Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 87


__ADS_3

“Dokter.” Panggil Dome setelah lama mereka hanya ditengahi oleh dentum lagu yang mengalun di mobil Dira.


“Hmm.” Sahut Dira tanpa menoleh, ia masih fokus pada hamparan jalanan yang musti butuh fokus menyetirnya, karena sedang rama-ramainya pengguna jalan.


“Kau ada hubungan apa sama si brengsek tadi?” tanya Dome tanpa memberi respek awal untuk orang yang tidak ia kenal


“Usianya lebih tua darimu, Dome. Tak sopan.” Tegur Dira mengingatkan


“Masa bodoh. Orang tuaku saja aku sebut seperti itu juga.” Tolak Dome


“Kau? Tidak boleh hei.” Peringatan Dira tampaknya serius. Tak habis pikir jika Dome bisa memperlakukan orang tua seperti itu.


“Terserah aku, Dokter.” Sahut Dome tak peduli, Dira hanya berdecak menilai kesalahan prilaku Dome. Bisa jadi bocah ini juga mengidap kelainan perilaku yang tidak bisa memposisikan benar dan salah dengan baik.


“Dome.” Panggil Dira yang dijawab Dome dengan dehaman singkat.


“Kau kenapa bisa menemukan posisiku dengan mudah? Padahal kau saja tidak tahu soal Jakarta.” Tanya Dira heran


“Mudah.” Sahutnya pelan


“Apa?”


“Aku ikuti saja kau kemanapun.”


“Heh?”


“Iya, kau belum tahu siapa aku, Dokter.”


“Kau siapa memangnya? Hanya bocah Dome.”


“Kau akan terpesona jika tahu siapa aku, dokter.”


Dira tertawa mendengar jawaban bocah di sebelahnya ini. terpesona? Yang benar saja. Dira menggelengkan kepala sembari tangan masih mengendalikan mobil menuju rumah sakit.


“Kau tidak percaya, baby?” ujar Dome melirik Dira yang tersenyum menanggapi.


“Kau tidak terpesona denganku sampai sekarang?” ulangnya lagi dengan tanya yang berbeda, dan kembali ditanggapi Dira serupa.


“Belajar yang benar, Dome. Dan pengobatanmu juga belum tuntas.” Seloroh Dira menasihati pada bocah labil ini.


“Apa karena kau menyukai si brengsek yang bernama Alexio itu, dokter?” tebak Dome membuat Dira berhasil melirik bocah itu dengan dengusan tawa kecilnya.


“Wahhh sepertinya sainganku berat semua.” Ucap Dome bertepuk tangan namun hela nafasnya terasa berat.

__ADS_1


“Saingan?” beo Dira


“Iya, Alexio dan brengsek tadi juga menyukaimu. Dan aku juga. Jadi,,, arghhhhh kenapa sainganku harus mereka sih. Dan ah satu lagi, pria yang sering bersama mu ketika di Jepang juga.” Teriak frustasi Dome.


“Kau menjerat banyak pria, dokter.” Geleng Dome kembali frustasi dan Dira sontak tertawa mendengar ucapan konyol Dome.


..


.


.


“Nyonya rahayu, saya akan mulai menyuntikkan cairan ini untuk prosedur narcoanalysis.” Dokter Doni mengawali pembicaraan pada pasien bernama Rahayu yang tengah terbaring di atas brangkar, tempat dulu Alexio juga dilakukan hal demikian.


“Baik dokter.” Sahut pasien pelan. Pasrah dengan tindakan dokter ini. sedangkan di luar sana, kekasih puteri pasien duduk di luar dengan harap-harap cemas. Sementara beberapa dokter memantau di luar ruangan dengan batas kaca besar bening bersama Dira juga di sana.


Beberapa menit setelah cairan itu masuk, perlahan kesadaran pasien mulai menurun. Setelah memberi kode berupa anggukan kepala sebagai tanda mulai pada semua yang menyaksikan, dokter Doni mendekati brangkar pasien.


“Nyonya Rahayu.” Panggil dokter Doni memastikan jika pasiennya merespon atau tidak.


“Iya.” Baiklah, pasien menanggapi disela tidurnya.


“Boleh saya tahu siapa Nanda.” Dokter Doni tidak ingin berbasa-basi, beliau langsung melempar tanya yang menjadi faktor utama gejala neurosis pasiennya.


“Puteri sa--, puteri saya, dokter.” Belum apa-apa, pasien sudah mulai menampakkan isak tangis. Bulir bening itu sudah tampak mengucur melalui dua sisi wajah pasien.


Pasien terdiam meresapi setiap tangisnya, pilu. Itulah yang dirasakan oleh siapapun yang mendengarnya.


“Dasar brengsek.” Ucapan bernada makian keluar dari mulut pasien. Bahkan raut wajahnya sudah berkerut emosi. Tangannya mengepal menambah kesan amarahnya.


Dokter Doni menyentuh genggaman tangan pasiennya yang semakin erat, “Ada apa, nyonya.” Tanya dokter Doni lembut.


“Roy, Roy brengsek.” Ucap pasien kembali, menyebut nama yang mereka kenali sebagai kekasih dari puteri pasien ini.


“Jika saja, jika saja Roy tidak tertidur saat itu. Jika,,, jika saja pacar brengsek kekasih puteri saya tidak memilih tidur dan menutup telinganya dengan headset, mungkin puteri saya tidak akan mati mengenaskan seperti itu.” Suara pilu yang tergambar dari setiap ucapan pasien menyentak perhatian siapapun di sana.


Sementara Roy, pria yang duduk di luar ruangan, menunduk dalam, tangannya mengepal kencang, hingga buku putih di jemarinya tercetak jelas. Kini isaknya juga keluar, meski pelan, tapi jelas itu adalah bentuk emosi penyesalannya.


“Hari itu, saya menitipkan Nanda yang sakit pada Roy sementara saya pergi ke pasar membeli bahan untuk membuatkan syal Nanda yang rencananya akan berlibur bersama saya sekaligus mengunjungi makam suami saya.” Lanjut pasien bercerita.


“Tapi pria brengsek itu malah asik tidur dan menutup telinganya dengan headset hingga bajingan mabuk itu menyakiti puteri saya yang tidak berdaya hingga meninggal dunia.” Jerit pilu semakin keras, menyayat hati semua yang di sana. Bahkan gelengan kepala dan wajah sendu terlihat dari yang berdiri menyaksikan penjelasan pasien barusan.


“Ya Tuhan!” itulah komentar beberapa tim medis yang terlibat dalam kegiatan itu. Termasuk Dira, menyentuh dadanya yang terasa sesak. Sebagai sesama perempuan, ia bisa merasakan betapa menderitanya puteri pasien saat itu. Di mana jelas ada yang bisa menolongnya, malah tak bisa dimintai sama sekali.

__ADS_1


Miris


“Saya.. saya marah, saya marahhh.” Teriak pasien yang langsung ditenangkan dokter Doni dengan menggenggam tangannya.


“Nyonya, dengarkan saya.” Ucap dokter Doni.


“Kejadian yang menimpa Nanda, puteri anda. Memang kesalahan semuanya, tapi bukan berarti anda menghukum diri sedalam ini.” dokter Doni berusaha memberikan pencerahan bagi pasiennya.


“Perbuatan bejat yang diderita Nanda, akan kita limpahkan pada hukum. Dan Roy maupun anda hanya menjadi sebab tidak langsung kejadian buruk itu terjadi pada Nanda.” Lanjutnya


“Semua sudah ketentuan Tuhan, garis takdir hidup puteri anda harus dilalui dengan jalan seperti itu. Kita hanya bisa melaluinya dengan kemampuan kita, menghukum pelaku, dan menghibur diri dengan menjadi lebih baik melalui tindakan positif seperti membantu Nanda Nanda lainnya yang perlu kita bantu.” Jelas dokter Doni


“Peristiwa Nanda, puteri anda. Jadikan sebagai jalan bagi anda dan Roy sebagai introspeksi diri, kita tidak bisa menghalangi kehendak Tuhan jika Ia mengambil hambaNya dengan cara seperti itu. Kita hanya berusaha saja, tidak bisa lebih dari ketentuan Tuhan.” Lanjut dokter Doni.


“Tapi.. tapi Nanda...” isak pasien


“Iya, kita hanya bisa mendoakan puteri anda agar mendapat ketenangan di sana. Dan selanjutnya, bersahabatlah dengan masa lalu, menjadi sosok yang baik ke depannya, bantu Nanda-Nanda lainnya yang bisa anda bantu. Dan Roy, pria itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena itu juga di luar kehendaknya.” Jelas dokter Doni.


“Mari, menata diri lebih baik, agar rasa sakit yang diderita puteri anda karena melihat ibunya bersedih dan menghukum dirinya bisa hilang dan berganti bahagia di sana.” Saran dokter Doni.


“Ikhlaskan kepergian puteri anda, agar ia kembali dengan tenang di pangkuan Tuhan, nyonya.” Pungkas dokter Doni menutup narcoanalysisnya hari itu.


.


.


.


“Pantau semua kegiatan yang bernama Alan dan Alexio. jangan terlewati sama sekali.” Titah Dome pada beberapa pria berpakaian kasual di hadapannya.


“Siap tuan muda.” Sahut mereka


“Buat mereka tidak bisa mendekati dokter Dira yang akan menjadi milikku.” Lanjutnya memandang luar jendela dengan seringai di sudut bibirnya.


Di tempat lain...


“Bos, saya merasa ada yang mengawasi kita.” Roy yang mengawali Alexio merasakan ada yang tidak beres di sekitarnya.


“Oh ya? menurutmu siapa?” Alexio bertanya balik.


“Mereka punya tanda tato di punggung tangannya. Saya pernah melihat beberapa diantara mereka, dan mereka adalah.....” Roy menjeda lalu melirik sekitarnya.


“Siapa mereka?” Alexio mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Yakuza, bos.” Jawab Roy


“Yakuza?” beo Alexio


__ADS_2