Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 52


__ADS_3

“Apa maksudmu Dira.” Alexio tak paham arah bicara Dira barusan.


Sendiri katanya? Jelas-jelas ia bercengkrama dengan Xia sedari tadi. Mungkin saja bocah itu sedang pergi ke suatu tempat dan lupa meminta izinnya.


Ya ya ya, itulah alasan konyol seorang pengidap skizofrenia seperti Alexio.


“Alexio.” Lirih Dira memanggil


Ia melepas pelukan di tubuh Alexio, menatap dalam pada netra tajam pemuda itu. Berusaha mentransfer ucapannya melalui ketulusan dan kejujuran yang bisa dirasakan Alexio dari bening matanya.


“Aku mau pulang, ke apartemen.” Alexio menolak langkahnya, ia memang sekaligus secara tidak langsung menolak ucapan Dira.


“Mau kemana?” Tanya Barry yang melihat Alexio sudah menuju mobilnya.


“Pulang.” Jawab pemuda itu datar.


“Pulang kemana?” kini Andi yang bertanya


“Apartemen.” Cetus Alexio, ia sudah memasuki mobilnya namun masih belum bergerak.


“Mau ikut aku atau gak?” panggil Alexio, menjulurkan kepalanya dari sisi jendela penumpang.


Dira yang tadi sudah melangkah itu kini bergegas menuju mobil Alexio yang terpakir tak jauh dari danau.


“Aku ikut Alexio, ya.” ujar Dira saat berpapasan dengan Barry dan Andi


“Siap.” Sahut mereka berdua kompak


Bump


Pintu mobil di tutup tak lama tubuh Dira sudah menjejalkannya di kursi penumpang.


“Ikut aku ke apartemen.” Ucap Alexio, terdengar terasa sebagai perintah.


“Hmm,” jawab Dira sebagia bentuk persetujuan


Selama mereka berkendara, tidak ada satupun yang bersuara, seolah mereka tengah berbincang dengan pikiran sendiri-sendiri.


Hingga mobil itu tiba di basement apartemen tempat Alexio tinggal. Pemuda itu tidak kembali ke rumah orang tuanya, ia enggan berdebat dengan ibunya.


Dira hanya mengikuti langkah Alexio, mulai turun dari mobil, melangkah menaiki lift, lalu kini ikut masuk ke dalam apartemen pemuda itu.


Dira terpaku saat menyadari kegilaan yang ia lakukan, mendatangi kediaman pria yang tinggal seorang diri.


‘Aku bakalan dicincang Paul ini kalo sampe dia tahu.’ Batin Dira meringis.


“Kamu gak mau duduk?” panggil Alexio saat melihat Dira masih diam terpaku di depan pintu masuk.


“Ah., iya..” Jawab Dira, segera membuka sepatunya dan mengambil duduk di ujung sofa berwarna biru.


Dira bisa menangkap seorang Alexio di sini, sisi diri pemuda itu tertuang di apartemen ini.


Merah, biru dan kuning, meski tersisipi warna lain, tapi dominasi ketiga warna tadi begitu kental di beberapa sisi apartemen ini. baik perabotan dan pengaturan warna bangunan.


Alexio meletakkan minuman kotak yang bergambar buah segar di bungkusnya. Tak lupa ada camilan dan kue yang juga ia sajikan.

__ADS_1


Betapa ramahnya tuan rumah ini. ehmmm makin terpesona saja Dira.


Setelah meletakan hidangan itu, Alexio duduk di sofa yang sama dengan Dira. Sengaja dekat dengan gadis itu. Dira memperhatikan setiap gerak Alexio sampai duduk di sebelahnya.


“Ada yang mau kamu omongin ke aku, Alexio?” Dira memulai pembicaraan diantara keduanya. Serius.


Alexio menunduk ketika ditanya demikian oleh Dira. Menjalin jemari tangannya hingga membentuk kepalan.


“Al.” Panggil Dira


“Kamu mau ngomong sesuatu sama aku?” tanya Dira tak menjeda waktu


Alexio menggeleng, tapi kemudian berganti menjadi mengangguk.


“Al.” Dira memanggil lagi dan kali ini tegas namun masih terasa kelembutan di sana.


“Lihat aku Al.” Dira mengikis jarak, kini posisinya benar-benar sudah disamping Alexio. Lengan mereka menempel saking dekatnya.


“Dira.” Tanpa melihat Dira, pemuda itu langsung menghambur ke dalam pelukan Dira. Mengeratkan lingkaran tangannya seakan takut gadis itu pergi.


Dira tertegun namun ia menarik nafasnya, mencoba mencerna keinginan Alexio.


Mungkin pemuda ini butuh ketenangan. Begitu pikirnya.


“Kamu benci papaku, Alexio?” tanya Dira di sela pelukan, Alexio mengangguk sebagai jawaban,


“Orang tuamu?” alexio kembali mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Dira.


“Dan aku?” Dira mengakhiri menyebut dirinya. Namun tak ada respon dari Alexio, pemuda itu diam.


“Apa aku juga termasuk bagian dari kebencianmu, Alexio?” tanya gadis itu


Ditanya apa jawabnya apa.


“Takut kenapa Alexio?” tanya Dira mencoba menyelami sisi Alexio


“Aku takut tidak bisa melindunginya.” Jawab Alexio lirih


“Melindunginya? Siapa?” Dira penasaran


“Xia.” Jawab Alexio singkat


Ya Tuhan, Xia-lun lagi yang dibahas


Oke mari kupas makhluk delusi itu


“Alexio.” Panggil Dira


“Ya.” jawab Alexio, Dira melepas pelukan itu perlahan, menatap Alexio dengan lembut. Ia seakan berhadapan dengan bocah, bukan pemuda usia 18 tahun.


“Mengapa kau takut tidak bisa melindunginya Al?” Hati-hati Dira ingin menggali lebih dalam, mumpung Alexio tengah lengah.


Alexio lagi-lagi menggeleng. Dira gemas sekali, mau dia benturkan saja rasanya si Alexio ini, belum tahu apa kalau Dira ini tipe orang yang pantang menyerah sebelum rasa penasarannya terjawab.


“Kenapa heum?” Dira mencoba bersabar, menarik nafas dan bertanya kembali.

__ADS_1


“Aku takut Dira, aku takut.” Lirih jawaban Alexio


“Iya, takut bagaimana, aku tidak mengerti Alexio.” Gemas sekali rasanya Dira sekarang.


Sabar, orang cantik punya stok sabar, upahnya nanti dikasih seperempat otak dari Tuhan.


“Al, lihat aku.” Dira dengan menurunkan rasa malunya, mendongakkan wajah Alexio agar menatapnya.


Ia melihat wajah tampan itu tampak rapuh, memilukan sekali rasanya.


“Apa yang terjadi pada Xia, boleh aku tahu?” kembali Dira berusaha menggali sosok Xia-lun itu.


Alexio kembali diam, ya Tuhan, tolong bantu Dira mencharge kesabarannya.


Dira menghela nafasnya, alexio menatapnya sayu.


“Maaf Dira. Maaf.” Ucap Alexio merengkuh wajah Dira.


“Kenapa?” tanya Dira tak mengerti untuk ungkapan maaf itu. Apakah karena pemuda itu enggan menjawab pertanyaan Dira yang entah sudah berapa kali dilontarkan.


“Untuk semuanya.” Tutur Alexio.


“Kamu gak salah Alexio, hanya saja kamu terlalu rapat menyimpan masalahmu sendiri.” Sahut Dira tersenyum dan menggenggam tangan Alexio yang masih merengkuh wajah Dira.


“Aku takut kamu menyakiti diri sendiri kalau terlalu lama menyimpan itu semua.” Lanjut Dira sesak. Ia takut, sangat, luka fisik yang ia lihat saat ini saja cukup menguras perasaan Dira, apalagi luka batin Alexio.


Ia sadar dengan kondisi pemuda itu, maka dari itu ia menahan diri bersabar untuk mencari jalan keluar agar Alexio bisa melewati semuanya dan kembali semula.


“Al.” Panggil Dira yang dijawab Alexio dengan anggukan.


“Kamu sudah ketemu dengan Xia tiga tahun yang lalu, bukan?” tanya Dira yang diangguki lagi oleh Alexio.


“Al. Tatap aku, jujur jawabnya.” Dira berkata serius, kini tangan Alexio sudah diturunkannya dari wajahnya dan digenggamnya di antara paha mereka berdua.


“Kamu tahu usia Xia saat kalian bertemu berapa?” tanya Dira, Alexio menganggu


“11 tahun.” Jawab Alexio


Dira menutup matanya sebentar.


“Dan kamu sadar kalau sampai saat ini usia Xia masih tetap 11 tahun, Alexio?” tanya Dira menyadarkan Alexio.


“Tap..”


“Tidak, kamu tahu kan usia Xia tak berubah walau kalian sudah bertemu 3 tahun yang lalu.” Tegas Dira namun tetap menjaga intonasinya lembut.


“Apakah kamu sadar ada yang tidak wajar pada Xia?” tanya Dira membungkam jawaban Alexio.


“Dan ini...” Dira menampakkan rekaman yang dia dapatkan dari Andi dan juga Bisma.


Alexio menonton rekaman yang diputar Dira di ponsel gadis itu.


“Kamu sadar ada yang salah di sini Alexio?” Dira menatap ekspresi Alexio yang mulai gusar.


“Al.” Dira menyentuh punggung tangan Alexio tapi tangan itu bergetar hebat, bahkan berkeringat dingin.

__ADS_1


“Al!!!!” sedetik kemudian Alexio pingsan dengan isak serta menyebut nama Xia lagi.


Bosan sekali Dira jika harus menyertakan Xia-lun, bisakah sosok itu ditangkap netra Dira juga? Gemas mau getok kepala tuh bocah.


__ADS_2