Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 18


__ADS_3

BAB 18


“Wah memang dasarnya rendah, ya tetap aja rendah. Sudah bod-oh, liar pula sekarang.” Suara sumbang masuk ke telinga Dira saat gadis itu berjalan santai di koridor sekolah, ia yang berhasil melawati pagar belakang harus berpapasan dengan geng Preety.


“Woyy, kuping.” Sintia menambah ucapannya lagi.


Bersama Jena dan Rena ia mendekati Dira yang tetap berjalan santai.


Memberi sinyal pada dua temannya.


“Lepas, apa-apaan kalian, huh!!!” sergah Dira saat lengannya diapit dua gadis itu dan dibawa ke toilet belakang.


“Lepas!!!” Dira berontak namun dibalas tawa oleh ketiga orang itu.


“Makanya kalo Sintia ngomong itu kuping dipasang nona.” Cibir Jena mendorong tubuh Dira ke dinding.


Hari ini sekolah disibukkan dengan tugas karena para guru tengah rapat dadakan. Jadilah geng preety kelayapan di tengah kebosanannya.


“Lepas setan!!!” Dira masih memberontak, namun ia kalah, karena dua tangannya masih ditahan oleh Jena dan Rena. Sementara Sinta tergelak di depannya.


“Kok bisa-bisanya lo sama Jo sih.” Sintia mencibirnya, merendahkan diri Dira yang menjadi pacar Jonathan.


Gosip itu sudah menyebar, dan kaget seorang Dira menjadi bagian geng sekaligus pacar Jonathan yang merupakan rival Alexio.


“Lo ngasih bonus bobok bareng ya sampe Jo nerima lo?” tanya Sintia sontak membuat Dira mengumpulkan air liurnya dan menyemburkannya tepat ke wajah gadis itu.


Cuihhhhhh


“Brengsek, sialan lo!!!” pekik Sintia tidak terima.


“Jaga omongan lo. Gue bukan lo, geng kampret yang Cuma beruntung punya otak tapi minim adab.” Sindir Dira keras.


Plak!!!!


Tamparan keras bersarang di wajah Dira. Sintia pelakunya.


Setelah diludahi, ia harus mendengar ceramah tak masuk akal dari Dira.


“Jaga omongan lo. Lo sadar diri siapa lo, huh!!! Gadis liar yang mangkal di geng badung dan nakal. Wajar kalo lo dapet gelar pemuas di sana.” Sintia membalas dengan kata lebih kasar.


“Lepas!!! Gue hajar lo, huh!!!” pekik Dira.


Byur......


Tepat setelah ia berucap, air dihempas ke tubuhnya.


Dira gelagapan


“Tuh hadiah dari gue atas omongan lo ke Sintia tadi.” Decih Jena menatap sinis pada Dira.


Karena hanya Rena yang menahannya. Dira ambil kesempatan itu.


Kemarahan membakarnya.


Plak!!!


Plak!!!


Plak!!!


Satu persatu geng kamPRet itu ia libas dengan tamparan lebih keras. Hingga mereka bertiga memekik berjamaah.


“Lo mau ngebully gue?? Lo salah orang. Gue bisa jadi lebih dari kalian, camkan itu. Gue gak pernah takut sama kalian. Cuih.” Ludahnya kini dilempar ke setiap wajah ketiganya.


“Dira!!!!” Sintia siap membalas tamparan, tapi Dira menahan dan memelintir tangannya.

__ADS_1


“Jangan berani menyentuh gue.” Delik Dira, menciutkan nyali Sintia seketika.


Meninggalkan toilet sialan itu. Dira memaki.


“Sialan, brengsek, geng kampRET sialan!!” makinya.


Sepanjang jalannya, ia mendapat perhatian dari semua siswa yang berpapasan dengannya,


Bajunya basah kuyup, penampilannya berantakan.


“Dira. Dira, tambah gak bener aja hidup lo.” Sayup-sayup ia mendengar ucapan siswa yang berselisih dengannya.


Menatap rendah akan dirinya.


Lengkap sudah penderitaannya.


Ia berjanji.... “Gue bakal gantian ngebully kalian yang pernah merendahkan gue, termasuk kalian geng kamPRET.”


.


.


.


4 hari kemudian, Alexio sadar.


“Xia... Xia....” ucapnya saat yang tertangkap adalah bayang gadis itu penuh ringisan di wajahnya.


“Kemari. Lihat aku sakit.” Lirih Alexio meminta Xia mendekat, namun gadis itu pergi....


Menutup pintu dan menghilang..


“Xia!!!!” teriaknya.


Bruk... pintu dibuka keras.


Dan benar, sahabatnya sudah sadar.


Sigap tangannya meraih tombol merah yang ada di dinding dekat brangkar.


Tak lama, tim medis datang.


“Xia. Andi, Xia tadi datang. Kenapa gak lo cegat.” Alexio nampak frustasi.


Sementara Andi bingung. Apa maksud sahabatnya tadi.


“Pasien akan diberi obat penenang. Kondisinya baik-baik saja. Nanti akan kita pantau dalam beberapa jam kemudian, memastika tidak ada hal yang buruk.” Jelas dokter yang diangguki Andi.


Tak lama,,,, setelah diberikan suntika n penenang.


Alexio kembali sadar.


Andi setia menemaninya di sisi brangkarnya


Pemuda itu sibuk memainkan game di gadget miliknya.


“Enghhhh.” Suara lenguhan Alexio menyadarkan Andi.


“Alexio.” Ucapnya melihat sahabatnya sudah sadar dari tidurnya.


“Gue di mana?” tanya Alexio lirih, tenaganya belum pulih sepenuhnya.


“Rumah sakit.” Jawab Andi singkat.


“Kenapa gue bisa di sini?”

__ADS_1


“Lo jatoh dari motor.”


“Jatoh?” alexio heran


“Iya, lo kan jatoh.” Andi menjawab penuh keyakinan. Setelah ia juga menanyakan pada beberapa orang yang menonton, mereka juga menjawab yang sama.


Alexio jatoh sendiri.


“Gak, gue ditabrak.” Bantah Alexio, ia jelas mengingat jika ada motor berwarna biru menyenggol motornya.


“Ditabrak?” kini Andi yang heran.


“Iya, ada motor biru yang menyenggol gue, pakek jaket kuning, helm merah.” Jelas Alexio yakin.


“Hah!!!?” Andi mengerutkan dahinya, heran akan jawaban Alexio.


“Lo jatoh sendiri, Alexio. Cuma lo dan Jonathan yang balapan, gak ada orang lain.” Andi mengingatkan hal penting itu pada Alexio.


Lagian ciri-ciri yang disebutkan Alexio itu, jelas tak masuk akal.


Karena yang disebutkan cowok itu jelas dirinya sendiri.


Alexio hari itu mengenakan motor biru, jaket kuning dan helm merah.


“Gak, gue ditabrak. Tanya sama Barry dan anak-anak yang laen.” Alexio masih bersikukuh kalau dirinya ditabrak.


Andi menarik nafasnya berat.” Hufft. Baiklah nanti gue tanya ke anak-anak yang laen.” Jawabnya mengalah.


“Oh ya, tadi lo dari mana?” tanya Alexio tiba-tiba.


“Maksudnya?” andi tak paham


“Tadi lo baru dateng kan?” tambah Alexio menjelaskan tanyanya.


“Gak, gue nunggu di depan dari tadi.” Jawab Andi santai.


“Lo dari tadi di depan? Tapi kenapa gak nahan Xia, sih!!!” Geram Alexio akan sahabatnya.


“Xia? Xia siapa? Gak ada siapapun yang keluar dari kamar lo selama gue duduk di sana.” Jelas Andi yakin. Kalo pun ada yang keluar tentu akan melawatinya dulu.


Ia sadar saat itu.


“Xia pergi lagi kayaknya Andi, dia ninggalin gue lagi karena gak gue dengerin permohonannya waktu gue di motor waktu itu.” Lirih Alexion frustasi.


“Maksud lo?” Andi tak mengerti maksudn ya.


“Xia, dia mohon ke gue untuk gak ikut taruhan itu. Dia bahkan meluk gue di motor.” Jelas Alexio lirih.


Memeluk? Saat di motor?


“Alexio... lo itu sendirian di motor, gak ada orang laen!!!” Andi menyadarkan Alexio. Benar, sahabatnya tak sedang baik-baik saja.


Pembicaraanya bersama ayahnya Alexio kala itu rupanya ke sini arahnya...


Ia sempat ditanya mengenai kebiasaan aneh Alexio, tapi ia tak menemukan apapun kecuali Alexio yang sering mengunjungi Labirin rahasianya setiap malam lalu....


Ya, ia ingat... ia beberapa kali menangkap gelagat aneh itu, Alexio seolah tidak sendiri, ia selalu tersenyum setiap keluar dari sana, bahkan menepuk jog motor beberapa kali....


“Hei, gue pernah lihat si Alexio itu telponan, padahal baterai lowbate dan mati saat itu.” Barry, ya, Barry pernah bercerita akan hal itu, tapi Andi tak menggubrisnya...


“Alexio.... lo baek-baek aja kan?” Andi dengan penuh hati-hati bertanya pada Alexio.


“Maksud lo apaan?” Alexio heran akan pertanyaan Andi.


“Ah gak, gak apa-apa, gue salah aja kayaknya.” Sahut Andi...

__ADS_1


‘Gue bakal kabarin ini ke om Bisma, maaf Alexio. Lo gak dalam masa baek-baek aja.’ Batin Andi menatap iba pada Alexio.


__ADS_2