Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 142


__ADS_3

“Eh Dira.” Keluar dari koridor toliet, Dira dan Dome berpapasan dengan Andy, salah satu sahabat Alexio yang juga dari arah toilet pria.


“Eh Andy.” Sahut Dira memberi senyum ramah


“Habis ngapain hayo di toilet berdua sama pacarnya.” Ujar Andy mengintrogasi tapi dengan wajah bercanda.


Ia juga tahu jika Dira menjalin hubungan konyol dengan bocah bernama Dome, dan sumbernya tentu dari Alexio yang memberi tahu.


“Hehe, gak ngapain Andy. Lagian bukan pacar lagi, tapi barusan kami jadi mantan.” Jawab Dira terkekeh. Dome hanya diam, karena dirinya memang belum terlalu paham bahasa Indonesia.


“Oh udah jadi mantan nih.” Andy sontak terlihat seperti terlonjak senang mendengarnya.


‘Kabar yang bagus buat sahabat gue ini’ batin Andy yang akan memberitahu Alexio mengenai hal ini.


“Hmm, iya begitulah, diputusin aku.” Sahut Dira memasang wajah bak orang sedih meskipun ia bernafas lega karena Dome sendiri yang memilih mengakhirinya.


“Sabar, sabar.” Andy menepuk puncak kepala Dira, mereka memang seakrab itu sejak dulu, selain karena jalinan perkenalan sejak SMA, Andy menganggap Dira bak adik baginya,.


“Iya dong.” Ucap Dira nyengir dan melirik Dome lalu melempar senyum untuk mantan kekasihnya itu.


“Aduh perutku masih terasa sakit, aku masuk ke dalam lagi ya.” Andy memegang perutnya yang kembali bergejolak dan hanya membutuhkan anggukan Dira, pria itu melesak memasuki bilik toilet lagi.


“Ayo kita kembali ke dalam, tidak enak terlalu lama meninggalkan mereka.” Ucap Dira mengajak Dome keluar.


“Hmm ayo.” Sahut Dome pelan


Tak terlalu jauh dengan jangkauan ruang tempat keluarga mereka berkumpul, mata Dira menangkap bayang Alexio di salah satu sudut restoran.


“Alexio?!” gumam Dira pelan, langkahnya pun seketika berhenti dan reflek Dome juga mengikuti arah pandangan Dira.


“Sialan, aku perlu memberi pelajaran.” Geram Dome melihat keberadaan Alexio yang tengah tertawa bahagia bersama seorang wanita cantik.


“Jangan. Biarkan saja, jangan mempermalukan dirimu, Dome.” Cegah Dira tidak mau Dome mendatangi Alexio yang sepertinya tengah melakukan makan malam bersama seorang wanita yang tidak dikenali Dira.


“Ayo, kita masuk saja.” Dira menarik lengan Dome agar segera memasuki tempat tujuan mereka, sementara Dome hanya bisa mengepalkan tangannya menahan diri agar tidak melepaskan emosinya saat itu.


Ceklek


“Eh kok lama sekali kalian berdua, mana datengnya barengan.” Hiro menyambut kedatangan dua insan yang cukup lama meninggalkan mereka.


“Bahkan makanan penutup kami saja sudah hampir habis.” Timpal istri Hiro menambahi dengan maksud menggoda putranya serta Dira.

__ADS_1


“Ah, tadi pas saja ketemu Dome kenalanku di luar dan Dira ikut gabung.” Jawab Dome mendahului Dira yang hendak membuka suaranya.


“Ohh begitu.” Paul yang menyela, ia tak bisa dibohongi, ia tahu ada sesuatu yang terjadi diantara adik dan bocah Jepang itu, dan nanti akan ia tanyakan ketika sampai di rumah.


Dira dan Dome segera duduk dan menikmati hidangan penutup yang sudah terasa hambar untuk lidah mereka berdua. Pasca melihat Alexio tadi bersama wanita, Dira mendadak malas dan galau, sedangkan Dome, ia galau setelah melepas Dira namun kesal karena alasannya memutuskan Dira justru bersama wanita lain.


Dira yang mengenal Alexio, jelas menduga apabila pria itu memiliki hubungan khusus dengan wanita yang dilihatnya tadi.


Karena Alexio adalah tipikal pria dingin yang tidak sembarangan untuk bersikap ramah atau tertawa seperti tadi dengan mudahnya kecuali ia memiliki hati dengan orang itu.


Karena Dira buktinya.


“Hei, apa udah kenyang?” Paul berbisik di sebelah Dira, adiknya sedari tadi hanya diam terpaku dengan sendok kecil masih tergenggam di jemari tangan kirinya.


“Eh, apa?” Dira tergugu karena terkejut dengan Paul


“Eh i-iya.” Jawabnya


“Sini biar abang abisin, jujur aja, abang kekurangan, karena pudingnya enak.” Kekeh Paul pelan dan Dira dengan senang hati menggeser piring lebar itu kearah abangnya.


“Masih kurang gak bang?” Dome yang bertanya setelah melihat Paul sumringah menyambut hidangan penutup milik Dira.


“Hah? Kau mau memberikan milikmu juga untukku, sini sini, dengan senang hati.” Tanpa ba bi bu atau rasa malu, Paul menyambutnya, padahal Dome hanya bertanya bukan menawarkan.


“Udah jelas dek kemana arahnya.” Ujar Paul yakin, dan benar saja, Dome juga mendorong piringnya kearah Paul yang menerima dengan lapang hati.


“Paul Paul, kau seperti tidak pernah papa beri makan saja.” Ladh menggelengkan kepalanya melihat putera sulungnya bak orang kelaparan.


“Pa, banyak orang kelaparan di luar sana, jadi alangkah baiknya jangan membuang-buang makanan.” Paul malah membalas ucapan ayahnya dengan santai


“Betul itu, dokter Ladh.” Hiro membenarkan ucapan Paul dan putera Ladh itu pun semakin membusungkan dadanya melihat ada yang mendukungnya.


Selama satu jam 25 menit mereka telah menyelesaikan makan malam keluarga itu, dan dengan beriringan pula mereka keluar dari ruangan privat untuk bergegas pulang ke rumah masing-masing.


“Dokter Ladh?” Sebuah suara merangsek masuk diantara dua keluarga itu dan berasal dari arah kiri mereka.


“Bisma.” Ladh membalikan tubuh dan melihat Bisma dengan keluarganya juga keluar dari ruang di sebelahnya.


“Kalian mengadakan makan malam bersama rupanya.” Ujar Bisma melirik Hiro yang berjalan bersama Ladh sekeluarga


“Iya, kau juga? Kalau tahu kita bergabung saja tadi.” Hiro ikut menyela diantara mereka.

__ADS_1


“Dira, cantik sekali malam ini.” Linda yang menangkap bayang puteri Ladh itu memuji penampilannya malam ini.


“Terima kasih tante.” Sahut Dira membenarkan anak rambutnya sebagai bentuk rasa canggung


“Kapan-kapan kita makan malam bersama semuanya, bagaimana?” ujar Hiro menawarkan


“Boleh juga, akan semakin besar saja ruang yang kita butuhkan.” Bisma menerima tawaran Hiro


“Hai Alexio.” Paul menyapa Alexio yang berdiri di belakang ayahnya, Alexio hanya membalas lambaian tangan tanpa suara. Matanya memaku lekat pada Dira seorang.


‘Jadi Dira dan Dome sudah putus? Berarti aku memiliki kesempatan besar di sini.’ Batin Alexio menatap Dome yang berdiri di sebelah Dira.


Flashback On....


Alexio yang baru dari toilet berpapasan dengan Andy yang juga hendak ke toilet


“Hai bro, kebetulan banget ketemu di sini.” Andy menyapa Alexio yang mau masuk ke ruangan tempat orang tuanya berada.


“Kenalin, calon gue, Larissa.” Andy memperkenalkan wanita berambut pirang dengan tubuh mungil dan wajah sedikit oriental.


“Oh ini, Gue Alexio.” Alexio mengulurkan tangannya pada Larissa dan disambut wanita cantik itu dengan mengenalkan diri juga.


“Eh tungguin dulu ya, gue mau ke toilet bentar.” Andy mencoba menahan Alexio agar tidak pergi dulu dengan menyuruhnya duduk di seberang calon isterinya.


“Buruan, nanti orang tua gue nungguin lama.” Ujar Alexio yang diangguki Andy yang segera berlalu menuju toilet dengan tergesa-gesa.


Beberapa menit kemudian Andy kembali dengan wajah sumringahnya.


“Kenapa lo, seneng banget habis dari toilet.” Tanya Alexio merasa aneh


“Lo yang bakalan seneng bro.” Seloroh Andy membalas. Ia segera duduk di sebelah Larissa.


“Tau gak gue ketemu siapa tadi di toilet.” Andy melempar tanya pada Alexio yang dijawab kendikkan bahu sebagai tanda tidak tahunya.


“Gue ketemu Dira bersama bocah itu, dan tahu gak, mereka ternyata barusan putus.” Andy menggebrak meja saking tidak sabarnya menyampaikan berita itu pada Alexio.


Lihatlah, sesuai dugaan Andy, sahabatnya pasti akan bengong mendengarnya.


“Woy, sadar, sadar. Kabar bahagia harusnya disambut dengan salto gembira.” Andy melempar brokoli yang masih ada di dalam piringnya.


Alexio segera menyadarinya dan seketika senyumnya tanpa sadar terbit dan disaksikan Andy serta Larissa bersama

__ADS_1


“Akhirnya, kini waktunya lo nyusul gue dan Barry bro.” Ujar Andy berdoa.


__ADS_2