
“Al.” Linda menyentuh punggung tangan puteranya yang masih menatap jendela.
“Aku mau nemuin temen aku ma, kasian dia ma. Orang tuanya gak ada di rumah.” Ucap Alexio lirih, matanya masih setia dengan tatapan hampa ke luar jendela.
Linda menoleh pada suaminya berikut Kairan Ladh serta dokter Doni yang ada di dekatnya. Meminta bantuan untuk mengatasi sikap Alexio.
“Al. Tunggu siang ya, dokter Leo akan mengurus semua keperluan obat-obatan kamu dulu.” Bisma berusaha membujuk puteranya untuk mengikuti saran dokter.
Alexio sigap menatap Ayahnya segera.
Mata itu, dingin. Menuntut.
“Kalau papa dan dokter Leo tidak setuju, Alexio akan tetap pulang.” Ujar Alexio memaksakan kehendaknya.
Jika Alexio sudah memutuskan sesuatu, maka saat itu juga harus dipenuhi.
Egois?
Arogan tepatnya.
Kairan Ladh mengangguk pada Bisma, mengalah saja.
“Baiklah Alexio, om nanti bicara dengan dokter Leo untuk mengurus keperluan medis kamu.” Putus Kairan Ladh.
Alexio mengangguk namun gurat wajahnya tetap datar.
.
.
.
“Gimana kejadian Alexio bisa masuk rumah sakit Dira?” Andi sudah melempar tanya pada Dira yang baru saja hendak menyendokan soto bersama nasi di dalamnya.
Dira menghela nafas lalu menatap sengit kearah Andi.
“Hehe, sorry sorry, makan dulu gih.” Sadar dengan maksud tatapan tajam itu, Andi terkekeh.
“Lo sih. Orang baru mangap udah ditodong.” Bela Barry, mungkin lebih cocok memprovokasi kali ya.
Dira juga turut membelokan pandangannya pada Barry, menatap sengit, namun berubah disertai senyum setelahnya.
“Hmm, gitu harusnya.” Sungut Dira menatap Andi tajam lagi.
“Aku makan dulu, awas ganggu. Aku sogrok pakek garpu ntar.” Ancam Dira menatap tajam tepat menusuk netra Andi.
“Iya neng.” Sahut Andi nyengir.
Beberapa menit setelahnya.
Mangkok berisi soto dan nasi tadi sudah tandas tanpa sisa.
Gadis langsing nafsu makan kayak habis nguli.
“Jadi gimana ceritanya semalem Alexio bisa masuk rumah sakit lagi.” Ulang Andi bertanya.
“Semalem itu udah balik kok ke apartemennya.” Celetuk Dira
__ADS_1
“Trus kenapa bisa nyasar ke rumah sakit Dira?” Kini Barry yang bertanya
“Aku juga gak tahu, kita habis dari jalan langsung balik ke rumah aku dan telponan kok pas Alexio sudah tiba di apartemennya.” Jawab Dira panjang lebar
“Aku Cuma ngerasa aneh aja dengan luka yang ada di tubuh Alexio.” Lanjut Dira pelan sembari berpikir
“Luka? Kenapa memangnya?” tanya Barry
“Seinget aku nih ya, luka Alexio udah lumayan kering dan tinggal lebam aja. Tapi semalem itu banyak luka baru.” Ujar Dira pelan, dahinya berkerut dalam memikirkan hal itu.
“Siapa yang bawa Alexio semalem?” tanya Andi. Mereka berdua hanya tahu kabar dari Linda saja semalam untuk mencari informasi apakah puteranya terlibat perkelahian dalam pergaulannya.
“Gak tahu, rumah sakit papa cuma mengambil Alexio dari klinik.” Jawab Dira serius
“Ya udah nanti kita jenguk Alexio ke rumah sakit.” Ucap Andi melihat Barry yang mengangguk menyetujui saran itu
Dira menggeleng. “Gak, Alexio pulang pagi ini.” celetuk Dira
Ia tadi menelpon ayahnya untuk tahu kabar tentang Alexio. Dari telpon itulah ia juga tahu bahwa Alexio bersikeras untuk pulang dari rumah sakit, padahal saran dari dokter Leo siang dan itu pun terpaksa.
“Ya udah nanti ke apartemennya?” tanya Barry yang segera di geplak Andi kepalanya
Plak!
“Sakit setan!!” Ringis Barry menatap Andi kesal
“Lo itu otak dipakek Bar, masa Alexio di suruh balik sama orang tuanya ke apartemen. Ya ke rumah keluarganya lah.” Sengit Andi menjawab dengan gelengan kepala menyertainya.
“Gue lupa setan.” Balas Barry masih kesal.
“ya udah berarti pulang sekolah kita ke rumah orang tua Alexio?” tanya Dira menengahi dua sahabat Alexio itu.
“Oke, ya udah aku balik ke kelas dulu. Mau latihan lagi soalnya. Duhh mumet kepalaku.” Gerutu Dira bergegas mengembalikan mangkok dan membayar makannya ke penjual.
Sepeninggal Dira...
“Yakin gak sih kita bisa ngebantu Alexio keluar dari dunia halusinasinya itu?” tanya Barry yang merasa meragu dalam hal ini.
“Gue sebenernya juga ragu. Tapi, kita adalah sahabatnya yang harus setia membantu Alexio dan bersama dalam keadaan apapun, kan?” jawab Andi.
“Soal anak-anak, gimana?” tanya Barry lagi
“Maksudnya?” Andi balik bertanya
“Lo tahu kan Alexio udah jarang ikut balap, jarang ke markas, dan sekolah saja sering di rumah. Gak khawatir orang bakalan tahu soal keadaan Alexio?” tanya Barry panjang lebar.
Ada nada cemas dalam semua kata-katanya. Jelas ia tak mau banyak mulut ceriwis yang akan mengomentari keadaan Alexio yang seperti itu.
“Kau tahu apa yang membuat kita tidak pernah kesulitan berteman dengan Alexio?” tanya Andi meminta jawaban pada Barry
Barry mengerut bingung mendapat tanya dari Andi, menggeleng, “Apaan memangnya?” ia malah balik tanya,.
“Sayang banget ya otak lo melemot begitu udah mau lulus.” Ucap Andi menggeleng kepalanya
“Dih bahas otak.” Sungut Barry
“Lah iyalah, kalo lo masih di awal kelas 12 aja, yakin gue kalo bakalan di hempas ke kelas C sana.” Tawa Andi mengejek
__ADS_1
“Sialan lo.” Kesal Barry
“Ya udah apa jawabannya.” Sambungnya
“Lo kan tahu sifat arogan bocah itu, doyan berantem, cari masalah, jadi kalo dia nongkrong di rumah sakit itu udah perkara biasa.” Jawab Andi enteng
Memang betul. Sekalipun terendus oleh media pun, keadaan Alexio tidak akan mudah dikulik.
Berada di Ladh Hospital adalah jaminan fisik dan mental pasien sekelas Alexio tertutup rapat dari khalayak mana pun. Dokter yang dipilih pun adalah mereka yang bisa menjaga privasi pasien, perawat pun demikian, jadi tidak akan ada cerita gosip tipis-tipis di seantero koridor rumah sakit Ladh.
“Jadi kalo di tanya mereka, jawab gitu aja?” Ujar Barry yang diangguki Andi.
“Tidak akan mudah menganggu ketenangan keluarga om Bisma, bro.” Ujar Andi menekan setiap katanya.
“Kalo gak mau.” Andi meneruskan dengan telunjuknya diarahkan pada lehernya dan menggerakkanya setengah lingkaran di depan.
Sepulang sekolah...
Sesuai janji ketiga siswa Golden School yakni Dira, Barry dan Andi.
Kini mereka sudah menapaki rumah megah milik Bisma Suprapto.
Rumah lantai 3 dengan air mancur besar menyambut kedatangan siapapun sebelum mencapai area teras rumah. Meski Dira juga tergolong mampu, bahkan rumahnya juga mewah, tapi sifat norak gadis itu kenapa justru lengket di identitasnya.
“Kalo orang gak kenal siapa lo, pasti mereka bakalan bilang kampungan deh Dira.” Celetuk Andi mencibir sikap Dira yang melongo mulai saat mereka memasuki gerbang tadi.
“Dih, julid amat.” Balas Dira
Tiba di depan carport rumah itu, mereka bergegas turun dengan tangan menjinjing bawaan yaitu buah-buahan.
Namun baru saja hendak melangkah menaiki teras....
Derap langkah panik menyambut mereka.... Linda
“Andi...!!” Panggil Linda mendapati sahabat puteranya di depan.
“Tante? Kenapa?” Andi mendekat saat melihat Linda yang sangat panik itu.
“Al... Al...” ucap Linda terengah-engah
“Kenapa Alexio tante.” Barry yang ikut menyela
“Dia,,,, dia pergi lagi tadi...” jawab Linda terputus-putus.
“Pergi?” Dira yang ikut bertanya kali ini
Linda mengangguk cepat.
“Cepet susul Alexio.. cepet.!!!” Pekik Linda tak sabaran
“Susul kemana Tante?” Andi bingung
“Dia ke tempat Xia... susul.” Lagi-lagi jerit frustasi itu menguar dari bibir Linda yang gemetar tubuhnya.
“Xia?!!!” ucap Andi, Dira dan Barry berbarengan
Gegas, mereka memutar tubuh dan menuju mobil Andi lagi...
__ADS_1
Menyusul Alexio tentunya.