Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 48


__ADS_3

Saat tahu keberadaan puteranya tengah terbaring di rumah sakit yang mirip klinik itu, Bisma bergegas menelpon Kairan Ladh langsung untuk menjemput puteranya menggunakan ambulans khusus dari rumah sakit Ladh.


Kedatangan ambulans mewah itu menyita banyak perhatian orang-orang disekitar rumah sakit tempat Alexio terbaring.


“Kami akan membawa pasien atas nama Alexio Bisma ke rumah sakit Ladh.” Ujar petugas medis yang sudah membawa brangkar pada perawat di sana.


“Dan semua administrasi atas nama pasien segera dibuat, kami akan langsung mengurusnya sekarang.” Lanjut orang itu.


Bersama pengawal pribadi keluarga Bisma, kini Alexio yang masih memejamkan mata tidak sadar jika tubuhnya sudah di bawa menggunakan fasilitas rumah sakit Ladh.


“Wah anaknya orang kaya raya ini.” bisik perawat yang tadi bertemu Alexio di meja lobby


“Iya, gak level di rumah sakit kecil kayak gini kayaknya.” Sahut rekannya.


“Rumah sakit Ladh kan mewah banget, nomor satu pula.” Celetuk satunya lagi.


Mereka berseru dalam hati, mengagumi pihak rumah sakit Ladh yang sigap dan tanggap dengan tugas mereka. Terlebih wajah para gadis yang terpesona dengan sosok yang masih terbaring di ranjang itu.


“Siap bos, tuan Alexio sudah kami bawa sekarang menuju Ladh Hospital.” Lapor pengawal suruhan Bisma yang diberi tugas memantau putera bosnya.


“Dek, ada telpon papa, ponsel kamu mati ya?” Paul masuk ke dalam kamar Dira menyerahkan ponselnya pada sang adik.


“Hehe iya, abis baterenya bang.” Dira meraih ponsel abangnya dan menaruhnya di telinga.


“Iya pa.” Dira memulai panggilan.


“Alexio tadi sama kamu kemana aja tadi.?” Tanya Ladh diujung panggilan.


“Tadi kami jalan aja udah tuh di balik ke apartemen kok, sempet telponan.” Jawab Dira


“Apa tubuh Alexio luka-luka?” ayahnya bertanya lagi.


“Cuma lecet aja sih pa, kenapa memangnya?” ujar Dira bertanya heran


“Sekarang Alexio di rumah sakit, tubuhnya banyak luka baru.” Sahut Ladh


Dira sontak bangkit dari kuburnya, eh salah dari posisi baringnya.


“Apa??!!!!” ucap Dira kaget.


Paul hanya memperhatikan setiap raut wajah adiknya. Ia duduk manis di ujung ranjang.


“Dira ke sana boleh pa? Sama abang.” Lanjut Dira berucap


Paul mengerutkan dahinya, inilah fungsinya satu lagi, menjadi sopir dadak Dira kemana pun adiknya mau pergi.


“Iya pa, Dira siap-siap dulu.” Mematikan panggilan dan menyerahkan ponsel itu pada si pemiliknya, Paul.


Dira bergegas menuju lemari, meraih baju dan melesak ke kamar mandi untuk berganti.


Ceklek

__ADS_1


“Ayo bang, kita ke rumah sakit.” Gegasnya berjalan cepat, meninggalkan Paul yang ada di dalam kamarnya.


“Ayo bang!!” panggilnya saat Paul masih duduk bengong


“Ngapain?” malas sekali tanggapan Paul.


“Alexio masuk rumah sakit, jad....” belum selesai ucapan itu keluar, Paul sudah hilang ke dalam kamarnya.


“Ayo,” dengan pakaian kaos celana jins selutut, kunci mobil serta dompet ditangannya, ia sudah berjalan menuruni anak tangga mengabaikan Dira yang bergantian tertegun melihatnya.


“Lah, tadi katanya buruan, bengong aja.” Celetuk Paul melihat adiknya masih membatu.


“Eh. Iya, ayo.” Gegas Dira pun menyusul.


“Pakai seatbelt.” Titah Paul, kebiasaan sekali Dira kalau malam suka malas mengenakan seatbelt sehingga Paul yang akhirnya memakaikannya.


“Mandiri.” Titah Paul lagi.


“Iya bos.” Sahut Dira


“Kenapa kata papa tadi si Alexio” tanya Paul saat mobil sudah melintas di jalan raya.


“Kata papa, Alexio di bawa ke rumah sakit karena luka-luka, padahal luka yang Dira lihat tadi sudah mengering.” Jawab Dira menggerakkan kepalanya berpikir.


“Kok bisa? Sama kamu kan seharian?” tanya Paul lagi


“Iya, tadi nganter Dira sudah itu dia balik ke apartemennya.” Sahut Dira.


Sepanjang perjalanan, benak Dira tak lepas dari memikirkan apa yang dilakukan Alexio sampai dirinya dilarikan ke rumah sakit lagi. Apa ia terlibatperkelahian, atau terjatuh di jalan?


Yang pasti Dira tak sabar untuk segera sampai di sana.


“Buruan bang.” Titah Dira tak sabaran


“Iya neng.” Jawab Paul


Beberapa puluh menit kemudian, range rover hitam yang dikemudikan Paul tiba di rumah sakit keluarga mereka.


“Ayo bang, buruan ih lama banget parkir.” Dira sudah ketar-ketir, bahkan kakinya tak bisa diam menunggu Paul yang sedang merapikan posisi mobil di parkir.


“Yang rapi dek, kasian nanti yang mau parkir.” Sahut Paul tenang.


Tak lama dari itu mereka sudah menapaki lantai di koridor rumah sakit, Dira cemas, kabar itu menyentak pikiran liarnya.


Hingga...


“Om, tante.” Dira menangkap siluet orang tua Alexio yang berpapasan di simpang koridor, tampaknya mereka dari arah berbeda kedatangannya.


Suami istri itu tampak panik meski Bisma bisa lebih tenang daripada Linda, isterinya.


“Dira.” Sahut Linda

__ADS_1


“Ayo, kita ke ruang Alexio.” Ajak Linda menggandeng tangan Dira.


“Ayo tante.” Sambut Dira menggenggam tangan Linda yang gemetar.


Tiba di ruang VVIP Plus itu, petugas medis tengah memasang infus di lengan Alexio. Pemuda itu masih betah memejamkan matanya.


“Kenapa Alexio belum sadar, dokter?” tanya Bisma, karena setahunya tadi Alexio pingsan, bukan karena obat tidur atau penenang.


“Apakah putera saya, baik-baik saja, dok?” Linda yang giliran bertanya.


“Putera anda baik-baik saja, bapak, ibu.” Jawab dokter yang bernama Leo.


Sementara Dira hanya memperhatikan dengan seksama keadaan Alexio. Tampak tenang dengan mata tertutup, Dira meringis pilu melihat luka di sekitar wajah Alexio, hanya ada lebam serta lecet di lengannya saja dan tak ada luka itu saat bersamanya.


“Malam, bapak, ibu.” Dokter Doni muncul.dirinya juga diberi kabar oleh Kairan Ladh agar datang ke rumah sakit.


Karena bagaimana pun juga, Alexio di bawah pengawasannya sebagai psikiater pemuda itu.


“Dira.” Sapanya juga pada Dira.


“Dokter.” Sahut Bisma membalas sapa dokter Doni.


Tak lama Ladh pun masuk.


“Bagaimana dokter Leo keadaan pasien atas nama Alexio Bisma?” tanya Kairan Ladh pada dokter Leo.


“Pasien baik-baik saja dok, mungkin ada shock sedikit, dokter karena kejadian yang dialaminya tadi.” Jelas dokter Leo.


“Shock?” ulang Kairan Ladh.


“Informasi dari pihak rumah sakit sebelumnya bagaimana? Di mana mereka menemukan pasien.” Tanya Kairan Ladh.


“Dari informasi yang diterima, pasien atas nama Alexio Bisma sendiri yang mendatangi rumah sakit, menurut perawat sana, pasien bersama satu teman lagi tapi temannya menghilang, lalu pasien pingsan tak lama dari itu.” Jelas dokter Leo lagi.


“Teman?” beo Bisma dan Ladh berbarengan.


Mereka menoleh pada Dira, “Diradikabarin Alexio kalau dia sudah tiba di apartemen, pa, om.” Jelas Dira seakan paham arti tatapan Bisma dan ayahnya.


“Terima kasih dokter Leo.” Ucap Kairan Ladh melepas dokter Leo yang pamit keluar ruangan.


Tinggal-lah Dira, Linda, Bisma, Kairan Ladh, Paul dan dokter Doni di dalam ruangan Alexio.


“Oh ya, Dira lupa kasih tahu.” Dira teringat sesuatu yang memancing perhatian orang-orang di sana.


“Seharian ini Alexio sering berkomunikasi dengan Xia, bahkan kami tadi sempat ke rumah itu tapi tak ada Xia kata Alexio.” Lanjut Dira


“Padahal, waktu Dira dengar obrolan itu, hanya operator saja yang bersuara, bukan Xia.” Sambungnya kemudian


“Apa mungkin, setelah mengantar kamu, Alexio bertemu Xia?” timpal Dokter Doni.


Dira diam, ia tak tahu akan hal itu, terlalu banyak kejutan yang diketahuinya dari seorang Alexio, tapi karena hal itu pula menimbulkan banyak hal misterius menyelimutinya. Termasuk Alexio yang tiba-tiba terluka kembali malam ini.

__ADS_1


__ADS_2