
Tanda panggilan darurat dari kamar VVIP Plus menyentak perhatian tim medis, gegas mereka menuju kamar tersebut.
Tempat pasien dengan predikat diutamakan.
Ceklek
Pintu dibuka, ada 3 orang tim medis, satu diantaranya adalah dokter sedangkan yang lain adalah perawat.
“Dokter tolong, Alexio pingsan.” Dira panik, tubuh Alexio sudah ia rebahkan di ranjang. Ia sempat menangkap tubuh itu yang pingsan saat nyaris menyentuh bibirnya lagi.
“Baik nona, silahkan bergeser dulu, saya akan memeriksa pasien atas nama Alexio Bisma.” Ujar dokter diiringi dua perawat di sisinya.
Dira melihat dari jarak yang cukup dekat, ia menggiti kukunya saking panik.
“Dek.” Paul, muncul dari luar, ia tadi sempat terkejut melihat kedatangan tim medis yang terburu-buru masuk ke ruangan yang berada tepat di depan kursi tunggu yang ia duduki.
Berhubung adiknya ada di dalam, maka ia menyusul untuk melihat keadaan di dalam
“Bang.” Dira memeluk tubuh Paul, tubuhnya gemetar.
“Tenang. Alexio, pasti baik-baik saja.” Paul mengusap puncak kepala Dira untuk menenangkan adiknya.
“Apakah kalian keluarga pasien?” tanya dokter, setelah selesai memeriksa keadaan Alexio.
Dira dan Paul menggeleng., “Bukan dokter.” Jawab mereka serempak
“Apa yang terja....,. Dira? Paul? Kalian kemari?” dokter Ladh muncul, ayah kedua kakak beradik ini.
“Dokter Ladh.” Sapa tim medis melihat kedatangan senior sekaligus pemilik rumah sakit.
“Mereka adalah putera dan puteriku.” Jelas Ladh pada bawahannya.
“Maaf, kami tidak tahu.” Kini tim medis itu menunduk sebagai bentuk rasa hormat untuk keluarga Ladh.
“Ah tidak apa-apa.” Sahut Paul merasa canggung.
“Apa yang terjadi dengan pasien, dokter?” Ladh bertanya langsung.
Ia tadi mendapat telepon dari bagian informasi yang mengatakan bahwa pasien VVIP Plus mendapat panggilan darurat. Maka seketika ia meluncur ke ruangan tersebut
Bukan karena status pasien prima, tapi Bisma tadi sempat meminta bantuannya untuk menjaga sebentar puteranya, karena mereka berdua sedang ada urusan mendadak.
“Pasien pingsan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dokter Ladh.” Jawab dokter yang memeriksa.
“Bagaimana bisa pingsan?” Ladh bingung
“Nona.... puteri anda tadi kebetulan yang ada di ruangan ini, dan yang menekan tombol darurat, dokter Ladh.” Melirik pada Dira yang menjadi objek pembicaraan.
“Dira? Kamu tadi yang melakukannya?” Ladh kini mengalihkan tatapannya.
Dira mengangguk, “Iya pa. Tadi Dira mengunjungi Alexio, lalu tak lama ia pingsan, tahu-tahu pingsan gitu.” Jawab Dira.
“Bukannya kamu tidak kenal Alexio? Kenapa bisa ada di sini?” tanya Ladh lagi.
Ya ampun, Dira malu, ia malu banget. Mana ada tim medis pula ayahnya bertanya demikian.
“Alexio teman Dira, pa. Kami sempat berselisih paham aja.” Jelas Dira kikuk.
“Oh begitu.” Angguk Ladh
“Apakah pemeriksaan sudah selesai, dokter?” tanya Ladh yang segera diangguki dokter tersebut.
Tim medis pun berguyur meninggalkan ruang rawat Alexio. Tinggal Ladh Junior, Paul dan juga Dira yang duduk di sofa di sudut ruangan itu. Sementara Alexio masih terbaring di brangkarnya.
__ADS_1
“Apa ada yang bisa kamu jelaskan ke papa, Dira?” Ladh membuka obrolan saat suasana sudah tenang.
“Tadi, tadi kami hanya berbincang, lalu tiba-tiba Alexio pingsan.” Dira tidak menjawab secara keseluruhan. Ia khawatir dan juga malu jika menjawab jujur.
Tentu saja, kan tadi nyaris berciuman lagi jika saja Alexio tak pingsan.
Aihhh godak memang.
“Hanya itu?” Ladh memastikan dan diangguki Dira.
Paul hanya memperhatikan, ia tak tahu memang kejadian yang sebenarnya, karena ia hanya menunggu di luar ruangan.
Ceklek
Tap tap tap
“Ladh.” Keheningan itu hilang, saat Bisma beserta istrinya muncul.
“Bisma.” Ladh bangun dan mendekat kearah Bisma yang juga mengarah padanya,
“Alexio pingsan lagi.” Kata Ladh pelan.
“Ya Tuhan!.” Linda histeris namun pelan, ia yang mendengar kabar dari jauh saja sudah nyaris linglung.
Bagaimana ini, Alexio masih bertingkah rupanya.
“Dengan siapa tadi Alexio saat ia pingsan.??” Tanya Bisma
Ladh melirik puterinya, mengangguk pertanda baik-baik saja.
“Puteriku, Dira.” Ladh menunjuk Dira yang menjadi canggung seketika.
Bisma dan Linda menatap intens pada Dira, membuat gadis itu menjadi tertunduk tak enak.
Dira semakin dalam menunduk, merasa ayah dari pemuda yang ia sukai tentu tahu akan hari itu.
Linda mendekat.” Tidak apa-apa, kami tidak menyalahkanmu.” Linda mengusap pundak Dira agar jangan takut.
“Benar, kami tidak menyalahkanmu, Dira.” Sambung Bisma memberi senyum teduh, seketika Dira merasa ia bisa bernafas lega.
“Boleh kami ngobrol dengan puterimu, Ladh? Ada yang ingin bahas bersama. Tanpa kau dan... apakah itu Paul?” ujar Bisma menyorot Paul yang tersenyum.
“Iya om.” Jawab Paul.
“Baiklah kalau begitu, Dira, papa tinggal dulu ya, kamu jaga sikap.” Ladh mengingatkan puterinya agar bertingkah sopan yang langsung diangguki puterinya.
Sepeninggalan Ladh dan Paul.
“Dira.” Bisma memanggil Dira yang duduk di sofa panjang bersama Linda isterinya sedangkan dirinya duduk di sofa tunggal.
“Iya, om.” Jawab Dira tak gugup lagi, ia segera menyadari jika kedua orang tua Alexio ternyata tidak sekaku puteranya.
“Apa kamu ada hubungan khusus dengan putera kami, Alexio?” tanya Bisma to the point. Ia tak mau berbasa-basi.
Dira sontak menggigit bibir bawahnya, gugup, telapak tangannya mendadak berkeringat.
Padahal Bisma bertanya dengan ekspresi yang tenang, tidak seperti sedang diinterogasi.
“Tenang, tidak apa-apa, jawab saja, nak.” Timpal Linda mengelus tangan Dira yang terasa basah menurutnya.
Dira menatap Bisma takut-takut...
“Ti-tidak ada a-apa-apa om.” Jawab Dira gugup.
__ADS_1
Bisma dan Linda tersenyum mendapati jawaban puteri Ladh ini. Manis dan menggemaskan menurutnya.
Andai Alexia masih hidup, mungkin akan semanis ini puteri mereka yang malang itu.
“Jadi begitu.” Bisma mengangguk-anggukan kepalanya seolah menerima jawaban Dira begitu saja.
“Lalu, kenapa kalian berpelukan dan berciuman saat itu?”
Dorr!!!
Dira mau cari cangkul ajalah, mau gali lubang ajalah. Malu banget.
“Hei, kenapa?” Linda menahan senyumnya memperhatikan sikap gugup Dira lagi.
“Hah, iya tante?” kan gugup Diranya, hhehehe.
Ceklek...
Saat pembicaraan masih berlangsung, pintu terbuka.
Dokter Doni yang muncul, membawa ipad di tangannya.
“Siang pak Bisma, bu Linda, dan Dira Kairan Ladh.” Sapa dokter Doni.
Dira tertegun saat dokter itu kenal dirinya.
“Puterinya dokter Kairan Ladh Junior ternyata.” Lanjut dokter Doni mengambil duduk di sofa seberang Dira.
“Siang dokter. Iya itu puterinya dokter Ladh.” Bisma yang menyahut.
“Baiklah, langsung saja ya, pak.” Ujar dokter Doni menyentuh layar ipad-nya, memperhatikan sebentar dan menaruhnya di atas meja.
“Ini, ini saat Alexio pingsan di rumah.” Dokter Doni menunjuk layar yang menampilkan video Alexio yang pingsan di saat Bisma dan dua sahabat Alexio berada di sana.
“Dan ini, saat di sekolah dan juga tadi di rumah sakit, yang sama-sama ada Dira.” Dokter Doni mengalihkan video berikutnya.
Rona di wajah Dira bersemi, karena dengan jelas adegan itu ada di sana, di tonton orang tua Alexio pula.
Duh!!! Malu.
“Jadi.... Dira.” Dokter Doni melirik Dira.
“I-iya Dok.” Sahut Dira gugup.
“Apakah ada hal aneh sebelum Alexio pingsan?” tanya dokter Doni, ia akan sudah mendapat informasi dari Bisma saat Alexio pingsan di rumah lama itu.
Kini ia akan bertanya pada Dira tentang hal aneh sebelum Alexio pingsan.
“Hmm, Al-Al-Alexio, menangis dok.” Jawab Dira takut-takut. Ia merasa tak enak ketika bertatapan dengan orang tua Alexio terutama Linda.
“Dan menyebut nama Xia?” Dokter Doni menambahkan dan diangguki Dira.
“Jadi, apakah Dira mau, bersama dengan Alexio, menemaninya terapi?” tawar dokter Doni, namun Dira belum paham.
“Apa dokter?” tanya Dira bingung.
“Dira kan pacarnya Alexio, jadi Dira bisa kan menemani Alexio untuk menjalankan terapi nanti?” ulang dokter Doni semakin jelas.
PACAR? TERAPI?
Dira mengedipkan matanya berulang, maksudnya apa?
Ada yang bisa bantu ngehubungin kabel di otak Dira biar paham???
__ADS_1