Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 97


__ADS_3

Hanya ditemani Roy, itu menurut Alexio, karena pengawalan pria itu tetap ketat meski dari jarak yang tidak terlihat olehnya. Alexio tidak mau banyak orang yang bersamanya, khawatir memancing banyak atensi orang dan menimbulkan kekhawatiran dari yang akan ia kunjungi hari ini.


Desa Kutuh, Kuta Selatan, tak jauh dari keberadaan pantai Gunung Payung Bali. Alexio menyambangi sebuah rumah yang terdapat warung makan di sebelahnya. Seorang ibu-ibu usia 50 tahun tampak sibuk melayani seorang pelanggan yang memesan makan.


Roy dan Alexio mendekati dengan sikap santainya, “Permisi ibu, apakah benar ini rumah I Gede Roni?” Roy yang bertanya, sementara Alexio melihat area rumah yang sederhana, tanpa pagar namun terlihat asri.


“Si-siapa kalian.?” Mendengar nama Roni, ibu itu terlihat gugup. Bahkan piring yang diangsurkan untuk pelanggannya nyaris terjatuh jika ia tidak segera mengendalikan kegugupannya.


“Perkenalkan, saya Roy.” Roy menjulurkan tangannya berkenalan, sementara Alexio tidak ikut campur sama sekali, ia cukup mengawasi baik sikap, ekspresi dan sekitar ibu itu.


“Bli saya tidak ada di rumah ini, dia sudah meninggal.” Jawabnya menahan tubuh tremor yang bisa dilihat Alexio dari jemarinya yang saling meremas satu sama lain.


“Boleh saya berbincang dengan ibu sebentar?” tanya Roy berusaha untuk menggali informasi.


Namun yang ditanya malah menggeleng, “Maaf saya sibuk. Saya harus menjaga warung saya.” Tolaknya, jelas ia tidak mengindahkan permintaan Roy. Padahal kondisi warung tidak ramai, hanya ada 5 orang saja yang membeli.


“Saya akan menjaganya.” Dengan cepat Roy menawarkan diri untuk menggantikan pengawasan warung ibu itu.


“Tidak....” ucapnya yang segera disambar Alexio


“Saya perlu berbicara sebentar, hanya sebentar. Dan itu penting.” Meski pelan dan terkesan santai, tapi ada intimidasi dari setiap nada bicara Alexio yang menuntut paksaan di sana.


Mata si ibu terlihat liar, ia melirik sekeliling lalu berbalik lagi pada Alexio begitu seterusnya sampai 10 detik kemudian Alexio melenggang santai menuju bangunan utama tepatnya ia sudah duduk di kursi teras.


Menghela nafas berat, akhirnya ibu tadi mengikuti jejak Alexio dan dengan ragu ia menarik handel pintu rumahnya lalu masuk dan diikuti Alexio.


“Mari.” Sambutnya pada Alexio yang duduk di kursi klasik yang tampak tua. Bahkan busanya sudah tipis dengan beberapa goresan di bagian kayu kursi.


Tidak ada niat sama sekali untuk menyajikan hidangan bahkan segela air putih pun tidak, ibu itu mantap duduk berhadapan dengan Alexio.

__ADS_1


“Apa yang mau anda bicarakan tentang bli saya?” langsung masuk ke inti pembicaraan, tak mau bertanya perihal nama tamu yang ada di depannya.


Alexio menyusuri matanya pada ruangan yang luas, tak bersekat dengan ruang tengah yang ada tv di sana. Ia bisa melihat ada bingkai foto pria brengsek yang sudah mengukir luka bagi semua keluarganya.


“Saya mau menanyakan sesuatu tentang Roni terkait perbuatan bejatnya 14 tahun yang lalu.” Jawab Alexio sembari menelisik raut wajah ibu itu yang terbelalak mendengarnya.


“A-apa ma-maksud anda?” tanyanya gemetar


“Ba-bagaimana anda tahu bli saya meninggal 14 tahun yang lalu.” Lagi, ia melempar tanya untuk Alexio, cukup kaget mengetahui perkara waktu meninggal kakaknya yang saat itu hanya beberapa orang saja yang menghadiri pemakaman karena langsung dijadikan abu.


“Tentu saya tahu. Karena kakak anda adalah orang yang melecehkan adik saya yang saat itu masih berusia 8 tahun, dan brengseknya lagi ia melakukannya sampai 3 tahun lamanya sampai adik saya meninggal.” Keras, tajam dan sangat menyakitkan fakta yang diceritakan Alexio pada keluarga mendiang.


“Tidak!! Kau berbohong!” teriaknya menolak semua penjelasan Alexio yang terlihat menyudutkan serta tidak masuk akal.


“Aku ada di sana, dan kabar kematian kakakmu itu ditutup rapi oleh keluargaku sampai media saja tidak ada yang tahu.” Sinis, Alexio melebarkan seringai yang terlihat menyeramkan bagi lawan bicaranya.


“Kau berbohong! Bli Roni meninggal karena kecelakaan, bukan karena melakukan kejahatan.” Masih saja bertahan dengan pendapatnya.


Ibu itu menggeleng cepat, air matanya pun sudah deras membanjiri, “Tidak, Inda berkata Roni meninggal karena kecelakaan dan ia memperlihatkan bukti catatan kematiannya.” Jawabnya yakin dan menolak penjelasan Alexio


Alexio tertegun menangkap ada nama yang disebutkan wanita itu, “Inda? Siapa itu?” tanyanya menuntut.


“Dia adalah orang yang membantu keluarga kami, atasan Bli saya.” Jawab wanita itu tanpa ragu. Jelas ia jujur dari yang tertangkap mata Alexio.


“Atasan? Dan dia yang mengirimkan jenazah kakakmu?” dua kalimat tanya dilontarkan Alexio dan dijawab anggukan dari lawan bicaranya.


Alexio tampak terdiam sebentar, otaknya jauh berpikir kembali ke masa di mana kejadian itu berakhir. Memang saat itu ia tidak sadar, semua tampak kosong begitu ia bangun dari komanya. Dengan fakta menyakitkan saudarinya meninggal dunia sebelum sempat ia melihat dan berpamitan dulu.


‘Apa mungkin ada yang mengambil jenazahnya hari itu? Nanti aku tanyakan pada papa.’ Batin Alexio.

__ADS_1


“Apakah anda masih berhubungan dengan orang yang bernama Inda itu?” tanya Alexio penuh selidik. Dan harapannya dikabulkan saat wanita itu mengangguk pelan hingga nafas Alexio tampak terdengar lega.


“Boleh saya minta kontaknya?” tanyanya lagi penuh harap. Dapat dilihat saat ini Alexio memohon dari nada bicara bahkan sikap membungkuknya.


“Baiklah, sebentar.” Wanita yang merupakan adik pelaku alias bajingan brengsek itu bangkit dari duduknya. Cukup lama ia masuk ke sebuah ruangan yang dinilai Alexio sepertinya kamar pribadi.


3 menit waktu yang ditinggalkan wanita itu hingga tubuhnya menyembul di balik gorden nuansa bunga-bunga warna merah.


Ia memberikan secarik kertas di atas meja yang didorongnya menuju hadapan Alexio.


“Itu adalah nomor ibu Inda.” Ucapnya dan Alexio menatap bahasa tubuh wanita itu apakah jujur atau tidak. Tapi sepertinya jujur karena tidak ada keanehan dan kegugupan di sana.


“Baiklah, terimas kasih atas bantuan anda.” Ucap Alexio


“Jadi tujuan anda kemari sebenarnya apa?” tanya adik Roni


“Saya ingin mempertanyakan sebuah nama, Andriana, itu adalah orang di balik kejahatan kakak anda.” Jawab Alexio.


“Andri-andriana kata anda tadi?” wajah wanita itu terlihat terkejut mendengar nama yang disebutkan Alexio


“Iya, Andriana.” Jawab Alexio tegas.


“Tidak, tidak mungkin...” ia menggeleng cepat menolak pernyataan Alexio akan nama itu.


“Wanita itu sudah lama meninggal, bahkan jauh sebelum bli saya.” Sambungnya menatap Alexio masih dengan raut muka terkejut


“Apa? Tidak mungkin, Kakak anda melakukan semua itu atas dasar dendam wanita sialan itu.” Jelas Alexio meyakini, karena tertulis di diary Alexia ada nama itu di sana.


“Tidak, Andriana sudah meninggal 20 tahun yang lalu. Bli saya sendiri yang memberi tahu serta memperlihatkan foto kuburannya.” Pungkas wanita itu yang menularkan reaksi terkejut pada wajah Alexio yang membulatkan mata mendengar penuturan barusan.

__ADS_1


Andriana sudah mati? Bahkan sebelum tragedi itu terjadi? Bagaimana bisa!!!


Dan Inda? Wanita yang membawa jasad pria brengsek itu, siapa pula itu!


__ADS_2