Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 62


__ADS_3

#Harusnya kemaren 3 bab tapi bab 61 lama review jd bab 62 tunda upload takut ketikung#Terima kasih untuk perhatiannya, Happy reading#🐇🐇🐇🐇🍁🍁🍁🍁


“Alexia pernah mendapatkan pelecehan seksual dari guru privatnya, di saat orang tua Alexio sibuk memberikan perhatian pada Alexio yang mengidap kelainan hati.”


“Di saat Alexia sudah kadung depresi, orang tuanya meminta gadis itu menyumbangkan sebagian hatinya untuk Alexio.”


“Dan, Alexia bunuh diri, penyebab sebenarnya kematian gadis itu.”


“Gejala aktif itu dipicu atas dasar rasa bersalah Alexio, dan ketika bersamamu ia bahagia, maka semakin ia bahagia maka rasa bersalah itu akan semakin menekan, dan sebagai hukumannya adalah ia akan melukai dirinya tanpa sadar.”


“Jadi, memutuskan memilih kamu sama saja dengan membuat dirinya berada dalam bahaya, dan kali ini, ia jalan bahaya yang dipilihnya mengarah pada bunuh diri, hanya saja caranya beda, jika Alexia mengambil jalan bunuh diri, maka Alexio memanipulasinya dengan kecelakaan agar orang tuanya tidak merasa bersalah kembali.”


Ucapan dokter Doni terngiang-ngiang di telinga karena perintah kerja otaknya sekarang layaknya kaset rusak, berulang mengembalikan kata-kata itu.


“Tapi, menurut cerita diary merah muda itu kenapa beda, harusnya Alexia meninggal di meja operasi karena harus menyelamatkan Alexio.” Gumam Dira mengingat semua kosakata yang tertulis di diary milik Alexia yang selalu dibawa Alexio kemana pun.


Langkah Dira menapaki ruang rawat khusus pasien penderita gangguan mental. Pelan, ia mendekati pintu yang memiliki kaca bening di tengahnya.


Mengendap-endap, sesuai perintah dokter Doni, ia hanya boleh melihat dari jauh, jangan pernah mendekat atau terlihat Alexio. Dari jawaban Alexio waktu itu, Xia mulai sering muncul saat pemuda itu balik mengejar Dira dan membalas perasaan gadis itu.


Jika diingat kembali, pertemuan mereka juga dimulai 3 tahun yang lalu, saat Dira menemukan benda merah muda.


FLASHBACK...


“Dira nanti kalo sudah aktif sekolah, jangan lupain gue ya, semoga aja kita satu kelas.” Ujar seorang siswi yang duduk di sebelahnya ketika mereka bersama yang lain tengah mengikuti MOS siswi Golden School.


“Iya.” Sahut Dira dan memberi senyum


“Baik semuanya, sampai bertemu kembali.. sebagai bagian dari Golden School ya.” dari atas panggung lapangan, seorang siswa yang pastinya dia adalah ketua MOS melambaikan tangan sembari memegang pengeras suara, jangan lupakan tebaran senyumnya, bisa di tebak.... playboy tingkat VIP ini.


Pulang dari MOS, di depan gerbang... ya seingat Dira begitu..


“Arghhh.” Merasakan sakit akibat benturan dari..


“Ma-maaf.” Siswa itu berlari ketika Dira hendak mengembalikan benda yang terjatuh setelah tabrakan keduanya.


Lancang? Mungkin, tapi maafkanlah, Dira hanya ingin mengembalikan benda yang harus tahu nama pemiliknya, bukan?


Cletek!!


Suara kunci benda persegi berwarna merah muda itu terbuka..


ALEXIA BISMA


Hanya itu, dengan rimbun detail bunga mengeliling nama.


“Ok, Alexia Bisma. Pacarnya kali.” Tebak Dira asal.

__ADS_1


Beberapa hari setelah itu, ia kembali bertemu dengan siswa pemilik diary cantik itu.


“Hei!!!” Dira meneriakan suaranya ketika menangkap bayang yang membuatnya selalu membawa benda berwarna merah muda ini kemanapun, hanya ke mengopernya dari tas satu ke yang lain tiap dirinya keluar rumah, ya kali ketemu pas di simpang tempat biasa dia beli cilok.


Ia menoleh,,,


Wah tamvan.


“Ini.” Dira mengulurkan benda itu, namun pemuda itu membalasnya dengan raut terkejut.


“Kenapa ada sama kamu?” deliknya tajam


“Waktu itu jat....” tanpa menunggu Dira menyelesaikan alasan, ia sudah melesak pergi setelah merebut benda itu


“Yeee orang bantuin juga.” Sungutnya


“Tak perlu berterima kasih, tapi jangan anggep aku kayak pencuri dong.” Kesalnya menolak langkah lurus menuju kelasnya X C, melewati kelas pemuda tadi A Unggulan.


FLASHBACK OFF


“Apa setelah pertemuan itu Xia muncul?” gumamnya, tapi kemudian menggelengkan kepala


“Gak deh, Alexio waktu itu kayak eneg banget liat aku, belum ada terpesona-terpesona sama aku.” Ucap Dira.


“Jadi kemungkinan kemunculan Xia itu sebelum kami bertemu.” Duganya.


Kini matanya melirik ruangan di dalam, tempat Alexio berbaring.


“Maaf Al, aku gak bisa ada di samping kamu.” Ucap Dira sedih, merasa bersalah.


.


.


.


Keesokan harinya.


Semua dokter berkumpul di ruang rapat. Dokter yang berada dalam lingkup psikatri itu membahas pasien dengan nama Alexio Bisma, yang mengidap Skizofrenia tingkat akut setelah memperlihatkan semua ciri gejala aktif pemuda itu.


Setelah rapat, tinggal Ladh sebagai pemilik rumah sakit dan dokter Doni sebagai senior bidang psikiatri rumah sakit itu.


“Haloperidol, Chlorpromazine dan lizpromazine, akan diberikan rutin pada Alexio.” ucap dokter Doni membuka map berisi riwayat pasiennya yang saat ini yaitu Alexio.


“Selain itu akan diupayakan pasien diberi pengertian bahwa yang selama ini dialaminya hanyalah halusinasi.” Lanjutnya.


“Tapi seperti hasil terakhir, bukankah dokter Doni bilang kalau Alexio berada dalam kondisi ia hancur untuk mempercayai mana nyata dan halusinasi?” tanya Ladh

__ADS_1


“Iya dokter Ladh, sebenarnya akan semakin sulit memberi penjelasan karena pasien sedang dalam masa akut, kenyataan dan halusinasi tidak bisa ia bedakan lagi.” Jawab dokter Doni.


“Bagaimana kenyamanan ruangan pasien, kenapa tidak diupayakan kamar VVIP saja yang diberikan.?” Tanya Ladh heran dengan keputusan dokter Doni


“Untuk pasien seperti Alexio tidak perlu ruangan luas, dokter. Ruangan yang diberikan sudah maksimal untuk pasien. Kita mengatur penggunaan jendela tanpa teralis, yang bisa dibuka hanya berukuran 15x 15 cm dan hanya 3 jendela bawah sementara jendela besar tidak bisa dibuka, ketebalan kaca menggunakan ukuran 40 mm jadi akan butuh waktu banyak jika pasien hendak kabur, meskipun kabur, letak kamar Alexio hanya berada di lantai dua jadi tidak masalah jika ia melompat.” Jelas dokter Doni panjang lebar.


“Lakukan yang terbaik, dokter Doni.” Perintah dokter Ladh yang diangguki dokter Doni.


Beberapa jam kemudian.


Di sebuah ruangan besar, ada beberapa dokter psikiatri yang berdiri bersandar di dinding, sedangkan yang duduk Alexio dan dokter Doni, sama-sama menatap layar putih yang menayangkan video di sana.


“Kamu lihat di sana, Alexio?” tanya dokter Doni menunjukkan video itu pada Alexio.


“Tidak ada siapa-siapa di sana bukan?” video saat kecelakaan di mana Alexio tak henti menunjuk sudut yang kosong.


“Dan itu juga.” Kejadian saat Alexio memukul kosong malam di mana ia merasa bertarung dengan sosok pria.


Alexio hanya diam memperhatikan tayangan video di mana ada dirinya di sana.


“Alexio.” panggil dokter Doni pelan, Alexio menoleh.


“Apakah Xia masih ada di kamarmu?” tanya dokter Doni pada Alexio, tapi pemuda itu menggeleng dan matanya menatap sudut lain dekat jendela. Fokus ke sana hingga dokter Doni pun mengikuti arah pandang pemuda itu.


“Apakah Xia ada di sana, Alexio?” tanya dokter Doni dan diangguki Alexio pelan tanpa melepas netranya dari sudut tempat Xia tengah memandangnya, tersenyum manis dan begitu cerah akibat paparan sinar matahari.


“Alexio.” panggil dokter Doni, menyentuh pundak Alexio pelan, sementara para dokter psikiatri tengah mencatat observasi mereka pada Alexio saat ini.


“Kamu tahu kan ini di mana?” tanya dokter Doni namun tidak digubris Alexio.


“Ini di rumah sakit, aula ini tidak sembarangan orang memasukinya kecuali tim medis psikiatri atau pasien, sementara pasien kami hanya kamu, Alexio.” ucap dokter Doni pelan karena tampang Alexio saat ini sungguh bak orang bodoh.


“Jika ini hanya bisa diakses tim medis, lalu kenapa Xia bisa berada di sini? Tidakkah hal itu aneh, Alexio?” lanjut dokter Doni menanamkan pemahaman posisi Xia sebagai apa.


“Tapi Xia bisa aku lihat, dokter. Xia nyata, ia bahkan tersenyum padaku sekarang.” Bantah Alexio.


“Alexio, tidakkah Xia adalah dirimu? Cerminan rasa bersalahmu pada Alexia dulu?” ujar dokter Doni membuat Alexio menoleh padanya.


“Tidak, Xia itu Xia, dan aku adalah Alexio, kami berbeda.” Bantah Alexio


“Aku hanya ingin melindungi Xia, saat aku tidak bisa melindungi Alexia dulu.” Lanjutnya, wajahnya mendung.


“Alexia.” Ucap Alexio lirih, setitik air mata luruh.


“Mama.” Lanjutnya kemudian.


“Mama?” beo dokter Doni.

__ADS_1


“Kenapa mama-mu, Alexio?” menangkap info aneh dari bibir pemuda itu memantik rasa penasaran dokter Doni.


“Mama, Alexia, mereka.. mereka tidak bersalahkan dokter?”


__ADS_2