Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 31


__ADS_3

“Sejak kapan CCTV terpasang di belakang sekolah?” gerutu Dira


Ia menggeret langkahnya dengan wajah sebal, rupanya kejadian tadi pagi disorot sempurna oleh kamera pengawas.


“Sial, semoga aja pak Joko matanya bagus lihat hasil CCTV itu, kalo salah lihat, tak robohin itu ruangan BK.” Lanjutnya mengabaikan tatapan sinis para siswa yang berpapasan dengannya di penjuru koridor sekolah.


Kabar perseteruan itu cepat sekali merebak padahal baru 1 jam setelah adegan action itu nama Dira digaungkan melalui speaker sekolah, untuk datang ke ruangan pesakitan sekolah.


Di sinilah dirinya


Ruang BK


Ruang kekuasaan milik yang mulia Joko Susanto, guru BK.


Tok.. tok tok


“Iya masuk.” Sayup-sayup Dira mendengar suara dari dalam, siapa lagi kalo bukan Yang Mulia Joko Susanto .


Ceklek


Menarik handle pintu, Dira masuk.


Rupanya sudah ada 3 orang aktris figuran yang dibayar pake tempe dan kerupuk berkuah.


Geng kampREETY, Sintia Raisa, Rena Valencia, Jena Haira. Baju mereka sudah berganti rupanya.


Padahal besar harapan Dira jika cemong di wajah si ketua geng ababil itu masih kececer.


“Ada apa pak Joko memanggil Dira?” eihhh sok polos deh, Dira pura-pura tak sadar apa alasannya dipanggil ke ruangan horor ini.


“Cih, dasar pilon lo!” delik Jena menyela. Mukanya merah padam, entah kenapa, apa mungkin Dira terlambat ikut siraman rohani dari pak Joko?


“Duduk lo!!” sentak Rena menambah riuh lebah di ruangan itu.


“Jena, Rena, diam. Mau bapak kasih pencerahan lagi?” sela pak Joko menekan.


“Heh.” Dira mencibir melalui mata dan ujung bibir yang ia tarik ke atas.


“Pak, dia ngejek kami.” Anak kucing garong itu merengek tak jelas, yeee orang Cuma digituin aja kali, gak ditimpuk pake batu bata kan.


“Dira.” Panggil pak Joko yang diangguki oleh Dira.


Tubuh Dira memanas seketika, ia sadar ada 3 pasang mata yang menembakkan laser pembunuh tepat di sekujur tubuhnya. Abaikan saja.

__ADS_1


“Apa benar kamu salah satu dari 4 orang siswi yang tertangkap CCTV belakang sekolah 12 B tadi pagi?” pak Joko mulai menyuarakan tanyanya.


Dira menoleh pada 3 anggota geng kamPREETY itu, menaik turunkan kedua alisnya. Masih sempat-sempatnya menggoda rivalnya. Hadeuh


“Memang mirip saya kah pak?” Dira malah balik tanya.


Pak Joko menggelengkan kepalanya, memutar posisi laptop di atas meja, ke arah Dira.


Tayangan rekaman CCTV pun di putar, Dira fokus menonton.


Berapa sih harga CCTV yang merekam adegan romantis itu? Kok jelas sekali sih. Bening banget, kayak efek skincare yang ada dijual di jepang itu loh yang ada ‘II’


“Mirip aja pak sama Dira yang ada di video ini.” Dira mengelak mengakui itu dirinya, padahal jelas-jelas itu dirinya yang terpampang nyata terekam bersama 3 gadis mengerikan di sisi kirinya.


“Itu dia pak, Dira yang sudah mengeroyok kami.” Jena mengeluarkan suaranya dengan tarikan gas full.


“Betul pak, rambut Rena sampe rontok loh ditarik sama si wewe gombel satu itu.” Timpal Rena dengan wajah menyedihkan. Pura-pura tepatnya.


“Dan Dira juga ngedorong Sintia ke got pak, sampe... sampe... hiks hiks hiks.” Sintia sesenggukan, ucapannya terpotong dengan kepala ditunduk dan digelengkannya. Seolah tak sanggup meneruskan.


Pak Joko hanya mendengar, tapi tak serta-merta langsung menilai.


Ia tahu akan track record semua siswa SMA Golden ini, sepanjang masa jabatannya di sini, hapal betul tingkah menggelikan para siswa.


“Lagian yang keroyokan kalian tepatnya, ya kali gue cosplay jadi banyak macem Naruto pas ngelawan kalian, hahahaha. Lucu sekali sih anak kelas 12 A unggulan ini. ckckckc.” Dira mendecakkan suaranya.


Menatap miris pada 3 orang siswa yang kenapa bisa masuk kelas unggulan dengan otak yang ala kadar itu.


“Apa lo bilang!!!!” pekik Sintia tersinggung.


“Iya, ayo kita bales!” tambah Rena.


“Iya, bales aja, nanti bapak kasih kayu satu persatu ya, timpuk aja Dira, tapi sudahnya kalian bapak tendang dari sekolah ini.” sela pak Joko menatap horor pada ketiga gadis matanya menyalang menatap Dira.


“Ehhh, jangan pak... kami kan korban pak, kenapa digituin.” Lagi-lagi curut selokan 12 itu merengek. Geli sekali Dira mendengarnya.


“Jadi bapak memanggil saya kemari untuk menonton drama anak tiri KW ini pak?” tanya Dira menggelengkan kepalanya.


Untung tidak satu kelas dengan mereka, jadi rasa malu punya teman seperti itu tidak ada sama sekali.


“Karena mereka sudah menjelaskan rekaman itu, bapak perlu mendengar versi kamu Dira, bisa dijelaskan kenapa ada perseteruan itu?” tanya pak Joko intinya.


Mendesahkan nafasnya. Dira mengangguk...

__ADS_1


“Kalau bapak saja bisa mendapat rekaman CCTV di belakang sekolah. Harusnya bapak juga bisa melihat rekaman CCTV di koridor depan kelas itu pak.” Jawab Dira.


“Saya saja tidak tahu waktu datang sudah ditarik ke belakang dan di pepet gitu sama angkot knalpot racing itu pak.” Dira menunjuk dengan dagunya pada Jena dan Rena.


“Alasannya?” tanya pak Joko penasaran.


“Katanya si Sintia mau berencana ngajuin proposal perjodohan ke keluarga yang punya sekolah ini. nah dia ngancem Dira pak agar jangan deketin targetnya itu.” Jelas Dira


“Kan lucu, baru juga mau rencana, kalo sudah jelas statusnya dijodohkan baru bisa teriak-teriak gak jelas gitu, ya kan pak?” meminta persetujuan pada pak Joko yang lucunya malah diangguki beliau.


“Nah, karena Dira tidak terima diperlakuin kayak gitu, ya Dira ngelawan lah pak, apalagi mereka kan doyan banget keroyokan, pecundang semua. Jadi... ya seperti yang bapak lihat di rekaman CCTV deh.” Lanjut Dira santai tanpa beban.


“Baiklah, apa yang dijelaskan Dira sepertinya sama persis dengan apa yang ada di rekaman. Jena dan Rena memang melakukan hal yang membuat Dira terpaksa membela diri.” Tanggap pak Joko segera.


“Terlepas dari permasalahan yang benar atau tidaknya terpusat karena Alexio Bisma, bapak tidak bisa mengambil pendapat Dira. Karena bapak hanya melihat tingkah kalian yang kekanakan saja. Apalagi kalian bertiga ini, ckck jangan mempermalukan diri kalian.” Pak Joko melirik 3 geng kamPREETY dengan wajah serius.


“Kalian tidak lupa kan, bapak punya andil menurunkan level kelas kalian dari unggulan ke kelas bawah, B, C, D bahkan E. Terlepas dari kecerdasan kalian.” Sambung pak Joko bernada ancaman tegas.


Membuat 3 pasant mata itu membelalak sempurna. Mereka lupa akan hak khusus yang mulia baginda Joko Susanto itu.


“Jangan pak!!!!” pekik mereka bersamaan.


“Baiklah-baiklah, kami tidak akan mengulangi lagi tindakan itu pak.” Sintia yang bersuara.


Ia tak mau level kelasnya anjlok, mau ditaruh dimana mukanya nanti jika Alexio tahu.


Alexio sepertinya memberikan kriteria pasangan yang harus levelnya sama, buktinya saja Dira dihempaskan terus oleh pemuda itu walau hanya kurang cerdas.


“Baiklah, jangan diulangi lagi. Dengar!!” tegas pak Joko yang diangguki ketiga gadis itu bersamaan, tanpa Dira tentunya. Memang Dira mau diturunkan ke level mana? Dah habis mentok itu level E, alias tempat pemberhentian terakhir siswa bermasalah dan kadar otak ala kadarnya berada di SMA Golden.


.


.


“Hai Al.” Sapa Xia lembut, ia duduk di kursi di samping brangkar Alexio


“Hai Xia.” Balas Alexio.


“Mau ikut bermain bersamaku?” Xia menawarkan permainan pada Alexio yang saat itu baru saja mengancingkan kemejanya karena hari ini ia akan pulang dari rumah sakit.


“Bermain?” ulang Alexio


“Hmm, bermain, menjadi anak baik.” Jawab Xia tersenyum

__ADS_1


__ADS_2