Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 77


__ADS_3

Indonesia


Satu bulan kemudian....


Cup


Cup


Cup


“Hai dedek abang tercinta.” Kecupan rindu memenuhi wajah Dira yang baru saja keluar dari pintu kedatangan penumpang pesawat.


“Cium gak pakek basah woy wajah anak orang.” Ketus Dira mengelap wajahnya yang habis-habisan dicium abangnya.


Dikoment pedas oleh adiknya tak memicu rasa tersinggung dari diri Paul, malah dengan tengilnya ia merangkul pundak sang adik dan mengepitnya erat.


“Ayo bawel, kangen banget abang selama ditinggal kamu. Lebih dari patah hati rasanya.” Ucap Paul meraih koper dan menariknya bersamaan melangkah menuju mobilnya berada.


“Dih, lebay. Gebetan banyak juga.” Cibir Dira mencubit perut berotot abangnya.


“Tapi gak serindu sama kamu, dindaku tersayang.” Sahut Paul terkekeh.


“Dah lah capek aku digombalin abang sendiri.” Ujar Dira


Diperjalanan.


“Kayaknya bau-baunya rame banget ini parfum cewek di mobil ini ya?” Dira mengendus mobil Paul ketika ia sudah duduk manis di dalam. Melirik sampai ke belakang, ia menyeringai.


“Abang maen di mobil?” tanya Dira ketika menemukan bukti


“Maen paan?” balas Paul bertanya


“Tuh, kelelewar di belakang ngumpet atu.” Timpal Dira melihat ada benda berwarna merah menyala tersenyembunyi di bawah kursi.


Paul menoleh sekilas padahal, ia menggeleng, “Abang gak suka kuda-kudaan di mobil dek. Sembarangan aja.” Balas Paul menolak tuduhan Dira sembari terkekeh.


“Eleh gak percaya aku sama modelan abang.” Cibir Dira. Abangnya yang tampan belum unboxing anak orang? Gak percaya.


“Gak dek, abang gak gitu. Tapi kalo cuma sekedar *****-***** doang sih mungkin iya jarang absen.” Kekeh Paul menjawab.


Dira memutar bola matanya, “Omes kali jadi orang.” Ucap Dira


“Yeee, tuh cewek-cewek aja doyan kok, malah mereka mau beneran maen. Untung abang masih kuat nahan keperjakaan, coba kalo gak, udah abang serodok aja.” Jawab Paul membanggakan diri.


“Dah lah. Serah.” Ujar Dira


“Kamu, gimana sama Alexio? denger-denger dia nyusul kamu kan ke sana. Sampe maksa papa minta alamat kamu lo tapi gak dikasih.” Tiba-tiba Paul membahas Alexio ditengah keheningan sebelumnya.


Dira menoleh pada Paul, “ Iya kah? Gak sampe tuh.” Jawab Dira berbohong.

__ADS_1


Ia salut pada pria setengah dewasa itu yang tahu di mana tempat tinggalnya, bahkan bisa masuk ke dalam apartemennya dengan mudah.


Udah jadi mafia kali maenannya, gak geng ababil doang.


“Bang, mobil Dira yang di Jepang itu papa yang beli?” tanya Dira yang dijawab gak oleh Paul.


“Kenapa memangnya?” tanya Paul


“Terus siapa? Abang?” lanjut Dira bertanya.


“Alexio. tuh bocah yang kasih, mana mahal pula itu mobil kan, 5 M harganya loh.” Ujar Paul heboh.


“Ya kah? Gendeng kali anak pak Bisma itu, kebanyakan duit kali. Bingung buangnya ke mana jadi di sedekahin ke adek abang.” Jawab Dira masa bodo.


Mendengar harga fantastis yang diberikan Alexio dalam wujud benda sebagai kado ulang tahunnya, cukup menyita perhatian di benak Dira.


Bahkan ia kerap mendapatkan notifikasi konyol dari banking-nya yang memberitahukan jika transferan rutin senilai 500 juta tak luput selama ia menapaki negeri Jepang dari awalnya. Bahkan papanya saja hanya memberikan rutin 100 juta sebagai biaya hidup Dira selama satu bulan. Sehingga transferan ghaib itu tak pernah Dira sentuh sedikitpun.


Maka jangan heran jika di tabungannya sekarang sudah membengkak jika nilai 500 juta tak pernah berkurang selama 4 tahun ini. Bisa jadi ia mampu membangun klinik sendiri dengan total uang ghaib itu.


“Apa mungkin Alexio juga yang kirim duit ya?” Gumamnya yang mampu didengar Paul di sebelahnya.


“Apa dek?” tanya Paul meminta kejelasan.


“Aku ini dapet duit transferan setiap bulan itu 500 juta,.....” belum selesai ia menyampaikan kata-katanya sudah ditikung oleh lambenya Paul.


“Apa!!!! 500 juta!!!!” pekiknya heboh


“What!!!!! Kamu pakek?” tanya Paul dan dijawab Dira dengan gelengan kepala.


“Belum pernah, takut ntar pencucian uang pula.” Sahut Dira


“Ya ampunn, kalo gitu ada sekitar....” ia menghitung tiap recehan yang baru saja Dira sebutkan...


“Ada 20 miliyar lebih dek!!!” lanjut Paul memekik kembali.


Hfffftttt, lebai kali abang Paul.


“Hmm, ya gitulah.” Sahut Dira enteng


“Bagi dikit dek buat abang,” ucap Paul dengan masa bodo-nya merayu sang adik.


“Eihh gak, itu aja gak tahu asalnya dari mana.” Tolak Dira cepat.


“Kiriman papa aja kadang gak abis itu sebulan.” Lanjut Dira. Ia memang bukan termasuk golongan yang doyan berfoya-foya, lihat saja tempat tinggalnya selama di Jepang. Memilih apartemen kecil padahal anak seorang Kairan Ladh mampu menempati yang lebih lux lagi daripada itu.


Ia tipe yang membelanjakan sekedar kebutuhannya, jika berfoya itu artinya sedang berkumpul dengan teman kuliah atau pihak rumah sakit. Uangnya lebih banyak dihabiskan untuk kegiatan sosial atau memberikan buah tangan untuk pasiennya.


“Jadi sudah ini kamu koas di rumah sakit papa?” tanya Paul setelah cukup keheningan menyelimuti keduanya.

__ADS_1


“Hm, iyalah.” Jawab Dira


“Bang, ntar servisin mobil aku ya, dah lama banget di tinggal semedi.” Pinta Dira yang diangguki Paul


“Besok mulai magang?” tanya Paul


“Hhmm. Iya. Biar cepet lulus bang jadi dokternya.” Seloroh Dira


“Baguslah, berartikan kamu yang bakalan ngurus rumah sakit papa. Aku bebas.” Timpal Paul tertawa lepas.


“Hffft. Abang itu manajemennya, kenapa ngelimpahin semua ke aku?” ujar Dira heran. Padahal anak lelaki yang harusnya mewarisi


“Gak usah, abang mau usaha laen aja, kamu aja ambil rumah sakit itu. Cuma uang sahamnya abang jangan di tilep ya? azab kubur ntar.” Sahut Paul tertawa


“Ho-ohhh.” Jawab Dira mencebik


.


.


.


Keesokan harinya....


Langkah pasti dan anggun dari Dira yang sudah beranjak dewasa itu menarik banyak perhatian yang ada di lobby rumah sakit milik Kairan Ladh.


Remaja yang dulunya asal dandan, slengean, bar-bar dan masa bodo itu kini menjelma menjadi sosok perempuan yang modis, meski make up natural yang tipis, tidak menyurutkan pesonanya begitu saja.


Ceklek


“Siang dokter Doni.” Sapanya saat pintu sudah ia tarik, tak lupa senyumnya terkembang sempurna.


“Eh, masuk Dira. Siang juga.” Jawab dokter Doni menyambut kehadiran puteri senior sekaligus pemilik rumah sakit.


“Apa kabar kamu.” Sambung dokter Doni setelah Dira mendaratkan bokongnya di kursi depan meja kerja dokter Doni.


“Baik dokter, kan mau dampingin dokter Doni selama koas di sini.” Jawab Dira terkekeh.


“Tentu, harus, banyak ilmu saya yang akan dilimpahkan kepada kamu Dira.” Sambut dokter Doni ikut terkekeh. Sifat ramah dari Dira memang tidak bisa dipungkiri menerjang batas kekakuan antara pemilik dan pegawai.


“Sesuai tujuan kamu memilih profesi dokter, terlebih jurusan neuropskiatri ini, saya akan membantu kamu semaksimal mungkin Dira, agar tujuan kamu tercapai segera.” Ujar dokter Doni


“Terima kasih dokter.” Ucap Dira hangat.


“Apakah Alexio masih rutin konsultasi, dokter?” tanya Dira


Namun jawaban dokter Doni mematahkan tanya Dira,,,, “Tidak, sudah satu bulan ini, Alexio hanya mengirim utusannya mengambil obat, tapi orangnya tidak pernah lagi datang.” Jawab dokter Doni


“Padahal, kondisi Alexio meski sudah mendingan, itu karena obat-obatan yang ia konsumsi, sedangkan dirinya juga perlu dicek untuk melihat perkembangannya.” Lanjut dokter Doni menjelaskan.

__ADS_1


“Berhubung kamu sudah di Indonesia, ada baiknya, bujuk dia cek kembali. Bila perlu, kamu akan saja kasih wewenang bertanggung jawab mendampingi Alexio selama di rumah sakit.”


__ADS_2