Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 126


__ADS_3

“Apa maksud ucapanmu Alexio?” Bisma menanyakan kalimat Alexio yang menyatakan jika tahu keberadaan misterius kakeknya itu.


“Duduk dulu sini Alexio.” Ladh menyela pertanyaan yang diberikan Bisma, bisa-bisanya pria itu bertanya sementara puteranya masih berdiri membatu di tempat.


Alexio menurut, ia duduk tepat di sebelah Linda. Dan selama 3 menit mereka sama-sama membisu.


“Aku tahu ada jalan lain yang dilalui kakek di belakang mansion-nya.” Ucap Alexio memberi info baru pada semuanya.


“Jalan? Maksudmu gerbang belakang?” tanya Bisma namun Alexio menggeleng sebagai jawaban.


“Lalu?” Ladh yang gantian bertanya.


“Aku baru menyadari ketika pernah terlibat dengan anak-anak geng mafia di Jepang, di mana mereka punya garasi bawah yang menyimpan mobil Dira waktu itu.” Jelas Alexio.


“Dan itu pula yang dilakukan oleh kakek pada rumahnya.” Sambungnya lagi


“Tapi area mana? Karena tidak ada hal yang aneh dari halaman belakang mansion kakekmu, Al.” Ujar Bisma bingung.


“Karena kakek tidak merusak halamannya, pa. Tapi di area ini menaruh rimbunan pagar rumput tinggi di taman burung.” Ucap Alexio.


“Tidak mungkin, Al. Papa besar di sana, dan papa tahu setiap bagian rumah itu.” Tolak Bisma, kenapa ini orang ngeyel mulu kalau dikasih tahu sih?


“Apa papa sudah memeriksa bagian itu? Tidak kan? Karena apa? Karena papa begitu baik sebagai anak, sampai kakek melakukan kejahatan yang sudah terbukti pun tetap di sangkal.” Sudah diburu dengan kalimat tanya, Alexio pun melempar amunisi tajam pada ayahnya yang secara tidak langsung memberi identitas Bisma sebagai orang yang tidak berprinsip.


Bisma diam ketika puteranya sendiri yang menyumpalnya secara sarkastik.


“Tuh, anak mu sendiri saja mengatakan hal yang benar tentang kau.” Hiro ikut-ikutan memojokkan Bisma.


“Jadi, kau sudah tahu kemana kakekmu menyembunyikan kembaran ibumu, Alexio?” Ladh bertanya, sekaligus menengahi keusilan Hiro yang selalu suka jadi biang rusuh itu.


Alexio mengangguk, “Iya. Di bekas sekolah yang sudah kakek ambil alih dengan menukarnya untuk lokasi lain.” Jawab Alexio


“Omong kosong, tidak mungkin di sana bocah.” Cibir Hiro yang tidak menerima jawaban Alexio barusan.

__ADS_1


“Tapi memang itu tempat kakek yang sering ia kunjungi akhir-akhir ini.” Alexio mengendikkan bahunya, tidak peduli orang akan menerima ucapannya atau tidak.


“Masalahnya, tempat itu tidak jauh dengan kantor kepolisian bocah! Jadi mana mungkin kakekmu berani melakukan hal itu di area kepolisian.” Hiro menggelengkan kepalanya, menyatakan alasannya atas penolakan dari dugaan Alexio.


Ya, itu hanya dugaan saja menurut Hiro.


“Bukankah tempat terbaik adalah saat kita bersembunyi di tengah keramaian, terlebih dari yang kita takuti.” Tutur Alexio.


Mereka mencerna ucapan Alexio, dan menoleh satu sama lain, mengangguk, membenarkan, tapi hanya sebagian.


“Tapi tetap saja kita perlu membuktikan hal itu.” Ujar Ladh


“Nanti aku akan menyuruh anak buahku mengawasi tempat itu, untuk memastikan jika bocah ini memang benar.” Timpal Hiro


“Aku sudah mengawasi tempat sana dengan anak buahmu, dan memang kakek sering ke sana. Hanya saja kami tidak tahu isi dalamnya.” Ucap Alexio menciptakan wajah bingung pada Hiro.


“Anak buahku? Kami? Maksudnya.” Hiro bingung


“Aku bekerja sama dengan Dome, dia menawarkan hal itu padaku. Atau lebih tepatnya memaksa.” Jawab Alexio


“Aku akan memastikan lebih akurat lagi biar kita bisa ke sana, dan membasmi.....” ucapan Hiro terpotong saat ia sadar dengan kata terakhirnya cukup mengena pada Bisma yang menatapnya juga di saat bersamaan.


“Maaf, aku terlalu hanyut dalam pembicaraan ini.” Kekeh Hiro tapi wajahnya tidak menunjukkan rasa bersama sama sekali.


“Baiklah, jadi kau akan memberi perintah anak buahmu mengawasi tempat itu, dan kita akan ke sana juga menyusul?” tanya Linda yang sudah tidak sabar.


“Kita tunggu dulu sayang.” Ucap Bisma menenangkan Linda yang gemetar.


“Mana bisa aku tenang, sementara papamu menyandera kembaranku!!!” Sentak Linda menepis tangan Bisma yang bertengger melingkari pundaknya.


“Bukan begitu Linda, kau tidak paham maksudku.” Bisma tetap tenang meski isterinya tampak kesal melihatnya.


“Terserah, kalau kau masih mau menunggu, maka tunggulah, aku akan pergi sendiri ke sana.” Linda berdiri, wajahnya sudah memerah karena emosinya sudah tak mampu ditahan lagi.

__ADS_1


Andriana terancam di sana.


“Mama.” Alexio ikut bangkit, lalu disusul oleh Ladh dan juga Hiro.


“Kau mau berdiam pula, Al? Maka tunggulah pula.” Linda ikut-ikutan menyembur puteranya yang terlihat khawatir itu.


“Aku akan ikut dengan mama ke sana.” Sahut Alexio, mendukung keputusan ibunya untuk berangkat ke negeri singa itu. Demi menyelamatkan nyawa kembaran ibunya, atau bibinya.


“Terima kasih, Al.” Linda memeluk puteranya yang ikut dengan rencananya.


“Aku juga, akan ikut ke sana. Dan kita akan dikawal oleh dua mafia di bawah kepemimpinanku. Demi menjamin keselamatan kita.” Hiro ambil bagian juga untuk ikut serta.


Bisma terhenyak dengan ucapan ketiga orang itu, ia jadi membeku, ia harus bertaruh, jangan sampai kejadian yang memisahkannya dahulu dengan Andriana akan terulang kembali dengan isterinya, Linda.


Saat ketiganya hendak keluar dari ruangan Ladh, Bisma bersuara, “Aku, aku akan ikut juga ke sana.” Ucap Bisma agak kurang jelas.


“Apa? Bicara itu yang jelas. Seorang pria harus tegas.” Cibir Hiro


“Aku akan ikut!” suara Bisma meninggi menyahuti ucapan Hiro


“Baguslah, asal jangan kau kabarkan pada ayahmu itu jika kau akan ke sana. Bisa kacau nanti.” Kembali Hiro memantik sulutan pada Bisma. Seakan tak puas dari awal sudah menumpuk jalinan emosi pada anak Suprapto itu.


“Apa maksudmu aku anak pengadu?” Bisma menyentak Hiro, karena tahu arah ucapan pria Jepang itu apa.


“Baguslah kalau kau tahu, sampai jumpa dokter Ladh. Kami akan ke Singapura.” Hiro melambaikan tangannya pada Ladh sebagai ucapan pamit.


Linda menundukkan kepalanya sebagai tanda serupa, ia dan Alexio lebih dulu keluar dari ruangan itu. Dan Bisma terakhir, “Doakan kami, Ladh. Dan terima kasih kau telah melindungi keluargaku dulu.” Ucap Bisma


“Aku tidak melakukan apapun Bisma., itu memang sudah jadi tugasku sebagai seorang dokter.” Jawab Ladh segera merengkuh tubuh Bisma sebagai salam pamit sesama pria.


“Jaga diri kalian, dan kembali-lah dengan selamat.” Sambung Ladh


“Iya, doakan.” Sahut Bisma

__ADS_1


“Tentu, ada putera dan puteri kita yang masih harus melanjutkan hubungan mereka yang terjeda ini, bukan?” Kekeh Ladh mengingatkan akan hubungan Dira dan Alexio yang menggantung sampai sekarang, walau tahu puterinya sedang berpacaran dengan putera Dome, tapi itu hanya bertujuan untuk kebutuhan medis, sedangkan hatinya masih bertaut pada Alexio.


“Tentu, kita masih akan melanjutkan rencana besanan kita bukan?” ucap Bisma menerima jabat tangan Ladh.


__ADS_2