Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 10


__ADS_3

“Jadi itu alasan kamu, itu alasan kamu....” sambil berlari cepat, Dira menggumamkan kalimat itu, sembari tersedu-sedu ia mengabaikan semua mata yang masih bersilewaran di area sekolah meski sudah pulang.


“Kamu, kamu benci aku karena papa aku....” isaknya semakin kencang, air mata itu kurang ajar betul ikut nimbrung pada wajah cantik Dira.


Bump!!!!


Hempasan suara pintu mobil menyertai diri Dira saat ia sudah duduk di jog penumpang.


“Biasa aja sih.” Gerutu Paul pada kebiasaan sang adik yang hobi merusak barang-barangnya.


Tak ada sahutan kata-kata, namun tangis yang justru terdengar berikut susutan ingus di hidung.


Menoleh.


“Adek????!!” Panggilan yang terucap ketika Dira tengah ada masalah atau dirinya merayu Dira.


Tercengang dan segera meraih bahu adiknya.


“Kamu kenapa, huh?? Kamu kenapa??!!!” Tanya Paul membuat tangis Dira semakin pecah tak terkendali hingga Paul langsung mendekap tubuh ringkih itu dalam pelukannya.


“Nangis aja, abisin itu air mata, ada abang yang bakalan dengerin.” Paul mengusap pelan kepala Dira, mengalirkan kehangatan dan kasih sayangnya untuk adik tercintanya.


Hiks hiks hikks


Satu jam Dira menangis tanpa kenal waktu, mobil Paul pun tetap setia nangkring di depan gerbang sekolah Dira. Mantap di sana.


“Hei, halooow mbak se,...” Paul mengguncang pelan tubuh Dira saat tak terdengar lagi tangisnya.


Menghela nafas dan tersenyum lembut. Mengusap dan mencium puncak kepala adiknya. Paul meletakkan tubuh Dira kembali di kursinya, gadis itu saking lelahnya menangis sampai tertidur.


Memakaikan seatbelt.


“Jangan menangis lagi, dek. Abang sakit lihatnya.” Tutur Paul menatap teduh pada wajah sang adik.


Tak butuh waktu lama, Rubicon hijau itu meninggalkan tempatnya, menuju kediaman keluarga Dira......


Sementara Alexio....


Ia melirik dingin pada diary merah muda milik kembarannya.


Tindakannya memang salah dengan menyentak mental gadis itu, dia tak pernah melihat Dira menangis, meskipun Dira sering mendapatkan perlakuan memalukan darinya ketika menolak pernyataan gadis itu di sekolah, bahkan dengan sengaja Alexio mengencangkan suaranya hingga memantik perhatian siswa untuk mengerubungi mereka


Tapi tak sekalipun Dira menunjukkan wajah sedih, tak seperti kebanyakan gadis lain yang tentu akan berubah air mukanya jika dipermalukan seperti itu.


Namun tadi.......

__ADS_1


Menyesal? Tidak. Tidak sama sekali.


Tubuhnya bangkit, menuruni undakan tangga dan menuju parkiran, mengabaikan sapaan para siswa yang berselisih langkah dengannya. Alexio tak lagi ramah, berbeda dengan beberapa hari yang lalu.


Menaiki Rubicon merahnya, Alexio meninggalkan halaman sekolah. Tubuhnya letih. Mau pulang.


Tapi tujuannya malah beralih kemari,,,, rumah Xia. Yang beberapa hari lalu kosong. Berkali-kali ia membunyikan bel, berteriak dan bertahan sampai malam, tapi sosok itu tetap tak muncul.


Kemana gadis itu?


Ting tong.....


Hening tak ada jawaban...


Tok... tok.. tok.


Mengetuk keras dan kasar hingga pintu gagah itu bergetar karena ketukan Alexio.


Namun lagi-lagi tak ada sahutan sama sekali.


“Kamu pergi lagi, Xia? Tak ada kata pamit sama sekali? Apa aku melakukan kesalahan?” lirih Alexio meluruh ke lantai teras rumah itu. Menekuk lututnya dan tanpa sadar terbaring di sana hingga dini hari......


.


.


.


“Kenapa nona den..??” dari arah tangga, bi Nah terlihat khawatir ketika Paul membopong tubuh Dira.


“Non Dira sakit?” tanya si bibi.


“Gak, dia ketiduran aja, bi.” Jawab Paul lalu meninggalkan asisten rumah tangga itu untuk mengantarkan Dira ke kamar.


Sampai di kamar gadis itu, Paul meletakkan dengan lembut, mengecup dahi sang adik... dan melepas sepatu adiknya. Setelah itu ia melangkah keluar, namun baru menyentuh handel pintu, Dira mengigau...


“Papa tega... papa tega, hiks hiks, Alexio, maaf..” lirih Dira begitu pilu, bahkan sudut mata itu kembali mengucurkan air mata.


“Papa? Alexio?” gumam Paul bermonolog sendiri, apakah dua orang pria itu adalah penyebab tangis sang adik. Tapi ia tak bisa berasumsi apapun, namun tetap akan menjadi bahan pikirannya setelah ini.


Malamnya. Dira yang mengurung diri semenjak ia bangun tidur, enggan menghidupkan lampu kamarnya, bahkan seragam sekolahnya saja masih lengket di tubuhnya, bi Nah sudah beberapa kali mengantarkan makanan, camilan dan menyiapkan pakaian, tapi tak ada yang disentuh oleh Dira, gadis itu hanya bersuara ketika bibi itu menyentuh saklar lampu...


“Jangan dihidupin, matikan.” Perintah Dira keras. Bi Nah bahkan tersentak akan nada bicara Dira yang tiba-tiba tinggi, namun asisten rumah tangga itu maklum, mungkin Dira sedang tidak mood saat ini.


Dira termenung menatap jendela kamarnya yang tidak tertutup gorden. Ia juga melarang bi Nah menutupnya tadi.

__ADS_1


Pandangannya menembus kaca, namun pikirannya sudah keluar dari tubuhnya.


Mengingat kembali setiap ucapan Alexio, bentakan cowok itu, setiap baris kalimat dalam buku diary muda yang mengantarkannya terpikat erat dengan sosok itu.


Namun, seberapa keras ia menempel, memaksa bahkan berharap pada Alexio, mengabaikan harga dirinya sebagai seorang gadis yang selalu ditolak...


Kini semangat itu meluncur bebas ke bumi... menyakitkan.


Alasan tidak pernah berbalasnya perasaan cinta yang sering diungkapkan Dira tanpa tahu tempat dan waktu, rupanya bukan karena kekurangan yang berasal dari dirinya sendiri. Tapi karena benang takdir buruk yang diwariskan padanya karena jalur darah ayahnya., Kairan Ladh.


“Alexio... aku suka kamu!!!”


“Alexio, mau gak sih jadi pacar aku.!!!”


“Hei Alexio, kurangnya aku apa sih.”


“Alexiooo, aku pokoknya mau suka kamu.”


“Alexio, frekuensi kamu kok gak hidup-hidup sih, gangguan jaringan ya??”


Ungkapan cinta Dira yang jika dihitung lebih dari itu, tapi sebanyak itu pula penolakan yang didapatnya dari Alexio.


Dan kini alasan itu ternyata berasal dari dirinya sendiri, dari kesalahan para orang dewasa yang menariknya pada takdir itu.


“Alexioooo.!!!” Teriakan para gadis sekolah merangsek masuk ke pendengaran Dira yang tengah berjalan di koridor sekolahnya.


Jika dulu ia akan segera berbalik dan menunggu Alexio berjalan melewatinya, tapi tidak kali ini. ia terus melangkah, bahkan ketika Alexio mendahuluinya, mereka bak orang asing. Tak saling menoleh.


Dititik ini, Dira merasa tidak percaya diri lagi untuk sekedar menyapa ataupun menoleh pada seorang Alexio.


Rasa malu itu menjadikan Dira lupa akan jati dirinya sebelum itu.


Ia tidak lagi dikenal sebagai siswi kelas rendah dengan prestasi yang juga sama. Namun, sosok itu pelan namun pasti juga mengalami pergeseran seperti anak bermasalah pada umumnya.


Hilang sudah Dira yang manis, ia menjadi jelmaan kedua dari titisan geng Preety.


Dan tak lupa..... ia dengan percaya dirinya, menjadi bagian dari peserta ajang balap liar mobil.


“Hai manis, mau lawan aku nie kayaknya.?” Jonathan, menyambut kedatangan Dira di area berkumpulnya anak-anak orang kaya yang siap bertaruh untuk balapan mobil malam ini.


“Sure, aku udah siap ngalahin anak ayah ini.” sahut Dira mencibir Jonathan, dan disambut cowok itu dengan tawa keras dan diikuti Dira.


Sorak sorai menyam but balapan malam ini, mengabaikan gender, perempuan dan laki-laki saling beradu dengan deru mesin mobil mereka.


“Jonathan, Jonathan!!!!” teriak anggota gengnya untuk pimpinan mereka yang saat ini sudah melajukan mobilnya bersama 5 mobil lainnya, termasuk Dira di sana.

__ADS_1


__ADS_2