Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 112


__ADS_3

“Dasar bocah.” Sindir Alexio pada Dome yang mengompres wajahnya dengan benda yang diberikan oleh salah satu perawat, meredakan lebam dan rasa sakit. Begitu pula dengan Alexio


“Apa kau bilang!” sergah Dome tidak terima.


“Kalian bisa diam tidak!” Dira, menyentak dua pria kekanak-kanakan yang tengah mengobati lebam sendiri tapi mulut sibuk mengoceh saling menyerang satu sama lain.


“Hai Dira.” Dira menoleh saat satu suara lembut menghampiri telinganya.


“Wahhh JO!!!!” tanpa babibu, Dira menghambur ke pelukan Jonathan, baik Alexio dan Dome mendelik tajam melihat adegan yang memusingkan kepala mereka. Bagaimana bisa Dira melakukan hal itu di hadapan mereka berdua. Tega sekali.


“Kau kemana saja, aku tidak bisa menghubungimu.” Lihatlah, tanpa memperdulikan, atau mungkin sudah melupakan dua pasien itu, kini Dira malah melangkah meninggalkan ruang UGD bersama dengan Jonathan, berpamitan pun tidak sama sekali apalagi menoleh.


Hfffttt.


“Kau lihat? Pria brengsek itu yang sering bersama dokter Dira saat di Jepang, dan dia datang pula ke Indonesia.” Gerutu Dome.


“Memang dia tinggal di sini, bodoh!” sembur Alexio yang lebih tahu perkara rivalnya itu. Sudah kalah masih saja mengganggu miliknya.


Dome menoleh pada Alexio, matanya menatap horor, apa yang didengarnya tadi? Pria ini tahu tentang Jonathan?


“Kau kenal dia?” tanya Dome penasaran dan diangguki Alexio malas, “Kau sahabatnya pria itu?” kembali Dome bertanya namun dijawab Alexio dengan decihan jijik


“Cih, konyol sekali aku mau berteman dengan setan seperti itu.” Tolak Alexio, memang ia saling membenci satu sama lain dengan Jonathan. Hanya saja semenjak berpisah untuk menempuh pendidikan kuliah, keduanya menjadi renggang untuk saling berkelahi, entah setelah ini, bisa jadi mereka akan melanjutkan session ke dua, setelah sama-sama tumbuh menjadi pria dewasa yang rupawan.


“Apa dia kekasih dokter Dira dulunya?” introgasi Dome benar-benar membuat jiwa Alexio memanas, bagaimana bisa ia mengakui hal itu meskipun memang pernah ada hubungan mengerikan itu diantara Dira dan Jonathan dan itu didukung oleh kekalahan Alexio pada balap liar bersama Jonathan.


“Hmm, mantannya, hanya sebentar saja berpacaran.” Jawab Alexio cepat. Tidak mau berlama-lama membayangkan hal romantis antara keduanya.

__ADS_1


“WHATTT, sialan, brengsek, mantan yang sudah jadi mantan harusnya jangan mengulang hal yang pernah terjalin dulu.” Kesal, Dome sudah tersaingi akan kehadiran Jonathan, pria dewasa yang sangat dekat dengan Dira selama di Jepang, bisa dipastikan pria itu benar-benar memuja dan memiliki rasa yang lebih pada Dira. Dan saat mendengar itu adalah mantan, hati Dome memanas, apa daya ia yang masih seujung kuku ini.


“Kalian yang harusnya sadar diri, mengganggu hubungan kami berdua.” Sela Alexio tajam.


“Apa maksudmu brengsek.” Belum hilang rasa kesal Dome, kini disulut Alexio dengan penuturan tak masuk akal.


Alexio tersenyum smirk, “Aku dan Dira masih memiliki ikatan, dan kami belum putus sama sekali. Asal kau tahu.” Ujar Alexio menekan kata belum putus beserta ikatan. Menjelaskan jika baik dirinya dan Dira masih dalam masa saling mencintai.


Mendengar jawaban Alexio, Dome mengalihkan fokus seluruh netranya pada pria dewasa itu, lalu dengan songongnya, bocah yang baru lulus masa pubertas itu tertawa tergelak, bahkan kompres wajah itu sudah melayang ke lantai saking senangnya mendengar lelucon Alexio menurutnya.


“Kau... kau mau aku mempercayainya... hahahahhhaha.” Tawa Dome, matanya sampai berair melirik Alexio masih dengan tawa kencangnya.


“Terserah mau percaya atau tidak. Itu urusanmu.” Balas Alexio enggan menanggapi tawa menjengkelkan Dome.


“Bwhahahaha.” Gelegar tawa itu kembali memenuhi ruangan UGD.


“Apa hak kalian menyuruhku diam, huh!! Aku tembak baru tahu rasa.” Begitulah nasib menjadi anak seorang mafia besar. Tidak mau ditekan dan dipaksa menuruti mau orang lain, apalagi level yang berada di bawahnya.


“Dasar orang gila!” gerutu para pasien yang tidak paham ucapan Dome tadi. Hanya raut wajah marah Dome saja yang mereka pahami jika bocah itu membantah peringatan diam itu.


“Apa kalian memakiku!!” semburnya yakin jika semua orang yang menatapnya melempar kalimat buruk untuknya. Tentu ia tidak paham ucapan orang-orang, namun otaknya tahu jika semua mengatainya pasti.


“Kalian tidak tahu siapa keluargaku, huh!!” sergah Dome berteriak sebal.


“Diamlah, mereka tidak mengerti kau ngomong apa bocah. Dan lagian, mau bapakmu mafia pun, ini Indonesia woy! Bukan negaramu sana.” Ketus Alexio kesal dengan drama di depannya, akibat tingkah Dome kini semua perhatian tertuju pada mereka berdua dan otomatis orang juga melihatnya.


Alexio risih.

__ADS_1


Di lain tempat.


“Kau tahu jika ada banyak yang mengintaimu, Dira.” Jonathan, mengajak Dira duduk santai di sebuah cafe tak jauh dari rumah sakit. Ia memang ingin mengajak mantannya itu berbincang banyak.


“Hmm? Mengintai?” dira yang sedang menyeruput ice coffee dengan cream coklat memenuhi bagian atas gelas menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada Jonathan.


“Heum, kau tidak sadar dengan itu?” lanjut Jonathan bertanya, sangat kentara sekali semua aktifitas Dira diawasi banyak pria dari yang berpakaian jas formal maupun yang terkesan kasual sekalipun.


Ia heran, apa yang dicari oleh mereka dari diri seorang Dira. Karena keluarga Ladh hidup dalam keadaan lurus-lurus saja, tidak menyikut siapapun selama ini.


“Tidak, aku tidak tahu sama sekali soal itu.” Jawab Dira yakin, akibat ucapan Jonathan barusan, ia menjadi cemas sekarang, tubuhnya memutar, baik ke kiri dan ke kanan sembari melempar pandangan ke sekitar untuk memastikan apakah saat ini ada yang mengawasinya.


“Apakah saat ini aku juga tengah di awasi?” tanya Dira pelan, nyaris berbisik dan diangguki Jonathan


“Hah! Kenapa? Apa salahku?” tanya Dira berulang. Jika ini tentang para pembully, harusnya tidak sampai segila ini mereka mengintimidasi dirinya, bukan? Gila sekali mereka jika benar pelakunya.


“Tenang, aku juga mengawasimu agar tidak terluka oleh mereka.” Seolah sadar akan kepanikan dan kecemasan Dira, Jonathan menenangkan perempuan itu dengan menggenggam jemari Dira.


“Kau juga mengawasiku? Sampai mana?” ujar Dira semakin cemas.


“Tentu sampai di mana mereka mengikutimu, Dira.” Kekeh Jonathan menanggapi Dira.


“Apa salahku, Jo. Aku tidak pernah menyakiti siapapun.” Jelas Dira tidak tenang. Khawatir akan tindakan berlebih dari mereka yang mengawasi pergerakannya selama ini.


“Tenang, aku melindungimu Dira. Jangan takut. Dan aku juga tidak tahu siapa saja yang mengawasimu, pastinya.... salah satu dari mereka adalah anak buah dari Yakuza.” Jawab Jonathan.


“Ya-Yaku-kuza?” beo Dira terbata-bata.

__ADS_1


“Iya, Yakuza, anak buah dari kekasih bocilmu itu, anak dari Hiro Taoka, bukan?” jawab Jonathan.


__ADS_2