
Suprapto berang saat mendapat laporan jika salah satu bisnisnya mencuat ke media, bahkan terpampang nyata ia tampil dalam beberapa gambar yang tayang di salah satu stasiun televisi Singapura.
Pebisnis Gold Corporate Melakukan Perdagangan Manusia
‘Mr. Suprapto membuat yayasan kemanusiaan hanya alibi menutupi bisnis haramnya, bahkan dari anak asuhnya itu pula ia mengambil organ mereka untuk diperjual belikan pada kliennya’
Begitu judul besar dan isi dari berita mengenai dirinya. Ia memang mendirikan yayasan kepedulian dengan menampung anak jalanan serta mereka yang tidak mampu dalam yayasan miliknya. Dari bayi merah sampai usia 10 tahun ia bawa dalam pengawasannya, tapi siapa yang tahu jika dari semua bocah-bocah itulah dirinya mengeruk keuntungan besar, dirawat dengan baik hingga usia matang dan menjadi asetnya, dari perekrutan untuk club malam, sampai kebutuhan organ tubuh.
Dulu, ia hanya mengawali dengan penjualan senjata serta obat terlarang, namun semenjak Alexio mengidap gagal jantung dan kelainan hati, dari sanalah ia berusaha mencari pendonor yang tepat bagi cucunya, namun siapa sangka ia malah menjadikan hal itu sebagai bisnis sampingan yang justru menjadi ladang uangnya sampai kini.
Setan memang!
“Sialan, brengsek!!! Siapa yang berani mengacaukan bisnisku!!!” benda-benda yang nyaring bertabrakan dengan dinding bahkan lantai sudah sedari tadi menggema di ruangan itu. Kakek renta yang sudah bau tanah itu tidak bisa mengendalikan emosinya. Bukan satu dua bisnisnya saja yang terganggu, namun nyaris semua bisnis haramnya mencuat begitu saja dan berdampak pada citra baiknya sebagai pebisnis ulung yang berjiwa sosial itu lebur menyatu dengan kerak bumi terdalam.
“Cari siapa yang bernai menggangguku, dapatkan orangnya, dan aku sendiri yang akan mencabik-cabik tubuh itu.” Mata menyala, deru nafas tak beraturan, sinyal Suprapto dalam mode menggila, para anak buahnya pun bergidik menyaksikan kemarahan yang jarang sekali ditampilkan bos mereka, maka menjadi wajib untuk menemukan pelaku yang menghancurkan bisnis Suprapto dalam keadaan hidup-hidup.
Di tempat lain..
“Hahahahahaha.” Gelak tawa Dome tak terkendali kala menonton berita yang menayangkan kekacauan yang menimpa si tua renta bernama Suprapto itu. Ia yang biasanya menyalakan lagu blackpink atau bermain game online di layar televisi, kini sedari tadi hanya berita mengenai Suprapto saja yang bersileweran ditangkap netranya.
“Bagus.. bagus. Aku suka ini.” tawanya bahkan mengguncang tubuhnya, sesekali ia menepuk keras dua pahanya saking girang melihat penderitaan Suprapto.
Durhakim ni bocah Blackpink!
“Apakah kalian pelakunya?” tanya Dome pada beberapa anak buahnya yang berdiri di masing-masing sisi brangkarnya.
“Bukan bos.” Jawab mereka serempak
__ADS_1
“What!!! Bukan kalian!!” seru Dome menatap tajam mereka satu persatu.
“Sialan! Tak asik, tak seru!! Kenapa bukan kalian yang mengerjai kakek itu.” Sergah Dome kesal.
“Jadi siapa yang membuat drama lawak ini, huh! Aku mau berguru padanya.” Seloroh Dome
“Kami tidak tahu bos, bahkan hampir semua bisnis Suprapto terguncang karena fakta yang tiba-tiba muncul di semua media.” Ujar salah satu dari anak buahnya.
“Hmm, aku salut pada orang itu, apakah dia bergerak sendiri, atau ia mafia juga? Aihhh aku tersinggung karena rasanya percuma punya 2 mafia besar tapi kalah dengan orang ini.” Dome memberengut sekaligus mengeluhkan kinerja anak buahnya itu.
Jika Dome tengah penasaran dengan sosok yang menghancurkan bisnis ***-*** milik Suprapto, Linda pun juga merasakan hal yang sama, ia tengah diliputi perasaan membuncah senang mendapati kondisi Suprapto yang pasti sedang tak baik-baik saja itu.
“Cari siapa yang mengguncang bisnis Suprapto, pasti dia memiliki banyak informasi penting tentang mertua sialanku itu.” Ucap Linda melalui sambungan telepon pada asistennya.
“Siap nyonya.” Sahut sang asisten dari seberang sana, dan panggilan pun ditutup, menyisakan Linda yang mengetuk-ngetuk telunjuknya pada meja kecil di hadapannya, seringai tipis muncul di wajah cantiknya itu.
.
.
.
“Terima kasih, melaluimu, om bisa sedikit mengacaukan Suprapto yang arogan itu.” Ladh tengah menarik segelas kopi lalu mereguknya pelan.
Ia berbincang dengan sosok yang rupanya menjadi dalang kehancuran bisnis Suprapto, atau belum hancur namun lebih tepatnya menggoyang keras.
“Sama-sama, om. Aku juga melakukannya atas dasar dendam yang sama pada pria itu dan melindungi Dira sekalian.” Ucap sosok itu penuh ketegasan.
__ADS_1
“Kau sudah berubah, Jonathan. Om salut padamu.” Sahut Ladh, pada Jonathan, bocah yang dulu sering mengejar puterinya saking sukanya itu. Pun hingga remaja ia kerap mengikuti aktifitas Dira, sampai pada kuliah pun menyusul ke negeri Sakura itu. Hanya saja, puterinya masih tidak menggerakkan hatinya menerima cinta yang tulus dari pemuda ini.
“Semua karena perbuatan bajingan itu, membuat pemuda yang hanya tahu melakukan kenakalan remaja saja, kini berubah menjadi iblis, om.” Seloroh Jonathan terkekeh.
“Dia pantas mendapatkan hal itu, Jo. Kau tidak jahat, Suprapto layak mendapatkan hukuman dari semua korbannya. Termasuk perlakuannya pada orang tuamu.” Jawab Ladh merasa iba atas kematian orang tua Jonathan yang setelah ditelusuri mengarah pada persaingan bisnis. Perusahaan orang tua Jonathan yang memenangi tender ketimbang perusahaan Bisma rupanya memantik amarah Suprapto karena mengalahkan puteranya.
Ia marah dan menghancurkan keluarga Jonathan dengan kesan kecelakaan murni, namun rupanya di sisa nafas ayahnya masih bisa mengirimkan pesan suara yang mengatakan jika mobil mereka sengaja ditabrak oleh plat xxxx yang dicari Jonathan ternyata milik suruhan Suprapto.
“Hukuman pria itu tidak seberapa dengan kehilangan yang aku rasakan, om.” Ujar Jonathan sendu. Bahkan ia mematahkan leher Suprapto sampai hancur pun tidak akan membuatnya puas.
“Banyak yang mendendam padanya, bahkan putera dan cucunya sendiri saja tengah melakukan balas dendam pada pria itu, Jonathan. Jadi kau tidak sendiri dalam menghakimi orang itu.” Sahut Ladh
“Kau tahu, Jo.” Lanjut Ladh yang ditatap Jonathan penuh tanda tanya.
“Kejahatan Suprapto bahkan melebihi perbuatan iblis. Ia, tega mengambil jantung cucunya sendiri untuk ditaruh pada cucu satunya, padahal saat itu om sudah menemukan jantung yang tepat bagi cucunya. Namun ia memilih merenggut nyawa darah dagingnya sendiri.” Ujar Ladh miris.
“Maksudnya, om?” Jonathan tertarik mendengar penuturan Ladh barusan.
“Kau kenal Alexio, bukan?” tanya Ladh dan diangguki Jonathan
“Alexio dulu kembar, dan jantung yang ada di dalam tubuh Alexio adalah milik kembarannya yang saat itu koma akibat penyiksaan pelaku pelecehan padanya.” Jawab Ladh
“Namun setelah kami autopsi diam-diam, tidak ada tanda-tanda pelecehan pada **** ***** Alexia, namun ada beberapa tanda trauma di otak bocah itu, namun fakta berbeda ditulis mendiang yang menyatakan dirinya dilecehkan oleh guru lesnya yang menjadi pelaku penyiksaan malam itu.” Jelas Ladh.
“Dan kau tahu fakta mengenai pelakunya, malam itu menurut kesaksian Alexio pria itu menusuk kembarannya dan Alexia balik menyerang dengan menusuk pula. Tapi fakta autopsi di tubuh pelaku justru berbeda, karena luka akibat pisau itu berbeda dengan luka lainnya, diameter pisau berbeda di temukan di tubuh pelaku.” Lanjut Ladh
“Yang artinya, tikaman Alexia tidak berpengaruh pada organ vital, namun tikaman benda tajam lainnya yang menghilangkan nyawa pelaku malam itu.” Pungkas Ladh.
__ADS_1
Menimbulkan fakta baru jika, saat malam kejadian itu ada tersangka lain di sana, entah pelakunya adalah Linda, atau memang ada orang lain. Hanya Roni, Alexia, Alexio dan Linda yang tahu kejadiannya. Bahkan CCTV malam itu anehnya rusak, beruntung Ladh bisa mengautopsi Alexia di saat Suprapto menyibukkan diri dengan Alexio dan tidak berminat melihat jenazah cucunya sendiri.