
Keesokan harinya...
“Hai Dira. Bagaimana perkembangan pasien tercintamu itu?” Haruka, sebagai dokter yang membimbing Dira selama masa magang menghampiri gadis itu yang sekarang berada di lobby perawat jaga.
“Aku semakin mencintainya, dokter Haruka.” Sahut Dira diselingi kekehannya yang tentu saja merasa geli jika membayangkan pasien yang dijulukinya bocil itu.
“Sayang sekali ia masih kecil, Dira. Jika sudah dewasa saja, sudah aku bawa ke altar dia.” tawa dokter Haruka menimpali ucapan Dira.
“Semangat Dira. Kau pasti bisa.” Ucap dokter Haruka, menepuk pundak Dira sebagai bentuk motivasi darinya.
“Pasti dokter Haruka, mohon bimbingannya.” Ujar Dira tersenyum.
Begitu langkahnya sudah siap menuju ruang pasien yang akan divisitasi olehnya, bocil kesayangannya sudah menghadangnya terlebih dulu.
“Dome, kamarmu masih 3 ruangan setelah ini, tunggu di sana, oke?” Dira menghela nafas ketika pemuda usia 15 tahun ini berdiri di hadapannya, tentu saja dengan matanya yang lekat menatap Dira.
Dira hanya mengerutkan dahi pertanda ia risih akan tatapan Dome, “Matamu, Dome, kondisikan.” Cetus Dira lembut namun menekan
“Hehehe, aku merindukanmu dokter, tidak bisakah kamarku duluan yang kau kunjungi?” ujarnya mengerlingkan mata
“Kau mau aku pukul hah.” Dira memeragakan hendak menggeplak kepala bocah nakal itu. Dan tawa yang menunjukkan ketampanan Dome menghiasi wajahnya, memang tidak bisa dipungkiri jika bocah itu memiliki wajah yang sangat diperhitungkan dari segi manapun, kaya, tampan, kesan badboy lekat di dirinya.
“Nah, aku akan memberikan untukmu dokter Dira, kali ini aku beri sedikit pemanis di lukisan itu.” Tangannya menyerahkan kertas ukuran A3 dan bisa ditebak apa yang tertuang di sana, pasti mengarah ke kelamin kembali
Dira menghela nafas, “Terima kasih Dome, aku menghargai lukisanmu ini.” sahut Dira menebar senyum manisnya
“Apakah semua lukisanku tidak kau buang, dokter?” tanya Dome
“Tidak, aku simpan rapi tentu saja.” Jawab Dira jujur, ia memang menyimpan rapi, bahkan sangat rapi agar tidak ada satupun orang di dunia ini yang akan menemukan keberadaan gambar menggelikan itu.
“Hanya kau yang menerima hasil karyaku, dokter Dira. Tidak seperti mereka yang jijik dan marah padaku.” Ujarnya datar, tapi Dira menangkap kekecewaan di sana.
“ya sudah, sana kembali ke ruanganmu, nanti aku akan menemuimu di sana.” Dira mendorong bahu Dome agar balik ke kamarnya namun pemuda itu menggeleng.
“No, aku mau di taman, jadi dokter Dira susul aku di sana, oke?” tanpa menunggu jawaban Dira, Dome sudah melenggang angkuh menuju taman rumah sakit.
“Dasar bocah nakal.” Dira menggelengkan kepala lalu bergegas menuju kamar pasiennya.
Ceklek!
“Selamat pagi Ayana.” Sapa Dira setelah memasuki kamar pasiennya yang duduk bersandar di ranjangnya.
__ADS_1
“Pagi dokter Dira.” Sahutnya lemah
“Bagaimana kabarmu hari ini, Ayana? Apakah sudah kau terima saran dariku waktu itu?” tanya Dira yang sudah berdiri tepat di sisi brangkar Ayana
Ayana, pasiennya diam, lalu Dira meraih tangan perempuan itu dan menggenggamnya erat. “Kau berhak bahagia Ayana, siapapun itu tidak berhak mengekang kehidupanmu.” Ucap Dira lembut
“Tapi...” Ayana meragu dalam kalimat lanjutannya
“Apapun yang kau lakukan, lakukannlah selagi Tuhan masih memberikan nafas untukmu. Mereka tak berhak menghalangi atau mengatur hidupmu. Raih kebahagiaanmu di luar sana, enyahkan cercaan keluargamu, dengan begitu kau bisabebas membahagiakan dirimu.” Nasihat Dira.
Ayana adalah salah satu pasiennya yang mengalami depresi berat dan kerap berniat mengakhiri hidupnya dengan cara apapun itu. Ia melampiaskan amarah nya karena tindakan kekerasan keluarga yang tidak terima ia menjadi transgender. Mengubah kelamin menjadi wanita.
Dan segala tindakan kekerasan, cacian bahkan ancaman membunuh pun selalu diutarakan keluarganya.
Hingga Ayana mengalami depresi akibat semua itu.
“Aku orang yang akan mendukungmu dan menerima dirimu kapan pun kau membutuhkan bantuan Ayana, kau kan sudah aku beri alamat ku di Indonesia, kan?” lanjut Dira berusaha meyakinkan pasiennya.
Hayolah, apa yang dilakukan Ayana memang salah, jelas salah. Mengubah takdir dirinya yang seorang pria untuk menjadi wanita dengan jalan operasi kelamin dan tubuhnya. Tapi, jika berada di posisi itu, bukan dengan kekerasan yang akan menghentikan perbuatan Ayana, tapi teman bicara.
Dira bukan mendukung perbuatan transgender Ayana, tapi ia berusaha membuat pria abal-abal itu memahami dan menjalani hidup yang benar ke depannya. Masalah ia mengganti kelamin itu menjadi haknya, tapi menjaga kelanjutan hidup orang yang sedang dalam masa terpuruk menjadi kewajiban Dira sebagai seorang dokter.
Dira sebagai dokter yang menangani masalah kejiwaan, memposisikan kondisi mental pasien agar sembuh dan normal, masalah ia mengganti kelamin sampai 5x pun itu hak pasiennya.
“Terima kasih dokter Dira, aku harap kau akan lulus dan menjadi dokter yang hebat ke depannya. Dan aku harap kita akan bertemu lagi di kemudian hari.” Jawab Ayana alias Takeda yang diangguki Dira.
Dan kali ini, Dira akan mengunjungi Dome kembali, langkah gontainya sudah menapaki jalan taman rumah sakit.
“Hai Dome, apa yang kau lakukan?” tanya Dira melihat Dome tampak serius dengan goresan tangannya.
“Sttt. Duduk saja dokter Dira.” Jawabnya
Dira melihat tangan pemuda itu aktif sekali menarik pensilnya hingga sketsa itu perlahan mulai terbentuk. Taraaaaa!!!! Kelamin kembali
“Bagaimana? Bagus bukan?” tanya Dome melirik Dira meminta penilaian
“Hmm, bagus, siapa yang kau gambar kali ini, Dome?” tanya Dira balik
“Itu.” Ia menunjuk sudut sisi kirinya, Dira mengikuti arah telunjuk itu hingga matanya membelalak sempurna, “Kau menggambar nenek itu, Dome, waah kau berani juga.” Ujar Dira menepuk tangan.
Nenek itu adalah pasien terbawel dan pemarah di poli ini, jadi bisa dipastikan pemuda ini akan mendapat pukulan jika gambarnya diketahui nenek itu.
__ADS_1
“Heheh.” Hanya kekehan yang menjadi jawaban Dome
“Eh, dokter Dira. Boleh aku minta bantuanmu?” tanya Dome menatap Dira
“Bantuan apa? Lagian aku belum resmi menjadi dokter Dome, jadi jangan macam-macam, tahu.” Ujar Dira memperingatkan
“Iya, aku hanya minta bantuanmu untuk mengantarku ke sebuah tempat, penting sekali.” Sahut Dome berharap penuh
“Penting? Seberapa penting untuk bocah sepertimu, hah?!!!” cibir Dira
“Menyangkut nyawa orang lain, dokter, jadi tolong ya.” menangkup telapak tangan di depan dada, Dome memohon
“Oke, nanti sepulang aku magang ya.” ujar Dira yang diangguki Dome semangat.
.
.
.
“Hei, kenapa sepi sekali jalan yang mau kau tuju Dome, jangan macam-macam ya?” Dira melirik sekitar yang tampak sepi, ada rasa keraguannya melanjutkan perjalanan ini.
“Tenang saja dokter Dira, aku tak akan berbuat macam-macam kok.” Sahut Dome menatap sekelilingnya dengan raut serius.
Tiba di sebuah tempat yang terlihat seperti bangunan tak dihuni, mobil Dira berhenti seiring Dome yang menarik handel pintu dan keluar.
“Mau kemana itu anak, huh!!” Dira refleks mengikuti hingga matanya menangkap banyak kendaraan di sana, dan jejak langkahnya mengikuti Dome...
“What!!! Ini!!!” matanya membelalak sempurna ketika di dalam sudah ramai bocah dengan senjata dan tatapan liar ketika menatap Dome yang memasuki bangunan.
“Bos datang!!!” teriak mereka menyambut Dome
“Ayo kita berperang guys!!!!!!” sambut Dome mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melirik Dira dengan mata yang dikedipkan nakal
“Mau ikut dokter Dira? Motorku dengan senang hati memboncengmu!” ujar Dome menatap Dira yang menggelengkan kepalanya tak percaya.
“BOCAH NAKAL!!!” ucap Dira penuh penekanan yang dibalas Dome dengan tawa tampannya.
Ia terjebak dalam zona bocah-bocah yang akan melakukan pertarungan pastinya, dan mundur? Dira tak yakin untuk saat ini.
“Kenapa gue harus terperangkap dalam suasana dejavu gini sih.” Gumamnya gemas.
__ADS_1
Dasar bocah nakal kau Dome!!! Mbak2 kau tipu!!!! Tak tahu kah kau kalo mbak2 itu jago sleding orang, huh!!!!!🌺🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇