Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 13


__ADS_3

“Woy Dira!!!.” Barry dengan langkah ringannya berlari menuju posisi Dira, diikuti oleh Andi dan tentu Alexio pun.


Dira menoleh bersama dengan Jonathan di sebelahnya.


“Ngapain lo di sini?” barry menatap Dira penuh selidik. Penampilan Dira memang berbeda akhir-akhir ini, dinilai cukup berani, tak ada kesan polos dan lugu lagi yang ditangkap dari gadis itu.


“Aku? Abis maen boneka tadi.” Jawab Dira, memicu gelak tawa Jonathan.


“Ya ampun honey girl. Ada-ada aja lawakannya.” Jonathan lagi-lagi mengelus puncak kepala Dira dengan santai. Seolah hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka, dan Dira, tak ada penolakan sama sekali.


“Kalian pacaran?” Andi yang menyela, tentu penasaran.


“Kami? Honey, jawablah.” Sambung Jonathan mengerlingkan matanya pada Dira.


Dira hanya mengendikkan bahunya saja. Lalu berbalik menuju mobilnya lagi.


“Ehh, gue nanya juga.” Andi sebal karena Dira mengabaikan tanyanya.


“Terserah kalian mau mikirnya gimana, aku ikut aja.” Begitu balasan dari Dira, ia menarik handel pintu mobilnya dan bersiap masuk, tapi kalimat Andi berhasil menahannya.


“Ooo, udah move on nih dari Alexio? Wahhh Alexio, satu fans beratmu dah pindah haluan nih.” Lanjut Andi menoel sikut Alexio yang datar memandang punggung Dira.


Dira hanya tersenyum sinis, tak ada niat menyahuti.


Bumpp.


Ia sudah duduk manis di balik kemudinya.


“Jo, aku pulang ya, ntar gak dibukain pintu sama si Pa’ul.” Seloroh Dira pada Jonathan.


“Eh, aku anter aja, biar aku bantu dobrak pintunya kalo gak di buka bang Paul.” Tawar Jonathan.


Jonathan tanpa perlu menunggu jawaban langsung menyusul Dira, berlari menuju mobil dan mengiringi mobil Dira yang sudah berlalu.


“Nah Lo, Alexio. Hilang sudah cewek yang sering ngejer-ngejer lo. Hehehehe.” Kekeh Andi menepuk pundak Alexio lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


“Padahal tujuannya mau ngehajar cunyuk, eh malah dapet pemandangan tadi.” Sahut Barry,


“Iya, mana Dira menang pula, pakek baju seksi pula. Wahhh, gue mah ikut dah ngantri kalo gitu. Mumpung Alexio nolak itu cewek.” Tambah Barry.


“Dia polos dan lugu aja gue suka, apalagi gitu, wahhh aura cantiknya tambah banyak.” Sambung Barry lagi.


“Ya udah pacarin aja kalo gitu,” respon Alexio, dengan dinginnya ia menuju mobilnya. Meninggalkan tempat panas itu.


Untung saja anggota geng Jonathan tak ada yang muncul di sana. Kalo yang menjadi targetnya tadi ada, bisa dipastikan akan habis dilibas Alexio malam ini.


Ntah kenapa emosi di dalam dirinya minta disalurkan, padahal awal dia datang tadi suasana masih biasa-biasa saja. Tapi.... melihat gadis itu....


Bersama Jonathan...


Fix, dia bertambah benci, itu lah keputusan berpikir otaknya. Tak ada alasan lain.

__ADS_1


Kringggg


Ponselnya berdering saat ia tengah curhat dengan dasbord mobil.


“Xia?” gumamnya, sontak suasana hatinya menjadi senang lagi.


“Hallo Xia, kenapa?” Tanya Alexio saat menjawab telepon


“------“


“Oke, yang kayak biasa kan?” Alexio memastikan..


“----“


“Oke. Bye.” Alexio menutup panggilan.


“Siapa?” Satu suara mengagetkan dirinya.


“Whattt, sialan lo.” Alexio kaget ketika melihat ada Barry di dalam.


“Lo hantu, huh!!???” lanjut Alexio


“Beeww sembarangan.” Sungut Barry


“Ya kali, orang gue yang tahu kapan lo masuk mobil gue, duduk belakang pula.” Jawab Alexio.


Memang tadi ia tak mendengar orang yang masuk ke mobilnya. Karena otaknya terkunci akibat bertemu Dira.


“Lo aja tadi yang gak denger.” Sahut Barry.


“Eh bentar, lo anggep gue supir lo, huh. Pindah.” Perintah Alexio, tak terima Barry duduk di belakang, enak saja.


Alexio tiba di kediaman Xia....


“Ngapain ke sini?” barry mengerutkan dahinya melihat mobil yang ia tumpangi berhenti di sebuah rumah mewah.


“Gue ada urusan bentar. Nganter pesenan kenalan gue. Tunggu di sini aja, gak usah turun.” Titah Alexio tegas. Mengurungkan niat Barry yang penasaran tujuan Alexio kemari.


Tak butuh waktu lama, Alexio kembali lagi ke mobil. Terlihat Barry mengotak atik ponselnya.


“Kita ke rumah sakit. Jenguk Zapi.” Alexio menentukan tujuan mereka selanjutnya.


Mereka memang belum menemui Zapi dan adiknya yan g masih di rawat di rumah sakit.


“Alexio!!” panggil Barry tanpa melihat yang dipanggilnya.


“Hmm.” Sahut Alexio.


“Nemuin siapa tadi di rumah itu?” tangan sibuk mengotak atik layar ponsel, namun mulutnya aktif berucap.


“Bukan urusan lo.” Jawab Alexio menekan ucapannya.

__ADS_1


“Dihh orang nanya aja.” Cetus Barry.


Sampailah mereka di depan gedung rumah sakit tempat Zapi dan adiknya dirawat.


“Bener di sini mereka di rawat,” Alexio menyipitkan matanya saat membaca nama rumah sakit.


Ladh hospital....


Rumah sakit milik ayahnya Dira.


“Iya, buruan parkir.” Jawab Barry.


“Itu mulut perlu di rendam air garam plus cuka kayaknya. Daritadi berlagak jadi bos aja ya.” Ujar Alexio menyindir Barry yang malah terkekeh.


Dinding tebal yang terbuat dari rumput hijau. Menjadi labirin yang tercipta akan rasa marah Alexio. Ia menyimpan banyak hal mengenai kembarannya di sana. Bersama Xia, ia menciptakan ketenangan di sana.


“Pulang yok Al.” Ajak Xia yang duduk di salah satu bangku di taman itu.


“Yok.” Alexio mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Xia.


Mereka meninggalkan labirin yang ada di samping markas Alexio. Tidak ada yang boleh ke sana, karena Alexio memiliki akses berupa pintu yang dikunci dengan password rahasia, orang tuanya pun bahkan tak tahu.


Memang hampir semua anggota gengnya sudah pernah melihat dinding labirin ini, tapi tak pernah bisa melalui pintu itu.


“Eh ada Alexio. Tumben gak bilang-bilang.” Andi yang baru turun dari tangga beranda depan, kaget melihat Alexio.


“Hmm, udah dari tadi sih., lo habis ngapain di dalem.?” Alexio bertanya balik.


“Ada barang gue yang tinggal.” Jawab Andi mendekat ke arah Alexio.


“Ya udah gue balik ya, dah malem banget ini. Ntar masuk angin anak orang.” Seloroh Alexio melirik Xia dan mengedipkan mata.


“Heh, dasar gila.” Andi menggelengkan kepalanya melihat sikap absurd Alexio.


“Besok jangan telat lagi woy. Malu sama predikat cerdas lo itu. Timpang banget.” Sambung Andi sebelum Alexio melewati gerbang besar itu.


Alexio menjawab dengan acungan jempol yang terangkat. Lalu melesat pergi bersama Xia yang memeluknya erat di belakang sana.


Tak berapa lama, tujuan Alexio pun sampai...


Danau....


“Mau ngajak sedekah darah di sini?” Xia masih enggan turun.


“Bentar aja, aku mencari udara segar.” Jawab Alexio turun. Dan menarik tangan Xia untuk ikut.


Seperti biasa, mereka duduk di pinggiran dermaga, menikmati angin malam yang segar. Meski hari sudah larut. Tapi cahaya biru malam masih mampu ditangkap indera penglihatan mereka, dan sedikit netra itu bisa memindai sekitar yang tampak remang.


Ia menggenggam telapak tangan Xia erat.


Dan bersama Xia, ia berharap dunia tahu, betapa tidak adilnya dirinya kehilangan bagian dirinya, kembarannya yang dipaksa mengalah akan dirinya saat itu. Terenggut nyawa demi nafasnya yang lebih diharapkan daripada kembarannya.

__ADS_1


Dan ia benci akan kebenaran yang diceritakan isi diary itu.


__ADS_2