hitam milik Alexio bergeser dari wajah Dira, tetap mengunci gadis itu.


“Maaf aku gak bisa jenguk kamu sebelumnya.” Lirih Dira merasa sesak mengucapkan hal itu, luruh sudah air mata yang tertahan sedari tadi, ada rindu dan rasa bersalah berkumpul dalam riak bulir bening itu. Dira menunduk dalam berusaha menyembunyikannya hingga tangan besar itu meraih wajahnya.


“Di-Di-Diraa.” Panggil Alexio dengan lidahnya yang sulit sekali mengeluarkan suara.


“A-aku ngo-ngomong Di-dira.” Ucap Alexio yang memang merasa lidahnya dicekat di dalam sana, tenggorokannya sakit dan kaku lidah.


Dira menatapnya iba, mengelus tangan Alexio lembut, “Mungkin karena obat-obatanya Alexio.” Ujar Dira lembut, menenangkan Alexio yang merasa cemas dengan keadaannya.


“Ta-tapi sak-sakit Dira, ak-aku susah ngomong.” Keluh Alexio, matanya begitu sayu kemerahan.


Ya Tuhan!!! Kenapa ia harus diberi rasa sakit seperti ini, banyak sekali kesakitan yang harusnya sudah cukup menjadi batasan tubuh itu menampungnya.


“Alexio.” panggil Dira menatap sedih pada Alexio yang tak berdaya saat ini.


“A-aku ma-mau pu-pulang Dira. Di sini sam-sama sekali bu-bukan ak-aku. Aku butuh ke-kebebasan.” Alexio menyambar ucapan terlebih dulu.


“Apakah Xia ada di sini?” tanya Dira mengalihkan permintaan Alexio barusan, ia merasa jantungnya diremas sakit mendengar ucapan itu. Tentu ia tak bisa mengabulkan mengingat keadaan Alexio.


Mendapati tanya Dira, Alexio tak menjawab, tapi matanya sekejap menatap satu sudut. Di sana ada seorang gadis tengah duduk manis menatapnya, bias cahaya mentari juga menambah sinar wajah gadis kecil itu.


Dira mengikuti arah pandang Alexio.


Ya Tuhan!!! Bagaimana ini, apakah episode Alexio kembali muncul karena kehadirannya menjenguk Alexio?


“Alexio, ini aku Dira, aku nyata di hadapanmu, sedangkan Xia, ia tak nyata, hanya kau yang bisa melihatnya sedangkan aku, aku tidak bisa melihat wujudnya.” Ucap Dira dengan hati-hati mengingatkan arti Xia dalam pandangannya.


“Aku bahkan tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu, aku hanya tahu jika ia ada karena kamu yang kasih tahu.” Lanjut Dira dengan sesak menghantam hatinya.


“Di-Dira, aku, aku akan menghilangkan Xi-Xia ji-jika memang itu ma-masalahnya.” Ucap Alexio mengeratkan genggaman tangan mereka.


“Ka-kalo Xia ada-adalah sumber penyakit un-untukku, ma-maka a-aku akan menolak kehadirannya.” Lanjut Alexio dengan penuh kesungguhan namun Dira menggeleng.

__ADS_1


“Alexio. kamu tidak akan bisa menghilangkan Xia jika rasa sakitmu masih kau simpan di sini.” Dira menunjuk dada Alexio, tepat di mana hati pemuda itu berada.


“Jangan menyimpan luka itu sendirian, Alexio, jangan kau lukai dirimu sendiri, hentikan sekarang.”


__ADS_2