Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 16


__ADS_3

BAB 16


Satu hari sebelum balapan taruhan itu.....


“Dek, inget. Kalo Jo ngelakuin hal di luar batas, lapor ke abang.” Paul mengingatkan secara tegas ke Dira saat dirinya menjemput gadis itu pulang sekolah.


Tadi Jonathan sudah berjanji menjemput pulang sekolah saat mereka barengan berangkat. Tapi Paul menyela dan mengatakan akan melakukannya.


“Hmm. Iya bang.” Sahut Dira pelan.


Paul melirik adiknya, masih dingin saja rupanya.


“Kamu segitu kecewanya sama tuh cowok ya? Patah hati?” duga Paul akan masalah diam dan berubahnya sosok sang adik tercinta,


“Patah hati? Aku?” Dira bertanya balik.


“Iya, kamu. Sama si bocah ingusan, Alexio itu kan?” tebak Paul.


Karena dunia Dira selama ini hanya berputar di sekeliling pemuda itu. Setiap hari, Paul sudah menjadi tempat curhatnya, melihat Dira antusias curhat, terintas ia ingin mendirikan perusahaan curhat saja.


“Sembarangan aja, gak.” Bantah Dira datar


“Masa’ sih....” cibir Paul tak percaya.


“Iya, gak ada hubungannya sama orang itu.” Sahut Dira membenarkan.


“Orang itu? Tumben pakek julukan manusia? Biasanya makhluk halus semua.” Tutur Paul.


Dira menatap tajam pada sang abang.


“Dih, tolong kondisikan itu mata. Abang kan hanya nanya doang.” Kekeh Paul melihat sorot mata Dira.


“Aku gak ada hubungan apapun sama tuh cowok.” Ucap Dira memastikan.


“Wah sayang banget, padahal kan kece banget itu Alexio. Coba abang cewek, dah abang tikung kamu.” Sungut Paul, ia sudah menargetkan pemuda itu menjadi iparnya jika memang takdir mengizinkan, tapi... sudahlah.


Nanti Paul pikirkan lagi agar takdir bisa dipaksa.


Tiba di rumah...


“Papa tumben udah pulang.?” Paul kaget saat melihat sang ayah duduk di ruang keluarga dengan majalah di tangannya.


“Iya, papa kan kan pemiliknya, jadi bebaskan kapan mau libur.” Jawab Ladh Junior terkekeh.


Ia berusaha untuk mengembalikan keceriaan keluarganya lagi.


Menganggap perubahan Dira sebagai bentuk pubertas, dan memikirkan cara agar puteri tercintanya menjadi gadis manis lagi...


“Dira, sini duduk deket papa.” Ladh Junior menepuk tempat di sebelahnya, berharap Dira akan bergegas seperti sebelumnya tanpa perlu butuh lama.


Tapi tidak kali ini, gadis itu malah mematung, sikapnya dingin.


“Dek, sana.” Paul mendorong bahu Dira untuk mendekat kearah ayah mereka.


Dira tetap membatu.

__ADS_1


Kakinya tak ada niat bergeser ke sana.


“Kamu kenapa Dira? Apa kamu tengah pada fase pubertas?” tanya Ladh namun dijawab dengan kebisuan oleh Dira. Paul hanya mengembuskan nafas pasrah saja.


Keras kepala adiknya kali ini sulit dipecahkan.


“Kamu kenapa? Apa ada masalah sama sekolah? Putus cinta?” duga Ladh lain lagi.


Dira memejamkan matanya, sungguh lupakah ayahnya akan kesalahan masa lalunya??


Segitu entengkah persoalan nyawa seseorang?


Atau... itu sudah lebih dari satu kali dilakukan ayahnya?


Sudah menjadi kebiasaan dan hal biasa bagi seorang Kairan Ladh Junior?


Kepalanya pusing, ia tak mau dikuasai emosi.


Berbalik, dan siap menuju undakan tangga untuk ke kamarnya.


“Mau kemana kamu, Dira!!.” Ladh Junior menahan langkah puterinya yang lagi-lagi meninggalkan obrolan begitu saja.


Hilang sudah rasanya nilai kesopanan puterinya.


Dira tetap melangkah, mengabaikan panggilan itu. Paul bingung, menghadapi situasi ini.


“Dira.!!!! Berhenti!!!” teriak Ladh Junior.


Sudah berusaha menahan emosi, namun sikap Dira memantik gelegak itu membuncah seketika.


Tak digubris, Ladh berjalan cepat menuju puterinya.


“Kamu tuli, huh!!!!” bentak Ladh Junior.


“Pa, sabar.” Pinta Paul yang menahan tangan ayahnya yang terlihat kencang melilit lengan Dira.


“Lepas pa.” Begitu suara Dira akhirnya keluar juga.


“Jawab omongan papa. Kamu kenapa, ada apa, huh.??” Sentak Ladh, kini tangannya sudah bersidekap setelah dipaksa Paul melepas dar tangan adiknya.


“Aku capek, aku capek.” Jawab


Dira. Terlihat wajahnya memelas, nada bicaranya terdengar bergetar.


“Kamu itu berubah, menjadi liar, dan hilang sopan santu sama orang tua. Aku ini orang tua kamu, Dira!!!!” jelas Ladh Junior akan posisinya.


Dira kembali memejamkan matanya. Dadanya seketika bergetar hebat, ia merasakan deru nafasnya mulai memberat.


Tolong hentikan semua ucapan ayahnya, ia khawatir tak bisa mengendalikan diri setelah ini.


“Jawab kalau orang tua ngomong!!! Masih anggep papa ini orang tua kan!!” lagi, ucap Ladh.


“Papa masih mau dianggap orang tua Dira!!!!” Hilang sudah kesabaran Dira.


Emosi kini mulai bertahap mengikis kesadarannya.

__ADS_1


“Papa mau dianggap begitu!!!!” nadanya semakin meninggi.


“Dira, jangan begini.” Paul mengingatkan sang adik untuk menjaga bicaranya. Bagaimana pun itu adalah ayah mereka.


Paul bahkan memegang tangan adiknya untuk menguarkan emosi Dira.


“Gak.” Dira menepis tangan Paul. Menatap tajam abang dan ayahnya.


“Kalian tidak tahu, kalian tidak tahu bagaimana aku menjaga agar otak ini tetap waras.!!!” Pekik Dira membahana.


Rumah besar itu seakan terisi penuh dengan teriakan Dira seorang.


“Apa maksud kamu, sayang.” Ladh Junior mendekat untuk menggapai puterinya, tapi Dira menolak dan mundur.


“Jangan mendekat. Jangan menyentuh aku dengan tangan kotor papa.” Tekan Dira pada ucapannya.


Paul dan Ladh Junior sontak tertegun dengan pemilihan kata-kata Dira barusan.


Apa ucapannya tadi? Tangan kotor? Tangan kotor ayahnya?


“Dira!!!! Jaga ucapanmu. Kenapa papa kau sebut begitu.” Sentak Ladh Junior.


Ia merasa tersinggung, karena tak melakukan kesalahan apapun dari tuduhan puterinya.


“Halah, papa lupa karena hal itu sudah jadi kebiasaan dan gak terlalu penting kan?” sindir Dira menjadi.


Ia mengepalkan tangannya saat mendapat reaksi penolakan dari ayahnya.


“Apa maksud kamu? Papa gak ngerti sayang.” Ladh jelas tak paham kemana arah ucapan tak masuk akal dari puterinya.


“Papa lupa, papa lupa dengan puteri Bisma Suprapto, Alexia Bisma, papa lupa sama kelakuan papa waktu itu!!!!” Dira mengeluarkan akar masalah yang membuatnya berubah beberapa hari belakangan ini.


Ladh Junior membulatkan matanya saat Dira menyebutkan nama Alexia Bisma, ingatannya kembali ke masa itu di luar kendalinya.


Paul tak paham akan pem bicaraan keduanya.


Melihat sang ayah diam, Dira tersenyum sinis.


“Betul, betulkan jika papa ikut dalam tindakan melenyapkan nyawa seorang anak karena permintaan orang tuanya kan!!!! Iya kan!!!!!” jerit Dira keras. Menyentak alam bawah sadar Ladh Junior seketika.


“Dira... bukan seperti itu kenyataannya, Di...” Ladh maju beberapa langkah, namun Dira menolak dengan sinis. Malah pergi dari sana, berlari menaiki anak tangga dengan cepat, ia tak tahan dengan reaksi ayahnya.


Membantah hal yang jelas-jelas dilakukannya.


Kairan Ladh tahu alasan puterinya bertindak bodoh akhir-akhir ini.


Rupanya, masa lalunya bersama orang tua Alexio yang telah mengambil keputusan untuk memilih merenggut kembaran Alexio dan menyelamatkan pemuda itu.


“Dan papa harus tahu, apa yang papa lakukan dahulu, maka Dira akan menanggungnya mulai sekarang, karena, karena papa mematahkan masa depan Dira.” Dira berhenti di anak tangga terakhir berbalik dan berucap demikian.


“Dan, dan apa yang papa lakukan, sudah berhasil membunuh diri Dira yang dulu... asal papa tahu, Alexia Bisma,, Alexia Bisma adalah kembaran pemuda yang Dira suka. Dan papa sudah menghancurkan semua.”


“Dia membenciku selamanya!!!!! Karena papa.” Pekik Dira, lalu berlari meraih pintu kamar dan membantingnya keras.


Penjelasan Ladh tidak menyurutkan semua niat Dira.

__ADS_1


Ia tetap memproklamirkan bahwa, ia akan menanggung semua kesalahan orang tuanya, dengan menghukum dirinya sendiri.


Menjadi buruk dari yang terburuk, dan dibuang oleh semua orang.


__ADS_2