
Seolah paham akan kebingungan Dira.
“Karena kamu sepertinya teman dekat dan bisa jadi Alexio menaruh rasa pada kamu, maka kamu bisa dijadikan orang yang dipercaya Alexio saat ia akan menjalani terapi nanti, Dira.” Jelas dokter Doni pelan.
Dira menggeleng.
“Tapi kami belum ada hubungan dok, bisa saja saat itu Alexio oleng.” Bantah Dira, ia enggan terlalu percaya diri di sini, hanya bermodalkan satu kali dicium dan dua kali baru rencana, belum menegaskan hubungan dekat itu.
“Oleng?” Bisma dan Linda sama-sama tertegun mendengar kosakata yang keluar dari gadis ini.
“Oleng itu istilah anak muda sekarang, pak, ibu. Maksudnya mirip orang bingung karena suatu hal.” Jelas dokter Doni pada sepasang paruh baya itu.
“Mari kita coba dulu, Dira, kita lihat, seberapa percaya Alexio dengan kehadiran kamu.” Tawar dokter Doni, membuat pembuktian agar Dira bisa percaya diri atau tidak.
Dira mengangguk, ia menerima. Mungkin dengan cara ini, ia bisa tahu, Alexio melakukan hal itu karena menyukainya atau karena memang kepalanya tertimpuk batu saat balapan.
“Baiklah, ini yang harus kamu lakukan nanti.” Dokter Doni mulai menjelaskan pada Dira beberapa hal yang harus dilakukannya sepanjang Alexio diterapi nanti.
.
.
Di ruang kerja dokter Doni, kini sudah ada Bisma seorang, Linda masih berada di ruangan Alexio sementara Dira sudah pulang bersama Paul.
“Menurut dokter, apa yang dijelaska Dira tadi soal Alexio sudah menunjukkan bahwa putera saya ditahap yang parah?” Bisma membuka obrolan.
Ia tak tenang, dugaan yang buruk bersileweran di kepalanya.
“Parah atau tidaknya nanti ketika terapi berlangsung, Pak.” Jawab dokter Doni.
“Hanya saja, keberadaan Xia sepertinya sudah semakin sering muncul. Bahkan ia sudah berani dihadirkan Alexio di sekolah dan di lokasi balapan.” Sambung dokter Doni.
“Alexio seakan bergantung dengan sosok Xia ini. sedangkan dari yang saya tanyakan, Xia ternyata hanya sosok anak usia 11 tahun dan bukan gadis yang disukai Alexio.” Lanjutnya.
“Terlebih, anda pernah bertanya rupa Xia itu apakah seperti kembarannya, tapi Alexio menjawab bukan.” Ujarnya menatap Bisma sembari menjelaskan.
“Iya dok.” Sahut Bisma menyetujui.
“Maka dari itu, diharapkan dengan kehadiran Dira di sisi Alexio bisa mengikis keberadaan Xia.” Kata dokter Doni melanjutkan.
“Tapi bagaimana jika tidak berpengaruh sama sekali, dok?” Bisma meragu, mendengar penuturan Dira yang menyatakan mereka tidak sedekat itu saja seolah apa yang akan dilakukan nanti pasti sia-sia.
“Mereka ada kedekatan, pak Bisma. Hanya saja, Alexio seolah menjaga jarak dengan Dira ketika dirinya mengejar putera anda.” Jelas dokter Doni.
“Tapi begitu Dira sudah berpacaran dengan pria lain, Alexio malah bertindak, bukan? Itu artinya Alexio juga menyimpan rasa pada gadis itu.” Lanjutnya.
“Anda tidak perlu terlalu khawatir, kita hanya perlu mengawasi saja terapi nanti. Kita percayakan saja pada Dira untuk menciptakan dunia baru bagi Alexio, tanpa Xia di sisinya.” Jelas dokter Doni
__ADS_1
“Baik dok, saya akan memberikan kepercayaan pada Dira kalau begitu.” Sanggup Bisma.
“Memang begitu seharusnya, pak Bisma. Karena dengan begitu, Dira bisa menjalani tugasnya untuk membantu Alexio lepas dari Xia sekaligus mencari akar masalah yang membuat Alexio menciptakan teman hayalannya itu.” Pungkas dokter Doni.
Keesokan harinya...
“Woy!!!! Mau kemana lo, huh!!” Sintia lagi-lagi menghalangi jalan Dira yang hendak menuju kelasnya.
Jena dan Rena pun tak luput menghadang Dira dari sisi yang lain.
Mereka geng kamPREETY memang sialun.
Diratak menanggapi, ia hendak berjalan lagi.
“Eithhhss mau kemana, ayooo ikut.” Menarik paksa tubuh Dira ke sudut sekolah, di belakang kelas 12 C yang cukup sepi.
“Lepas!!!” sentak Dira keras.
“Mau kalian apa? Kita gak ada urusan sama sekali.” Bentak Dira. Pagi-pagi suasana hatinya sudah dirusak oleh geng ababil labil ini.
“Hobi banget ngebully anak orang, malu-maluin anak kelas A unggulan, kalo alumninya modelan gini.” Ledek Dira.
“Pecundang, sukanya keroyokan, baperan, suka ngancem tapi pakek nama bokapnya, dihhhh malu sama keong.” Sambung Dira
“Sialan tuh mulut, diem, gue mau nanya!!” sergah Sintia geram
Dua temannya seakan menjadi pagar kawat yang menghalangi gerak Dira jika saja berencana kabur.
Dira menyipitkan matanya, menatap serius.
“KEPO!!!” sergah Dira, membuat ketiga gadis itu membelalak sempurna.
“Apa kata lo? Kepo?” tanpa aba-aba, Sintia menoyor kepala Dira saat merasa harga dirinya diremas Dira.
“Gue nanya, ya lo jawab. Alexio itu milik gue, orang tua gue udah siap mendatangi papa Alexio untuk perjodohan.” Terang Sintia angkuh.
“Terus gue harus bilang, wewewewewewew luar biasahh, gitu? Heh.” Dira malah mencibir sekaligus mendecih.
Geli sekali rasanya informasi itu.
“Sialan!!!” Sintia menarik kuncir rambut Dira hingga terurai sudah rambut yang sudah digulung rapi.
“Kalian cari gara-gara rupanya.” Dira berdiri serius, bahkan ia sudah berkacak pinggang.
“Makanya jangan cari gara-gara dengan gue, udah tahu gue suka sama Alexio, dan berencana melakukan perjodohan, eh lampir modelan lo yang udah ditendang beberapa kali masih aja gak tahu diri.” Cerocos Sintia3 panjang kali kuburan.
“Ya elah, baru juga rencana, belum terealisasi kan, nyong!!!” ledek Dira dengan kepala digelengkan dan jangan lupa senyum Dira yang mirip seringai mengejek.
__ADS_1
“Pegang ini lampir!!” Sintia memberi perintah pada dua sahabatnya, Jena dan Rena yang sudah gemas ingin ikut campur dari tadi.
“Diem!!!” bentak Jena saat Dira menggeliatkan tubuhnya untuk memberontak.
“Gak usah teriak-teriak deh, siput telinga gue rusak, gue congkel pake tombak Corvus baru tahu rasa lo.” Sentak Dira masih berontak, enak saja pasrah di cengkram oleh demit pohon toge ginian.
“Corvus? Siapa itu?” Jena tak kenal siapa itu Corvus.
“Pacar gue itu.” Jawab Dira
“Ganteng? Kayaknya bule?” Rena ikut kepo.
“Jelas lebih dari bule, terkenal lagi.” Jawab Dira lagi
Ia heran, kemana saja dua cecunguk ini selama dunia diributkan oleh tokoh Corvus, salah satu musuh tim babang ironman CS.
Pasti tipikal anak-anak menang status sosial media saja ini, tak menyerap tontonan dengan benar.
“Makanya, kalo ke bioskop itu, mata di pakek bukan di celupin di popcorn, neng.” Lanjut Dira terkekeh.
“Lo ngejek kita huh?!!!” sambar Jena mendeplak kepala Dira.
“Sialan!” decih Dira menggigit bibir bawahnya tanda kesal
“Kalian yang mulai ya, jangan salahkan gue.” Ujar Dira bersiap.
“Mau ngelawan.” Sambar Sintia mendelik tajam.
Dan sekuat tenaga Dira menyentak dua gadis turunan jin penunggu lubang semut.
“Awwwww saketttt!!!” Jena dan Rena memekik bersamaan, ketika rambut keduanya di tarik Dira ke belakang. Sehingga kepala keduanya terdongak sempurna.
“Lo juga mau, sebentar.” Mendorong Jena dan Rena, Dira siap menarik rambut Sintia, tapi gadis itu kabur...
“Arghhhh” nasibnya memang harus celaka 12
“Makan tuh air selokan. Dihh menjijikan.” Seloroh Dira berlari, enggan berlama-lama di sana.
“Arhhhhh Dira!!!!” teriak Sintia, kini tubuhnya sudah terkena lumpur dan air selokan yang sialnya sedang penuh karena ada yang tersumbat.
“Rasakan. Jangan maen-maen sama Dira makanya.” Gumam Dira di sela langkahnya menyusuri koridor sekolah.
Ia akan menemui Jonathan, dan... dan memohon pada pemuda itu untuk mengakhiri hubungan keduanya.
Jujur ia salah, Jonathan tidak salah, sama sekali tidak salah, malahan baik, tapi hatinya tidak terpaut pada pemuda itu,
Dengan mendampingi pengobatan Alexio, ia akan tahu, apakah yang dilakukan Alexio memang benar karena perasaannya, bukan karena kesalahan pada otak pemuda itu.
__ADS_1