
Rasa penasaran Dira sudah tak tertahan lagi ketika netranya menatap salah satu geng pembully-nya tempo hari kalang kabut mengalihkan pandangan seketika.
“Bener-bener ada yang gak beres di sini.” Ujarnya bangkit dari duduk dan langsung menuju tempat di mana wanita yang jadi pusat perhatiannya kini duduk.
“Kamu,.. apa aku ada salah sama kamu? Atau kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?” tanya Dira saat dirinya sudah berdiri di samping tempat mahasiswi itu duduk.
Gelegapan, itu yang ditangkap Dira dari sikap tubuh teman kelasnya, “Hmm, emmm, ga-gak, g-gak ada kok.” Jawabnya gugup, bahkan tatapannya saja menunduk atau ke mana saja asal tidak pada Dira.
Tak berhenti di satu orang, Dira memutar kepalanya mengitari penjuru kelasnya.
“Kalian juga, kenapa seperti ketakutan begitu setiap melihatku? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan, huh?” Tanya Dira tertuju pada semuanya sekaligus.
Bisu, tak ada yang menyahuti pertanyaannya.
“Abang aku ngancem kalian?” tanyanya menyebutkan tersangka pertama yakni Paul.
Mereka menggeleng
“Alexio?” tersangka kedua dan mereka menggeleng lagi semakin kencang
“Hmm, Dome?” tersangka ketiga dan mereka diam tapi langsung menggeleng lebih kencang lagi.
“Kalau kalian tidak mau memberi tahuku, maka bersikap seperti biasa saja.” Sentak Dira sebal, ia tak mau diberi tatapan serupa yang mengisyaratkan ia membawa ketakutan bagi siapapun yang berpapasan dengannya. Apalagi ini teman kelasnya sendiri.
“Kalian paham tidak!” karena tidak mendapat jawaban, Dira menaikan volume ucapannya dan mereka mengangguk bersama.
“Aku tidak mau jika kalian melihatku seperti melihat preman saja. Ingat itu, perlakukan aku biasa saja. Seperti manusia normal lainnya.” Sambung Dira dan diangguki mereka kuat dengan kepala menunduk juga.
“Ck, dasar. Pada cemen.” Decak Dira menggigit bibir bawahnya saking gemas dengan tingkah pola teman kelasnya yang berubah bak kerupuk disiram air, berbanding terbalik saat mereka membully-nya.
Keseharian kuliah Dira terasa monoton, saat tiba di pelataran parkir di mana abangnya sudah menunggu pun ia masih cemberut.
“Kamu kenapa dek?” tanya Paul mendekati Dira dan memasangkan helm di kepala adiknya.
“Aku merasa ada yang aneh deh bang.” Jawab Dira
“Aneh? Paan.” Sahut Paul mengembalikan ucapan Dira.
“Kayak sepi gitu ya, ini bocah pada kemana, tumben gak ada yang gangguin aku berapa hari ini.” Dira mengingat jika para pria yang biasanya mengganggunya itu lenyap bersamaan.
“Bocah? Siapa? Yang jelas sih.” Tanya Paul gemas dan mencubit pipi adiknya.
__ADS_1
“Dih sakit Paul.” Erang Dira memukul tangan Paul
“Itu si Dome, Alexio, Jonathan. Kok mereka pada ngilang, serempak lagi.” Lanjut Dira menyebut bocah yang dimaksudnya tadi.
“Mana abang tahu, lagian abang juga gak diajak sama mereka.” Balas Paul masa bodoh
“Siapa tahu mereka liburan bareng, party bareng atau cari cewek bareng-bareng kan.” Ujar Paul mengerlingkan matanya pada Dira dengan maksud tertentu.
“Kenapa itu mata?” sembur Dira
“Kamu gak cemburu tiga pria itu cari cewek lain.” Goda Paul menatap Dira penuh selidik
“Biarin aja, memangnya aku kayak gak laku aja.” Cibir Dira tak peduli
“Yakin? Oke deh nanti abang kasih tahu Alexio biar dia cepetan move-on dari adek abang dan cari cewek lain.” Padahal tadi Paul menggeret 3 pria yang disebut Dira, tapi kini fokusnya malah menyinggung penuh Alexio.
Plak!
“Ihh abang ngomong apaan sih!! Buruan balik, panas tau!” omel Dira mengalihkan pembicaraan dan Paul tertawa melihat reaksi adiknya demikian yang artinya Dira tidak rela jika Alexio bersama dengan wanita lain.
Yang sedang jadi bahan perbincangan sudah berada di negara tujuan masing-masing untuk menjalankan rencana menyelematkan Andriana berikut menghukum Suprapto.
“Tumben lo yang dateng ngurus langsung kerjasama ini, biasanya juga nyuruh si Andy.” Rekan kerja Alexio dari perusahaan lain yang kebetulan ada di Singapura tengah menyindir putera Bisma itu.
“Mau kemana setelah ini? gue ada party nih di salah satu club malam buat para kaum jetset kayak kita-kita.” Teman Alexio mencoba menawarkan untuk sejenak menghibur diri dengan berkumpul di salah satu tempat hiburan malam kenamaan Singapura.
“Gak, gue sibuk. Mau ke tempat keluarga gue di sini.” Tolak Alexio tak tertarik sama sekali.
“Kau ini, selalu saja, sekali-sekali menikmati hidup. Uang kalian tidak akan habis, belum lagi harta kakekmu, ayahmu dan juga usahamu. Hamburkan sesekali untuk foya-foya sepertiku.” Cibir rekan Alexio.
“Nanti aku donasikan kepada lo aja uang gue buat ngewakilin foya-foya gue.” Alexio bangkit dan menutup berkas kerjasama keduanya.
“Jangan sedikit, 500 juta masukkan ke rekeningku.” Kekeh pria itu bercanda, tidak serius sama sekali.
Alexio merogoh ponselnya, dan dalam hitungan detik denting berbunyi di ponsel temannya.
“Bye, nikmati malammu, dude.” Alexio melambaikan tangannya tanpa menunggu reaksi remannya itu yang sudah membelalakan matanya membaca notifikasi di ponselnya.
“Gila kau Alexio!!! dasar GILA!!!” jeritnya namun hanya ia yang mendengar, karena ruangan sudah kedap saat Alexio menutup pintu itu.
“Dasar gila, dia memang orang kaya gila. 1 miliyar, dan Cuma-Cuma.” Gelengnya melihat nominal dua kali dari candaannya tadi.
__ADS_1
Tujuan Alexio adalah kediaman kakeknya, baru saja menginjakkan kaki di perusahaan temannya, ia sudah diminta Suprapto agar mampir ke mansion miliknya dan tentu diterima Alexio tanpa pertimbangan seperti sebelum- sebelumnya.
Karena jarak yang lumayan jauh, Alexio memantau dulu progress rencananya yang sudah tersusun rapi antara ia dan Dome.
Ya, tanpa orang tua mereka ketahui, keduanya mengawasi tempat di mana Suprapto menyekap Andriana.
Jadi, selagi Alexio bersama kakeknya mengobrol ria di mansion, Dome bebas mengintai tempat itu bersama beberapa pengawalnya.
Memasuki gerbang mewah mansion Suprapto, para pelayan sudah berbaris menyambut cucu satu-satunya Suprapto itu sekaligus sang pewaris kerajaan bisnisnya.
“Selamat datang tuan muda.” Sambut mereka menundukkan kepala bersama, dan ini yang paling dibenci Alexio, diperlakukan bak putera mahkota sementara di luar sana sang kakek menyiksa orang yang berada di bawahnya.
“Al.” Suprapto ikut menyambut kedatangan Alexio, merentangkan tangannya berharap Alexio akan masuk ke dalam rengkuhannya. Namun ciri khas Alexio, ia hanya memeluk sepersekian detik dan melepas.
“Ayo kita langsung makan, kakek sudah menyiapkan menu favoritmu. Atau kau mau membersihkan diri dulu?” Tawar Suprapto tampak sumringah sekali wajahnya.
“Aku tidak membawa pakaian, jadi bagaimana mau membersihkan diri.” Jawab Alexio
“Kau lupa? Kakekmu bisa menyediakan pakaianmu dalam sekian detik. Ayo kau bisa mandi dan nanti pakaianmu akan diantar ke kamar.” Dengan bangga dan penuh kesombongan Suprapto mengatakan demikian.
Alexio mengangguk, padahal itu adalah salah satu bagian rencananya untuk memperlama keberadaan Suprapto di sini.
Tiba di kamar, Alexio mengirimkan pesan pada Dome...
Jangan sampai tercium oleh mereka, aku akan menahan kakek sampai kau bisa memastikan keberadaan sandera.
Lalu Alexio menggetarkan ponselnya dan lekas mandi. Ia tidak mau menelpon, khawatir ada penyadap di ruangan ini.
Selepas mandi, Alexio segera turun untuk menghampiri Suprapto yang berada di ruang keluarga. “Sudah selesai, ayo kita makan.” Suprapto berdiri dan mengajak Alexio ke ruang makan.
Baru 3 suap masuk ke mulut, ponsel Alexio bergetar, panggilan, Dome. “Halo Dira. Aku tidak berada di Indonesia. Kenapa?” Dome yang di ujung panggilan sempat kaget dengan ucapan Alexio tapi ia sadar jika lawan bicaranya tengah sandiwara.
“Benar ini tempatnya Alexio. ada wanita yang duduk di salah satu sudut ruangan itu.” Jawab Dome.
“Apa? Baiklah, nanti segera kalau aku balik nanti, ya.” jawab Alexio lagi. Alexio segera menutup panggilannya.
“Siapa?” tanya Suprapto menghentikan suapannya.
“Dira.” Jawab Alexio singkat
“Puteri Ladh itu?” tanya Suprapto dan diangguki Alexio.
__ADS_1
“Dia tidak selevel dengan kita, Al. Kakek akan menjodohkanmu dengan wanita berkelas.” Ujar Suprapto memberi saran.
“Tidak perlu. Aku bukan papa. Jadi tak perlu menentukan jalan hidupku.” Pungkas Alexio, menolak kakeknya tegas.