Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 15


__ADS_3

Semua yang baku hantam mendadak berhenti karena teriakan cempreng dari Dira.


Alexio menatap tak percaya, gadis itu malah berdiri tepat di hadapannya, menantangnya tanpa gentar sama sekali.


Ia akui keberanian Dira, jangankan hal seperti ini...


Kalian ingat kan, harga diri gadis ini sudah lenyap setiap menyatakan perasaan pada Alexio. Maka untuk menantang Alexio yang terkenal jago berantem itu, tak menciutkan nyali Dira.


“Ayo, pukul. Bisanya Cuma berantem aja.” Decih Dira mencibir.


Alexio memejamkan mata, menghipnotis pikirannya agar tidak terpancing emosinya. Ia memang membenci, tapi tak niat menyakiti fisik.


“Lo, inget, gue tunggu di rumah sakit semua. Kalo gak, gue hancurin bisnis keluarga kalian.” Alexio mengecam para pelaku. Ia bukan pecundang yang mengandalkan koneksi kekuasaan keluarganya, hanya saja saking geramnya kali ini ia terpaksa menggunakanhal itu.


“Al-al...!!!” panggil Arya gugup.


“Ja-jangan ganggu usaha keluarga gue. Gue bakalan dateng.” Sahut Arya, dan diangguki oleh yang lain.


Mereka lupa jika pria yang dihajar kala itu adalah adiknya Zapi, yang sialnya mereka juga lupa Zapi anggota geng Alexio.


Di luar gerbang....


“Jadi, Dira itu anggota gengnya Jonathan?” barry yang gatal sekali ingin tahu hal itu hanya diacuhkan oleh Alexio.


Pemuda itu sibuk memasang sarung tangan dan helmnya.


“Alexio!!!” panggil Barry karena dicueki.


“Gue gak tahu. Tanya sendiri. Bukan urusan gue.” Cecar Alexio geram.


Masa bodo Dira mau anggota atau apapun itu di geng Jonathan, ia tak peduli.


Catat itu. TIDAK PEDULI, Alexio.


Catat ya.


Malamnya....


Sesuai undangan Ladh yang disampaikan kepada Jonathan. Sekarang, sudah berkumpul Jonathan bersama keluarganya di ruang makan kediaman Ladh Junior.


“Ada apa ini tiba-tiba mengundang makan alam keluarga kami, Ladh.?” Andre, ayahnya Jonathan membuka pembicaraan ketika mereka semua sudah selesai menyantap makan malam.


“Dira.” Ladh memanggil puterinya yangn duduk di sebelah Paul yang ada di sisi kanannya.


“Ya, pah.” Sahut Dira pelan. Tadi dirinya sudah mendapat wejangan, mungkin lebih cocok permohonan Paul, bahwa memintanya untuk menjaga sikap karena ada keluarga teman ayahnya yang akan makan malam.


“Papa mau menjodohkan kamu dengan Paul.” Semua mata melihat Ladh yang barusan berbicara.


Dan Jonathan yang paling terbelalak, bahkan mulutnya nyaris terbuka lebar.


‘Gue gak salah denger kan?’ Batin Jonathan


Dan ayah serta ibu Jonathan memberi reaksi berbinar-binar.

__ADS_1


Mereka sudah tahu puteranya begitu menyukai Dira, terlebih hubungan kedua keluarga ini sudah terjalin lama.


Dira dan Jonathan memang pernah berteman saat kecil. Karena Jonathan agresif menyatakan suka, maka Dira enggan berteman lagi.


Ketemu ketika SMP, dan cukup intens berkomunikasi karena Jonathan saat itu sudah ada pacar sehingga Dira tidak takut lagi.


“Mereka masih sama-sama sekolah, pa.” Paul menyela, ia memang kenal dengan keluarga itu, tapi ia belum percaya adiknya diserahkan pada pemuda itu.


“Tunangan dulu, Paul. Bukan menikah.” Sahut Ladh Junior.


“Bagaimana Dira? Kamu kan sudah kenal baik dengan Jo.” Sambung Ladh Junior menatap puterinya yang kini menatapnya penuh pertanyaan.


Dira tidak pernah di ajak berdiskusi tentang hal ini. ia bingung mau menjawab apa.


Jo tidaklah terlalu buruk. Meski terkenal badung, tapi tak pernah sekalipun dirinya tersakiti oleh pemuda itu. Bersama Jonathan, meski terkurung berdua pun, ia tak akan takut.


“Kalau belum siap, jangan dipaksa nak. Gak baik sesuatu itu dipaksakan.” Ucap Sandra, ibu Jonathan.


Dira menunduk. Tiba-tiba, ia merasakan kehangatan, ia tahu pelakunya.


Paul. Abangnya.


“Jangan terbebani my dear.” Paul dengan suara berbisik, mengucapkan hal itu, sembari menggenggam lembut telapak tangan Dira yang terasa basah. Pasti adiknya itu gugup.


“Kita coba dulu Dira.” Jelas sekali ada unsur berharap lebih dari kalimat Ladh Junior.


Harapannya besar sekali menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan seorang Andre.


“Pa.” Paul mengingatkan sang ayah agar jangan menekan adiknya.


“Ekhem.” Andre membuka suara.


“Begini saja, kita kasih lampu hijau untuk anak-anak kita ini saling mengenal lebih dekat.” Saran Andre.


“Iya, jadi mereka kayak berpacaran gitu. Dengan izin kita tentunya.” Tambah Sandra, memahami maksud suaminya.


Ladh mengangguk, Paul pun tidak bereaksi apapun. Menyetujui jika hanya hubungan seperti itu.


Tidak akan mengikat adiknya.


Sementara Jonathan, diberi pilihan yang manapun ia tak akan membantah.


Sama-sama menyenangkan menurutnya.


Kesempatan menjadi sosok yang spesial bagi seorang Dira.


“Baik pa. Dira bersedia jika seperti itu.” Dira menjawab lirih, matanya menatap satu persatu orang yang ada di sana. Termasuk Jonathan yang memberikan senyum lembut untuknya.


“Baiklah kalau begitu, mulai hari kalian akan mulai saling mengenal.” Ucap Ladh melihat Dira dan Jonathan.


“Dan Jo, om harap. Kamu bisa menjaga Dira sebaik-sebaiknya. Kamu paham kan terakhir kali kita bicara apa.”Ladh Junior menatap intens pada Jonathan yang menjawab dengan anggukan mantap.


“Jangan mengekang Dira ya Jo. Ingat, dia juga punya privasi sendiri.” Jelas Sandra, ia tak ingin puteranya akan membuat hubungan tersebut menjadi toxic. Ia menyayangi Dira tulus.

__ADS_1


“Iya ma. Gak akan Jo kekang privasi Dira nanti.” Sahut Jonathan menyanggupi.


.


.


.


“Jangan bawa-bawa Dira dalam pergaulan buruk lo.” Setibanya Alexio menjadi juara balap, ia menahan laju Jonathan yang melewatinya.


Jonathan membuka kaca helm nya, merasa dirinya terpanggil.


Menoleh ke asal suara.


Alexio?


“Lo ngajak gue ngomong?” tanya Jonathan memastikan.


“Siapa lagi yang brengsek di sini selain lo.” Sahut Alexio menatapnya datar namun nada suaranya jelas mengintimidasi.


Jonathan turun dari motornya, melepas sarung tangan berikut helmnya.


“Apa hak lo? Lo pikir gue ngerusak cewek gue??” Jonathan merasa yang diucapkan Alexio sungguh konyol


“Cewek lo?” Alexio menatap selidik.


“emhh, kenapa? Gak setuju lo??” cibir Jonathan menatap penuh ejekan.


“Putusin.” Tegas Alexio. Mirip perintah.


“Wahhh... apa hak lo. Kalo mau mutusin, Dira yang harus ngelakuin, bukan lo.” Jonathan menoyol dada Alexio menggunakan telunjuknya.


“Gue ajak taruhan, kalo lo kalah, maka lepasin Dira.” Tawar Alexio.


Setelah mengucapkan hal itu, ia memaki dirinya sendiri. Bagaiman bisa ia mengucapkan kata keramat itu.


Lepasin Dira?


Sementara selama ini ia selalu mengusir gadis itu?


Tanpa diketahui Dira, baik Jonathan dan Alexio terlibat taruhan yang menjadikan Dira sebagai pialanya. Jelas jika Alexio tak sudi Dira dekat dengan rivalnya yang sudah mendapat cap sebagai siswa badung berikut deretan kenakalan parah lainnya. Melebihi dirinya, dan ia tak sudi Dira rusak seperti itu. Menangkis rasa bahwa ia suka.


Di lain itu, Xia, adalah sosok yang saat itu menjadi rem kuat bagi Alexio yang ingin menjauhi Dira dari Jonathan. Xia yang tak pernah mau ikut campur urusan Alexio, kini melibatkan dirinya ketika pemuda itu menjadikan Dira sebagai ambisinya.


“Jangan seperti ini, Al. Aku gak suka.” Pinta Xia yang muncul di kerumunan itu.


“Xia?” Alexio terkejut. Kenapa Xia bisa ada di sini?


“Kamu ngapain di sini? Ini udah malem, pakek jaket, dingin.” Alexio melepas jaketnya.


“Woy, ayo udah mulai ini.” Andi menepuk bahunya, mengingatkan Alexio akan ajang balap taruhannya.


“Bentar, gue kasih jaket dulu ke Xia.” Ujar Alexio, menyerahkan jakenya pada Xia.

__ADS_1


Andi tertegun melihat tingkah Alexio, tapi tak memperdulikannya, karena riuh suara para penonton sudah menyeruak perhatiannya.


“Al, jangan...” Mohon Xia, berkaca-kaca.


__ADS_2