Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 49


__ADS_3

Paginya, Alexio membuka matanya.


Ia memastikan netranya menangkap cahaya dengan sempurna.


“Aku di mana?” tanyanya sendiri melihat kamar putih dan....


“Rumah sakit?” Gumamnya pelan


Menilik sekitar, ya, ia sadar.


Ia pasien rumah sakit, tapi kenapa di sini? “Bukankah ini mirip kamar yang sering aku tempati di Ladh Hospital?” tanyanya lagi


Ceklek


Linda keluar dari kamar mandi, wajah lesunya tak bisa tertutupi oleh sisa air yang membasahi wajah dan rambutnya.


“Mama?” panggil Alexio begitu sang ibu sudah keluar kamar mandi.


“Al!!!” Bergegas lari kecil mendengar suara sang buah hati yang dari semalam menyita perhatiannya hingga tidur pun ia tak bisa nyenyak


Menghambur memeluk tubuh puteranya.


“Alexio, hiks... hiks.” Isak Linda mendekap Alexio yang dibalas pemuda itu dengan mengelus punggung ibunya.


Walau ia bingung kenapa Linda sampai terisak pilu, “Mama kenapa nangis?” tanya Alexio pelan menenangkan tubuh ibunya yang juga bergetar.


Linda menggeleng dalam pelukan Alexio, “Gak apa-apa, mama hanya bersyukur kamu sadar nak.” Jawab Linda dengan suaranya yang tergugu.


“Alexio gak apa-apa, ma.” Tutur Alexio lembut.


Linda melepas pelukan itu, lalu mendekap wajah Alexio.


“Kamu ngerasain sakit atau gak nyaman?” tanya Linda khawatir, melihat ada gurat luka di sudut pelipis dan ujung bibir Alexio.


“Aku gak apa-apa ma,hanya luka pukulan aja kok. Anak laki biasa berantem ma.” Sahut Alexio terkekeh


“Berantem? Sama siapa? Semalem?” tanya Linda khawatir.


Alexio menggeleng, “Dua hari yang lalu ma, Alexio nolongin temen karena dia nyaris di lecehin.” Jawab Alexio tenang.


“Temen? Perempuan? Di lecehin.” Ada sesak di setiap tanya yang dilontarkan Linda, entah apa, tapi ia merasakan demikian.


Alexio mengangguk, “Hmm, temen Alexio, ma. Perempuan.” Sahut Alexio tanpa beban.


“Siapa nak.” Linda mulai tergugu lagi, matanya kembali memerah.

__ADS_1


“Mama gak kenal.” Jawab Alexio sembari mengulas senyum untuk ibunya.


Ceklek!!!


Bisma muncul dengan paperbag di kedua sisi tangannya.


“Alexio?” panggilnya saat melihat puteranya sudah duduk dengan Linda mendampingi.


Bisma bergegas menuju brangkar, “Gimana, udah agak enakan? Atau ada yang masih terasa sakit?” tanya Bisma dengan wajah penuh rasa khawatir.


“Papa ini sama aja dengan mama. Berlebihan banget.” Kekeh Alexio menilai sikap kedua orang tuanya.


“Ayolah, Alexio ini anak cowok, masak berantem dikit aja udah cengeng.” Kembali ia terkekeh kecil.


Bisma menoleh pada istrinya yang juga menatapnya, lalu sama-sama mengangguk.


“Baiklah kalau begitu.” Bisma mengalah, tak mau menjadi ayah yang terlalu protektif, ia sadar Alexio tak akan menyukai hal itu.


Dengan Alexio mau berbicara padanya saja sudah bersyukur.


Tak lama pintu kembali terbuka, ada Ladh bersama dokter Leo yang masuk.


“Pagi Al.” Sapa dokter Leo yang juga membawa dua perawat bersamanya.


Ia memang tidak mau dipanggil Al oleh yang tidak dikenalnya, hanya keluarganya saja yang boleh, berikut Xia tentunya.


“Oh, maaf, baiklah, Alexio.” Ralat dokter Leo menjaga senyumnya tetap terkembang.


Pantang baper ketika diperlakukan dingin oleh pasien, apalagi tipe PRIMA gini, pelayanan mesti baik.


Perawat meletakan sarapan di atas nakas samping brangkar dan ada obat juga di sisi nampan makan.


Sedangkan perawat satunya mengatur infus yang tertancap di pergelangan tangan Alexio. Menyuntikan cairan melalui tempat kecil yang ada penutupnya di bagian infus itu sehingga tak perlu lagi menyuntikan di tangan atau selang.


“Ada yang terasa masih sakit, Alexio” tanya dokter Leo yang dijawab Alexio dengan gelengan.


“Saya sudah boleh pulang, kan dokter hari ini?” Alexio balik tanya,


Mereka orang dewasa saling menoleh, tentunya menatap dokter meminta penjelasan,.


“Tentu, kamu boleh pulang hari ini, siang ini sudah boleh kok. Luka kecil seperti itu tak akan masalah untuk pemuda energik seperti kamu.” Dokter Doni yang masuk, ikut nimbrung sebelum dokter Leo berujar.


“Betulkah itu dokter Leo?” karena Alexio merasa jika dokter Leo yang memeriksanya, maka ia meminta persetujuan dari dokter yang usianya ia tebak kisaran 30 tahun itu.


“Tentu, kamu boleh pulang hari ini. tapi jangan lupa tetap kontrol kalau masih merasa tidak baik-baik saja, oke?” seru dokter Leo yang diangguki Alexio.

__ADS_1


Sepeninggal dokter Leo dan dua orang perawat, kini ada Bisma, Linda, Ladh dan dokter Doni yang menemani Alexio.


“Bagaimana kabarmu, Alexio?” dokter Doni kali ini bertanya.


“Apakah saya terlihat seperti orang yang sakit dok?” Alexio balik menyerang


Entah kenapa perasaannya seakan terintimidasi dengan kehadiran dokter Doni. Ia tahu dokter itu adalah seorang psikiater di rumah sakit ini. tergolong sudah ahli dengan kemampuannya menyembuhkan mental atau kejiwaan seseorang.


Dokter Doni tersenyum mendapati sikap penolakan Alexio dari nada bicaranya.


“Tentu harusnya kamu baik-baik saja, setelah luka-luka itu bersarang di tubuh kamu, kan?” sahut dokter Doni ramah.


Alexio diam, ia merasa risih dengan keberadaan dokter Doni. Seakan hendak menilai semua tentang dirinya yang baik-baik saja dan bukan pasiennya.


“Alexio, kamu menginap di rumah utama saja, nak ya?” pinta Linda penuh harap, ia khawatir Alexio akan bertingkah jika lolos dari jangkauan mereka lagi.


Memang ada pengawal yang memantau aktifitas Alexio, tapi jika kecolongan, bagaimana?


Alexio mengangguk, “Baiklah ma.” Sahutnya


“Semangat Alexio!!! Udah mau ujian kan?” lagi-lagi suara dokter Doni yang menimpali.


Apa gunanya dokter ini di sini? Ia kan pasien luka fisik, bukan mental. Pikirnya risih


“Alexio, semalam ingat berada di mana?” kali ini Kairan Ladh yang bertanya.


Sebenarnya Alexio malas menanggapi, tapi karena rasa hormatnya ia mengangguk.


“Hmm, bersama teman, saya hendak membawanya ke rumah sakit tapi yang ada hanya klinik kecil. Tapi saat perawat membawa brangkar untuknya, itu bocah kabur.” Jelas Alexio dengan nada gemas sebal di dalamnya mengingat Xia yang kabur padahal tubuhnya penuh luka.


“Oh ya? kunjungi dia kalau begitu, bawa ke rumah sakit, nanti om bantu.” Tawar Ladh ramah.


Alexio menyipitkan matanya. Ada rasa tidak tenang jika dialihkan pada Kairan Ladh. Khawatir terulang kembali.


Lihatlah, Alexio tak menanggapi ucapan Ladh tadi, malah membuang mukanya pada jendela besar yang tirainya terbuka. Menampakkan pemandangan kota Jakarta dari atas.


Wajahn ya diliputi rasa gusar luar biasa. Mengingat keadaan Xia yang mengiris hatinya, penuh luka dan tangannya disimbahi darah.


‘Xia.’ Batinnya meringis.


Benar kata Ladh, saran ayah Dira tadi agar ia mengunjungi Xia, melihat keadaan gadis itu dan membawanya ke rumah sakit. Untuk tubuh kecil dan ringkih itu pasti tak baik-baik saja, bukan?


Akan ia paksa membawa Xia meski gadis itu menolak pergi ke rumah sakit. Ia tak sabar menunggu siang sesuai saran dokter Leo tadi... ia tak bisa menunggu lama.


“Dokter, saya mau pulang sekarang.!!”

__ADS_1


__ADS_2