Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 78


__ADS_3

“Apakah dosis obat yang dikonsumsi Alexio masih rutin dok setiap hari?” tanya Dira menyinggung kondisi Alexio.


“Begitulah, meskipun dosis yang diberikan sudah berkurang, tapi ia tetap rutin mengkonsumsinya.” Jawab dokter Doni


“Padahal sudah 4 tahun sejak perawatannya.” Ucap Dira


“Apakah Alexio masih melihat Xia, dok?” tanya Dira penasaran, siapa tahu sosok jelmaan itu masih mengitari tubuh Alexio walau sudah dewasa sekalipun.


“Dari hasil obrolan terakhir, ia mengatakan tidak melihat Xia sama sekali.”jawab dokter Doni.


“Dan aku gak percaya jawaban itu dok. Yakin, pasti Xia-lun itu masih muncul.” Duga Dira yakin.


“Seyakin itu, Dira?” tanya dokter Doni.


“Yakin dok. Karena, sampai detik ini, bukankah belum ada ucapan yang mengatakan bahwa Xia adalah jelmaan Alexia dari mulut Alexio sendiri, kan?” ucap Dira bertanya.


“Betul, memang kita masih harus meragukan itu. Tapi, sejauh itu, belum ada laporan Alexio melukai dirinya sendiri, entah apakah ia termasuk rapi menyembunyikannya. Tapi, tidak ada kabar sedikitpun bocah itu masuk rumah sakit.” Jelas dokter Doni.


Selama masa koas Dira-pun, ia belum bertemu lagi dengan Alexio, entah kemana sembunyinya anak pak Bisma itu. Tapi dari hasil interogasinya pada ayahnya, Kairan Ladh tidak menjawab dengan jelas rasa penasaran Dira.


“Pa. Aku mau ambil robekan kertas diary milik Alexia.” Dira, beberapa tahun kemudian mengungkit kembali perihal bagian diary Alexia yang dikoyak ayahnya tanpa izin pemilik atau keluarga Bisma.


“Buat apa, Dira?” tanya Ladh yang fokus menulis di jurnalnya.


“Mau baca lagi lah, pa” sungut Dira sebal.


“Bukannya sudah pernah kamu baca dulu.” Tanpa mengalihkan matanya dari tulisan di buku miliknya, Ladh menjawab ucapan puterinya itu.


“Pa, minta!” tak sabar, Dira menengadahkan telapak tangannya, menutupi buku ayahnya.


Kairan Ladh menghela nafasnya, ia kira Dira akan melupakan tentang Alexia dan peninggalannya. Namun puterinya kembali menagih benda itu.


“Nah.” Ladh menyerahkan kertas yang sudah usang itu kepada Dira.


“Tenkiu papa.” Ucap Dira berterima kasih.


“Jangan kasih ke Alexio dulu, Dira. Kasian dia belum pulih betul.” Pinta Ladh menahan langkah puterinya yang sudah menjangkau pintu ruang kerjanya.


“Ya,” sahut Dira ragu dengan janjinya sendiri.


Dira sudah berbaring santai di atas ranjang tercintanya. Memposisikan tubuhnya sebelum membuka lipatan kertas yang merupakan bagian penting dari cerita Alexia, kembaran Alexio.


04 Oktober 20**11**


Al....


Aku sakit banget


Kamu masih lama gak perginya


Aku takut,.. Pak Roni jahat banget sama aku.


Dia jahatin aku tiap kalian pergi.


Meski pernah membacanya, Dira selalu berhasil dibuat gemetar oleh untaian kata-kata Alexia.


11 Oktober 2011


Kakek pukul aku, Al.


Sakit.


Kenapa semua jahat sama aku, Al.

__ADS_1


Kenapa cuma kamu yang dibawa mama dan papa


Al, tolong aku


18 Oktober 2011


Aku sembunyi di lemari, Al.


Tapi suara kaki Pak Roni begitu sakit di telinga aku.


Al, pulang


Aku takut.


Dira menarik nafasnya, membuang drama tangis yang sudah menganak sungai di wajahnya. Menenangkan dirinya sembari bersiap menarik lipatan kertas berikutnya.


“Hffff. Maaf Alexia.” Ucapnya lirih


Kertas ke 3 yang robekannya begitu rapi itu kembali dibuka Dira.


10 Agustus 2012


Al, apa benar kalau Pak Roni itu orang yang dikirim pacar papa dulu.


Katanya, kakek pernah jahatin tante itu, dan dia balasnya ke aku


Kenapa aku Al, kenapa aku


Aku salah apa


17 Agustus 2012


Aku tanya ke kakek, tapi kakek malah pukul aku lagi


Kata kakek, aku diam aja. Jangan kasih tau siapapun


Takut


24 Agustus 2012


Pak Roni sakitin aku lagi, dia kurung aku di lemari dan jahatin aku di sana


Sakit semua Al, dia buat badan aku sakit semua


Pulang Al, pulang


31 Agustus 2012


Kamu tahu sesuatu Al?


Aku gak sengaja dengar omongan kakek dengan dokter di rumah sakit


Katanya, bukan cuma hati aku aja yang dikasih, tapi jantung aku juga


Kata kakek, aku gak apa menggantikan kamu yang meninggal


Dokter itu gak tau jawab apa, karena aku hampir aja ketahuan, Al


“Hffttt. Ya ampun Alexia, malang sekali nasib kamu.” Gumam Dira merasakan gejolak ketakutan Alexia saat itu. Di saat sendiri, ia malah mendapat perlakuan buruk bukan hanya gurunya, tapi kakeknya yang harusnya melindunginya malah menjerumuskan cucunya agar menyelematkan cucu satunya tanpa mau berusaha mencari donor yang lain saja.


11 Oktober 2014


Al, boleh aku sekali aja benci dan marah sama kamu

__ADS_1


Kamu memang sakit, tapi kamu mendapat semua cinta dari mama dan papa bahkan kakek


Sementara aku, sendirian dan disakiti Pak Roni setiap datang ke rumah


Aku gak sanggup lagi, Al.


Ambil semua yang ada dalam tubuh aku. Tapi tolong, sembuhkan aku,


Aku sakit semua, Al.


Lembaran terakhir.


Dan sekaligus menutup tangis Dira yang semakin deras. Bagaimana bisa, bocah umur 11 tahun itu mendapat banyak luka di usia itu. Bahkan sejak lama gadis kecil itu menderita luka batin dan tubuhnya.


Harusnya ia mendapat dukungan moriil, perlindungan, perhatian keluarga, tapi, di detik terakhirnya pun, ia tetap bernasib tragis. Dan Dira, wajar mendapat kebencian dari Alexio kala itu, salah paham itu walau sudah diluruskan, tetap saja menyisakan kebencian mendalam dalam diri Alexio. dan itu, membuatnya melukai dirinya sendiri akibat rasa bersalah pada mendiang kembarannya yang terluka sendirian saat itu.


.


.


.


“Mau dianter gak nih?” Tawar Paul saat mereka tengah sarapan bersama pagi itu.


“Gak usah, di Jepang aja berani, masak di negeri sendiri takut.” Tolak Dira mengoles selai srikaya di atas rotinya.


“Eih tapi kamu kan mahasiswa baru neng.” Masih kekeuh mau mengantar adiknya, sebagai ajang perkenalan pada teman-temannya jika itu adiknya.


Tentu saja bukan sekedar mengenalkan, tapi memberi ultimatum untuk jangan mengganggu adiknya di kampus nanti.


“Abang lupa aku jago beladiri? Urus sana kuliah s2 gak kelar-kelar perasaan, mau balapan sama aku lulusnya?” sindir Dira yang ditimpal tawa oleh Ladh


“Pa jangan ikut-ikutan deh.” Sungut Paul sebal, dikeroyok oleh adik dan ayahnya.


“Makanya dengerin, jangan keduluan adikmu lulusnya.” Sambung Ladh menggelengkan kepalanya.


“Kamu hati-hati, ya. papa duluan, ada seminar soalnya.” Ladh mencium puncak kepala Dira dan menepuk bahu Paul lalu melesak meninggalkan rumah.


“Aku duluan, abang kan kuliah siang, kan. Bye PA’UL.” Dira melambaikan tangan sembari meledek panggilan abangnya yang ia pisahkan namanya.


“Wahh kamu!!!” teriak Paul namun Dira sudah ngabur secepatnya.


45 menit kemudian.


Tridharma university...


Kampus beken dan milik kalangan ekonomi jetset tentunya. Jadi yang masuk jika bukan karena beasiswa prestasi, tentu si anak-anak konglomerat isinya.


“Yuhuuu, cewek, kenalan dong.” Baru saja kakinya melangkah menuju lobby gedung utama kampus itu, ia sudah digoda oleh dedemit kampus. Dengan anggun ia menulikan pendengarannya


Masa’ bodo siapa yang manggil


“Hei cewek, mau ke bagian administrasi ya, ayo gue anter.” Satu lagi muncul, okeh Dira akui cukup tampan, tapi tak menggugah seleranya. Dan ia lagi-lagi melengos begitu saja.


Hingga tangannya dicekal oleh orang dari arah belakang.


“Hai cantik. Gue anter.” Dira memejamkan matanya. Berani sekali orang ini.


“Gak usah terima kasih.” Tolak Dira


“Alexio!!!!” dari arah belakangnya, suara golongan perempuan memenuhi telinga Dira. Apalagi menangkap nama yang mirip sosok yang dikenalnya.


Menoleh

__ADS_1


Hah!!!


Alexio? ngapain dia di sini? Begitu pikir Dira saat melihat sosok Alexio berjalan angkuh melewatinya, dengan para gadis heboh meneriaki namanya.


__ADS_2