
Pkl. 10.00 WIB, Rumah sakit Ladh, Gedung Poli Neuropsikiatri- Narcoanalysis a.n Pasien Alexio Bisma usia 18 tahun gejala Skizofrenia.
Setelah obat yang kandungannya salah satunya adalah Amytal menelusup masuk ke infus yang tergantung di sisi Alexio, pemuda itu sudah memejamkan matanya dan merespon ucapan dokter Doni.
Beberapa dokter yang juga membidangi hal yang sama sudah berdiri mengawasi kegiatan itu di balik dinding kaca di luar ruangan, dengan masing-masing memegang papan yang menjepit kertas berisi data pasien saat ini.
Dokter Doni didamping dua orang perawat yang juga membawa data Alexio sebagai bahan perbandingan ke depannya.
“Alexio Bisma.” Panggil dokter Doni yang dijawab Alexio dengan iya sebagai tanggapan
“Kamu sedang apa, Alexio.?” ucap dokter Doni bertanya
Bukannya menjawab, Alexio justru terisak, pilu sekali suaranya hingga dokter Doni tergerak menyentuh lengan pemuda itu.
“Alexio.”
“Saya takut.” Jawab Alexio masih terisak
“Takut? Kenapa?”
“Tidak ada yang membantu kami di sini, kami takut.” Sesegukan, Alexio menjawab.
“Jangan takut, ada saya yang akan menemanimu, mau berteman dengan saya, Alexio?” berusaha membujuk, ditanggapi anggukan oleh Alexio namun sedetik kemudian ia menggeleng cepat.
“Kenapa?”
“Orang dewasa jahat.” Tutur Alexio beralasan.
“Siapa? Saya bukan orang dewasa, saya Doni umur saya baru 11 tahun, bukankah kita satu sekolah, Alexio?”
“Satu sekolah? Benarkah?” perlahan kerutan takut di dahi Alexio berkurang ketika mendapati dokter Doni memperkenalkan dirinya dengan usia yang diperkiran dokter Doni jika Alexio saat ini terperangkap dalam usia tersebut.
“Iya.” Seru dokter Doni menjawab.
“Tapi kami takut, Doni.” Lagi-lagi Alexio tergugu.
“Siapa yang berbuat jahat, Alexio?” sahut dokter Doni
“Pak Roni.” Jawab Alexio pelan
“Kenapa dengan pak Roni, siapa dia?” tanya dokter Doni
“Guru privat matematika dan Alexia.” Sahut Alexio
“Apa yang sudah dilakukan Pak Roni pada kalian, Alexio?” ucap Dokter Doni
__ADS_1
Alexio terdiam, alisnya bergerak liar yang artinya ia dalam keadaan cemas.
“Alexio.” panggil dokter Doni melihat kegelisahan pasiennya.
“Sttttt, jangan berisik Doni, nanti pak Roni dengar.” Dengan suara pelan dan takut Alexio menjawab
“Kamu di mana Alexio?” tanya dokter Doni
“Kami di dalam mobil, mama lagi ke dalem bentar, tapi pak Roni lagi berdiri di luar gerbang. Jadi jangan berisik, nanti aku dan Alexia ketauan.” Ujar Alexio pelan
Hening. Hingga tak lama, tubuh Alexio bergetar hebat, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan yang menandakan ketakutan di sana.
“Alexio. Alexio...” dokter Doni menangkap hal aneh dan berupaya memanggil pasiennya.
“Tolong!!! Tolong!!!!!” tiba-tiba Alexio menjerit dengan tangan yang ia gerak ke atas seolah menggapai sesuatu.
“Ada apa Alexio, Alexio.” menggenggam telapak tangan pasiennya, dokter Doni menangkap hal lain di sana.
“Alexia... Alexiaa..” jeritnya lagi
“Mama... mamaaa.” Sambungnya lagi
“Alexio, saya akan menolongmu, kamu di mana, cepat katakan.” Ujar dokter Doni
“Aku di dalam mobil, mama... mama di luar sama Alexia dan pak Roni.” Gemetar dingin, itulah yang dirasakan dokter Doni dari tubuh Alexio melalui telapak tangannya.
“Alexia, Alexia juga. Aku- aku harus apa.” Alexio tertangkap takut luar biasa.
“Alexio, katakan apa yang kamu lihat.” Pinta dokter Doni.
“Pak Roni mengeluarkan pisau, Doni. Tolong!!” jerit Alexio panik
“Tidak... mama-mama awas.” Lanjutnya dan terus diperhatikan dokter Doni
Hingga tak lama dari itu...
“Alexia,, Alexia dan mama....” ucapan Alexio terpotong dengan air mata masih membahasahi wajahnya.
“Kenapa mereka, Alexio, katakan.” Ucap dokter Doni
“Mama mengambil pisau dan menusuk dada pak Roni hingga berdarah dan jatuh... mama pingsan” jawabnya yang masih terjeda.
“Tapi Alexia,,, Alexia kembali mengambil pisau lalu menusuk pak Roni lagi. Tidak.. jangan Alexia... aku akan membunuhnya untukmu, yaa. Yaa aku akan menabraknya saja.” Lanjut Alexio mengepalkan tangannya.
Hening kembali.....
__ADS_1
“Alexio?” panggil dokter Doni setelah tak ada lagi kata-kata yang diucapkan Alexio.
Melirik perawat dan dokter diluar sana, menganggukkan kepala sebagia tanda cukup sampai di sini dulu.
Beberapa jam kemudian, di ruang rapat dokter, sudah berkumpul lagi dokter neuropskiatri di sana. Menatap layar yang menampilkan video Alexio pada saat Narcoanalysis.
“Seperti yang dapat kita lihat semuanya. Pasien atas nama Alexio terperangkap dalam rasa bersalah yang begitu besar, Alexio tampaknya melihat langsung kejadian mengerikan dan membantu dengan cara yang salah. Mari kita baca kasus 7 tahun yang lalu yang melibatkan dua saudara anak dari Bisma Suprapto ini.” ucap dokter Doni.
“Tapi dokter Doni. Kasus 7 tahun yang lalu, tidak bisa kami peroleh datanya dari kepolisian, kasus itu di tutup dan dianggap selesai setahun kemudian.” Salah satu dokter ikut menimpali. Sepertinya ia sudah gerak cepat mendatangi kepolisian untuk bertanya perihal kasus itu,.
“Dari yang saya dengar juga, kasus yang ditampilkan tentang keluarga Bisma lebih banyak mengenai kecelakaan keluarganya saat itu. Dengan puterinya yang meninggal sementara puteranya hanya luka-luka tapi koma setelahnya.” Sambut dokter lainnya.
“Baiklah, sepertinya saya sendiri yang akan bertanya langsung pada pak Bisma Suprapto, jika benar beliau mau bekerja sama dalam hal ini.” pungkas dokter Doni dan menutup rapat hari itu.
Dan di sinilah ia saat ini, di kediaman pribadi Bisma Suprapto, tepatnya di ruang kerja Bisma.
“Pak Bisma, boleh saya mengetahui kejadian yang sebenarnya dari kasus yang menimpa keluarga anda 7 tahun yang lalu? Di mana ada anak dan istri anda saat itu.” Dokter Doni mengutarakan niatnya setelah mereka mengobrol singkat tentang perkembangan Alexio.
Bisma memejamkan mata mendapat pertanyaan tersebut, ia menghela nafas berat lalu menatap dokter Doni lekat.
“7 Tahun yang lalu, saat itu saya sedang di luar kota mengurus masalah perusahaan dan istri saya kebetulan tidak bisa ikut karena hari itu Alexio akan kembali dilakukan pengobatan.” Bisma mulai bercerita.
“Tapi hari itu, saya mendengar kabar yang membuat saya harus memilih pulang daripada mengurusi pekerjaan sialan yang membuat saya menyesal untuk dipikirkan saat itu.” Bisma tampak menggeram di sana.
“Saat itu...” tenggorokannya tercekat, suaranya mendadak hilang bersamaan tatapan kosongnya.
“Saya mendapati keluarga saya terlibat sesuatu yang mengerikan, puteri dan istri saya di temukan dalam keadaan begitu mengiris hati dengan luka lebam dan luka lainnya di tubuh mereka, sementara putera saya ditemukan dalam keadaan luka di kepalanya akibat benturan mobil di pembatas jalan, lalu....” lagi-lagi lidahnya kelu.
Dokter Doni menunggu bagian penting ini sedari tadi....
“Pria yang rencana saya untuk dilaporkan ke polisi sudah terbujur kaku bersama dengan keluarga saya saat itu. Kata polisi ia sudah tewas di antara tubuh puteri dan istri saya.” Jelas Bisma
“Saya menyesal terlambat mengenyahkan bajingan yang sudah melecehkan puteri saya dan justeru mendorong keluarga saya melakukan hal itu.” Bisma menunduk dan terisak di sana.
“Apakah istri anda pernah membahas ini, pak Bisma?” tanya dokter Doni
Bisma menggeleng, “Istri saya ketika sudah sadar, ia mengalami amnesia, dokter Doni. Dia melupakan hal itu.”
“Melupakan? Tapi ia selalu membersihkan lemari kosong itu, kan?” ujar dokter Doni.
“Mari, ikut saya.” Bisma bangkit dari duduknya dan diikuti dokter Doni hingga mereka sudah sampai di lantai dua, berdiri di depan sebuah pintu ukiran bunga di sisinya.
Ceklek
Tepat waktu!
__ADS_1
Dokter Doni tertegun manakala melihat Linda alias istri Bisma tengah membersihkan lemari kayu yang begitu cling saking bersihnya.
“Dissociation” gumam dokter Doni lirih