Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 82


__ADS_3

“Hai.” Sapaan yang Dira ingat itu suara siapapun menoleh. Matanya menyipit menatap sosok yang kini sudah duduk di seberangnya. Menopang wajah dengan tangannya, bahkan memamerkan senyum rupawan itu selebar-lebarnya pada Dira.


“Hfff.” Dira masa bodo. Ia melanjutkan kunyahan baksonya yang tadi tertunda, tak ada niat membalas atau meladeni orang yang kini masih menatapnya.


“Dira.” Panggilnya karena tak ada respon sama sekali dari gadis itu. Coba saja jika ia duduk di kursi dengan gadis yang lain, tentu akan ada balasan berupa teriakan histeris senang dan tatapan memuja untuknya.


Tapi gadis ini, yang dengan santainya mengunyah bakso tak memperdulikan sama sekali kehadirannya. Bahkan pesonanya seakan tak mempan membius seorang Dira.


“Mau.” Tengilnya, Alan. Ya, pria itu yang lagi-lagi mengganggu Dira. Menyerobot garpu dan menusuk satu pentol bakso milik Dira lalu memasukkannya ke mulutnya.


“Kau!!!” Dira membeliakkan mata tajamnya akan sikap lancang Alan. Ia tak suka. Dan kini dengan kasarnya ia menaruh sendok dengan kasar hingga dentingan benda yang beradu dengan mangkok kaca itu terdengar keras.


“Hei, Dira.. Dira!!!” Alan tak percaya Dira akan bersikap demikian, marah. Ia kira Dira hanya akan kesal dan mengoceh, tapi gadis itu dengan marahnya meninggalkan tempat duduk dan menyingkir dari area kantin.


“Dira!!!” Alan menyusul Dira dengan langkah cepatnya, hingga banyak pasang mata yang mengenali Alan sebagai idola kampus itu ternganga, karena seorang Alan yang terkesan susah didekati itu kini mengejar mahasiswi yang tak mereka kenali.


“Kayaknya gebetan baru Dira tuh.” Celetuk Sintia yang ikut menyaksikan drama romantis itu. Alexio yang duduk di sebelah Sintia hanya menatap datar.


Sementara itu.


“Sialan banget sih. Gak ngerti apa kalo gak ditanggepin itu artinya gak suka.” Omel Dira sepanjang langkahnya menyusuri koridor kampus menuju kelasnya.


“Dira!!” dari arah belakangnya, Alan masih sibuk mengejar dirinya. Mengabaikan tatapan memuja dan panggilan gadis-gadis yang ia lalui. Fokusnya adalah gadis itu, yang bernama Dira.


“Hei.” Ia berhasil menghentikan langkah Dira setelah meraih lengan gadis itu cepat.


“Lepas.” Dira menyentak pegangan Alan kasar.


“Sorry.” Alan mengangkat dua tangannya sebagai bentuk ucapan maaf menyentuh Dira.


Saat Dira hendak berlalu, Alan menghentikan langkah Dira lagi dengan ucapan.... “GUE SUKA SAMA LO, DIRA.” Teriak Alan dan ucapannya tentu menjadi alarm bahaya bagi Dira karena jelas setelah ini akan banyak seliweran gosip mengenainya. Lihatlah, tatapan mata yang melihatnya akan meneruskan gosip itu.


“Dira!!!” Alan menjerit memanggil Dira yang memilih meninggalkannya ketimbang menjawab ucapannya tadi.


“Hmm, menarik, sangat menarik.” Gumam Alan melihat tubuh Dira perlahan menghilang di balik belokan koridor.

__ADS_1


“Arghhhh, bener-bener sesuai namanya.. si-Alan.” Sungut Dira menyeret langkahnya masuk ke dalam kelas.


“Wahh ada yang barusan nyerobot cowok kita nih.” Baru saja berhasil mendudukan pantatnya di kursi, Dira sudah menjadi pusat perhatian para mahasiswi.


“Sok jual mahal banget.” Timpal yang lain, jelas itu sindiran untuknya. Tak ada istilah sayup-sayup. Kalimat itu keras ditujukan padanya.


“Mahasiswi baru itu harusnya sadar diri woy!!!” ucap yang lain sama julidnya.


Brak!!!


“Lo, yang namanya Dira.” Dari arah belakang, Dira dikejutkan akan tingkah bar-bar seorang mahasiswi yang menggebrak mejanya tiba-tiba.


“Jawab bisu.” Sentak satunya yang ia yakini adalah teman gadis itu.


“Iya, kenapa.” Jawab Dira datar. Malas sekali ia harus bertemu dengan situasi ini. ia bukan bocah lagi yang harus meladeni tingkah kekanakan ini. ia calon dokter, apalagi profesinya adalah psikiater yang harusnya punya pola pikir waras dari yang lain.


“Jadi cewek itu belajar yang tenang, jangan sok cari perhatian deh. Tolak noh Alan kalo gak suka. Ini malah sok jadi kucing manis yang mintanya dikejer.” Cibir mereka mendorong pundak Dira pelan.


Wahhh main fisik nih ceritanya


“Aku mau belajar tenang. Bukan mau cari perhatian.” Balas Dira pelan, masih belum mau terpancing emosi.


“Siapa yang kegatelan, yang dateng itu si-Alan kalian itu. Udah ditolak masih aja mepet.” Dira memberi penegasan akan kata-katanya.


Brak!!!


Lagi-lagi mereka menggebrak meja Dira. Doyan banget sih maen kasar.


“Aku gak mau yang ginian, ya.” tegur Dira mulai risih, tapi tetap menjaga diri agar tidak emosi.


“Oh ya!!! kalau kami tidak mau, lo mau apa!” Jawab mereka arogan.


“Kalo kalian suka sama idola kalian itu, salahkan dia yang deketin aku. Atau jangan-jangan kalian ditolak mentah-mentah sama dia?” cibir Dira dengan sikap santainya.


“Apa lo bilang!!!” baru saja telapak tangan itu berniat mendarat di kepala Dira. Suara bariton yang tegas menyela hal itu.

__ADS_1


“Kalian sedang apa? Duduk.” Titah seorang dosen yang memergoki perdebatan mahasiswi itu.


“Awas lo ya.” ancam mahasiswi tadi lalu melangkah meninggalkan Dira bersama para kurcacinya.


“Bakalan banyak drama cewek gila kayaknya setelah ini.” pasrah Dira meratapi nasibnya yang pasti tidak akan tenang jika sudah ancaman seperti itu.


Sesuai janji, kontan meski terjeda waktu. Kini Dira sudah melongo melihat ban mobilnya kempes dua. Benar-benar tidak habis pikir dengan orang-orang yang sengaja melakukannya. Salah dia apa coba.


Hffft.


“Bener bocah semua itu.” Ujar Dira lesu. Ia meraih ponselnya yang tersimpan di dalam saku tasnya dan menekan panggilan.


“Bang. Jemput aku sekarang, diparkiran nih. Ntar aku shareloc deh.” Pinta Dira yang ia yakini jika abangnya tengah berada di kampus juga.


Butuh waktu 8 menit saja bagi Dira menunggu kedatangan abangnya tercinta, sungguh kakak yang patut diandalkan.


“Kenapa mobil kamu?” tanya Paul setibanya di sana.


“Tuh.” Dira menunjuk menggunakan bibirnya yang dimajukan pada dua ban yang kempes.


“Kok bisa?” Paul berjongkok untuk melihat langsung ban yang kempes.


“Gak tahu. Tadi pas aku dateng baek-baek aja.” Jawab Dira apa adanya.


“Ck. Kamu diganggu orang di sini?” Tebak Paul merasakan ada yang aneh dengan kejadian yang menimpa adiknya.


Dira menggeleng, “Gak tahu.” Jawab Dira santai. Ia bukan tipe adik pengadu. Bahkan pembullyan di SMA dulu saja keluarganya tidak tahu.


“Yakin? Bilang sama abang. Mereka tidak tahu kalo kamu adek abang loh.” Desak Paul yang tidak percaya begitu saja akan jawaban Dira tadi.


“Iya bang. Gak ada yang ganggu. Ihh bawel banget sih.” Sahut Dira gemas.


“Ya udah, nanti abang urus mobil kamu. Sekarang kita balik atau kamu mau jalan?” Paul membuka pintu mobilnya sembari menanyakan tujuan Dira.


“Ke rumah sakit aja bang.” Jawab Dira.

__ADS_1


“Oke sayang.” Paul menutup pintu mobil dan berjalan menuju pintu kursi kemudi.


“Inget, besok-besok kamu jalan sama abang keliling kampus, jadi gak ada yang ganggu kamu kalo tahu siapa abang kamu.” Ujar Paul memasangkan seatbelt Dira lalu mengelus lembut kepala adiknya.


__ADS_2