
Keesokan harinya.
Kampus mendadak heboh dengan kabar yang semilir didengar Dira sepanjang ia tiba di parkiran sampai bokongnya duduk di kursi pun kabar itu tetap mengikutinya.
Alan mukanya bonyok
Alan babak belur
Pun kabar lain juga menyertai tak berbeda
Alexio juga sama
Apa mereka berkelahi?
Tidak mungkin
Mereka tidak saling kenal
“Hffft, mereka itu apa-apaan sih, kayak gak ada kerjaan aja, ini kampus, bukan tempat gosip. Dasar, gak inget kalau mereka akademisi.” Gumam Dira menilai mahasiswi yang sibuk beradu gosip mengenai dua pria yang sama-sama menjadi most wanted di kampus ini.
“Tidak tahu apa, kalau mereka babak belur saling gaplokan.” Lanjut Dira mencibir.
Baik Alan maupun Alexio tidak peduli seberapa rusaknya wajah keduanya, toh para gadis masih memuja mereka, yang artinya pesona itu tak luntur hanya karena lebam di wajah.
“Alexio, kau kenapa?” Sintia berjalan cepat menghampiri Alexio yang tengah duduk di kursinya, gadis itu terlihat sangat khawatir melihat kondisi pria pujaannya itu.
“Wajahmu, huhuhuh.” Sintia terlihat berkaca-kaca sembari meringis saat hendak menyentuh wajah Alexio.
“Jauhkan tangan lo.” Titah Alexio sebelum jemari Sintia mendarat di wajahnya.
“Kau sudah ke dokter?” khawatir Sintia namun tidak dijawab Alexio. pria itu tampak menyibukkan diri dengan ponsel pintarnya.
“Aku khawatir, Al.” Lirih Sintia.
“Menjauhlah, dan satu lagi.” Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya, Alexio menarik nafas pelan, “Jangan panggil gue dengan Al.” Lanjut Alexio menekan ujung katanya.
Sintia mengangguk pelan, ia sadar betul jika pria ini memang sedari dulu paling anti dipanggil kecuali nama lengkapnya terserah yang mana saja. Sintia mencuri pandang kearah ponsel Alexio, tapi ia tak paham sama sekali isinya, karena tertera grafik, deret angka dan banyak tulisan asing di sana.
__ADS_1
Siang hari, Dira sudah selesai aktifitas kuliahnya pun bergegas untuk ke rumah sakit, sedikitpun ia tak pernah mau absen menjadi asisten dokter Doni, ia masih perlu banyak ilmu untuk bidang kedokteran yang akan dijalaninya. Apalagi lisensinya berikut pendidikan lanjutannya akan mendukung kemampuannya nanti.
Maka sekarang adalah waktunya memanfaatkan semua yang ada di sekitarnya.
“Hai Dira.” Suara yang Dira kenal menahan tangan gadis itu yang baru saja menarik handel pintu mobilnya. Ia bisa melihat melalui kaca mobil tepat yang tertempel di pintunya.
“Kau tidak mau mengkhawatirkanku, Dira?” tanya, Alan. Pria itu tampak tersenyum menyadari Dira memandanginya meski dari balik kaca saja.
“Untuk apa? Kita tidak ada hubungan apapun.” Ketus Dira menjawab.
“Pada Alexio, kamu gak khawatir kan?” tanya Alan
Dira menyadari sesuatu yang berbeda dari kosakata yang dilontarkan Andy padanya.
“Kamu? Aku?” tanya Dira saat mendengar perubahan panggilan dari Andy untuk, dan segera diangguki Andy sebagai jawaban.
“Aku kan sudah bilang, suka sama kamu. Jadi mulai sekarang, start aku ngejer kamu sampe dapet.” Kekehnya penuh percaya diri, membuat Dira memutar bola matanya jengah.
“Terserah, terserah. Aku tidak peduli.” Sahut Dira malas. Ia menarik handel pintu mobilnya dan bergegas masuk namun ditahan Andy sebelum tertutup sempurna.
“No, senyum dulu lah.” Balasnya meminta imbalan negosiasi pada Dira, membuat gadis itu mendengus sebal.
“Gak mau, lepas gak.” Ulang Dira semakin jengah dengan sikap pemaksa Alan yang lagi-lagi dijawab dengan gelengan kepala oleh Alan.
“Baby!!!” satu pekikan menjeda dua perdebatan antara Alan dan Dira. Keduanya sama-sama menoleh.
“Dome?” ujar Dira melihat kehadiran pemuda pelukis kelamin itu sudah berdiri gagah di sisi mobilnya dan menampilkan tebaran senyum pesonanya.
“Hmm, I miss U baby.” Ucapnya seraya berjalan menuju arah Dira.
“Siapa lo.” Tanya Alan, namun tak dipahami oleh Dome yang hanya tahu kosakata baku bahasa Indonesia.
“What your mean, boy?” Dome balas bertanya namun sedetik kemudian ia masa bodo dengan mengibaskan telapak tangannya dihadapan Alan.
“Ayo baby, aku ikut ya?” tanya Dome menatap penuh harap pada Dira.
“Kalau kau tidak tahu mau kemana, kenapa malah berkeliaran, Dome.” Dira menggelengkan kepalanya namun kepalanya bergerak ke kiri sebagai tanda Dome diberikan tumpangan di sebelahnya.
__ADS_1
“Yes. Thanks baby.” Ucap Dome sumringah, dan dengan sengaja ia menubrukan bahunya dengan bahu Alan sebagai penegas ia yang menang di sini.
“Shit!!!” maki Alan melihat Dome mampu naik ke mobil Dira.
“Dira, aku ikut.” Giliran Alan yang juga mau ikut, namun dijawab Dira dengan gelengan kepala.
“Aku tidak ada kepentingan apapun denganmu.” Sahut Dira menolak
“Tapi dia.. bocah itu.” Alan menunjuk keberadaan Dome yang sudah duduk manis di dalam, dan menjulurkan lidahnya pada Alan.
“Dia pasienku, jadi aku kenal siapa dia.” balas Dira yang membuat wajah Alan sontak tertekuk. Merasa iri saat itu juga.
“Baiklah, lain kali aku ikut kalau begitu.” Seloroh Alan lesu.
“Tidak ada lain kali, karena aku memang tidak akan pernah mengajakmu.” Ucap Dira menanggapi permintaan Alan barusan.
“Aishh Dira, tega sekali kau. Padahal aku sudah berusaha keras semalam untuk mengalahkan Alexio demi kamu.” Cerita Alan dan menjadi tanda tanya besar dalam pikiran Dira mendengar hal itu.
“Mengalahkan Alexio? semalam? Kalian bertaruh untuk aku?” rentetan kalimat tanya menjadi penegas konfirmasi kepada Alan yang membuat pria itu sontak menutup mulutnya rapat-rapat.
Lemes kali mulutmu, Alan.
Mendapati sikap Alan hanya diam, secara tidak langsung sebagai jawaban dari pria itu untuk pertanyaan Dira.
“Sialan kalian berdua.” Maki Dira lalu membanting keras pintu mobilnya, membuat baik Alan maupun Dome sama-sama terjengkit kaget.
“Minggir!” usir Dira saat tubuh Alan masih bersenggolan dengan body mobilnya, bahkan klakson yang menjerit keras menambah maksud pengusiran itu.
“Okeh, okeh, hati-hati kalau begitu.” Alan melambaikan telapak tangannya, melepas kepergian Dira bersama bocah yang menyunggingkan senyum kemenangan namun terasa penuh sindiran bagi Alan.
Tak jauh dari sana, Dira menangkap Alexio yang sudah duduk di atas motor besarnya, pria itu juga tampak memandang Dira dari sana. Namun dibalas Dira dengan tatapan tajam karena kesal menjadi bahan taruhan dua pria menyebalkan itu.
“Dia kenapa?” gumam Alexio melihat sikap Dira yang sangat tidak ramah itu.
“Dan kenapa ada bocah tengil itu di sana?” alexio juga melihat kehadiran Dome yang duduk manis di sebelah Dira. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, “Tidak ada yang boleh mendekatimu, kau tetap milikku, tapi sekarang aku perlu menghukum semua yang terlibat dalam kematian Alexia, dan sayangnya kau termasuk di dalam sana, Dira.” Lirih Alexio memandang mobil Dira yang sudah menghilang dari balik pandangannya.
Sampai kini, benak Alexio tetap menjadikan Ladh sebagai ajang balas dendamnya, meski ia memang masih bertegur sapa, tapi melihat sikap lancang Ladh mencuri diary Alexia memupuk kembali kemarahan pria itu, yang akan membalas perlakuan Ladh, kontan pada puteri tercintanya... Dira Kairan Ladh.
__ADS_1