Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 143


__ADS_3

2 hari setelah pertemuan di restoran.


Alexio sudah siap mengatur rencana bagaimana mendekati Dira lagi. Ia semakin yakin, wanita itu pasti masih menaruh hati padanya. Dasar saja anak Hiro itu memaksa atas dasar keperluan modus medis saja.


“Dira, kau akan aku dapatkan lagi.” tekad Alexio membara


“Jadi, tunggu aku sayang.” Lanjutnya tersenyum sendiri.


“Ma, aku mau ke rumah sakit dulu ya.” Alexio berpapasan dengan Linda yang tengah menata bunga di halaman depan.


Ya, sejak kejadian itu, Alexio sering menginap di rumah orang tuanya. Sedangkan Andriana memilih tinggal di Bali dengan saudara Roni, pria yang selalu menemani mereka sejak dulu.


“Iya sayang, hati-hati ya.” Linda berdiri dan merentangkan tangannya untuk memeluk.


“Siap ma.” Sahut Alexio masuk dalam pelukan ibunya.


Motor besar Alexio sudah menjelajah jalanan yang cukup lengang itu.


Ladh Hospital terlihat dari kejauhan setelah beberapa puluh menit Alexio menempuh bersama kuda besinya.


Wajahnya yang sudah rupawan semakin bersinar saja kala senyum terpampang menghiasi wajah itu. Beberapa wanita yang dilewatinya atau melihatnya terpesona akan visual Alexio.


“Ya ampun, pagi-pagi udah dikasih mood boster ginian.” Suara sumbang ketika melihat Alexio


“Iya, jadi tambah semangat lihat yang begini.” Timpal lainnya melumer akan pesona Alexio


“Masih jomblo gak ya?” sudut lain bersuara mempertanyakan status Alexio.


“Gak mungkin deh, ganteng banget gitu masih jomblo.” Temannya meragukan hal itu.


Mereka sibuk memuji Alexio di saat pria itu sendiri tidak mendengar ucapan mereka satu persatu. Tujuannya adalah rutinitas terapi, dan juga.... kalian tahu sendiri.


Ceklek!


“Alexio, tepat waktu sekali ya.” Alexio yang sudah menjadwalkan dirinya dengan mendaftar jalur khusus itu disambut dokter Doni.


“Kecepatan kah dokter?” ujar Alexio duduk di kursi seberang dokter Doni.


“Gak, bagus kok.” Ucap Dokter Doni yang menyambut baik waktu kedatangan Alexio yang terlalu cepat.


Setelah mendapatkan berkas medis milik Alexio dari perawatnya, dokter Doni mulai melakukan sesi konseling bersama Alexio, mempertanyakan ada tidaknya keluhan, rasa tidak nyaman agar bisa membandingkan perkembangan pasiennya.


1 jam mereka berkonsultasi dan Alexio masih dirasa betah di ruangan itu.


“Apa masih ada yang ingin ditanyakan, Al?” tanya dokter Doni yang tidak bermaksud mengusir pasien VVIP-nya itu.


“Eh, mmhh, tidak ada dokter.” Alexio menggeleng tapi bibirnya tergigit seperti tengah menahan sesuatu.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, minggu depan kemari lagi ya.” ucap Dokter Doni yang diangguki Alexio pelan dan terasa berat


“Hmm, dokter...” Alexio yang sudah berdiri dan menggeser kursi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Iya, ada apa Al?” sahut dokter Doni menjawab dengan kalimat tanya


“Itu,, itu... hmm ..” Gugup, Alexio


“Itu, itu apa?” dokter Doni mengatupkan bibirnya menunggu maksud Alexio


“Puteri dokter Ladh katanya... hmmmm.” Kembali Alexio tidak mampu melanjutkan ucapannya.


“Ohh Dokter Dira? Iya, nanti siang akan mulai diperkenalkan sebagai dokter baru di sini.” Dokter Doni paham kemana keinginan Alexio ketika sudah menyenggol nama Dira.


Pasti mau tahu kapan anak dokter pemilik rumah sakit ini mulai berdinas.


“Eh, bukan begitu.” Wajah Alexio memerah tapi tidak terbaca oleh dokter Doni.


“Nanti saya akan mengajak dokter Dira kerjasama dalam memantaumu, Al. Bisa diatur itu.” Ujar dokter Doni yang sontak Alexio mengedipkan mata berkali-kali.


Itu memang maunya Alexio, tapi tidak secara frontal juga ia menunjukkan maksudnya.


Karena, Alexio belum suhu untuk masalah percintaan. Kisahnya saja baru dimulai bersama wanita yang akan dikejarnya lagi.


“Ya sudah, nanti saya kasih tahu dokter Dira ya, Al. Sampai jumpa minggu depan.” Dokter Doni menepuk pundak Alexio, ia memang sengaja membuat Alexio merasa canggung karena sebagai psikiater, ia paham Alexio adalah tipe yang masih polos.


“I-iya dokter, ta-tapi bukan minta dipertemukan dengan Dira juga dokter.” Ucap Alexio setelah keluar dari ruangan dokter Doni.


“Iya, nanti saya sampaikan.” Lihatlah jawaban Dokter Doni, ia malah semakin jadi kan?


“Ya sudahlah kalau memang begitu, kan bukan aku yang maksa.” Seloroh Alexio saat dirinya mau menuju tempat pengambilan obat.


Dari jauh, matanya melihat sosok yang tadi dibahasnya bersama dokter Doni.


Dira, sudah mengenakan jas putih khas seorang dokter pada umumnya.


“Semakin terpesona saja melihatnya mengenakan pakaian itu.” Alexio tersenyum akan pencapaian Dira yang berhasil meraih tujuannya.


Ketika jarak mereka sudah terkikis, Alexio melambaikan tangannya untuk menyapa, namun.


“Eh?!” Dirinya tertegun manakala Dira justru melengos bak tak melihatnya saja.


“Hai Dira.” Sapanya tapi wanita itu tetap saja berjalan tak mengindahkan sapaannya.


“Apa aku tidak terlihat? Atau suaraku terlalu pelan?” ia bermonolog sendiri sembari menatap kepergian Dira yang perlahan menghilang di balik belokan koridor rumah sakit.


Alexio menggaruk tengkuknya, “Entahlah, mungkin ia sibuk jadi tidak terlalu fokus.” Berusaha berpikir positif atas sikap Dira tadi.

__ADS_1


Sementara Dira yang sudah berhasil berlalu dari Alexio kini sibuk menggerutu.


“Dasar tidak tahu diri, sudah punya kekasih masih saja mau menggoda wanita lain.” Omelnya dengan hentakkan sebalnya, beruntung sepi jadi tidak ada yang melihat kekonyolan Dira.


“Say hey, emang aku siapanya coba. Selama ini dia kemana aja, dih.” Gerutunya sendiri


“Padahal kata putus aja gak ada, tiba-tiba menghilang, dingin, sampe aku direbut cowok lain aja diem gitu.” Lanjutnya terus melangkah dan bibir juga masih bertahan mencerocos


“Lalu tiba-tiba juga dah punya gandengan, terus mau sok nyapa aku. Mau ngapain coba, huh, mau ngapain.” Ucapnya


“Mau pamer gitu? Hey Dira, aku udah punya pacar nih, kamu udah putus ya., gitu kan maunya dia.” ocehnya


“Mana ketawa-ketawa gitu, padahal dulu aja waktu masih kenal sama aku, gak sampe segitunya terbahak-bahak. Dih, menyebalkan.” Tahan sekali anak dokter Ladh ini memperpanjang bibirnya sedari tadi.


“Hai baby.” Sibuk mengoceh, Dira kaget ketika Dome menyapanya saat wanita itu masuk ke ruangan dokter Ladh.


“Kamu ngapain sih, mengejutkan saja.” Sembur Dira


“Eh,” Dome tertegun sampai matanya berkedip berulang kali saat Dira membalasnya dengan semburan barusan.


“Kan aku mau memberi selamat atas peresmian kamu jadi dokter, baby.” Ujar Dome dengan wajah meringisnya takut kena semprot lagi.


“Untuk apa memberi selamat sampai berlebihan begini, pakek bawa bunga besar pula.” Dome hanya mampu menghela nafas saat Dira tetap menyemburnya.


“Kau kenapa, baby? Sedang datang bulan?” tanya Dome menduga.


“Kenapa memangnya, aku tidak datang bulan.” Sungut Dira masih sebal.


“Ini, kau selalu marah-marah, daritadi tidak ramah padaku.” Sahut Dome yang disadari Dira hingga wanita itu memejamkan matanya sebentar.


“Ya Tuhan, maafkan aku Dome, tidak seharusnya aku melampiaskannya padamu.” Dira merasa bersalah.


“Kenapa memangnya, heum?” Dome bertanya alasan kekesalan Dira daritadi.


“Kau tahu, tadi aku bertemu Alexio, dan dia dengan santainya menyapaku.” Jawab Dira yang mulai kesal lagi


“Lalu kenapa memangnya, kan dia hanya menyapa.” Dome merasa tidak masalah harusnya dengan hal itu.


“Dia kan sudah punya kekasih, lalu kenapa masih mau menggoda wanita lain, menyebalkan!!!!” erang Dira, dan Dome terkekeh mendengarnya.


“Kenapa kau tertawa, aku kesal tahu tidak, mengingat dia sudah punya kekasih tapi masih bisa menyapa wanita lain.” Dira menatap Dome tajam


“Kau menggemaskan sekali jika cemburu seperti ini, baby.” Dome masih terkekeh


“Apa katamu, cemburu? Pada siapa, Alexio?” Dira


“Heum, kamu cemburu, baby. Dan itu menggemaskan sekali.” Dome tersenyum geli melihat kecemburuan Dira.

__ADS_1


__ADS_2