Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 59


__ADS_3

Dira merenung di kamarnya, sudah 2 jam ia menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang jauh, semua tentang Alexio. selalu saja tentang pemuda itu.


Hanya saja, pikiran itu kini berbeda.


Jika dulu saat ia membayangkan Alexio akan muncul gurat senyum, sebal, marah, karena perlakuan pemuda itu yang selalu menolak dan menghindarinya di manapun ia menyatakan cinta.


Tapi kini, hanya ekspresi kesedihan yang ia tampakkan saat membayangkan Alexio. ia sudah tahu cerita tragis yang menimpa kembaran Alexio dari dokter Doni. Dan berdasarkan perkiraan dokter itu, Xia adalah refleksi rasa bersalah yang ditunjukkan Alexio


Dan kebahagiaan bersama Dira adalah pemicu kehadiran Xia yang intens dan membuat Alexio melukai dirinya sendiri.


Seolah alam bawah sadarnya mengatakan bahwa Alexio tak berhak bahagia, semakin ia hendak bahagia, maka masa lalu akan mengurungnya hingga ia akan menyakiti diri sebagai bentuk hukuman itu.


“Al.” Lirih Dira berucap.


Ceklek


Pintu kamar Dira terbuka, gadis itu menoleh ke asal suara. Kairan Ladh yang masih menyampirkan jasnya di tangan yang menyatakan pria itu baru pulang kerja menghampiri keberadaan puterinya.


“Belum tidur?” tanya Kairan Ladh lembut.


“Belum ngantuk pa. Lagian mau begadang jam berapapun gak akan takut lagi, kan Dira gak sekolah lagi.” Kekeh Dira menjawab


Kairan Ladh mengambil duduk di sisi Dira yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur.


“Maaf tadi papa harus pergi karena ada pasien yang harus dioperasi sedangkan dokter yang lain penuh jadwalnya.” Tutur Ladh penuh rasa bersalah.


“Iya gak apa-apa, pah. Dira paham sama tugas dan tanggung jawab papa kok. Tenang aja.” Sahut Dira pelan


“Kamu, masih benci sama papa, nak?” tanya Ladh. Semenjak putrinya membahas masa lalu diary merah itu, mereka tidak sehangat dulu. Dira hanya sekedar menjawab pertanyaan Ladh saja, tidak lagi bertingkah manja.


“Maaf pah. Dira cuma bingung antara apa yang tertulis di sana dengan apa yang menurut papa. Tapi Dira gak benci, Dira hanya merasa sedih aja kalo memang bener papa begitu.” Jawab Dira menundukkan kepalanya.


“Kamu kenal papa, kan? Kamu tahu kan seberapa loyalitas dan bertanggung jawabnya papa pada pasien?” tanya Ladh menguji puterinya.


Dira menganggukkan kepala dengan posisi masih menunduk.


“Papa tidak akan melakukan sesuatu seperti itu, meskipun pasien menghendaki hal buruk untuknya, papa akan tolak.” Jelas Ladh meraih tubuh putrinya untuk di peluk.


“Maafin Dira pah.” Ucap Dira dengan tangisnya yang mulai luruh.


“Kamu gak salah nak. Kamu gak salah.” Balas Ladh mengelus puncak kepala Dira lembut.


Hening....


“Dira. Kamu masih kuat kan?” tanya Ladh menatap syahdu , Dira mengangguk


“Katakan kalau kamu tidak kuat lagi. Ini bukan wilayah dan tanggung jawab kamu, inget!” ucap Ladh membuat Dira melepas peluk dan menatap wajah ayahnya.

__ADS_1


“Iya pah. Dira akan ngomong kalo gak kuat lagi.” Jawab Dira


“Apa yang diderita oleh Alexio bukan ranah kamu, papa sebagai dokter saja tidak bisa terlalu ikut campur karena tidak paham dengan apa yang diderita Alexio secara keseluruhan.” Ungkap Ladh agar puterinya memahami.


“Wihh gak ajak-ajak mau pelukan gitu.” Paul, yang bersandar di bingkai pintu memberengut.


Ladh dan Dira terkekeh melihat tingkah lebai itu.


“Kalo saja cewek yang kamu ghosting lihat tingkahmu sekarang, gak jamin papa kalo mereka akan terpesona sama kamu, Paul.” Cetus papa melambaikan telapak tangannya memanggil Paul untuk mendekat.


“Uluh-uluhhh adek abang kenapa mewek gini, huu? Sini abang sewain pelukan.” Paul merentangkan tangannya dan memaksa sang adik untuk dipeluk


“Papa!!!!! Pa’ul jahil banget!!” pekik Dira yang makin dirangkul kuat oleh Paul dengan tawa tengilnya.


Ladh hanya menggeleng melihat tingkah dua anaknya.


.


.


.


Alexio merenung di sudut apartemennya, ia melihat potret Xia di ponselnya. Gadis itu tengah melukis di pinggiran danau. Manis. Bocah itu selalu manis sampai sekarang.


Selintas ingatan pun kembali menyeruak dalam otaknya, saat ucapan Dira dan video yang pernah diperlihatkan Bisma masuk begitu saja dalam pikirannya.


Ia menggeleng. Menepis semua.


“Aku jelas-jelas bisa melihat dan berbicara dengan Xia.” Ucapnya


“Semua karena kami saling mempercayai satu sama lain. Jadi bohong kalau mereka mengatakan Xia adalah hayalan semata.” Tolaknya mengatakan Xia berupa daya hayal kosong.


Dering ponselnya menarik perhatian,,


Bisma, namun hanya ia abaikan. Ia sedang tidak mau berdebat dengan siapapun itu.


5 kali panggilan dan selama 5 kali pula ia abaikan. Dan tak lama, panggilan dengan nama kontak Xia pun terpampang dilayar ponselnya.


Sigap ia angkat.


“Dari mana aja, huh? Aku telepon daritadi gak di angkat-angkat.” Sembur Alexio saat mengangkat telpon.


“Ingat Xia, jangan berpikiran picik. Apa yang kamu alami tadi itu jadikan pelajaran, kamu bisa kembali melukis karya lain yang lebih indah, dan bisa mengikuti banyak lomba untuk membanggakan orang tua kamu yang sibuk itu.” Jelas Alexio panjang lebar, tapi Xia tak menyahut sama sekali.


“Jadi jangan pernah berujar hal konyol dengan mau kabur dan meninggalkan ku, paham itu!” tegas Alexio.


“Hmm, iya, Al.” Sahut Xia pelan

__ADS_1


“Jangan menangis, aku ada buat kamu selamanya, itu yang harus kamu tahu, Xia.” Tutur Alexio tulus.


“Iya, aku tahu itu, Al.” Jawab Xia


“Mau bertemu?” tawar Alexio yang dijawab oleh Xia dengan dehaman. Hingga tanpa menunggu waktu, Alexio bergegas meraih kunci motor dan jaket lalu melesak keluar dari apartemennya malam itu juga untuk ke rumah Xia.


“Malem Alexio.” Security yang menjaga gerbang apartemen menyapa pemuda itu yang memang sudah dikenal cirinya. Ia menyerahkan bungkusan kepada Alexio yang tadi dikirim oleh kurir paket.


“Malem pak.” Sahut Alexio


“Paket untuk kamu.” Ucap security


“Terima kasih pak.” Jawab Alexio menerima barang tersebut. Ia menaruhnya digantungan motornya lalu bergegas pergi menemui Xia di tempat yang biasa.


Getaran di saku jaketnya mengganggu fokus berkendara Alexio, sudah 3 kali benda itu bergetar di dalam sana. Sudah diabaikan namun kembali bergetar. Terpaksa ia menepi dahulu.


Jika saja itu Bisma, maka ia akan memblokir nomor ayahnya itu. Karena sudah pasti ucapan konyol lagi yang akan keluar dari mulut ayahnya.


Dira. Nama yang tertera di panggilannya.


“Hmm. Halo.” Ucapnya


“Di mana?” tanya Dira


“Jalan.” Singkatnya menjawab


“Ooh. Mau ke markas? Balapan? Atau mau ngapel?” Dira terkikik di ujung kata-katanya.


“Gak, ketemu Xia.” Jawab Alexio membuat si penelpon mendadak sunyi di ujung sana. Hingga Alexio memastikan panggilan itu masih menyala atau tidak.


“Halo, Dira?” panggilnya


“Kamu ke rumahku, sekarang.” Putus Dira meminta Alexio mengunjungi rumahnya malam ini.


“Tapi Dira, Ak---“


“Gak ada tapi, tapian. Ke rumah aku sekarang.” Dira tak mau kalah.


“Dira, please.” Mohon Alexio


“Oke silahkan, setelah ini mari kita tidak usah bertemu selamanya. Bye.” Secara sepihak Dira memutus panggilan.


“Dira... Dira.. halo.” Mendengar suara nada panggilan terputus, Alexio memanggil Dira berulang kali.


“Argghh sial.” Ucapnya frustasi, melepas helm dan mengacak rambutnya.


Lama ia berpikir hingga dengan langkah gontai kembali menaiki motornya. Melajukan kendaraan itu ke tempat tujuannya.

__ADS_1


Alexio mengetuk pintu besar berwarna coklat itu. Tiga kali ketukan dan si pemilik rumah muncul.


“Al.”


__ADS_2