
“Tenang, tenang Linda, tenang, jangan panik dulu. Coba hubungi perawat yang menjaga Andriana di sana.” Bisma enggan menuruti sikap Linda, ia berusaha menempatkan kewarasannya dulu meski menyangkut masa lalunya.
“Tidak Bisma, asistenku sendiri yang mengatakan jika Andriana di bawa oleh sekumpulan orang berpakaian hitam dan meninggalkan catatan pada perawatnya.” Linda menggeleng menolak keinginan Bisma, keamanan kembarannya tengah terancam saat ini.
“Ayahmu pasti mengira semua perbuatan ini adalah ulahku, pasti itu pikirnya.” Sambung Linda berasumsi.
“Apa maksudmu, sayang?” ujar Bisma bertanya
“Ayahmu,, ayahmu tahu jika aku adalah kembarannya Andriana.” Jawab Linda sudah gemetar
“Apa? Sejak kapan? Kenapa papa tidak pernah menunjukkan kebencian padamu?” tanya Bisma bertubi-tubi.
“Sejak anak-anak kita dilahirkan, mungkin ayahmu mendapatkan profil lamaku ketika masih bersama orang tua angkatku. Dan karena aku pewaris perusahaan besar mungkin itu jadi penghalang ayahmu bertindak sembrono padaku.” Duga Linda lirih.
“Kita tidak bisa langsung menduga jika ini perbuatan papaku, Linda. Mari kita selidiki dulu.” Masih saja Bisma berprasangka baik pada ayahnya meski sudah jelas sebrengsek apa kelakuan seorang Suprapto itu
Darah lebih kental daripada air, pepatah lama.
“Kau... masih berusaha mengelak kelakuan ayahmu, Bisma.” Linda menggelengkan kepalanya menatap tak percaya pada suaminya itu.
“Bu-bukan begitu Linda..... A-aku..”
“Tidak perlu, kau memang anaknya, wajar jika kau bersikap begitu, aku akan berusaha sendiri mencari keberadaan adikku itu.” Tanpa membutuhkan jawaban Bisma, Linda hengkang dari perbincangan mereka. Hatinya panas, kecewa berikut sakit walau Bisma tidak sepenuhnya bersalah tapi sikap pria itu harusnya tidak seperti itu, menambah kekacauan saja.
“Dan satu lagi, aku menyimpan bukti yang bukan hanya mampu menjerat ayahmu, tapi mampu menjatuhkannya sampai sejatuh-jatuhnya, Bisma.” Tanpa berbalik, Linda berujar tajam pada Bisma yang masih berdiri di tempat semula.
Brak!
Pintu kamar pun tertutup bersamaan degub kecemasan dalam diri Bisma, “Apakah ini saatnya papa harus menerima penghakiman dari orang-orang yang pernah disakiti dulu?” Bisma bermonolog sendiri, memikirkan nasib ayahnya kedepannya.
Ada banyak yang mendendam, dan sudah biasa jika suatu saat akan dibalas, bukan? Lalu, ini adalah masa di mana Suprapto harus menerima hukuman atas perbuatan buruknya tempo dulu.
“Kerahkan banyak orang untuk mencari Andriana, cepat!!!” Linda melakukan panggilan dengan tergesa, memburu asistennya agar cepat menindak penculikan Andriana. Rasa khawatirnya begitu besar mengingat keadaan Andriana yang masih belum pulih benar.
“Ah, aku harus meminta bantuan Hiro Taoka, dia selama ini membantuku.” Linda teringat dengan pimpinan mafia besar Jepang itu, padahal yang selama ini memberinya informasi adalah Dome, putera mafia itu.
__ADS_1
“Dan dokter Ladh, saatnya dia membantuku. Aku juga butuh dirinya.” Linda juga mengingat Ladh yang pernah berjanji akan membantu jika sudah siap menghancurkan Suprapto.
Kakinya sudah bergerak tak mantap, sembari menunggu jawaban atas permintaannya bertemu dengan Hiro Taoka, ia juga mengatur pertemuan dengan Ladh. Agar jelas satu hari ini ia bisa menyelesaikan sekaligus sembari menunggu kabar keberadaan Andriana.
Jika Linda tengah berusaha menemui pimpinan mafia besar dan dokter yang bertanggung jawab atas dirinya saat itu, Bisma pun juga mengerahkan orang-orangnya mencari keberadaan Andriana. Saat ini baru keduanya yang tahu mengenai hilangnya Andriana, jadi kepanikan itu baru antara mereka berdua saja.
Kampus....
“Hai baby, apa kabarmu hari ini?” Dome merangkul tangan Dira, ia tahan berlari mengejar saat baru saja tiba di parkiran.
“Dome, tanganmu kondisikan.” Dira mengingatkan tindakan Dome, karena fakta hubungan keduanya tidak melibatkan kontak fisik.
“Upss, terbawa suasana, baby.” Kekeh Dome, ia menerima asalkan bisa mendapatkan status berikut bisa berdekatan dengan dokternya ini.
“Hai Dira.” Dari arah berlawanan, giliran Jonathan yang menyambut gadis itu, dengan senyum mempesonanya tentu saja.
“Hai Jo.” Balas Dira melambaikan tangan.
“Kenalkan, aku Dome, kekasihnya Dira.” Dome mengulurkan tangan, mengklaim statusnya bersama Dira dihadapan rivalnya ini.
“Ohhh jadi ini kekasihmu, Dira? Ahh kecewa sekali aku, kau menyukai brondong kali ini.” cibir Jonathan namun arahnya jelas itu untuk Dome.
“Kau mau berkelahi denganku? Kau pikir aku bocah yang bisa dikalahkan dengan mudah, huh!” balas Dome begitu sengit.
“Ayo, siapa takut.” Sambut Jonathan dengan cengiran mengejeknya.
“Alexio!!!” di tengah perdebatan dua pria tak jelas ini, Dira menyela dengan melewati mereka untuk mengejar Alexio.
“Alexio!!” ulang Dira kembali berusaha menggapai pria yang tidak menggubris sama sekali kehadirannya. Membuat dua pria yang berdebat tadi hanya melongo ditinggalkan gadis yang mereka perebutkan.
“Kau bertingkah seperti awal mula kita kenal, Alexio.” ucap Dira merasa Dejavu dengan sikap dingin dan penolakan Alexio saat masih SMA. Ia masih ingat betapa intensnya ia mengejar pria itu tanpa merasa malu sama sekali setiap ditolak.
“Maka dari itu, menyingkirlah dari hadapanku.” Sahut Alexio dingin, semakin berjalan menjauhi Dira yang kesulitan mengejar hingga terpaksa berhenti dan hanya memandang punggung Alexio yang semakin jauh dan hilang dari jangkauannya.
“Pria brengsek itu, sepertinya kembali ke mode menyebalkannya lagi, bukan?” Jonathan merangkul bahu Dira.
__ADS_1
“Apa perlu aku pukul dia untukmu?” sambungnya yang diangguki Dira lalu mereka terkekeh setelahnya.
“Hei, ini kekasihku, singkirkan tanganmu itu.” Dome menepis kasar lengan Jonathan yang melingkari bahu Dira.
“Ck, kau ini, dasar bocah labil.” Decak Jonathan melihat satu lagi makhluk menyebalkan mengelilingi Dira-nya.
“Aku balik dulu ya sayang, mumpung ada waktu libur jadi mau istirahat.” Pamit Jonathan mengacak-acak rambut Dira yang sudah tertata rapi.
“Hmm. Hati-hati. Jo, dan kau, sana balik ke kelasmu.” Dira beralih menoleh pada Dome, mengusir bocah itu agar pergi ke gedung fakultasnya sendiri.
“Aku antar sampai kelasmu, baby. Please.” Pinta Dome dan dijawab Dira dengan desah nafas pasrah.
“Ya udah ayo, tapi jangan macam-macam.” Dira memperingatkan Dome yang diangguki dengan manis oleh bocah itu.
Langkah mereka mesti terhenti saat dering ponsel Dome menjerit keras di dalam sakut jaketnya, “Sebentar ya. ada yang menghubungiku.” Ucap Dome menjeda langkah mereka.
Melihat si penelpon, Dome melirik Dira “Iya, katakan ada apa?” tanya Dome melanjutkan perjalanan mereka berdua.
“Nyonya Linda sepertinya mau bertemu dengan ayah anda, tuan. Ia mau meminta bantuan bos besar sepertinya.” Lapor anak buah Dome
“Oh ya? tetap awasi mereka, sepertinya papa akan memanggilku setelah pertemuan itu.” Jawab Dome dan panggilan ditutup.
“Baby, belajar yang rajin, oke, bye.” Dome mengelus puncak kepala Dira saat sudah sampai di kelas gadis itu, ia menolak langkahnya dari sana. Bukan menuju kelasnya, tapi ke tempat di mana ayahnya berada. Sebelum dipanggil Hiro Taoka, ada baiknya ia mengatakan dulu alasan Linda meminta bertemu dengan bos mafia besar itu.
.
.
.
Di sudut tempat lain, bangunan remang-remang, bau apek dan penuh debu menyeruak ke indra penciuman siapapun yang merasa risih akan itu. Seorang wanita menggeliat saat menyadari rasa tidak nyaman tubuhnya yang berada di atas lantai keras dan dingin.
“Di—di mana aku?” lirihnya bertanya seorang diri.
“Hai jalaang, lama tidak bertemu, apa kau mengingatku?” Suara berat dan penuh intimidasi menyentak perhatian wanita itu, Andriana, bergetar saat melihat sosok Suprapto yang muncul di hadapannya. Masih teringat dalam otaknya, perlakuan pria itu...
__ADS_1
“Ka-kau....!” ia gemetar seketika
“Iya, ini aku, Andriana. Dan sudah saatnya kau masuk neraka, cukup lama juga kau bertahan di dunia ini, bukan?” pungkas Suprapto menyeringai tajam.