
2 hari kemudian...
“Pagi ini, keluarga besar dari mendiang pengusaha sukses Suprapto akan menggelar pemakaman di Green Hills. Dan kami dari Nusa TV mengucapkan turut berbela sungkawa atas meninggalnya Bapak Suprapto yang mengalami kecelakaan tunggal beberapa hari yang lalu.”
Begitu sepenggal berita yang disampaikan oleh sebuah stasiun televisi tanah air mengenai kematian dari Suprapto.
Rumah keluarga besar Bisma sudah dipenuhi oleh banyak pelayat dari berbagai kalangan, baik politisi, pengusaha, seniman dan para penggiat sosial yang memiliki link dengan keluarga mereka.
Isak tangis mengiringi setiap pelayat yang datang mengunjungi kediaman Bisma, Linda sebagai sosok menantu satu-satunya tak henti menuangkan air matanya seolah ia bersedih kehilangan Suprapto sebagai mertua satu-satunya itu.
Sedangkan Andriana duduk di salah satu kursi di dekat Alexio, sementara Bisma bertugas menyambut tetamu yang berkunjung mengucapkan belasungkawa untuk kematian Suprapto.
“Yang sabar ya, Bisma. Sayang sekali kami tidak bisa melihat jasad dari papamu.” Ucap salah satu pebisnis yang menjalin kerjasama dengan Suprapto.
“Terima kasih om. Saya juga menyayangkan akan takdir yang merenggut papa kenapa harus setragis itu.” Jawab Bisma memperlihatkan wajah sedihnya.
“Kami juga turut berbela sungkawa untuk papamu, Bisma. Semoga Tuhan menerima semua kebaikannya selama ini.” ujar satu pebisnis lainnya yang nimbrung diantara mereka.
“Amin, terima kasih pak atas perhatiannya pada mendiang papa.” Balas Bisma masih memasang mimik sedih.
Jenazah Suprapto yang ditahtakan di sebuah peti kayu terbaik itu memang ditempatkan dalam sebuah guci kelas mahal di mana hanya terkungkung dalam bentuk bakaran alias abu saja. Jadi tidak ada yang melihat kondisi jasad pria yang dikabarkan tewas karena kecelakaan dan terbakar dalam mobilnya.
Pun saat guci mahal itu di bawa ke area pemakaman untuk yang kalangan jetset pun, hanya dipeluk Bisma dengan kedua rengkuhan tangannya. Linda mendampingi di sebelahnya sedangkan Alexio berdiri di belakang bersama Andriana mengiringi.
Peliputan atas kematian pria tua itu cukup menyita perhatian banyak orang, bahkan pekuburan pun ramai baik oleh orang-orang yang berkepentingan bisnis dengannya maupun dari kamera sebagai kabar seantero negeri dan luar negeri.
Siapa yang tidak kenal Suprapto?
“Terima kasih untuk semua yang dengan penuh kasih dan perhatiannya bersedia dan tulus mengunjungi pemakaman papa kami, Suprapto. Meskipun beliau hanya dikuburkan dalam bentuk abu, tapi bagi kami, jasadnya tetaplah abadi.” Pidato yang keluar dari Bisma sebagai anaknya, itu menurut penilaian orang selama ini.
“Untuk semua kebaikan yang dilakukan oleh papa, semoga tetap bisa saya lakukan. Sedangkan untuk keburukan yang dilakukan papa, pihak berwajib tetap saya perkenankan untuk melakukan investigasi sesuai hukum yang berlaku.” Lanjut Bisma berpidato dan blitz kamera menyertai setiap gerak pria rupawan yang sudah berusia paruh baya itu.
Untaian bunga ditabur di atas undakan tanah yang sudah membumbung di pemakaman Suprapto, sebagai penutup dari upacara pemakaman hari ini.
Satu persatu khalayak yang melayat pun menghilang dari kerumunan yang ramai tadi, menyisakan segelintir orang saja hingga pada akhirnya tersisa Bisma, Linda, Andriana dan Alexio di hadapan kuburan bertuliskan nama Suprapto.
__ADS_1
“Apakah kita sudah bisa pulang?” Suara Andriana memecah keheningan yang sejak tadi mengurung keempat orang ini.
“Tentu Andriana, tubuhku sudah begitu lelah daritadi terus memainkan sandiwara menggelikan ini.” Sahut Linda menjawab.
“Ayo, aku juga sudah tidak betah berada lama-lama di kuburan tak jelas ini.” Celoteh Bisma menimbrung.
“Alexio, kau ada yang mau disampaikan?” Tanya Bisma pada Alexio yang sejak pemakaman selalu saja membisu.
“Apa yang harus aku sampaikan? Nama yang tersembunyi di dalam kubur ini pun aku tidak tahu siapa namanya.” Jawab Alexio mengendikkan bahunya.
Betul sekali.. dari keempat orang ini, tidak ada yang tahu mayat siapa yang mereka jadikan sebagai isi kuburan bernama Suprapto.
Flashback!
“Tidak!!! Lepaskan aku,....” Suprapto terus berusaha melepaskan dirinya dari kekangan tali berikut pegangan anak buah Yakuza yang erat sekali.
“Hei tenanglah, kau harus menonton ini sampai habis pak tua!” Ucap Dome, gatal sekali rasanya mulut bocah ini jika berurusan dengan Suprapto, suka sekali menjulid sepertinya.
“Apa yang mau kalian lakukan, hah!” Mata Suprapto membeliak liar saat melihat ada sebuah mobil yang menepi di hadapannya.
Aishhh jorok.
“Singkirkan tanganmu, menjijikan.” Teriak Suprapto.
“Cepat basahi dalam mobil itu.” Perintah Dome pada anak buahnya yang sudah memegang beberapa botol minuman keras dan juga jasad anak buah Suprapto di dalamnya.
“Jangan sampai salah, ingat itu.” Sambung Dome lagi dan diangguki anak buahnya.
“Siap bos.” Sahut mereka.
Dome bersama Bisma melihat bagaimana adegan kematian pura-pura Suprapto menggunakan cara itu. Dan mereka harus membuat seolah jasad Suprapto hancur terbakar di dalam mobil sehingga sandiwara yang tercipta bisa benar-benar sempurna dimata orang-orang.
Ketika mobil sudah terisi jasad dan aroma alkohol tercium menyengat di dalamnya, dengan menggunakan benda yang bisa menekan pedal gas, anak buah Yakuza menghidupkan mobil dan mengarahkan pada sebuah bangunan agar ada benturan keras di sana.
Pun tak lupa mereka sengaja menarik tempat pengisian bahan bakar agar percikan api bisa menyambar dengan mudah.
__ADS_1
Duar!!!!
Suprapto melihat dengan jelas hasil kerja Dome dengan timnya.
“Wah,, bagus, begitu. Yehaaa!!!” Dome berjingkrak atas keberhasilannya membuat karya kematian Suprapto.
“Sekarang tugasmu, buat Suprapto dengan dokter Ladh.” Ucap Dome melihat Bisma di sebelahnya.
“Baiklah, itu akan menjadi urusanku setelah ini.” Jawab Bisma menyanggupi hal itu.
“Dan setelah itu, meski malaikat maut mau merenggut nyawa tua bangka itu. Tak akan aku berikan sejengkal pun izin membawa nyawanya.” Ucap Dome bersungguh-sungguh dan dengan sombong.
Flashback OFF!!
“Sialan kalian semua!! Aku masih hidup!!!” terkurung dalam ruang yang pengap dan sendirian. Suprapto melihat berita yang mengabarkan kematiannya dan sudah di makamkan oleh Bisma sekeluarga.
“Aku masih hidup!!!” teriaknya lagi. Namun tak ada yang menyahutinya.
“Lepaskan aku!!!” ia semakin menguatkan suaranya, memancing perhatian siapapun agar masuk atau bila perlu ada yang menolongnya.
Di sebuah tempat, Alexio dan Dome pun duduk saling memandang lantai di bawah mereka. Deru ombak dan semilir angin laut pun memporak-porandakan rambut mereka.
Ya, mereka tengah berada di tengah samudera, dengan kapal pesiar milik mafia Yakuza.
“Apa yang harus kita lakukan padanya, aku belum mau melemparnya ke ikan hiu.” Ucap Dome menghirup aroma kopi pekat miliknya.
“Tidak semudah itu mengakhiri begitu saja. Aku akan menyiksanya sampai dia menginginkan mati lebih baik.” Jawab Alexio.
“Betul. Bagaimana jika kita melakukan yang sering dilakukan oleh pada psiko, seperti memotong jemarinya, mengulitinya lalu memberi garam dan cuka, terus memberi jalapeno pada kemaluannyaa, membolongi kepalanya lalu diisi air la.....” kalimat panjang yang terucap dari bibir Dome cukup membuat alis Alexio berkerut.
“Kenapa? Bukankah asik. Ayolah, aku selalu ingin mencoba teknik para serial killer itu. Kapan lagi ada percobaan seperti ini.” Seloroh Dome dengan wajah tanpa dosanya.
“Kau sungguh mengerikan.” Komentar Alexio tapi hanya ditanggapi oleh Dome dengan tawa terbahak-bahaknya.
“Hei, taruh di dekat pak tua itu, perdengarkan ucapanku tadi. Setidaknya bisa menjadi pengantar tidur siangnya.” Perintah Dome pada anak buahnya, ia menyerahkan ponsel yang merekam ucapan gilanya tadi agar Suprapto bisa tahu apa saja list siksaan yang akan dirasakan nanti.
__ADS_1