
Brak!!!!
Suara gebrakan meja yang dipukul keras menyentak perhatian semua yang ada di ruangan besar itu.
“Siapa bajingan yang sudah menyentuh wilayahku!!” sergah Suprapto menilik satu persatu anak buahnya yang tampak menunduk tak berani menatap bos mereka yang sedang membumbung tinggi emosinya.
Bisnis ilegal Suprapto sudah menguap ke permukaan, persenjataan, organ, perdagangan orang dan narkoba sudah diketahui masyarakat luas tapi sayangnya tidak mampu mengguncang perusahaan besar Gold Corporate yang sudah meraksasa. Bahkan saham perusahaan itu saja tidak menurun barang sekian persen pun saking mantap dan stabilnya tangan dingin dan nama besar Suprapto di kancah bisnis itu.
“Kami masih mencari orang itu, tuan.” Jawab pimpinan komplotan Suprapto.
“Kalian tidak becus, sudah berapa hari ini masih belum menemukan orang itu!” berangnya menarik pelatuk pistol yang tersimpan di saku belakangnya dan menembakkannya pada salah satu anak buahnya secara random.
Duar!!
Tidak ada yang bergerak sama sekali walau korban menggelepar meminta tolong. Begitulah kejamnya Suprapto, mampu melakukan kejahatan seperti itu dengan mudahnya.
“Bagaimana cucuku? Apa dia masih menyelidikiku? Dan Yakuza bagaimana. Aku curiga mereka yang turut campur merusak bisnisku.” Tanya Suprapto
“Tuan Alexio masih belum tahu bisnis anda tuan, dan Yakuza hanya memantau saja tidak melakukan hal yang melebihi itu.” Jelas salah satu pimpinan anak buah itu.
“Sialan!” makinya
“Tapi tuan...” jeda anak buah Suprapto
“Apa?” tanya Suprapto tak sabar
“Menantu anda,,,, nyonya Linda sepertinya berhubungan dengan salah satu Alca, Tuan.” Jawab si anak buah itu.
“Alca? Mafia di bawah istri Hiro itu?” suprapto berkerut heran mendengarnya.
“Iya tuan.”
“Hmm menarik, kita ke Jakarta hari ini.” Seru Suprapto menghentak sepatu kulitnya pada lantai warna hitam yang mengalir darah di salah satu sudutnya.
.
__ADS_1
.
.
“Nona, Suprapto dijadwalkan melakukan penerbangan ke Jakarta hari ini.” asisten Linda memberi tahu perihal itu pada majikannya.
“Oh ya? ikuti terus kemanapun dia pergi.” Sahut Linda yang tengah menyiram tanaman milik puterinya dulu, ia tengah singgah di salah satu rumah lama mereka.
“Ma.” Suara Alexio mencuri perhatian Linda, ia membalik tubuhnya dan menangkap kedatangan puteranya lalu tersenyum, melepas selang untuk menyiram tadi dan merentangkan tangan hendak memeluk Alexio yang merespon.
“Mama kangen sayang.” Ucap Linda penuh haru. Untung saja ia sudah mengakhiri panggilan setelah Alexio tiba. Khawatir puteranya akan tahu drama keluarga ini.
“Ayo duduk dulu, kita akan bernostalgia di rumah lama ini.” Linda merangkul lengan Alexio, membawanya duduk di salah satu bangku taman di sana, tempat di mana tanaman Alexia sudah tumbuh besar dan ada yang sudah berbuah lebat. Jika saja si pemilik masih hidup, pasti akan berteriak girang melihat kerja kerasnya berbuah hasil.
“Kau ingat kalian pernah bermain di sini seharian tanpa mau diganggu?” Linda mengajak Alexio mengingat momen kebersamaan sepasang anak kembar itu saat mereka masih kecil.
“Hmm, aku ingat.” Jawab Alexio, senyumnya tercetak tipis di bibirnya membayangkan masa kecilnya yang bahagia bersama Alexia. di saat bersamaan, sudut mata Alexio menangkap bayang Xia berdiri di pinggir pot besar besar berisi serimbunan bunga mawar yang sudah berbunga. Senyumnya begitu manis, terlebih bias mentari memantul indah di wajah itu.
“Cantik.” Gumam Alexio memandang rakus pada wajah Xia. Pandangan Linda mengikuti titik fokus Alexio yang lama menatap arah itu.
“Ingat dengan mawar itu, Al?” tanya Linda mencoba mengajak Alexio mengingat.
“Hei jangan dipotong!!!” seru Alexio melihat Xia sembarangan mematahkan salah satu tanaman.
“Apa Al?” Linda justru bingung melihat puteranya yang menggenggam tangkai tanaman yang tadi dipetiknya.
“Hah?!” gantian Alexio yang tertegun akan ulahnya
“Kau bicara dengan siapa tadi?” Linda mengedarkan pandangannya melihat tingkah Alexio yang seperti orang kebingungan.
“Ah, gak mah.” Jawab Alexio agak gugup, tangannya sudah berkeringat, khawatir ini diketahui orang tuanya jika ia kambuh lagi.
“Lihat, bukankah ini pohon sawo?” tanya Linda menarik satu dahan yang menjuntaikan buah kecil di setiap tangkai.
“Iya ma.”
__ADS_1
“Tanaman yang waktu itu mau kamu buang karena selalu dimakan ulat.” Kekeh Linda mengingat betapa marahnya Alexia melihat kakaknya membuang polybag berisi semaian sawo yang sudah meranggas dimakan ulat.
Alexio sedikit nyeri mengingat hal itu, “Hei, are you okay, sayang.” Linda khawatir melihat puteranya memijat dahi dan berdesis pelan.
“Kepalaku mendadak pusing ma.” Keluh Alexio
“Ayo duduk dulu.” Ucap Linda kembali merangkul Alexio pada bangku tempat mereka duduk sebelumnya.
“Ma... kenapa pohon di sini ada 8? Bukannya Alexia menyukai hal berbau 7.?” Tanya Alexio ketika menyadari keberadaan tanaman besar itu berjumlah bukan sesuai minat Alexia.
“Kau lupa? Bukankah kau ikut menanam salah satu pohon di sini? Makanya jumlahnya delapan.” Jawab Linda diawali kalimat bernada tanya.
“Dan di sana pula adikmu itu sering menaruh permohonan yang menurut papa sering terlihat gemas saat itu.” Bisma muncul menyela obrolan ibu dan anak itu.
“Kau betul pa. Kau ingat Al, di salah satu pohon itu, tempat kalian sering menaruh harapan, yang ujung-ujungnya pasti papamu yang mengabulkan.” Sambung Linda dan diiringi gelak tawa mengingat betapa lucu dan menggemaskan anak kembarnya itu.
“Harapan?” beo Alexio yang diangguki kedua orang tuanya.
“Di mana itu pa, ma?” kejar Alexio seakan teringat satu hal.
“Itu, di dekat pohon tanamanmu itu, kau lihat ada yang sedikit menonjol tanahnya? Di sanalah kalian menyimpannya.” Jawab Linda menunjuk sudut yang dimaksud.
Alexio memperhatikan dengan dalam, nalurinya menyuruhnya mendekat, dan dengan yakin kakinya sudah melangkah ke sana.... dilihatnya gundukan tanah yang sudah dipenuhi rerumputan itu, jauh di bawah alam sadarnya ada sebuah bisikan yang memintanya menggali itu.
“Ma, pa.. aku akan menggali ini, boleh?” tanya Alexio meminta izin pada orang tuanya yang justeru mengerutkan dahinya mendengar permintaan puteranya itu.
“Itu memang milikmu, Al. Kau bahkan mengancam kami untuk jangan menyentuh penyimpanan kalian atau kau akan mengamuk saat itu.” Sahut Bisma tersenyum.
Alexio menuju tempat penyimpanan alat-alat pertukangan yang berada di gudang belakang, ia mencari sekop, dan sarung tangan di sana untuk memudahkannya menggali tanah itu.
Bisma dan Linda sudah masuk kembali ke dalam rumah itu, hari ini adalah peringatan kematian Alexia, dan sudah kebiasaan keluarga itu untuk berkumpul dan mengingat momen kebersamaan di rumah penuh kenangan itu.
Nafas Alexio sudah terengah, padahal yang digali masih sejengkal, itu tidak lain karena otak pria itu seakan diremas saat ini, ada sekelebat ingatan yang menyela aktifitasnya dan mengganggu gerak.
“Arghhh sial!” Erangnya terus menggali, dan desah lega terdengar ketika sekop itu menyentuh sebuah kotak kayu yang terbungkus sebuah plastik besar dan Alexio segera membawanya naik ke permukaan.
__ADS_1
Ceklek! Kunci yang hanya diputar itu sudah berhasil terbuka, dan netra Alexio siap menyusuri isi dalam kotak itu hingga tangannya menarik benda yang cukup menyita perhatiannya...
“I-i-ini.... bukannya ini diary Alexia!??”