Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 121


__ADS_3

Dome tak tinggal diam,


“Apa kata mantan sialan Dira itu? Dira kuat? Heh, lalu apa gunanya lelaki yang dekatnya.” Ucap Dome melesakkan mobil sportnya kembali ke area pelataran kampus, tujuannya adalah menemui 3 perempuan dan semua penonton di kelas Dira tadi.


Brak!


Suara pintu ditendang keras mengejutkan semua yang memiliki telinga, beruntung tidak ada dosen saat itu. Sungguh tidak beradab memang si Dome ini.


“Kemari selagi aku memanggil baik-baik, siapa yang melakukan hal itu pada kekasihku tadi.” Suara Dome memang terdengar tenang, namun sarat intimidasi keras di dalamnya.


“Aku tidak suka mengulang dua kali hal yang sudah aku ingatkan, ya.” peringatan keras Dome ditujukan kepada semua mata yang memandangnya remeh saat itu.


“Bagus, aku suka kalian memandangku seperti itu. Layaknya bocah tak berdaya, bukan? Kalian tidak tahu siapa aku, kan?” Dome melangkah satu persatu terus mengikis jarak hingga tubuhnya sudah berada tepat di depan podium kelas.


“Kenal Hiro Hitoka? Tidak?” dengus Dome saat tidak ada tanggapan ekspresi dari mereka. Apakah ayahnya tidak terkenal di Indonesia?


Aihhh, payah sekali.


“Hmm bagaimana kalau,... Yakuza?” Ujarnya mengalihkan pada clue berikutnya. Dan mendengar kata Yakuza mereka mengangguk, artinya tahu organisasi itu.


Mafia kejam yang berasal dari negeri Sakura, dan tidak ada yang berani melawannya jika tidak mau nyawa melayang atau dibuat cacat. Anggotanya saja jika melakukan kesalahan akan dihukum potong jari, tegas sekali kan?


“Tahu? Bagus. Itu milik ayahku, Hiro Hitoka, pimpinan Yakuza.” Bangga Dome memberi tahu. Namun sayangnya, bukan ketakutan yang diperoleh Dome, justeru semburan tawa dari semua isi kelas itu.


“Pfffftttt. Hahahahahaha, konyol sekali bocah ini.” gelak tawa mewarnai pasca Dome memberi tahu identitasnya, padahal dijaga susah payah, tapi begitu diberi tahu malah diremehkan.


“Ohh, orang Indonesia memang terkenal perlu diberi bukti, baiklah, tunggu kejutan kalian nanti sepulang sekolah. Sebagaimana kalian memperlakukan kekasihku, seperti itulah kalian dibalas.” Dome tak tersinggung, ia segera melambaikan tangan, meninggalkan kelas yang masih terisi tawa membahana mereka.


Lihat saja, Dome akan mengemas kejutan itu semenarik mungkin. Bisa dipastikan mereka akan menerima dengan hati suka cita.


“Arghhhhh!!!!


“Si-siapa ka-kalian?!!!!”


“Tolonggg siapapun itu!!!!”


Mata membelalak penuh dari 20 orang mahasiswa yang tadi meremehkan seorang anak Hiro Hitoka. Mereka dicegat dan diculik lalu disekap di sebuah bangunan yang sama.

__ADS_1


Suasana mencekam, aura mematikan yang dikeluarkan pria bertato sebagai ciri khas geng Yakuza semakin membuat mereka ketakutan. Tubuh gemetar, berikut tangisan bagi para gadis yang tak tahan.


Prok


Prok


Prok


“Wah, lihat, siapa yang popoknya sudah penuh, ieuhhh tolong ganti agar tangisannya tidak memekakan telingaku.” Siluet seseorang muncul di kegelapan, 20 orang itu tidak bisa melihat karena hanya ada satu lampu yang di bawahnya ada satu kursi. Mungkin digunakan sebagai tempat duduknya atau untuk penyiksaan.


“Si-siapa kau!” satu orang mahasiswa yang berani bersuara menanyakan hal itu.


“Aku? Bukankah kita sudah bertemu tadi.” Jawabnya terkekeh, hingga bayang itu muncul.


“Kaau?!!!” mata mereka lagi-lagi dibuat terbuka lebar melihat Dome tampil di sana. Jika tadi saat di kampus, bocah itu tak ubahnya pemuda imut yang tak akan berani bermain kasar, maka beda saat ini. wajahnya sungguh penuh arogansi seorang pria.


“Ya, kan aku sudah bilang tadi. Kalian sih tidak percaya.” Jawab Dome pura-pura merajuk. Ia menaruh bokongnya di kursi. Bias wajah rupawannya semakin seksi terpapar temaram lampu itu.


“Ma-maafkan kami, tolong maafkan kami.” Mohon mereka sembari mengatupkan telapak tangan di depan dada. Meminta belas kasih Dome yang diharapkan akan mewujudkan hal itu bagi mereka.


“No, no. Prinsip Yakuza adalah, pantang diganggu. Dan kalian mengganggu milikku.” Dome menggelengkan kepalanya. Kepalanya dicondongkan ke depan. Menatap semua mahasiswa itu, lalu seringainya terbit seketika.


“Sampai bagian mana bos,” tanya mereka bingung


“Ya, anggap saja sampai sedikit lagi terlepas. Begitu saja.” Ujar Dome memperjelas perintahnya dan diangguki segera oleh semua anak buahnya.


“Tidak, tidak, ada wanita di sini. Sementara kalian pria semua.” Jerit penolakan pria dan wanita memenuhi gendang telinga Dome.


“Kalian jangan lupa. Tadi, Dira kalian perlakukan juga seperti itu, bukan? Jadi nikmati saja, bye.” Dome melenggang keluar, mengabaikan pekikan minta tolong dari 20 orang itu yang seketika teredam saat ia menutup pintu bangunan itu.


“Makanya, jadi orang jangan suka mengganggu barang orang lain.” Ucapnya, menyalakan motor besarnya dan berlalu dari sudut tempat terpencil itu. Menuju tempat di mana tujuannya kali ini selanjutnya.


Sementara di tempat lain....


“Sudah dapat kabar dari informan kita di mana Andriana di sekap?” Bisma tak sabar saat orang kepercayaannya memasuki ruang kerjanya.


“Belum tuan.” Jawab asistennya.

__ADS_1


“Kenapa kita tidak meminta bantuan Yakuza juga tuan, seperti nyonya Linda.” Ujar sang asisten itu memberi saran.


“Entahlah, aku bingung. Terlalu banyak yang aku takutkan jika mengganggu urusan papaku, orang yang aku cintai harus aku lindungi.” Jawab Bisma merasa dilema di sini.


“Anda harus tegas tuan, sebelum tuan Suprapto melenyapkan orang yang anda cintai.” Kembali sang asisten berpendapat dan ditelan Bisma sementara ini.


.


.


.


“Bawa aku menemui anak Bisma itu. Dia punya sesuatu di sini.” Dome mencium ada yang mencurigakan dari Alexio, dari anak buahnya yang bisa diandalkan, ia tahu Alexio menyimpan sesuatu yang berharga.


“Siap bos.” Sahut pengawalnya segera membawa anak majikannya menemui Alexio.


35 menit kemudian.


“Woy, Alexio!” panggil Dome, menyembulkan kepalanya dari jendela, mencegat Alexio yang hendak pergi.


“Wah, ada apa ini, seorang anak Hiro Hitoka repot-repot menemuiku, huh?” Sarkas Alexio yang baru saja hendak keluar dari markas gengnya dulu yang sekarang sudah sepi.


“Aku perlu menanyakan beberapa hal padamu.” Dome turun dari mobil dan menghampiri Alexio.


“Menanyakan suatu hal? Padaku?” Ulang Alexio mengkonfirmasi


“Iya, ayo masuk. Jangan buat tamu berbicara di luar, tidak sopan.” Dome tanpa malu melenggang menaiki undakkan tangga menuju teras tak peduli tuan rumah masih berada di bawah.


“Ck, dasar tamu tidak tahu malu.” Decak kesal keluar dari bibir Alexio


“DI sini saja. Tidak usah masuk.” Alexio duduk di teras, terserah Dome mau atau tidak.


“Oke.” Sahut bocah itu ikut duduk


“Langsung saja, apa.” Tanya Alexio enggan berbasa-basi


“Kau kan yang memberi tahu kepolisian tentang bisnis kakekmu itu? Berikut bukti kejahatan kakekmu lainnya, kan?” tembak Dome langsung menjawab.

__ADS_1


Alexio diam, ia begitu tenang, tak menampilkan ekspresi apapun, “Apa urusanmu.” Jawab Alexio


“Tentu banyak. Karena, ibumu meminta bantuanku untuk mencari keberadaan kembaraan ibumu. Dan aku yakin kau masih menyimpan harta karun lainnya yang bisa memancing kakekmu memberi tahu di mana kembaran ibumu.” Pungkas Dome


__ADS_2