
Brak!!!!
Dira yang masih berada di dalam toilet terkejut mendengar suara keras dari arah luar.
Tanggung!!!masih satu putaran lagi gulungan di perut yang mau keluar, ntar keburu masuk lagi kan gak enak.
Hehehe.
“Dih siapa sih, ganggu orang semedi aja. Lagi konsen tauk.” Sungut Dira pelan.
Byurrrrr. Suara kloset yang disiram mengakhiri pertemuan Dira hari ini bersama tim toilet.
Bye bye, kapan-kapan jumpa lagi.
“Lega.” Ujarnya mengusap perut. Entah kenapa perutnya mulas sekali tadi.
Ceklek.
Gdebuk
“Awwww.” Tanpa diduga, tubuhnya sudah merangsek di lantai, bertemu sapa dengan ubin basah yang juga dilapisi cairan lengket dan sangat licin.
“Sakit.” Ringisnya, kala merasakan bukan hanya bokongnya saja yang kebas, tapi siku dan bahkan dahi kirinya sempat kiss dengan dinding toilet tempatnya keluar tadi.
Mata mengedar, menatap liar sekelilingnya termasuk posisinya saat ini.
“Sial. Kayaknya ini gue dikerjain deh.” Rutuknya berusaha berdiri
“Arghhh.” Kakinya merasakan ngilu seketika.
Pelan-pelan ia melangkah.
Brak!!
“Awww, setalun!!!!” geramnya, ia kesal karena terjatuh lagi.
Bagaimana tidak, hampir seluruh lantai dilapisi cairan yang sama, tidak ada sela baginya berjalan santai dan aman.
“Ok, kalian mau main-main sama gue. Okeh.” Berpegangan pada dinding kamar mandi yang bisa dia jangkau, Dira memapah tubuhnya agar sampai ke pintu dan keluar.
Sialnya bertambah. Karena mata Dira yang fokus pada lantai mengabaikan benda yang kini sudah siap menyiramnya.
Byurrrrrr!!!
“Arghhhh.” Pekiknya bertambah geram
Air kotor yang juga beraroma tidak sedap kini mengguyuri seluruh tubuhnya.
“Sialunnn kalian!!!” maki Dira di sela berdirinya
Ia semakin waspada, matanya tidak lagi fokus pada keadaan lantai, tapi netra itu juga sesekali di bawa untuk melihat kondisi di atas kepalanya, kalau-kalau ada jebakan sialun lagi.
Aman, sepertinya sedikit lagi kesabaran yang harus Dira pertahankan, pintu kamar mandi sudah semakin dekat.
Ceklek!!
Ceklek!
Ceklak ceklek
“Hah?” ujarnya bingung dan secepat kilat ia paham
“Aishhh sialun bener ini, kalian ngunci gue di dalem!!!” geramnya lagi.
“Mana bau lagi badan ini.” tambahnya mengggerutu
Ia bertekad akan membalas perlakuan mereka yang membully-nya hari ini, dengan cara yang sama atau bahkan lebih parah lagi.
“Mereka salah mencari lawan, huh!” Dengusnya masih berusaha mencari cara keluar.
__ADS_1
Ah! Ponsel.
Ia bergegas merogoh saku roknya tempat biasa dirinya menaruh ponsel.
Nihil
“Kemana ponsel aku ya?” ia bermonolog sendiri manakala tak menemukan benda pipih miliknya.
Kringg!!!!!
Kring!!!!
Kring!!
Dering itu....
Itu adalah dering ponselnya.
Menajamkan telinga.
“Kok?!” ia tertegun ketika telinganya justeru menangkap bunyi itu di balik pintu tempatnya berdiri sekarang.
“Eihhh sialun lagi kalian!!” kembali Dira murka
“Siapa yang merencanakan semuanya.” Lanjutnya
“Pasti udah dilakuin pas di kantin tadi.” Duganya
Jelas seperti itu, karena semenjak dari kantin ia mulai merasa aneh.
Mulas mendadak, dan adegan balet dramatis di toilet.
“Oke, itu mau kalian.” Ia mendecih, berpikir keras dan...
“Memang itu jalan terakhir yang harus aku ambil kayaknya.” Melirik ke sisi tubuhnya. Belakang, kiri, kanan, dan lantai tentunya.
Mengambil posisi dan...
Brak!!!!
Oke sekali lagi.
Brak!!1
Tendangnya
Hingga tendangan keempat...
“Wooooooo.” Tubuhnya terhuyung ke depan saat kakinya malah kalah cepat dengan pintu yang terbuka tiba-tiba.
“Non Dira?” entah apa tujuan petugas keamanan sekolah bisa sampai ke depan pintu toilet.
Masa bodo’. Pikir Dira. Yang penting dirinya ada yang menyelamatkan.
“Makasih pakde, makasih banyak.” Dira hanya mampu membungkukan tubuhnya sebagai ungkapan terimas kasihnya.
Tidak mungkin ia meraih tangan sepuh itu dan menyaliminya. Tubuhnya kotor dan bau.
“Ya sama-sama non Dira. Waduh kotor sekali ya.” Ringis satpam itu menatap sekujur tubuh Dira yang bukan hanya kotor tapi menguarkan aroma tak sedap.
“Iya, pak. Gak tahu siapa yang ngelakuin ini ke Dira.” Balas Dira. Ia mengedarkan pandangannya.
Ponselnya tergeletak begitu saja di lantai
Meraihnya.
“Hufffttt, Siapa yang berani sama aku?” sungutnya dendam
“Non mau dibelikan seragam baru kah? Mari pakde bantu belikan.” Tawar satpam yang bernama Hendi.
__ADS_1
Dira merasa canggung, tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu-satunya cara.
“Aduh. Maaf banget pakde, jadi Dira merepotkan.” Ucap Dira tidak enak.
“Tidak apa-apa non,.” Sahut Pakde Hendi
Dira merogoh saku roknya. Dompet kecil itu ia buka, mengambil kartu debitnya dan menyerahkan pada satpam renta itu.
“Nah pakde, Dira minta tolong belikan seragam ukuran M ya, sama sabun dan shampo yang mahal buat perempuan.” Ucap Dira menyebutkan barang-barang yang diinginkannya.
“Sandinya 881010.” Lanjut Dira yang diangguki satpam
“Waduh non, gak ada uang cash kah, atau pakde hutangin dulu nanti non bayar.” Satpam yang merasa terbebani membawa kartu itu tentu saja khawatir, bagaimana jika nanti ia khilaf.
“Gak ada pakde, oh ya, nanti kalo pakde mau sesuatu tinggal ambil aja, bayar pake kartu Dira.” Sahut Dira ramah
“Uangnya Dira numpuk gak dipakek pakde. Dira percaya kok, dan berapa yang pakde beli juga gak masalah buat Dira.” Sambungnya.
Karena apa yang dilakukan satpam itu lebih dari cukup, menyelamatkannya dari insiden bully yang menjijikkan ini.
“Baiklah non, pakde beli dulu ya.” Ucap satpam itu dan diangguki Dira.
Tinggal-lah gadis itu di sudut toilet yang berada di area kantin. Sehingga yang terjadi pada Dira sulit untuk diketahui orang-orang.
Beruntung ada satpam tadi yang menyelamatkannya. Sehingga dirinya tak perlu berlama-lama bermandikan air kotor ini.
Karena bukan hanya sekedar kotor, air itu juga di campur balok es sehingga kini Dira juga harus menahan rasa gigil di sekujur tubuhnya.
“Dira?!!!” Dira menoleh
Hah!!!
Ya Tuhan.
Kenapa di saat begini. Ini makhluk muncul.
Dah ah, Dira mau masuk lagi ke dalam kamar mandi.
Malu.
Dira gak ada cantik-cantiknya.
“Kamu kenapa!!!??” Dengan langkah tergesa-gesa, Alexio mengikis jaraknya sekarang.
Tadi ia berpapasan dengan satpam yang dimintai tolong Dira membelikan seragam dan perlengkapa n mandi.
Sehingga tanpa berpikir lagi, Alexio berlari melangkah ke kamar mandi tempat Dira berada.
Pemandangan yang ia lihat sungguh mengguggah rasa iba.
Tubuh gadis itu kacau, penampilannya tak ada bagus-bagusnya.
Rambut lepek, baju basah, kotor, pelipis merah, siku pun demikian.
Alexio mendekat
“Jangan mendekat, aku bau dan kotor, Alexio.” Ucap Dira yang refleks mundur saat Alexio maju
“Gak, kamu gak ada hak nyuruh aku berhenti.” Tolak Alexio yang masih bertahan melangkahkan kaki kokohnya.
“Non, ini yang diminta tadi.” Tergopoh-gopoh, pakde Hendi alias si satpam menyerahkan bungkusan yang berisi permintaan Dira tadi.
Sigap meraih bungkusan itu dan masuk ke kamar mandi.
“Aku tunggu kamu di luar.” Ucap Alexio sebelum Dira menutup pintu itu.
Terserah!!!!
Terserah kau saja Alexio
__ADS_1
Dira hanya punya satu pikiran saat ini
“TUNGGU PEMBALASAN GUE, kalian para sialun” Kecam Dira saat dirinya sudah membuka helai pakaian kotornya.