Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 8


__ADS_3

Xia, sosok yang tiba-tiba mendatangi Alexio adalah alasan pemuda itu berusaha untuk lekas keluar dari rumah sakit ini.


Gadis itu membuat dunianya hidup kembali.


Sosok cantik yang ia rindukan sudah kembali, menghempas rasa rindu yang membumbung tinggi.


Membuat dunia pemuda itu, terasa hidup lagi, sesak nafasnya perlahan menguar hilang,


Berganti dengan senyum dan harapan akan hidupnya yang akan berwarna, karena kehadiran Xia.


Ceklek...


Xia selalu hadir di saat Alexio merasa bosan, semua orang tengah pulang, orang tuanya berada di luar negeri mengurus pekerjaan ayahnya di sana, dua sahabatnya nanti akan datang. Beruntung Xia datang...


“Hai.” Sapa Xia saat langkahnya sudah menapak di ruangan mewah tempat Alexio di rawat.


“Aku merindukanmu, Xia.” Alexio menggapai tubuh ramping gadis itu yang berdiri di sisi brangkarnya. Berusaha memeluknya, untuk meluapkan rasa rindu mendalamnya.


“Aku juga, Alexio, bahkan sangat, aku sangat merindukanmu. Maaf aku terlalu sibuk.” Balas Xia memeluk Alexio yang kesulitan menggapainya.


“Jangan pergi lagi.” Alexio memohon penuh harap.


“Tidak akan, aku akan mengobati lukamu, Al.” Balas Xia mengelus punggung kokoh milik Alexio.


“Kapan kau pulang?” tanya Xia melepas pelukan Alexio yang sangat posesif.


“aku maunya malam ini, tapi, kata dokter besok aku sudah boleh pulang.” Jawab Alexio menggenggam tangan Xia erat.


“Kau tinggal di mana? Tempat lama?” tanya Alexio yang diangguki oleh Xia.


“Nanti aku akan sering ke sana.” Janji Alexio yang kembali di angguki Xia.


“Terima kasih sudah kembali untukku, Xia. Ini lebih dari cukup.” Ucap Alexio lirih


“Kau ini, semakin hari semakin bawel saja. Mana Alexio yang sok dingin itu, huh?!” cibir Xia terkekeh.


“Kalau kau pulang, aku tentu akan berubah seperti dulu.” Balas Alexio.


“Jadi, jangan mencoba lari dari ku lagi, dengar.” Alexio menatap Xia dengan kata-kata penuh tekanan.


“Siap bos!!” sahut Xia lalu mereka tergelak bersama.


Beberapa hari kemudian.


“Woy, akhirnya sekolah juga ini putera mahkota.” Andi yang sudah duduk di bangku depan kelas 12 A menyambut kedatangan Alexio dengan tangan merentang.


“Gak usah lebay, geli gue.” Itu Barry yang menjitak kepala Andi, tak tahan dengan sikap tengil sahabatnya itu.


“Om tante udah ngizinin Lo sekolah?” tanya Barry penasaran.


Alexio yang mengendikkan bahunya lalu masuk ke dalam kelas. Riuh suara para gadis menyambut Alexio. Kangen sekali dengan kehadiran bintang sekolah itu.


Dira yang ada di kelas 12 E juga tak luput mendengar gosip jika Alexio sudah bersekolah kembali. Ia tak sabar untuk ja m istirahat, kakinya sudah tak mantap, bergerak di bawah sana.


“Aku harus kasih apa ya buat Alexio?, mau ke rumah sakit, aku takut.” Lirihnya mengingat kehadirannya yang saat itu ragu untuk sekedar menjenguk pemuda itu, padahal itu rumah sakit milik keluarganya, tapi langkahnya tetap membeku di depan pintu ruangan Alexio.


Di kelas Alexio...


“Al. Bantu gue.” Zapi, salah satu siswa yang badung di lokal unggulan itu duduk di depan Alexio. Menatap pemuda itu dengan tangan menggenggam telapak tangan Alexio.


“Hmm, apa.” Jawab Alexio datar.


Di sebelahnya Andi dan Barry mendengar dengan saksama.


“Itu.....” Zapi ragu mengutarakan ucapannya.


“Jangan ajak-ajak Alexio buat berantem ya, itu luka di kepalanya masih diragukan kesembuhannya.” Barry mengingatkan dulu, jelas arah tujuan Zapi ke baku hantam.


“Hffft.” Desah nafas kasar itu keluar dari bibir Zapi.


“Ok deh kalo gitu, gak jadi.” Ia beringsut bangkit dari duduknya.


“Kenapa,.” Alexio menahan langkah Zapi yang pasrah dengan penolakan sahabat Alexio.


Zapi diam dalam berdirinya, kaku untuk menjawab.


“Lo mau berantem sama siapa?” tanya Alexio lagi, jarang sekali ia bertanya dua kali seperti ini.


“Adek gue masuk rumah sakit, dia di hajar oleh gengnya Jonathan, dikeroyok.” Ucap Zapi


“Alasannya?” tanya Andi ikut campur.


“Mantan pacar mereka jadian sama adek gue. Dan mantannya gak terima, jadi adek gue di kepung waktu pulang sekolah.” Jelas Zapi menatap Alexio penuh harap. Jelas tatapan itu mengartikan ia butuh bantuan Alexio.


“Adek lo tahu siapa yang mengeroyoknya?” tanya Alexio


“Gue udah liatin anggota geng itu, ada 7 orang yang mengeroyoknya. Ini.” Zapi mengam bil ponselnya, lalu memperlihatkan gambar pada Alexio.


“Mereka pelakunya?” Barry ikut penasaran melihat pelaku pengeroyokan itu.


“Iya,” Angguk Zapi membenarkan.


“Gue udah tanya sama Adek gue melalui poto para anggota geng itu. Dan dia menunjuk dengan yakin para pelakunya.” Jawab Zapi


“Alexio?” Andi melihat Alexio yang sepertinya berpikir.


“Jangan di paksain, lo masih sakit.” Andi mengingatkan dengan pasti dan tegas. Ia tak mau Alexio loyal dengan para anggotanya, tapi abai dengan keselamatannya.


“Gue udah sehat.” Sahut Alexio menolak perhatian Andi yang berlebihan.

__ADS_1


“Sehat?? Yakin.” Barry penasaran hingga


Plak!!!!!


Suara keras berasal dari tamparan telapak tangan Barry bersarang di pundak Alexio. Membuat pemuda itu mengumpat keras.


“Sialan Lo!!!!!” geram Alexio, diuji oleh sahabatnya mendadak.


“Sakit kan? Itu baru tangan gue di sana, belum mampir ke perut, kepala dan kaki lo, Alexio.” Balas Barry mengingatkan kondisi Alexio.


“Tiga hari dari sekarang, kita bakalan nyerang itu cunyuk.” Andi yang bertitah. Mengabaikan tatapan tajam dari mata elang milik Alexio.


“Ayok Barry, gue mau balik ke kursi gue, mendadak panas banget tubuh gue di sini.” Andi menyindir Alexio yang menatapnya penuh sorot tajam.


“Lo nyindir gue?” tanya Alexio,


“Dihhh, balik dari rumah sakit jadi baper Lo, macem anak gadis aja, kalah sama Dira.” Balas Andi tergelak dari bangkunya.


“Gue lempar pakek bangku baru tahu rasa Lo.” Ancam Alexio dari tempat duduknya.


“Dihh Barry, napa tu bestie Lo?” Andi menoleh pada Barry yang sudah duduk di bangkunya.


“Ssttttt. Alexio lagi sensitif, antara datang bulan, atau kangen berat sama Dira Kairan Ladh.” Bisik Barry tapi terdengar sampai telinga Alexio.


“Sialan kalian!!!!” teriak Alexio kesal. Dan di balas gelak tawa oleh dua tuyul lucnut itu dari bangku masing-masing.


.


.


.


Jam istirahat berdering nyaring...


Semua makhluk yang bergelar siswa SMA Golden berhamburan dengan tujuan yang kebanyak sama, kantin. Mengisi perut lapar karena energi sudah habis oleh belajar tadi.


Satu siswi yang rambutnya di gerai begitu saja, dengan bando berwarna hijau muda menambah manis wajahnya. Ia berlari-lari kecil. Tujuannya menghampiri si pujaan , dengan bungkusan yang ada di tangan kanannya. Ia bersenandung kecil.


You are my love, you are my heart


And we will never, ever, ever be apart.


Baby, baby, baby ooooo


Baby, baby, baby oooo


Langkahnya menepi di pintu kantin, matanya mengedar, stop, berbalik. Radarnya tak menangkap frekuensi pemuda itu.


Kaki jenjangnya mantap menuju undakan tangga.


Rooftop.


Itu tempat semedinya Alexio. Entah tidur, atau curhat sama matahari, burung, angin atau para jin penghuni sekolah.


Mungkin,..


Kan Dira boleh berharap kan? Bolehlah, otak sama imajinasi juga punya dia kok. Serah.


Langkahnya berhenti.


Sesuai dugaannya.


Alexio berbaring di sana. Menutup wajahnya dengan tangan kirinya.


“Nah.” Ia meletakkan bungkusan yang berisi susu kotak, roti dan beberapa snack sehat yang di pesannya tadi via online.


“Buang, gue gak butuh.” Tanpa hati, pemuda itu tak menoleh sama sekali.


“Ihh tega banget sih.” Dira malah duduk. Bersisian dengan kepala pemuda itu.


“Alexio. Aku itu perhatian sama kamu.” Ucap Dira seperti biasa, modal malunya sudah di kubur sama anak Tyrex.


“Gue tetap jawab, gak, gue gak suka apapun soal Lo. Apapun itu.” Jelas Alexio dingin.


“Tapi kenapa? Kenapa Alexio.? Jelasin biar aku paham.” Tuntut Dira akhirnya, ia penasaran alasan Alexio membencinya.


“Udahlah, gue capek, sana pergi.” Usir Alexio tega.


“Catat ya Alexio. Kalau ubun-ubun kamu kedut-kedutan, itu artinya aku mantrain kamu dari jauh, biar, biar kamu kesemsem sampe bucin sama aku.” Dira bangkit dari duduknya, menghentakkan kaki lalu meninggalkan Alexio dengan wajah sebalnya.


“Ck... dasar aneh.” Gumam Alexio tersenyum tipis.


--------


Semakin hari, Alexio gencar bertemu dengan Xia. Dirinya yang tak tersentuh semakin terasa jauh rasanya walau gurat bahagia selalu ditunjukkannya tanpa sadar di hadapan orang lain. Waktu terasa tercuri banyak karena Xia. Alexio seolah melupakan kebiasaannya.


“Alexio, gabut nie, maen game yuk.” Ajak Barry saat mereka sudah menapaki halaman parkir sekolah. Andi pun menyetujui hal itu, sudah jarang rasanya Alexio berkumpul, padahal aktifitasnya tak jauh dari mereka, anak itu tak mengikuti les tapi otaknya diberkahi dengan kecerdasan, dirinya selalu menempati posisi pertama di sekolah. Bagaimana kalau dia ikut les? Abis sudah peringkat dilibas semua.


“Gak, gue ada urusan.” Tolak Alexio, memasang helm full face di wajah tampannya.


“Lo ada hubungan sama anak gadis orang ya?” selidik Andi menarik ke atas penutup helm Alexio.


“Maksud lo?” tanya Alexio menatap tajam pada si Andi.


“Ni, ini... helm sekarang bawa dua. Jelas ini helm cewek.” Tuduh Andi menunjuk helm yang tergantung di motor Alexio.


“Kepo banget sih lo pada.” Sergah Alexio.


“Dihh orang kita-kita tuh seneng kalo lo sampe ada yang bisa ngerias kulkas yang dingin kayak lo.” Tawa

__ADS_1


Plak


Dari arah belakang, pundak Andi diadu dengan telapak tangan yang cukup pedas menyengat kulit pemuda itu.


Berbalik.


“Dira???” cengo, Andi kaget melihat pelaku penggeplakan itu.


“Maksud omongan kamu tadi apa coba? Alexio pacaran sama siapa, hah hah!!!” tak terima, ia menuntut Andi akan ucapan recehnya tadi.


“Ya, gue kan hanya ngeduga aja, tanya langsung ke orangnya lah.” Andi enggan menjadi tersangka satu-satunya.


Alexio adalah orang yang bisa dimintai jawaban langsung, karena berhubungan dengan yang akan ditanyakan.


Dira berganti menatap Alexio, tapi hanya sebentar. Ia tak sanggup menjaga kerja jantungnya kalau terlalu lama bersitatap dengan mata hitam legam Alexio.


“Jawab sono Alexio, gue takut ntar gue yang dibabat habis ini kunti.” Seloroh Andi menutut Alexio.


Tapi yang ditanya cuek, ia kembali menutup helmnya, dan dengan tanpa pedulinya melewati ketiga orang yang menatap tak percaya akan tindakan Alexio.


“Ya Tuhan itu kulkas maen nyelonong aja.” Desah Andi sebal sendiri.


“Udah ah gue mau pulang. Tanya sendiri sama gebetan lo, gue Cuma duga-duga aja.” Andi bersiap meraih motornya. Namun ditahan oleh Dira.


“Apalagi Dira.. kan ada Barry selaen gue yang ngobrol sama Alexio tadi.” Andi malas berdebat dengan Dira.


“Ya, tapi janganlah sering ngomong gitu, ntar gimana kalo Alexio beneran ada cewek, itu karena mulut lucnut kamu itu yang doain idaman aku punya pacar.” Salak Dira menyalahkan.


Andi berikut Barry mendesahkan nafas. Segitu gilanya ini cewek ke sahabat mereka yang dingin kayak induknya es batu.


“Ya, ya, laen kali kami sumpahin Alexio jadian sama lo aja, gitu benernya kan?” tanya Andi yang tentunya disetujui Dira penuh semangat.


“Ok. Bye gue mau balik, emak gue nyuruh nyuci baju , banyak yang numpuk sekalin yang tetangga juga.” Random Andi, gegas menghidupkan motornya sebelum Dira kembali berubah horor. Diikuti juga oleh Barry di belakangnya yang mengedipkan matanya untuk Dira.


“Dih amit-amit, rusak sudah pandangan gue.” Dira merasa geli mendapat serangan modus dari Barry.


Setelah kecelakaan, memang perubahan itu sangat kentara, walau tidak diberikan pada Dira, khusus Dira, Alexio tetap konsisten, bersikap dingin dan datar di hadapannya.


Dira merasa sepi karena Alexio semakin sering kabur dari hadapannya. Sulit sekali menemuinya, bahkan radar itu serasa hilang jangkauan. Apa habis daya ya? Atau lagi gangguan jaringan?


Perubahan itu memang berdampak pada pesona Alexio yang sering mengumbar senyum tanpa diduga dan disengaja, entah apa yang membuat cowok itu mendadak tersenyum sendiri saat berjalan di area sekolah, mereka penasaran akan apa yang dibayangkan Alexio.


“Eh, Al kok sering terlambat sih sekarang?” gosip tipis-tipis itu santer terdengar di seantero sekolah.


“Iya, gue juga beberapa kali liat Alexio keluar ruang BK, tapi ya, ini kan sekolah bokapnya, jadi aman ajalah mau jungkir balik gimana pun.” Sahut siswa lainnya.


“Padahal dah tambah ganteng aja sering keliatan senyum-senyum sendiri, eh kelakuan badungnya tambah jadi.” Desah siswa yang ikut bergosip.


Begitulah selayang pandang gosip Alexio....


Pemuda itu tak terkendali. Ia beberapa kali bolos sekolah. Bahkan pernah kedapatan meringkuk di tepi danau sendiri di sore hari walau ia sudah beberapa kali menjelaskan maksud alasannya kemari. Nostalgia dengan kembarannya.


Danau yang menghamparkan air tenang, jernih, pohon-pohon banyak rindang melingkupi sekitarnya, dan ada dermaga kecil di dekat danau, tempat Alexio biasa duduk di sana.


“Xia, apa yang aku lakuin ini salah?” di sisinya ada Xia yang menemani nostalgia Alexio.


“Maksudnya?” tanya Xia heran.


“Aku sering kemari, apa itu salah?” tanya Alexio, ia kerap mendengar kabar yang santer tentangnya.


“Ya gak lah, memang kenapa, kan kamu nostalgia menikmati kehidupan bahagia, kan?” ujar Xia membela Alexio.


“Tapi yang aku rasain malah sedih, Xia.” Sahut Alexio pelan. Ia menatap lurus ke danau, ada sesak yang ia rasakan sampai saat ini. menggenggam diary merah muda yang terselip di tangan kanannya.


Xia ikut menggengam tangan Alexio. Memberi senyum pada pemuda itu dengan penuh kelembutan.


“Kalo yang kamu rasain justru kesedihan, maka jangan pernah kemari lagi, Alexio.” Tutur Xia dengan wajah iba.


“Apa itu salah.?” Tanya Alexio balik menatap Xia sedih.


“Hmmm, itu salah.” Angguk Xia menyikapi.


“Kalo kamu merasakan kedamaian dan bahagia di sini, maka tak ada yang boleh melarang, siapapun itu. Tapi kalau hanya rasa sakit yang di dapat dari sini, maka jangan pernah mendatangi tempat ini.” ujar Xia melepas genggamannya, berdiri dan melangkah meninggalkan Alexio.


Pemuda itu kembali meringkuk. Sudut matanya basah. Ingin berteriak dan menangis keras, tapi dadanya bertambah sakit.


Meremas diary merah muda.


“Tapi aku gak bisa, sebelum membuat mereka meminta maaf dan mendapat hukuman karena tindakan tidak manusiawi itu.” Seakan menaruh taburan benih dendam, Alexio berujar penuh penekanan.


Dirinya kini sendiri, hanya bertemankan sepi seperti biasa.....


Baru saja mata itu terpejam, ponselnya berdering..


Papa...


“Hmm.” Sahutnya malas.


“Di mana? Cepat pulang, papa sama mama ada di apartemenmu.” Jawab sang ayah di ujung sana.


“Aku masih ada urusan pa. Nanti aku akan ke rumah utama aja.” Ucap Alexio, enggan pulang saat ini.


“Kamu masih ada di danau kan? Cepat pulang!!!!” pekik sang ayah dari seberang telepon. Menitahkan tegas.


“Kalau masih tidak mau, pengawal papa akan menyeretmu pulang.” Sambung sang ayah masih marah, dan menutup panggilan sepihak.


Alexio hanya mendesah nafas kasar. Mau ke manapun, dirinya akan selalu di awasi, tak pernah merasa bebas dan dewasa.


Sikap ayahnya beralasan.....

__ADS_1


Orang tuanya yang selalu memberi perhatian dan pengawasan terhadap dirinya dibuat keheranan akan emosi puteranya yang sering tak terkendali dan sering terlibat banyak kenakalan serta tidak disiplin di sekolah, dan pemuda itu lebih emosi lagi jika orang tuanya menyinggung kematian kembaran Alexio.


Karena, bagi Alexio, apa yang terjadi dengan kembarannya tidak ada yang berhak membicarakannya,,,, sikap arogan Alexio juga bertambah aneh belakangan ini, mereka sering mendapat laporan bahwa pemuda itu tertangkap sering menghabiskan waktu di tempat yang tidak masuk akal. Dan lagi-lagi dia sendiri.


__ADS_2