Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 69


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 20.00 malam waktu Tokyo.


Dira, yang menyelesaikan waktu magangnya di salah satu rumah sakit di sana terlihat pucat, lelah seharian di sela waktu kuliahnya yang mengijak tahap akhir berikut kesempatan magang cukup menyita waktunya.


“Hei Dira, gimana kabar kesehatan otak kamu hari ini, beb?” Dira yang baru mencapai parkiran sudah ditodong pertanyaan yang sama setiap sosok penanya itu menjemputnya.


“Masih waras, Jo.” Sahutnya mencebik


Menarik pintu mobil kuat sebagai bukti rasa sebalnya pada pria di sampingnya. Ya, mereka sudah sama-sama tumbuh menjadi sosok dewasa. Jonathan, sahabat sekaligus mantannya yang masih berjuang minta balikan.


“Ada yang mengganggumu, darl? Sepertinya kamu bukan sebal karena aku saja kan?” tebak Jonathan melihat raut wajah Dira yang tidak bersahabat


“Hmm, lumayan, tadi ada pasien baru yang cukup menyita emosiku, tapi aku tidak melampiaskan ke dia kok.” Jawab Dira


“Oh, ya? pasien apa lagi yang kali ini kamu hadapin, darl?” tanya Jonathan sembari menarik kendali mobilnya menuju apartemen Dira


“Pasiennya gak berhenti ngirimin hasil lukisannya ke aku.” Jawab Dira dengan muka cemberutnya


“wah, bagus dong, kenapa malah sebal gitu kalo dikasih lukisan, gratis pula.” Timpal Jonathan merasa aneh dengan tanggapan Dira.


Dira menatap Jonathan tajam, “Ya kali kalo lukisannya itu kelamin semua isinya, Jonathan!” ujar Dira menjawab alasannya


Jonathan menoleh sekilas, terkikik kemudian, “Wahhh, bapak-bapak?” duganya lagi


Dira menggeleng, “Bocil, umur 15 tahunan, dia selalu melukis kelamin siapapun yang tertangkap matanya, perawat, pengunjung rumah sakit, pasien, dokter, termasuk aku, tapi cuma aku yang setiap hari dilukisnya, Jo, sebel deh.” Jawab Dira


Dan tawa Jonathan pun menyeruak di dalam mobil, “Dia ngefans sama kamu, darl. Lagian kan gak lihat juga, kenapa kamu marah.” Ujar Jonathan


“Ya aku risih aja, aku ngadepinnya kan pakek emosi dingin nih, gak aku baperin, tapi dia nguji iman, imun dan rasa aman emosi aku, Jo.” Sungut Dira


“Aku udah usahain kan pikiran positif ke dia, tapi tetap aja masih lukisan kelamin mulu di sodorin ke aku.” Lanjut Dira


“Kamu udah tahu alasannya dia kek gitu?” tanya Jonathan, dan digelengi Dira


“Ibunya yang mengajaknya ke sana, tapi dia tidak mau ketemu ibunya, selalu marah kalo sampe dikunjungi beliau.” Jawab Dira

__ADS_1


“Jadi cuma itu pasien kamu hari ini?” ujar Jonathan kembali bertanya


“Gak, ada satu lagi tadi, cowok juga.” Sahut Dira


“Oh ya? wah calon dokter ini laris manis sama pasien cowok, aku banyak saingan ini.” giliran Jonathan yang menampilkan wajah sebalnya.


“Hihihi, pasien ini takut dengan yang namanya kotor, apapun itu, termasuk pas aku sentuh tangannya aja langsung tarik tisu basah.” Ujar Dira menceritakan pasien uniknya.


“Hmm, kenapa dia bisa gitu, darl?” Jonathan selalu antusias apapun cerita Dira hingga tentu akan menanggapinya semangat.


“Belum ketemu akar masalahnya, tapi jelas itu termasuk neurosis, Jo.” Jawab Dira


“Ah, pasien yang pernah aku bilang selalu melihat cacing di ranjang mereka, akhirnya udah ketemu akar masalahnya.” Lanjut Dira, namun gurat wajahnya berubah menjadi sendu.


Ia pernah menceritakan sebelum nya pada Jonathan, ada sepasang suami isteri yang mendatangi rumah sakit tempatnya magang. Kala itu, mereka selalu merasa terganggu dengan kehadiran cacing yang banyak setiap hendak tidur malam hari. Keduanya bahkan meminta bantuan keluarga untuk mencari pembasmi hewan menjijikan itu, tapi siapapun yang diberi tugas selalu sama jawabannya, tidak melihat satupun makhluk itu di ranjang keduanya.


Hingga atas dasar inisiatif keluarga pasangan itu. Mereka memasang CCTV di dalam kamar suami istri yang mengeluhkan demikian, dan hasilnya nihil, tidak ada satupun penampakan hewan itu walau di video menampakkan reaksi heboh keduanya yang mengibaskan benda apapun seperti mengusir, membersihkan ranjangnya, bahkan tak jarang mereka meloncat seakan menhindari sesuatu.


“Apa itu, darl?” Jonathan pelan bertanya, seolah yakin bahwa jawaban Dira tentu akan berakhir dengan cerita menyedihkan.


“Istrinya bercerita bahwa malam itu ia biasa menunggu kepulangan suaminya yang sebelumnya mengatakan akan pulang larut karena ada acara penyambutan karyawan baru. Dan bisa dipastikan suaminya akan mabuk kali ini. maka dari itu ia akan menjemput suaminya di halte bus.” Jelas Dira mengawali


“Mereka tidak punya kendaraan?” tanya Jonathan


“Suaminya trauma mengendarai mobil, Jo. Jadi ia selalu pulang dengan menaiki bus.” Sahut Dira


“Istrinya bukan sekali itu melakukan penjemputan, dan melewati jalan itu pun bukan pertama kali meski larut. Tapi....” Dira mulai berubah sendu kembali


“Tapi malam itu, ketika baru separuh jalan, ia menemui 3 orang pria mabuk dan membawanya ke salah satu gang sepi di dekat jalan itu. Dan kejadian malang itu pun terjadi, Jo.” Isak tangis Dira pun mulai terdengar di sela ceritanya.


“Dan suaminya yang belum menyadari jika istrinya akan menjemput malam itu ia tak mabuk sama sekali karena tak mau menyusahkan istrinya kembali untuk memapahnya pulang.”


“Tapi, kebiasaan keduanya yang sering itulah menjadi bencana suaminya. Saat dalam perjalanannya, ia melewati jalan yang sama dan menemukan istrinya sudah dalam keadaan mengenaskan ketika telinganya menangkap tangisan di salah satu gang.” Lanjut Dira.


Sesak tentunya, bukan? Begitu yang dirasakan oleh Dira

__ADS_1


“Suaminya mengatakan selagi istrinya tak apa-apa, istrinya masih selamat, ia tak mempermasalahkan hal itu, saking cintanya ia kepada istrinya. Tapi dalam hatinya, ia berniat membunuh para bajingan brengsek itu yang telah melukai istrinya.” Ucap Dira


“Sampai pada titik, emosi yang tertahan itu menumbuhkan luka baru bagi keduanya, menyakiti jiwa masing-masing dan mereka tak sadar menciptakan bayangan sebagai ungkapan rasa marah keduanya berupa kehadiran hewan menjijikan itu.” Sambungnya


“Apakah pelakunya sudah ketemu?” tanya Jonathan dan dijawab Dira dengan gelengan kepala


“Brengsek memang. Jika ketemu sama aku, bakalan aku kebiri semuanya.” Ucap Jonathan mengeratkan pegangannya pada stir mobil hingga buku-buku jemarinya tampak memutih.


“Aku berharap keduanya akan mampu keluar dari dunia menakutkan itu, Jo, bersama dengan para brengsek sialan itu juga dihukum.” Ucap Dira penuh harap.


“Semoga darl.” Sahut Jonathan, menggenggam erat tangan Dira sebagai bentuk menguatkan.


Dan beginilah, setiap pasien yang ditemui Dira selalu berakhir dengan menguras emosinya dalam bentuk tangis, terperangkap dalam pekerjaan ini tentu tak mudah, bukan sekedar menyembuhkan tetapi menguatkan mereka agar bisa menjalani hidup yang normal layaknya orang-orang pada umumnya.


.


.


.


Beberapa jam kemudian.....


Di tempat lain...



Alexio sudah duduk manis di jet pribadinya, hingga burung besi itu sudah perlahan turun dan mendarat rapi di bandar udara Naha (Okinawa). Ia memang akan kemari dulu sebelum ke Tokyo, melepas penat mengunjungi tempat yang pernah menjadi janjinya bersama gadisnya dulu.... Tebing Okinawa tentunya.


Merenggangkan lengannya, lalu kembali menatap poto gadis cantik di ponselnya.....


“Hai baby, berani sekali kau meninggalkanku tanpa pamit. Nikmati hukuman setelah ini, baby.”



Naha International Airport.......

__ADS_1


__ADS_2