
“Alexio!!!!” pekik Dira, sudah dari tadi ia berusaha melerai perkelahian dua pemuda tamvan itu.
Satu mantan, satu ahhh entahlah belum jelas statusnya.
“Itu, brengsek!!! Untuk kepemimpinan lo yang gak bisa ngedidik anggota dengan bener!!!” bentar Alexio, mengabaikan pekikan nyaring Dira.
Anggota geng Jonathan yang ada di dalam bergegas membela pimpinan mereka, mendorong keras tubuh Alexio yang menunggangi tubuh Jonathan.
“Sialan kalian!!! Lepas!!” sentaknya memukul satu anggota Jonathan yang memegang tangannya.
Dira heran, ada alasan apa Alexio di sini, dan berani sekali dirinya sendirian.....
Eh sendirian...
Tunggu!!!
Dira menatap ke halaman markas ini dan...
“Hah!!!” matanya membelalak sempurna ketika menangkap perkelahian juga tengah berlangsung di luar sana, antara dua geng motor.
Jadi, sedari tadi mereka tak menyadari bahwa geng Alexio sudah mengacau di luar sana.
Rupanya drama pemutusan hubungan tadi cukup menyita perhatian mereka berdua.
“Alexio!!” Dira yang kini memegang lengan pemuda itu, berharap tak berontak.
Syukurlah, hanya gerakan pelan sebagai bentuk pemberontakan.
Masih gatal mau memukul rupanya.
“Sttt, tenang.” Dira mengelus punggung Alexio agar tenang.
“Lo, kasih tahu 7 orang monyet yang udah gue sebutin waktu itu. Kalo masih gak dateng ke tempat Zapi, jangan harap gue bakalan kasihan sama nasib keluarga mereka, cam kan itu!!!” sentak Alexio murka.
Jonathan mendecih.
Bukan karena ucapan Alexio.
Tapi, dengan nasib dirinya, ia tengah mengejek dirinya sendiri.
Baru saja sakit yang ia terima di hatinya akibat diputusin, sekarang sakit lagi melihat gadis itu berdiri menenangkan rivalnya.
“Ayo Dira. Kita pergi dari sini.” Alexio memutar tubuhnya dan membawa Dira mengikutinya.
Dira menoleh dan melihat Jonathan dan berujar hanya dalam isyarat mata untuk meminta maaf atas kejadian ini, dan dibalas Jonathan dengan senyum teduhnya.
Sampai di halaman yang sudah lengan dari perkelahian itu, Dira hanya mampu meringis, menatap satu persatu anggota geng Jonathan yang tumbang dengan babak belur di tubuhnya, terutama mereka yang terlibat langsung dengan masalah ini.
“Ini peringatan terakhir gue, malam ini tidak datang ke rumah sakit, malam ini juga gue hancurin perusahaan bokap kalian! Inget itu!!” begitu ancaman mengerikan yang keluar dari bibir Alexio.
Perusahaan yang dimiliki keluarga Alexio tidak sembarang, menjadi investor dan berpengaruh untuk kerjasama menguntungkan bisa menjadi bomerang jika berurusan dengan keluarga itu.
Dira pun yakin jika rumah sakit milik ayahnya pasti menjalin kerjasama dengan keluarga Alexio.
“Kita mau kemana?” tanya Dira saat dirinya sudah dipakaikan helm oleh Alexio.
Pemuda itu tak menjawab, membuat Dira kikuk dan memilih duduk saja di atas motor itu.
Spooky euyyy!!!
Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menyertai mereka berdua.
Tak ada satu pun yang membuka kata.
Dira memilih menaruh kepalanya di punggung kokoh milik Alexio, memejamkan mata dan memegang jaket belakang Alexio.
“Di sini yang bener.” Alexio menarik tangan Dira sebelah kiri untuk melingkar di perut pemuda itu.
“Satunya juga tarok sendiri, gak mungkin aku ngelepas motor kan.?” Kekehnya
Ahh sepertinya sudah tak marah lagi.
Begitu pikir Dira yang menuruti permintaan Alexio.
Memeluk tubuhnya.
Mereka sampai di tujuan...
Ini di mana?
__ADS_1
“Danau?” celetuk Dira saat motor Alexio sudah berhenti.
“Hmm, aku sering kemari.” Jawab Alexio menarik tangan Dira untuk mengikutinya.
Hening, begitulah gambaran danau ini.
Alexio membawa Dira untuk duduk di ujung dermaga.
“Kamu sendiri kalau kemari?” tanya Dira penasaran.
Alexio menoleh saat diberikan pertanyaan itu.
Menggeleng.
“Andi? Barry? Atau keduanya?” tanya Dira lagi melihat gelengan pemuda itu tadi.
“Temen.” Sahut Alexio pelan, matanya menatap lurus ke hamparan danau yang berwarna hijau jernih.
“Cowok?” lagi-lagi Dira membangkitkan jiwa keponya.
Alexio menggeleng.
Ya sudah, jelaslah pasti cewek
Eh,, sebentar.
Cewek?
Apa mungkin...
Xia?
Tadi Alexio pun berujar hal yang sama saat menjawab penelponnya tadi.
“Yang nelpon tadi?” diangguki Alexio sebagai jawaban tanya Dira.
“Alexio.” Panggil Dira.
“Hmm,.” Jawabnya
“Kamu sebenernya ada tujuankah ngasih perhatian ke aku?” Dira sangat penasaran untuk hal ini.
Hayolah
Kalian tentu ingat dengan akar masalah keduanya kan?
Diary merah muda itu yang menjelaskannya.
“Maksud kamu?” Alexio tampaknya belum paham
Dira mencari kosakata yang pas untuk ia jawab.
“Kita... hmm, aku yang pernah kamu bilang dulu adalah anak dari dari seorang Ladh, pemilik rumah sakit yang membuat kembaran kamu meninggal.” Jawab Dira penuh kehati-hatian.
Ia tak mau salah bicara dan diceburkan Alexio di kolam sana kan, ia bisa berenang, tenang saja, tapi kalo ada buaya gimana?
Kan berabe.
“Iya.” Jawab Alexio singkat.
Kan,,, orang ini tak lupa kan dengan permasalahan itu.
“Lalu, kenapa kamu sekarang tidak membenciku lagi, ah tunggu, maksudnya kenapa kamu kini mendekatiku.” Seloroh Dira pelan
Ia gugup.
Lebih gugup daripada dirinya yang dulu mengejar dan melontarkan ucapan cinta untuk pemuda ini.
“Iya, aku masih membenci ayahmu, masih. Tapi, membencimu sulit untuk aku lakuin.” Jawab Alexio yang masih menatap air danau di hadapan keduanya.
“Kamu berniat akan menghempas aku sejatuh-jatuhnya kah ketika sudah berhasil mendekatiku?” tanya Dira membuat perhatian Alexio kini berpusat padanya seorang.
Tatapan mata itu menyihir Dira.
Oh God!!!
Gue salah ngomong gak ya?
“Kamu ini, asal aja ngomong.” Alexio mengacak rambut Dira dengan gemas.
__ADS_1
“Terus. Yang kamu lakuin ke aku ini tujuannya apa?” Dira sungguh mati penasaran, sungguh!!
“Aku gak mau menyesal gak ngelakuin apa yang hati aku mau.” Jawab Alexio tenang.
Dira mencari kebohongan di mata hitam itu, nihil.
Ia jujur.
Dira tertegun...
“Apakah kamu mau, memulai semuanya denganku setelah ini?” kini Alexio yang malah bertanya pada Dira.
Dira cengo lagi, aishhh malu-maluin banget deh.
Woyy, doi nembak lo noh!!!!
“Ah, a-apa Alexio?” dih malah kago’ dianya.
Hahahaha
Alexio menarik jemarinya dan mengelus pipi itu lembut.
“Kamu, mau jadi pasangan aku? Pacarkah? Atau apa namanya.” Ucap Alexio membuat jantung Dira sudah berlari entah kemana, meninggalkan tempatnya.
Wait!!! Alias tunggu!!!
“Kamu nembak aku?” tanya Dira akhirnya, di angguki Alexio dengan menyertai senyum manisnya.
“Will you?” tanya pemuda itu.
Apakah ini kesempatan Dira untuk dekat dengan Alexio, sekaligus membuat perasaannya yang selama ini tersimpan penuh berteriak senang karena dibalas.
Ya,,, kapan lagi Alexio amnesia dan nawarin jadi pacarnya, kan?
Oke, siapa tahu dengan cara ini Dira bisa membantu Alexio menjalani terapi.
Baiklah, Dira yakin dengan jawabannya.
Persetan dengan masalah diary merah muda itu.
Toh ia akan mencari tahu juga kebenaran cerita itu nanti.
“Alex----“
“Bentar, ada telepon.” Alexio memutus ucapan Dira yang baru akan menjawab balasan perasaan Alexio tadi.
“Iya, iya, aku nanti kesana, tunggu ya.” Raut gusar Alexio tertangkap di mata Dira
Alexio menaruh ponselnya lagi di dalam saku...
“Ayo Dira, aku harus ke suatu tempat.” Alexio berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dira yang disambut gadis itu.
Saat tiba di motor, Dira berujar, “Alexio, boleh minjem hape kamu gak?” tanya Dira
“Buat?” alexio memakaikan helm di kepala Dira.
“Hape aku gak tahu dimana, tinggal di tempat Jonathan apa di rumah.” Jawab Dira.
“Nah.” Tanpa curiga, Alexio memberi begitu saja
“Pegangan ya,” pinta Alexio saat motor sudah dijalankan.
Dira menaruh satu tangannya di tubuh Alexio sementara satunya mengotak atik ponsel Alexio.
“Gimana? Berdering?” tanya Alexio ketika Dira menaruh ponsel itu di telinga.
“Iya. Tinggal di rumah kali.” Jawab Dira.
Dira hanya berpura-pura menelpon, ponselnya ada di tas yang ia sampirkan sekarang. Bohong ia berujar demikian, ponselnya sudah di silentnya tadi. Saat berjalan di belakang Alexio sebelum menaiki motor tadi. Ia hanya mau memeriksa sesuatu...
Ponsel Alexio tentunya...
Panggilan tadi... panggilan yang baru saja dilakukan Alexio sebelumnya.. Tapi... nihil, tidak ada panggilan apapun, berikut panggilan waktu di rumahnya, ia bisa melihat ada panggilan dari Andi, tapi sebelum Andi. Tidak ada juga!!!!
Oh God!!!
Alexio!!!!
Cepat Dira melingkarkan tangannya di tubuh Alexio, dan terisak tanpa suara.
__ADS_1