
Teriakan para mahasiswa yang hari ini melakukan wisuda meriuhkan suasana kampus. Rasa bangga dan bahagia menyelesaikan studi yang melelahkan akhirnya terbayar sudah dengan kelulusan mereka.
Keluarga dan pasangan mendampingi wisudawan dan wisudawati sebagai dukungan dan rasa cinta atas pencapaian mereka.
“Selamat sayang, akhirnya setelah ini kamu bisa memulai harimu menjadi dokter.” Ladh memberikan buket bunga besar pada Dira, sang puteri yang turut ambil bagian dalam prosesi wisudah kali ini terlebih puterinya menyandang status lulusan terbaik dengan nilai sempurna.
“Papa tuh harusnya jangan bangganya ke aku, tapi ke.... mana sih orangnya.” Dira menjelajahi pandangannya ke sekitarnya, berharap bertemu dengan yang dimaksud.
“Nah itu orangnya.” Tunjuknya
“Tentu, papa juga bangga sekali dengan anak satu ini.” ucap Ladh merengkuh tubuh Paul, sang putera yang juga lulus setelah nyaris mendapat gelar mahasiswa abadi.
“Abang jadi berasa gimana deket kamu dek, keliatan banget timpangnya, satu lulusan cepet, satu lulusan siput.” Ujar Paul menertawakan nasibnya yang miris.
“Nyadar juga rupanya, kirain gak.” Balas Dira tertawa.
“Yaaaa sombong neng!!” ucap Paul tersindir dan gemas pada adiknya.
“Hahah,” Dira hanya tertawa ketika Paul menarik pundaknya untuk direngkuh. Sementara Ladh tersenyum bangga dengan keberhasilan putra-putrinya.
“Selamat ya, baby.” Dome muncul dengan pakaian yang sama, ia lulus dengan cepat layaknya Dira, meski tengil, tipikal Dome adalah bocah cerdas juga rupanya.
“Selamat juga Dome, kamu berhasil selesai cepat.” Balas Dira bangga
“Wah, nanti kita makan malam bagaimana dokter Ladh? Kami mengundang keluarga dokter nanti malam.” Hiro membuka percakapan diantara mereka.
“Tentu saja, nanti kami akan datang sekeluarga.” Jawab Ladh mengiyakan
Sementara dari jauh, Alexio menatap mereka, ia juga mengenakan pakaian yang sama, sebagai wisudawan.
“Mau ke sana, Al?” Bisma bertanya, ia sadar kemana arah tatapan puteranya.
“ayo kalo mau ke situ.” Giliran Linda yang ambil bagian.
“Gak perlu ma, pa. Kita pulang aja.” Ujar Alexio enggan menimbrung ke tempat Dira dan keluarganya berkumpul.
Bisma menoleh pada Linda lalu mengangguk menuruti keinginan Alexio untuk pulang.
“Ya sudah, ayo kita pulang.” Sahut Bisma menggandeng tangan Linda meninggalkan area kampus bersama Alexio di sisi mereka.
.
.
.
Malamnya....
__ADS_1
“Wah jangan cantik-cantik dek, nanti cowokmu ngamuk di sana.” Ujar Paul melihat penampilan Dira yang menurutnya cantik, padahal jelas-jelas hanya tampilan sederhana, memoles dengan perona wajah, lipstik sedikit dan pondation serta tatanan rambut dan pakaian gaun selutut.
“Ini udah yang paling biasa bang, mau gimana lagi.” Sewot Dira merasa Paul berlebihan.
“Iya juga sih, salah kamu juga gak pernah dandan. Makanya pangling kalau udah dandan gini.” Ucap Paul malah menyalahkan Dira,
“Malah nyalahin orang, aku itu udah cantik bang, makanya gak perlu dandan masih cantik.” Ucap Dira mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah abangnya.
Sengaja
“Aishhh adek satu ini.” gemas Paul meremas telapak tangannya hendak membalas
“Memang aku adek abang satu-satunya.” Balas Dira terkikik geli
“Kenapa lagi ini, cakaran terus.” Ladh muncul dari arah dapur menyambut dua anaknya yang berdebat saat turun dari anak tangga.
“Abang gak rela adeknya kelewat cantik pah.” Ujar Dira mengadu namun lidahnya ia cibirkan kepada Paul dengan jahil.
“Ya Tuhan, ini adek kok nyebelin banget ya, pakek ngadu gitu.” Ucap Paul menggelengkan kepalanya.
“Kayak abang gak jahil dan nyebelin aja deh.” Balas Dira merangkul lengan Ladh dengan manja.
“Abang juga mau dek digandeng gitu, yok sama abang aja.” Pinta Paul memposisikan tangannya untuk dirangkul sang adik.
“Ogah, noh sama tiang aja gandengannya.” Tolak Dira dan Ladh tertawa mendengar ucapan puterinya.
Dan tanggapan Dira serta Ladh kembali mentertawai Paul yang terlihat menyedihkan dijahili mereka.
45 menit mereka akhirnya tiba di restoran tempat mereka mengadakan makan malam bersama keluarga Hiro Hitoka.
Sebuah ruangan VIP telah disiapkan sebagai tempat mereka bertemu, dan pelayan mengarahkan mereka sekeluarga menuju tempat di mana ruang itu berada.
“Privasi banget kayaknya.” Ucap Paul yang mengikuti arahan pelayan.
Sesampaianya di dalam, Hiro bersama istrinya serta Dome sudah lebih dulu duduk, menikmati hidangan ringan berupa teh.
“Maaf kami terlambat.” Ucap Ladh menjabat tangan Hiro yang berdiri menyambutnya.
“Tak masalah, kami juga baru datang, dokter.” Balas Hiro tersenyum ramah
“Mari duduk, Paul dan Dira.” Hiro memberi isyarat pada pelayan untuk mengatur tempat duduk tamu mereka.
“Kau cantik sekali baby.” Puji Dome terpukau akan penampilan Dira.
“Iya, Dira sangat cantik.” Tambah istri Hiro
“Terima kasih Dome, tante.” Sambut Dira tersenyum
__ADS_1
Dome tak henti mencuri pandang dengan Dira, bahkan disela makan pun ia tetap memperhatikan wanita yang masih menjadi pacarnya, menurut dirinya sendiri sih.
“Dome, jika kau memperhatikan puteri dokter Ladh terus menerus seperti itu, lama-lama Dira akan hilang. Habis oleh tatapanmu sendiri.” Seloroh Hiro menggoda puteranya, ia juga memperhatikan Dome yang terus melirik Dira dari awal mereka memasuki ruangan.
“Hah!?” Dome terkesiap mendengar kalimat panjang ayahnya, ia jadi malu sendiri tertangkap basah oleh ayahnya, apalagi Dira menatapnya kini. Hanya saja wanita itu tidak terlihat merona sama sekali mendengarnya.
Dan Dome harus sadar artinya, yaitu pertanda seseorang tidak memiliki rasa padamu.
Selesai makan menu utama, mereka dihadapkan pada hidangan penutup.
“Pa, om, tante, Dira permisi mau ke toilet dulu ya.” Pamit Dira yang diangguki mereka.
Lepas Dira pergi, Dome pun berpamitan serupa pada mereka dengan alasan ada panggilan padahal tujuannya ingin menyusul Dira.
“Eh, kenapa di sini?” Dira terkejut melihat Dome berdiri di luar koridor toilet
“Menunggumu.” Jawab Dome singkat.
“Ada apa nih.” Dira balas bertanya
Greb!
Dome memeluk Dira, “Eh.” Dira terkejut akan perbuatan Dome yang tiba-tiba
“Dome.” Panggil Dira karena bocah ini masih belum mau melepasnya.
“Sebentar saja Dira... sebentar saja, tolong, tetap begini dulu.” Pinta Dome pada Dira yang dituruti wanita itu tanpa bantahan.
5 menit terlewati, hanya keheningan yang menyapa mereka, kebetulan sekali suasana di toilet tidak ada yang memasuki jadi aktifitas mereka tidak terganggu sama sekali meski hanya sekedar berpelukan.
“Dira, untuk pertama kali aku memanggil namamu, kan?” kekeh Dome di sela pelukannya.
“Hmm, iya.” Sahut Dira ikut terkekeh
“Maaf untuk semuanya.” Ujar Dome dengan suara lirihnya namun masih terkesan berat,
“Untuk?” tanya Dira
“Memaksamu menerimaku sebagai kekasihmu.” Jawab Dome singkat, dan Dira menanggapinya dengan tawa kecil yang singkat
“Iya, tak apa.” Jawab Dira
“Dan malam ini, aku akan memutuskan hubungan kita.” Ucap Dome pelan
“Memutuskan? Maksudmu?” beo Dira mengulang ucapan Dome
“Kita putus, Dira. Artinya, kau sudah aku bebaskan.”
__ADS_1
“Dan kau berhak meraih bahagiamu, bersama pria bernama Alexio itu.”