Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 27


__ADS_3

“Bang.. bang” Dira heboh sendiri saat sudah mendengar derap langkah abangnya yang menaiki anak tangga.


Ia yang dari dapur segera berlari menuju Paul.


“Hmmm,a da apa sayang.” Sahut Paul mengelus kepala adik tersayangnya.


“Tanya papa buruan, buruan.” Dira memburu Paul untuk menghubungi ayahnya, dahi pemuda itu berkerut dalam,...


“Apaan sih...” ia menyentil bibir adiknya yang gemas sekali setiap mengerucut.


“Dih.. tanyai papa gimana keadaan Alexio,, buruan.” Dira bahkan menarik ponsel Paul yang ada di saku jaket.


“Nah, buruan hubungin papa.” Serahnya ponsel Paul pada si pemiliknya..


“Heh? Alexio? Katanya gak kenal. Buat apa nanyain dia.” Pancing Paul, adiknya ini benar-benar diluar prediksi, labil memang.


“Ishhh, itu,, itu dulu. Sekarang udah kenal lagi.” Sahut Dira merona.


“Kamu pacaran sama Alexio?” melihat rona diwajah adiknya, Paul menebak asal, dan tebakan itu membuat Dira salah tingkah.


Ya Tuhan!!!!


Kenapa malah malu-malu gini sih, aishhhh, yang tidak tahu malunya lagi, otaknya mengajaknya kembali ke beberapa jam yang lalu, saat pemuda itu memeluknya dan menyentuh bibirnya.


Aihhhhhh no.... otak Dira udah terkontaminasi hal dewasa.


“Dek.. woyyyy bayangin apa woyy.” Paul menarik pipi Dira saking gemasnya adiknya bertingkah linglung.


“Hah, a-apa, abang ngomong apa?” oleng,,, Dira olengggggggg!!!!!!


“Abang tanya, tujuan kamu perhatian ke Alexio itu kenapa? Apa kamu pacaran? Udah bucin lagi?” rentetan interogasi Paul sudah dimulai.


Dan Dira memberi tatapan membulat


“Bucin? Gak, pacaran pun gak” elak Dira. Statusnya gak jelas, udah dipeluk dan disosor tapi keburu itu cowok pingsan.


“Terus.” Lanjut Paul


“Dia pingsan, dan di bawa ke rumah sakit papa. Makanya aku nyuruh abang tanyain gimana kondisinya.” Jelas Dira


“Ohh gitu,,,,” sahut Paul paham, walau setelahnya seringai muncul di wajahnya.


“Kenapa itu muka? Serem amat.” Ketus Dira, tahu maksud abangnya itu.


“Ih kayak gak tahu aja.” Paul mencolek pipi adiknya.


“Aku gak ada apa-apa bang. Tadi Alexio itu pingsan pas ketemu sama aku, dan pingsannya ya aneh aja. Makanya aku bingung mau tanya ke papa tapi gak berani.” Jelas Dira.


“Ya udah ke rumah sakit aja gitu. Susah amat.” Paul memberi pilihan pasti untuk Dira,.


Betul juga, tapi,,,, tapi Dira tak berani, nanti dia diusir oleh Alexio. Siapa tahu pas di sekolah pemuda itu kebentur tembok kah, jadi oleng dan menciumserta memeluknya tiba-tiba.


“Tapi bang..” Dira memberi wajah ragu.


“Ntar abang anterin deh, kalo diusir Alexio, abang tabok aja dia,” kekeh Paul yang diangguki oleh Dira.


.


.

__ADS_1


.


Sampailah keduanya di depan ruang rawat Alexio setelah bertanya kepada ayahnya, Kairan Ladh Junior. Si pemilik rumah sakit mewah dan bergengsi di Jakarta. Dokter bedah sukses dan mendapat banyak penghargaan sepanjang hidupnya.


“Kenapa?” Paul bingung sedari tadi Dira hanya membeku di depan pintu itu. Menatap namun tangannya tergantung di udara.


“Gini dek.” Tanpa persetujuan Dira, handel pintu dibuka oleh Paul


“Bang.” Desis Dira melihat tingkah abangnya yang juga mendorong tubuhnya untuk masuk.


Ceklek.


Pintu kembali ditutup oleh Paul. Menyisakan Dira yang sudah menapakkan kakinya di ruang termewah di rumah sakit ini. VVIP plus. Milik kalangan keluarga konglomerat yang berani membayar satu malamnya saja seharga 35 juta.


Sial...


Alexio sadar pulak. Dan tatapannya malah tertuju padi dirinya pula.


PA’ULLLLLLL!!!! Awas saja kau ya!!!!!! Pekik Dira dalam hayalannya.


“Hai.” Dengan konyolnya Dira melambaikan telapak tangannya, senyumnya lebih mirip dengan cengengesan tepatnya. Absurd sekali tingkahnya.


Yang di sapa hanya menatapnya datar.


Kan bener. Kayaknya saat itu Alexio terbentur dan oleng sampai memeluk dan menciumnya. Buktinya saja setelah melakukan itu, Alexio langsung pingsan. Otaknya mungkin menerjangnya dari dalam untuk sadar bahwa itu Dira. Dira woyyy yang lo CIUM DAN PELUK, begitu pekik semua jeroan Alexio.


“Apa aku balik aja ya, malu banget ini.” gumam Dira mirip berbisik, ia malu sendiri terlebih Alexio konsisten menatapnya seperti itu.


Ok, Dira balik aja, malu banget.


Tubuhnya sudah memutar dan berniat kabur.. tapi langsung mengerem mendadak ketika...


“Mau kemana??” suara itu, milik Alexio.


Dira berbalik lagi kearah Alexio dan mengarahkan tunjuknya ke diri sendiri.


“Aku?” tanyanya.


“Siapa lagi emangnya yang ada di sini selain aku dan kamu.” Sahut pemuda itu datar.


AKU? KAMU?


Wah, masih oleng kayaknya si Alexio.


“Sini.” Pemuda itu malah melambaikan tangannya meminta Dira mendekat.


“Aku?” lagi-lagi Dira menunjuk dirinya, khawatir itu hanya imajinasinya saja, siapa tahu ia sedang dipermainkan otaknya kan?


“Iya, sini. DIRA KAIRAN LADH.” Alexio menyebutkan nama Dira lengkap agar gadis itu yakin jika yang ditunjuk itu memang dia.


Perlahan Dira melangkah.


Oh jantung, kondisikan... please jangan norak deh kalian di dalem sana. Perintah Dira untuk semua organ tubuhnya yang bereaksi lebai.


Ia sudah berdiri tepat di sisi brangkar Alexio, diam, mematung, membisu.


Alexio mengulas senyum tipis.


“Tumben diem, biasanya malu-maluin.” Ujar Alexio mencibir.

__ADS_1


“Ka-ka-kamu oleng ya?” rasa gugup menerpa Dira mengiringi ucapannya. Ia jelas menilai pemuda yang terbaring ini otaknya pasti ketonjok aspal pas balapan.


“Oleng? Kok bisa?” Alexio menambah pacu jantung Dira saat tubuh cowok itu duduk, dan mengarah tepat pada Dira sehingga tepat mengenai netra Dira secara langsung.


‘Ya Tuhan, tolong kasih aku waktu kabur tanpa ketahuan, hambamu yang tampan itu tak kuwawo sekali aku menghadapinya.’ Batin Dira frustasi


“Hei.” Panggil Alexio.


Dira mendadak pilon, syaraf bicara, syaraf otak, semua syarafnya mendadak korslet. Kesetrum sama sentuhan tangan Alexio di pipinya..


What, PIPI LO KATE??!!!!


Ya, dengan tidak tahu dirinya, maksudnya tidak tahu diri Dira sekarang bagaimana, Alexio mengelus pipi gadis itu.


Maksudnya menyadarkan Dira, itu konsep menurut Alexio. Okeh bener ya.


Tapi tidak benar menurut Dira.


“Ka-kamu, nga-ngapain.” Kan gagu tuh bocah.


“Kenapa? Hei, pipi kamu merah?” tanya Alexio.


Sudahlah, Dira gak tahu lagi. Pertahanan dirinya sudah lebur sudah. Ia yang dulunya tak tahu malu, tahan banting mengejar pemuda itu meski di tolak di keramaian sekalipun, kini bertingkah bak ayam sayur yang dah kematengan.


Melembek.


Tubuhnya refleks mundur, namun malah oleng.


“Hei.” Sigap Alexio menarik tubuh Dira, hingga posisinya sudah semakin terkikis dengan Alexio.


OH GODDDDD.


MAU HAMBAMU INI APA SEHHH


Alexio semakin mengulum senyum melihat wajah itu merona merah.


“Kamu gugup?” tanyanya yang dijawab Dira dengan tundukan dalam.


“Dira?” panggil Alexio, dan semakin dalam lah tundukan gadis itu.


Serta merta Alexio menarik tangannya, mengarahkan pada dagu gadis itu, mencubitnya dengan jempol dan telunjuk, mengangkat dagu itu menghadapnya.


“Wajah meronamu, menggodaku, Dira Kairan Ladh.”


Blushhhhh


Bukan hanya wajah merona, seketika jiwa Dira tertarik ke belakang.


Bahkan saat Alexio mendekati wajahnya pada Dira.


Gadis itu tetap membeku, pasrah? Tidak, sulit dijelaskan.


“Boleh?” eth dah malah nanya pula.


Dan gilanya lagi, Dira malah menutup matanya.


WOYY NGAPAIN MEJEMMMMMMM NENGGGGG!!!!!!


“Hiks...hiksss... Al....” isak itu terdengar lagi.

__ADS_1


Bruk!!!


“ALEXIO!!!!!!!!!!”


__ADS_2