Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 29


__ADS_3

Sepertinya ada yang salah di sini


Ya ada yang salah.


Semuanya.


Otak Dira dan pendengarannya.


“Pacar? Terapi?” Beo Dira


“Iya, kamu teman dekatnya Alexio, bukan?” tanpa tahu sama sekali, dokter Doni malah menebak asal.


Membuat Bisma dan Linda hanya tersenyum saja mendengar percakapan itu.


“Dok, mereka tidak berpacaran, hanya teman sekolah.” Jelas Linda membantu Dira setidaknya keluar dari dugaan nakal dokter Doni.


“Oooh, berarti tahap pendekatan atau kata anak muda itu PEDEKATE, ya?” dokter Doni bertanya atau menggoda ya, kok kayaknya suka sekali membuat Dira mati kata.


“Hah!!?” Dira tertegun lagi.


Pendekatan? PDKT? Apakah mungkin


Lagi-lagi Dira mengerjapkan matanya.


“Ssttt sudah-sudah. Dokter Doni ini, nanti ketahuan sama dokter Ladh bisa dibedah loh.” Seloroh Bisma tertawa. Semakin malu lah Dira sekarang.


“Saya sudah punya pacar, dokter.” Jawab Dira.


“Aihhh itu bisa ditikung, mudahlah, betul tidak pak Bisma.” Sahut Dokter Doni enteng.


“Betul, apa yang tidak bisa dilakukan, tidak dapat normal, bisa lewat pelet online, kan? Bwahahahahah.” Tambah Bisma tergelak.


“Sabar. Mereka sepertinya perlu diobati.” Bisik Linda untuk meredakan kikuknya Dira saat ini.


“Oke, oke, cukup ya, sakit perut saya tertawa terus.” Ujar dokter Doni menekan perutnya sendiri.


“Iya, saya juga.” Sambung Bisma mengiyakan.


Lah, yang mulai dan ketawa kan mereka sendiri, Dira hanya korban godaan saja.


Aisshh kalo bukan orang tua saja, sudah Dira sleeding itu duo.


Dokter Doni dan Bisma sama-sama menarik nafas dan membuangnya pelan.


Siap masuk ke zona serius setelah itu.


“Ekhem.” Dokter Doni berdeham dulu sebagai pembuka pembicaraan.


“Begini, pak Bisma dan ibu Linda.” Dokter Doni menatap serius kepada suami isteri itu dan juga melirik pada Dira.


“Alexio sudah mulai saya berikan asupan obat untuk mengatasi gejala skizofrenianya.” Jelas dokter Doni.


“Skizo-skizofrenia?” Dira shock, ia jelas bereaksi demikian karena menyangkut ada nama Alexio di depannya.


“Dokter, apakah Alexio menderita itu?” Dira bertanya lagi.


Menatap Linda dan juga Bisma yang membalasnya dengan tatapan sedih.

__ADS_1


“Oh God.” Dira sontak berdiri, ia berjalan cepat menuju ranjang tempat Alexio masih terbaring.


“Biarkan saja.” Dokter Doni mencegah Linda dan Bisma yang hendak menahan langkah Dira.


“Tapi,..” Linda khawatir Dira akan histeris di sana.


“Tidak, ia tidak akan seperti itu.” Seolah bisa membaca pikiran Linda, dokter Doni memastikan demikian.


“Kita akan kembali membahas Alexio.” Lanjut dokter Doni, memberikan gambaran terapi yang akan dilakukan Alexio nanti.


Lain hal dengan Dira....


Ia terpaku kini di samping ranjang Alexio. Menatap iba pada pemuda itu.


Menolak diagnosa yang diberikan dokter Doni.


“Tidak. Alexio hanya sakit biasa, bukan kejiwaan.” Dira menggeleng sembari bergumam lirih, tak terdengar sama sekali.


Ia menggenggam telapak tangan Alexio. Dan itu tak luput dari penglihatan Bisma dan juga Linda yang masih mendengarkan penjelasan dokter Doni.


Dira yang seorang anak dokter senior dengan jam terbang tinggi. Tentu tidak aneh mendengar istilah dunia kesehatan.


Dan skizofrenia?


Oh no, itu pasti diagnosa salah.


Bisa saja Alexio sedang stress, kenapa dikaitkan hal itu.


Padahal, Dira sama sekali belum tahu keseluruhan dari alasan dokter Doni memberikan vonis penyakit untuk Alexio.


Skizofrenia yang dilekatkan pada gejala Alexio tidak sembarangan diberikan, karena bisa berdampak pada diri pasien dan sosialnya.


Dira kembali menuju sofa tempat ketiga orang dewasa itu berbincang serius.


“Dokter, apa yang membuat dokter memberikan diagnosa pada Alexio.” Dira menuntut jawaban dokter Doni.


“Skizofrenia kata dokter? Bagaimana jika Alexio hanya stress.” Tolak Dira dengan asumsinya yang diharapkan bisa menjadi alasan penyakit Alexio.


Dokter Doni tersenyum, bangga dengan Dira.


“Kamu belajar yang rajin, suatu saat kamu bisamenggantikan ayahmu menjadi dokter yang hebat, Dira.” Bukannya menjawab, dokter Doni malah berbicara kearah lain.


“Dok, saya butuh penjelasan.” Seolah keluarga pasien, Dira menuntut dokter Doni.


“Baiklah, ini.” kembali dokter Doni memutar video Alexio.


Mereka tidak akan khawatir Alexio akan mendengar, karena jarak merek cukup jauh.


Dira kembali menonton video itu dengan buds di sepasang telinganya agar lebih puas dengan volume kencang.


Sepanjang menonton., mata Dira liar, bibirnya bahkan sesekali ternganga dan terkatup, bibir bawah juga kadang digigit gadis itu.


Yang artinya, ia juga terkejut dengan gambaran video itu.


Menggelengkan kepala, lalu terisak pelan.


“Tidak, Alexio.” Seiring buds dilepas, ipad ditaruh di atas meja, Dira menguraikan air matanya.

__ADS_1


“Sabar, tante juga seperti itu Dira.” Linda memeluk Dira lembut.


Ia juga butuh dikuatkan, dan kini bersama Dira ia seakan berbagi kesedihan bersama.


“Maka dari itu, Dira. Apakah kamu pernah melihat lebih dari itu setiap bersama Alexio?” dokter Doni berharap ada informasi lain yang diberikan Dira.


Dira mengangguk, “Ada dokter.” Jawab Dira pelan.


“Apaitu kalau boleh tahu.?” Tanya Dokter Doni semangat.


“Alexio pernah berbicara sendiri lalu memakaikan helm sendiri saat itu.” Dira mulai menerawang ingatannya saat memergoki Alexio bertingkah aneh.


“Lalu pernah juga mengenakan jaket lain dan melepasnya.” Lanjut Dira.


Dokter Doni, Bisma dan Linda memperhatikan tanpa menyela.


“Hanya itu dok.” Tutup Dira.


“Kalau di sekolah? Apakah Alexio juga seperti itu?” dokter Doni penasaran.


“Tidak ada dokter, tapi saat di rooftop itu saja Alexio menangis dan mengucapkan XIA.” Jelas Dira.


“Andi dan Barry bisa memastikan jika Alexio tidak pernah mengucapkan nama Xia kalau di sekolah, dok.” Tambah Bisma


Dokter Doni mengangguk paham.


“Artinya baru saat itu ya, Xia muncul di sekolah.” Duga dokter Doni seraya menatap Dira lekat.


“Seberapa dekat Dira dengan Alexio kalau boleh tahu?” tanya dokter Doni membuat Dira tersentak seketika.


Mau dijelaskan sejujur-jujurnya jelas saja akan membuat harga diri Dira kembali terjun bebas. Melihat keakraban orang tuanya, akan menjadi aib luar biasa jika seorang Kairan Ladh Junior memiliki puteri yang bar-bar mengejar seorang pria.


“Dira.?” Panggil dokter Doni karena Dira hanya diam dan cemas, terbukti dari sikapnya yang resah.


Berhadapan dengan seorang psikiater tentunya Dira tahu dengan jelas, jika setiap gerak-geriknya mudah dibaca oleh spesialis itu.


Tapi tidak di hadapan orang tua Alexio.


Mau di taruh di mana mukanya setelah ini.


Bisa ill-feel nanti mereka, kan?


Puteri Kairan Ladh Junior seperti itu?


Wahhh, bagaimana nantinya.


“Dira.” Linda menyentuh pundak Dira


“Kami sebelumnya tidak ada hubungan apa-apa dokter, hanya saya yang mengejar Alexio.” Jawab Dira pelan, bahkan kepalanya tertunduk dalam.


“Tapi, kalau melihat video, sepertinya Alexio malah yang memulai kan?” dokter Doni seakan menyadarkan Dira bahwa bukan hanya dia yang bertepuk sendirian.


“Kalau begitu artinya kalian memang saling suka.” Putus dokter Doni sumringah


“Jadi, kamu bisa menemani Alexio saat terapi nanti.” Lanjut dokter Doni


“Menemani? Menemani Alexio terapi?!!!”

__ADS_1


Ting tong, tolong bagian kurir informasi di otak Dira buruan dateng, Dira butuh informasinya sekarang!!!


__ADS_2