Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 120


__ADS_3

“Hentikan!!!”


“Wah mati kalian.” Beberapa mahasiswa yang berada dalam ruang yang sama kini terlihat sama-sama memandang kasihan pada 3 pelaku pembully ketika dua pria tampan berdiri diambang pintu dengan wajah penuh amarah.


“Kalian lupa yang aku katakan tempo waktu itu, HAH!!!” sentak Paul tanpa menghentikan langkah kakinya menuju tempat di mana adiknya berada dan terlihat miris sekali.


“Pakai ini sayang.” Paul melepas jaketnya dan memasangkan di tubuh Dira yang sudah tersingkap namun masih bisa ditutupi dengan sisa pakaiannya.


“Dan kalian..” Paul langsung berbalik dan menunjuk ketiganya dengan emosi masih meninggi.


“Lihat apa yang akan aku lakukan pada kalian nanti. Ayo Dira.” Paul segera mengangkat tubuh Dira.


“Biar aku saja.” Itu suara Alexio.


“Aku kakaknya.” Tolak Paul


“Dan aku...... sudahlah biar aku yang angkat.” Alexio kesulitan mengatakan hubungan tidak jelas itu. Ia dengan cepat menggeser tubuh Paul dan membopong tubuh Dira lalu pergi dari tempat lucnut itu segera di susul Paul di belakangnya.


“Dan kalian semua, jangan harap kalian bisa bebas juga dari ancamanku, karena kalian sama saja.” Tunjuk Paul pada mahasiswa yang hanya duduk membatu sedari tadi.


“Ishh dah, kan sudah kami kasih tahu tadi. Sudah deh kalo Paul marah. Pasrah aja deh.” Erang mahasiswa yang pilu dengan nasibnya setelah ini. belum lagi dengan laporan atas tindakan pembullyan yang pasti dilayangkan putera Kairan Ladh itu bisa mengancam mereka semua, terutama 3 pendengki itu.


“Apa yang terjadi padamu, baby?” Dome berlari cepat menghampiri ketiganya yang baru saja keluar dari dalam kelas Dira. Wajahnya terlihat khawatir.


“Tidak ada apa-apa, Dira akan pulang.” Ucap Paul tidak mau memperpanjang obrolan.


“Dia aku bawa ke mobilku saja bang.” Alexio pelan berucap tak memperdulikan keberadaan Dome.


“Hei aku kekasihnya.” Gerutu Dome tidak menyetujui. Ia juga bisa membawa gadis itu pulang bersamanya, dan dijamin aman pula.


“Sudahlah Dome, biarkan Dira nyaman saat ini. kau tidak tahu apa yang terjadi tadi.” Ujar Paul menengahi keduanya. Ia sudah diambang emosi akut, melihat perbuatan para pembully itu pada adiknya. Padahal sudah jelas-jelas ia memperingati saat itu, dan memang ia harus bertindak tegas kali ini. tidak perduli urusan gender jika menyangkut adiknya.


Dira mengeratkan pelukannya di leher Alexio, dan pemuda itu dapat merasakan, “Tenang, kamu gak sendiri, sayang.” Ucap Alexio begitu pelan, nyaris berbisik dan Dira tak menangkap jelas kata terakhir.

__ADS_1


Sayang sekali Dira!


Setibanya di kediaman keluarga Ladh. 3 pria tampan yang melindungi satu gadis cantik itu tetap sigap mengantar sampai ke kamar di mana gadis itu beristirahat.


“Biarkan dia seperti ini, kita tinggalkan.” Ucap Paul memberi waktu bagi Dira beristirahat.


“Istirahat ya sayang.” Paul mengelus puncak kepala Dira dengan sayang lalu mendorong Alexio dan Dome


“Hei aku juga mau bilang begitu.” Sungut Dome mengelak tubuhnya agar mendekat ke ranjang Dira namun segera ditarik Alexio juga Paul sehingga mau tidak mau bocah itu diseret keluar dengan pasrah.


“Aihh aku kekasihnya, tapi tidak berdaya seperti ini.” lanjut Dome meratapi nasibnya.


“Sudahlah. Biarkan Dira seperti itu.” Pinta Paul tegas. Menutup pintu dan menggiring kedua turun.


“Tapi bagaimana jika dia depresi karena dibully? Kenapa kau tega sekali padahal itu adikmu.” Geram Dome tak habis pikir dengan Paul.


“Hei, kau tidak tahu gadis seperti apa dia, Dira kuat untuk menghadapi masalah sekecil itu.” Sinis Alexio yang menyela. Ia tampak meremehkan Dome yang mengaku kekasih tapi tidak mengenal gadis yang dipacarinya.


“Yaaa... aku kan...ah sudahlah.” Tanggap Dome malu sendiri.


“Kau tidak mau pulang juga?” ujar Paul bertanya pada Dome.


“Nanti saja, aku akan tetap di sini.” Sahut Dome mengambil duduk


“Sudah sana pulang, syuhhhhh pergi.” Sudah bertanya, ujung-ujungnya mengusir.


“Untuk apa kau bertanya jika tetap mengusirku.” Erang Dome terpaksa keluar lagi, jika saja bukan keluarga kekasihnya, sudah ia tebas kepala Paul. Siapa yang tidak tahu kehebatan mafia Yakuza. Sekali perintah, ditaati saat itu juga.


.


.


.

__ADS_1


“Apa? Jadi mamaku memiliki saudari kembar? Apa jangan-jangannnn....” Alexio segera merangkai benang merah dari diary Alexia yang dia temukan berikut rekaman dan kejadian penculikan saat ini.


“Betul bos. Sepertinya dialah wanita yang disebutkan dalam rekaman itu.” Leo membenarkan dugaan Alexio.


“Arghhhh aku samar-samar pernah mendengar nama itu, tapi kenapa sulit sekali pikiranku menjangkaunya. Apa yang terjadi dengan otakku.” Alexio frustasi setiap bersinggungan dengan kilas balik masa lalu saat Alexia masih hidup.


“Aku seperti kehilangan bagian-bagian kepingan masa laluku setelah kematian Alexia, karena aku ingat sesuatu namun tidak sepenuhnya utuh.” Gumam Alexio


“Apa anda perlu bantuan dokter Doni, bos? Bukankah dia bisa menjangkau pikiran anda tempo hari.” Leo memberi saran.


“Hei, tidak semuanya dilalui dengan medis, belum tentu baik bagi tubuhku nanti.” Tolak Alexio


“Apa sebenarnya yang aku lupakan. Karena jelas-jelas aku kadang melihat bayangan kejadian di suatu tempat, mengingat percakapan namun hanya selintas lalu kabur kembali.” Tutur Alexio memejamkan matanya.


“Andriana.” Alexio menggumamkan nama kembaran mamanya


Sementara yang sedang disebutkan, terduduk lemas bersandarkan dinding lusuh. Ia yang masih dalam tahap pemulihan mesti hidup dalam kubangan debu yang tidak baik bagi kesehatannya.


“Malam Andriana. Bagaimana jika malam ini kita mulai pestanya?” tanya Suprapto menyambangi keberadaan Andriana.


“Apa yang kau cari dariku, pak tua! Bukankah sudah ku berikan waktu itu, jadi harusnya kau lepaskan saja aku dan biarkan aku hidup tenang.” Teriak Andriana


“Ahh iya, dulu kau memang sempat mencuri sesuatu dariku, lalu kau mencuri anakku, dan saudarimu membalasnya sekarang, mengacau semua bisnisku, dan aku sudah mulai diselidiki kepolisian.” Jelas Suprapto


“Jika sampai aku menyentuh lantai penjara, maka kau langsung aku bunuh dengan cara yang paling menyiksa, dan kau tahu sekali bukan bagaimana caraku menyiksamu?” terbit kembali seringai menjijikkan dari dua sudut bibir pria renta itu.


“Kau.... kejam sekali.” Geram Andriana mengepalkan tangannya, ingin sekali mencakar habis muka itu hingga mati sekalian.


“Matamu, aku suka matamu. Seperti ingin menelanku hidup-hidup.” Kekeh Suprapto menyeramkan.


Brak!


Andriana menghentakkan sebilah kayu yang seketika patah saat diadu dengan kepala Suprapto. Lengkingan keras memekakan memenuhi bangunan tua itu hingga beberapa pengawal pria itu berhamburan masuk saat mendengar bos mereka meraung kesakitan.

__ADS_1


“Bos!” teriak mereka


“Jalaaang kau!!!” Suprapto tanpa rasa bersalah atau kasihan, melayangkan tangan besarnya pada wajah Andriana. Tak cukup sampai di sana, tubuh wanita yang sudah lemah itu ia injak dengan sepatu mahalnya hingga Andriana seketika hilang kesadarannya.


__ADS_2