Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 100


__ADS_3

Dira tidak bisa berkutik, jika saja ini lumpur, ia tidak akan masalah meski mengering sekalipun. Masalahnya ini kotoran, dipastikan tak lama lagi aroma tak sedap akan membaur bersama udara di dalam ruangan yang sudah terisi penuh oleh para mahasiswa.


Satu pesan ia kirimkan, entah otaknya kenapa memilih nama itu untuk menolongnya saat ini, dan butuh hanya sekitar 5 menit kurang, yang dikirimkan pesan akhirnya muncul.


Alexio...


Pria itu yang menjadi sasaran 119-nya saat ini, padahal bisa saja ia berteriak pada Paul sang abang untuk melesak membantunya, bukan? Otak Dira sudah tercemar kotoran di sepatunya sehingga tidak bisa berpikiran waras saat ini.


Tap


Tap


Tap


Semua mata mengikuti gerakan tubuh Alexio yang sedari ambang pintu sudah setia mengunci tatapan untuk pria itu.


Wah!!!!


Tampan sekali!


Tatapan penuh kagum, dan memuja itu dilempar dengan ikhlas untuk Alexio sepanjang ia melangkahkan kaki panjangnya menuju tempat di mana Dira duduk.


“Kenapa?” tanyanya dengan wajah khawatir tapi tetap menjaga sikap datarnya.


“Sini dulu.” Dira melambaikan tangannya agar Alexio menunduk yang diikuti pria itu kemana arah telapak tangan itu turun.


“Itu, sepatuku..” Dira tak bisa menutupi semburat merah di wajahnya saat memberi tahu alasan konyolnya meminta tolong pada Alexio.


“Oh, lepas sepatumu biar aku buang.” Ujar Alexio dengan nada perintah namun lembut.


“Hah! Lalu aku harus nyeker?” Dira memekik pelan saat mendengar ucapan Alexio yang diangguki pria itu yang fokus mengetikkan sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


“Iya, atau mau berjalan dengan kotoran menapaki tiap lantai kampus?” kalimat tanya itu ibarat sebuah tantangan bagi Dira jika tidak bersedia mengikuti anjurannya tadi.


Dira menggigit bibirnya, aishh ia salah meminta SOS sepertinya. Harusnya Dome atau Paul yang ia geret kemari.


“Tunggulah, aku sedang memesan sepatu untukmu.” Alexio langsung memberikan penjelasan pada Dira solusi dari alasannya tadi.


“Geser.” Alexio memberikan perintah pada Dira dengan gerakan dagu.


“Heumm, apa?” Dira yang tidak mengerti langsung melempar tanya dengan wajah bingung.


“Aku mau duduk jadi geseran.” Jawab Alexio yang dipahami Dira segera.


“Kamu gak ada jadwal kuliah?” tanya Dira melirik dosen sudah memasuki ruangan, beriringan dengan mahasiswa yang menatap keberadaan Alexio yang masih betah di sisi Dira.


“Hmm.” Deham Alexio sebagai jawaban.


Bisa diacungi jempol saat sang dosen menangkap keberadaan mahasiswa penyusup saat melihat Alexio di kelasnya. “Kamu, bukan mahasiswa kedokteran? Kenapa ada di sini?” tanya pria kisaran usia 50 tahunan itu penuh selidik.


“Lalu kenapa ada di sini?” tanyanya lagi


“Kekasih saya membutuhkan kehadiran saya di sini.” Satu kalimat panjang itu sontak membuat mata Dira berkedip berulang kali lalu mulutnya menganga setelah itu. Ajaib sekali jawaban itu.


“Hei.” Dira mencubit lengan Alexio di sebelahnya.


“Kekasih? Ya sudah keluar sana. Biasanya juga kekasih kamu itu sendirian setiap kuliahnya.” Merasa jawaban Alexio terlalu konyol, tentu dosen itu mengusir agar tidak mengganggu konsentrasi semua mahasiswi yang menatap Alexio ketimbang dirinya sebagai dosen.


“Maaf prof, tidak bisa. Saya tidak akan meninggalkan kekasih saya.” Keras kepala, itulah jawaban Alexio. tidak peduli jika tatapan dosen itu begitu mencekam padanya, ia hanya datar. Dasar batu memang anak si Bisma itu.


“Jika tidak mau, maka saya akan melapor pada dosen yang bertanggung jawab pada kamu.” Nada ancaman sebagai balasan dari dosen itu dilayangkan pada Alexio yang dengan santainya mengangguk sebagai jawaban.


Tanpa membutuhkan waktu, sang dosen meraih ponsel lalu menghubungi seseorang yang pastinya berasal dari gedung manajemen bisnis. Yang bertanggung jawab atas mahasiswa kurang ajar menurutnya itu.

__ADS_1


Namun, anggukan kepala dosen rupanya harus terlihat pasrah, belum lagi gerak hela nafasnya kentara sekali jika ia menyetujui sang pembicara di seberang sana.


“Baiklah, asal kamu tidak mengganggu aktifitas perkuliahan saya.” Ujarnya memberi penekanan dan diangguki lagi oleh Alexio.


3 jam mata kuliah itu bergulir dengan Dira yang fokus namun tidak untuk mahasiswi lain yang sibuk bercuri pandang pada sosok Alexio meski pria batu itu tidak membalas lirikan itu sama sekali, ia hanya fokus menatap ponselnya saja, sesekali melirik Dira yang tidak ingat akan keberadaannya meski lengan mereka bersentuhan satu sama lain.


“Baiklah, pertemuan berikutnya persiapkan semua yang saya sebutkan tadi karena kita akan melakukan quiz sebagai ujian kalian.” Tegas dosen tadi, suaranya menggelegar meski usia sudah sepuh. Suara dengung keluhan terdengar seantero isi ruangan. Karena mereka sudah mendapat banyak tugas dan harus berpikir keras untuk ujian dosen killer dan pelit nilai itu.


Beriringan dosen menghilang dari balik pintu, seorang perempuan dengan dandanan modis masuk ke dalam kelas. Cantik, tinggi, wangi serta perfect bagi kalangan perempuan itu memancing antensi semua mata. Decak kagum diberikan sepanjang kaki jenjang itu melangkah.


“Nah. Merepotkan saja.” Menyerahkan paperbag bertuliskan brand mahal itu, perempuan itu tampak bersungut pada Alexio.


“Terima kasih, nanti aku kasih bonus.” Ucap Alexio lalu mengangsurkan pada Dira di sebelahnya.


“Wah beruntung sekali kau nona, sepatu limited itu dengan enteng sekali dipesan bocah ini untukmu.” Ucapnya santai, ia melirik kaki Dira yang sudah bertukar sepatu.


“Aku pergi dulu.” Ucap Alexio, sepatu Dira sudah dibuangnya sedari tadi, dan saat Dira sudah mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya itu, Alexio menarik diri agar hengkang dari sana bersama perempuan yang rupanya pemilik brandstore ternama di sebuah toko termahal di Jakarta.


“Makasih, nanti aku ganti.” Cetus Dira tak enak hati. Ia tak menyangka jika Alexio malah membelikannya sepatu semahal itu untuknya, jadi ia akan mengganti agar tidak banyak pemberian cuma-Cuma Alexio untuknya di saat mereka saja tidak jelas hubungannya apa.


“Tak perlu, uangku tidak akan habis hanya membelikanmu sepatu murah itu.” Tampak dingin dan datar respon Alexio, tapi menurut para gadis yang mendengarnya justru terkesan Alexio keren saat mengucapkan baris kata itu.


‘Wahhh keren sekali...’


‘Iya, aku mau jadi seperti Dira.’


‘Dasar, aku pikir dia akan malu.’


‘Bagaimana ini, rencana kita gagal.’


Satu persatu mereka yang membenci Dira pun menatap sengit pada keberuntungan rival mereka itu. Padahal niatnya adalah membuat malu gadis itu dengan aroma tak sedap sepatunya, lalu ketika menginjak lantai lain pasti akan diberikan sanksi mengepel seharian.

__ADS_1


Tapi, di luar ekspektasi, ada pangeran tamvan, kaya dan keren itu yang datang menyambut teriakan minta tolong gadis itu. Dan lihatlah, semakin iri dan kesal saja mereka dan berniat menyebarkan adegan romantis itu pada situs grup kampus yang tentu membuat lawan Dira semakin banyak yang berniat mengacaukan kehidupan gadis itu agar tidak tenang setiap menginjakan kakinya di kampus ini.


__ADS_2