
Dering ponsel Alexio memecah kesunyian diantara keduanya. Dira masih betah menemani pemuda ini
“Hmmm halo.” Sahut Alexio menjawab panggilan.
“Iya, iya, iya.” Lanjutnya lalu mematikan telpon.
“Siapa?” tanya Dira
“Andi, aku harus gabung sama anak-anak ya.” Alexio bangkit dari posisi duduknya
“Kemana?” Dira menahan lengan Alexio yang beranjak
“Jo brengsek itu ada di markas, bawa pasukannya.” Jelas Alexio datar.
“Jo? Aku ikut.” Dira sudah berlari menuju motor Alexio, memakai helm dan siap menyambut Alexio yang mau naik.
“Jangan, pulang aja.” Tolaknya, namun Dira menggeleng tanda dia membantah
“Bahaya Dira, sudah bisa dipastikan akan ada baku hantam di sana.” Alexio membujuk Dira. Ia tahu sekali sepolos apa gadis itu, tak akan siap berada di sana, pasti histeris, nangis dan apa saja yang dilakukan gadis pada umumnya.
Tapi itu harus terpatahkan.
Karena setelah beberapa puluh menit kemudian....
“Rasain.!!!” Dira menendang satu pemuda yang hampir melibas kepala Barry dengan tongkat kayu.
Yang dihajar hanya melongo karena itu gadis.
Dira bergerak lincah, ia sudah memegang kayu di tangannya karena ia melihat lawan membawa senjata yang mampu melukai. Alexio entah berada di mana, ia lepas kendali ketika Jonathan dan pasukannya datang mengobrak abrik markas dengan alasan siswa Golden School melecehkan siswa sekolahnya SMA Cakra.
Padahal dari informasi validnya, siswa itu hanya difitnah oleh siswa sekolah lawan dengan bukti yang tentu bisa dipercaya, sehingga ketika Jonathan selesai mengobrak abrik markas, tinggal Alexio yang balas perlakuan mereka.
“Pecundang!!!!” pekik Dira mensleding lawannya.
Titik sabar para pemuda itu sudah habis, mereka yang merasa dari tadi mengalah dengan Dira karena gender itu, kini siap membalas setelah melihat kemampuan bela diri Dira.
“Dasar gadis cengeng!!!” teriak lawannya, membawa rantai yang ia gulung ditangan, tak peduli lagi dengan Dira.
Melihat tanda bahaya, Dira lebih siaga. Apalagi benda yang tergulung di tangan lawannya tidak main-main, bisa bengor dia setelah ini.
“Jiahhhhhhhttttt.” Pemuda itu menghendak kakinya lalu siap menerjang Dira.
Bugh
Belum sampai serangan itu ke tubuh Dira, lawannya sudah tersungkur duluan.
“Brengsek!!!” pemuda itu justeru melongo karena yang memukulnya adalah pimpinan gengnya, Jonathan
__ADS_1
“Jo!!!” ucap pemuda itu melongo
“Dia Dira!!! Gadis gue!!!” pekik Jonathan marah.
Ia memang kecolongan karena tidak tahu jika Dira ikut dalam pertarungan dua geng ini.
“Pulang!!” perintah Jonathan yang menarik lengan Dira keluar dari kekacauan ini.
“Gak.!” Dira menarik tangannya lalu sigap berlari ke kerumunan lagi
“Sial!” teriak Jonathan, ia harus segera menghentikan tawuran ini, karena ada Dira di antara semua kekacauan ini.
“HENTIKANNNN!!!” teriaknya yang sudah berdiri di teras yang posisinya tinggi.
Tak ada yang menggubris.
“Sialan!” ucapnya.
Matanya mengedar ke sekeliling sampai menangkap benda yang bisa menghentikan semuanya.
Byurrrrrrrr
Selang air yang disetel full itu sudah menyemburkan air sangat deras, hingga yang terkena air kontan gelegapan termasuk Dira.
Semua menoleh keasal air itu dihempaskan.
“Gue udah ngomong stop, ya stop.” Kata Jonathan yang masih memegang selang di tangannya, bersiap jika masih tak ada yang mendengarkannya.
“Gue udah pernah peringatin kalo jangan asal mengacak-acak markas gue, kan??” kerah baju bagian belakang Jonathan dicengkram erat oleh Alexio.
Jonathan hanya mendengus, “Makanya jaga anak buah lo itu.” Balasnya ketus
“Apa lo bilang? Jaga? Siswi kalian yang fitnah siswa kami.” Balas Alexio tak kalah tajam
“Lagian, jangan cemen semua urusan percintaan aja lo urus.” Lanjut Alexio mencibir
“Lolupa dengan adeknya Zapi, bukannya itu urusan percintaan yang lo urus juga.” Jonathan membalas cibiran itu.
Cengkraman itu semakin kuat hingga tubuh Jonathan terangkat.
“Makasih udah ngingetin, gue nyaris lupa soal itu.” Dengus Alexio
“Asal lo tahu, kenapa gue urus. Karena anak buah lo tujuh curut itu udah kelewatan ngehajar Zian sampai koma.!!” Hentak Alexio, melepas pegangannya hingga Jonathan nyaris terjungkal
“Terimakasih buat Jonathan, karena kalian yang merasa 7 orang itu, setelah ini, siap-siap bertemu dengan pengacara gue.” Alexio berkata dengan nada tinggi hingga bisa dipastikan akan menjangkau pendengaran yang ada di halaman markas itu.
Perkataan Alexio membuat 7 orang yang ikut dalam tawuran itu kini merinding mendengarnya. Mereka yang sebelumnya sudah senang dengan penawaran membiayai perobatan. Memang Alexio sempat mengancam dengan hukum penjara tapi itu jika keadaan Zian memburuk.
__ADS_1
“Dan kalian pergi dari markas gue. Sekarang!!!” lanjut Alexio yang memancarkan aura marah menatap rivalnya berdiri tak jauh darinya.
Ia masuk ke dalam markas, disusul oleh Barry dan Andi, sementara Dira menutupi tubuhnya yang basah karena sudah bisa dipastikan ********** tercetak.
“Sial!!” makinya
Ia mengendap-endap berharap tidak ada yang menyadarinya. Hingga
“Pakai ini.” Jonathan yang muncul dari sisi kirinya, menutup tubuh Dira yang sudah banyak menjadi pusat perhatian.
“Eh, makasih Jo.” Ucap Dira yang lega setidaknya bagian tubuhnya tertutupi dari tatapan liar mereka.
Dira bergegas masuk dengan langkah cepatnya, meninggalkan Jonathan yang diam memperhatikan punggung Dira menghilang hingga akhir.
“Ayo pulang, dan bawa Sindi besok menghadap gue.” Jonathan menolak langkahnya, ia jujur saja merasa harga dirinya jatuh hari ini.
Anak buahnya datang karena fitnah yang ditebar Sindi berhasil menghasut termasuk Jonathan. Hingga tanpa menunggu kedatangan Alexio, Jonathan mengobrak-abrik markas Alexio demi mencari pemuda yang melecehkan siswi sekolahnya.
Hingga Alexio datang, mencari tertuduh dan mendapat klarifikasi bahwa itu hanya fitnah. Namun masalah tak selesai, karena Alexio langsung membalas perlakuan Jonathand an gengnya yang sudah merusak markasnya.
Dendam harus dibayar sekaligus saat itu juga.
Perlahan deru kendaraan geng Jonathan sudah hilang dari pendengaran, mereka semua sudah pergi dari markas Alexio.
Dan kini,,,,
“Jaket siapa itu?” saat Dira sudah masuk, ia langsung berlari ke kamar mandi, melepas seragam sekolahnya dan hanya mengenak jaket Jonathan sebagai pembungkus tubuhnya.
“Jaket Jo.” Jawab Dira mengambil duduk di sebelah Alexio
“Lepas.!” Titah Alexio tegas, membuat Dira memicingkan matanya.
“Gak.” Tolak Dira ketus
“Lepas Dira!!” semakin menekan kata-kata perintahnya.
Dira menggeleng, “Gak mau.”
“Kamu masih suka sama Jonathan sampai barang-barangnya saja sulit kamu buang?” Alexio mulai tersulut emosi. Ia menuduh Dira demikian
“Ya ampun Alexio, lebay banget deh.” Sungut Dira melawan
“Asal kamu tahu, kalo sampe ak u buka jaket ini. maka....” ia menghentikan ucapannya saat menyadari bukan hanya mereka berdua di ruangan itu. Ada banyak pasang telinga dan mata berada di sekeliling mereka. Apalagi Andi dan Barry yang duduk di seberangnya.
Dira perlahan mendekati Alexio.
“Mau ngapain?” merasa Dira mengikis jarak membuat Alexio menelengkan kepalanya menjauh.
__ADS_1
“Bisik.” Dira menarik telinga Alexio untuk mendekat lalu berbisik membuat Alexio menganga seketika.
“Itu alasannya dodol.” Ketus Dira yang kini menyedekapkan tangan dengan bibir bersungut.