
Sepeninggal Andi dan Barry dari ruangannya.
Bisma Suprapto menahan kepanikan dan ketakutannya.
Mendengar kabar keadaan puteranya, Alexio. Menambah rasa frustasi dalam diri Bisma.
Belum lagi video yang ia lihat akan tingkah puteranya yang memang aneh.
Memunculkan keputusan Bisma, untuk mendiskusikan hal ini secara terpaksa kepada istrinya, Linda
Hal ini tidak bisa didiamkan saja, harus ad atindakan dari keluarganya.
“Apa maksud kamu pa?” sama seperti dirinya yang pertama kali mengetahui keadaan Alexio.
Istrinya pun memberi ekspresi yang tidak percaya.
Bisma meraih tangan Linda, menggenggamnya penuh haru.
“Begitulah ma, putera kita saat ini.” jawab Bisma.
“Mama lihat sendiri video putera kita.” Bisma menghidupkan file yang berisi video Alexio baik di rumah mereka maupun danau.
Linda dengan mata terbelalaknya. Menatap satu detik demi detik tampilan puteranya di dalam ipad suaminya.
“Pa....” bulir mutiara itu akhirnya mulai menuruni pipi mulus Linda.
Isaknya semakin menderas. Menekan dadanya kuat. Tak sanggup akan tontonan yang ia lihat di layar gadget itu.
“Gak mungkin pa.” Linda menolak semua yang ia lihat maupun dengar.
“Tapi ma begitu yang papa lihat, dan juga dengar dari sahabatnya Alexio.” Jelas Bisma. Ia saja rasanya ingin menolak semua cerita puteranya.
Siapa yang siap akan informasi konyol tentang puteranya. Tak ada, orang tua mana yang sanggup mendengar hal itu menyangkut anak-anaknya.
Mereka membisu. Bisma hanya bisa mengusap bahu Linda sembari dirinya menguatkan dirinya sendiri.
“Kita akan menanyakan hal ini kepada Kairan Ladh, sayang. Kita minta solusinya.” Pelan Bisma memulai pembicaraan.
“Apa itu artinya....” Linda enggan meneruskan, takut akan dugaannya yang diangguki oleh Bisma.
“Iya ma, kita akan membawa Alexio berobat.” Jawab Bisma yang langsung mendapat gelengan dari Linda, sang istri
“Gak pa, anak kita gak gila.” Tolaknya, mendengar kata berobat, seolah Alexio mengalami sakit mentalnya.
“Ma, bukan begitu, anak kita bukan gila, hanya, hanya sedang tak baik-baik saja.” Jelas Bisma mengartikan.
“Tapi, aku takut , pa. Takut.” Lirih, Linda kembali terisak, memikirkan nasib putera sekaligus anak mereka satu-satunya membuatu dirinya seakan kehilangan jiwanya saat ini.
__ADS_1
“Ma, kita berdua akan saling menguatkan. Bagaimana pun, Alexio adalah anak kita.” Bisma menguatkan sang istri.
“Pa... hiks hiks hiks.” Linda kembali menangis, bisa jadi sepanjang malam hanya tangisan yang akan mengakhiri harinya, bukan tidur lelap.
Sementara di lain tempat....
“Baik, baik, kau bisa langsung ke rumah sakit saja kalau begitu.” Kairan Ladh yang tengah menyantap makan malamnya menutup panggilan.
Di sisinya ada Dira dan Paul yang juga fokus dengan makan malam mereka.
“Dira.” Panggil Ladh, meski sikap Dira masih dingin, tapi puterinya sudah mau berinteraksi dengannnya walau tak sama lagi.
“Kamu kenal Alexio Bisma?” tanya Ladh menatap puterinya yang seketika menghentikan dentingan sendok dan garpunya.
Paul pun demikian, ia seketika mengingat satu nama.
Nama pria yang selama ini menjadi bahan curhatan adiknya. Alexio begitu ingatnya.
Paul ikut-ikutan melirik reaksi adiknya.
“Gak.” Jawab Dira datar. Memunculkan dugaan Paul jika adiknya tak lagi bucin akut pada gerandong tampan itu.
“Bukannya Alexio satu sekolah dengan kamu, Dira?” Kairan Ladh agak heran mendengar nama Alexio di sekolah harusnya populer.
Anak pemilik sekolah ternama dan termewah, berikut pewaris tunggal perusahaan Bisma dan kakeknya.
“Dan dirinya siswa cerdas di sana? Anak pemilik sekolah, harusnya sangat populer kan?” Kairan Ladh mengkonfirmasi. Khawatir jika puterinya salah gerbang sekolah.
“Kenapa memangnya pa?” Dira bersyukur, Paul mewakili dirinya penasaran akan Alexio yang ditanyakan ayahnya.
Sementara Paul sengaja, ekspresi adiknya jelas berkhianat dengan hati dan pikiran.
Paul tidak tahu ada masalah apa adiknya dengan Alexio, tapi sosok yang menjadi bahan pembahasan dua kakak beradik itu tak secepat itu luntur dari ingatan adiknya.
“Papa Cuma mau tanya ke Dira, apa selama di sekolah, kamu sering melihat tingkah Alexio yang agak aneh?” tanya Ladh.
Telepon yang ia terima tadi, memang benar berasal dari Bisma Suprapto yang meminta saran dan solusi akan permasalahan yang menimpa putera mereka, Alexio Bisma.
“Aneh? Aneh gimana maksudnya pa?” tanya Paul yang kembali disyukuri Dira akan rasa penasarannya.
“Ya, kayak ngobrol sendiri atau bertingkah tak masuk akal.” Jawab Ladh Junior.
“Memang kenapa pa? Papa tiba-tiba ngobrolin anak orang kayak gitu, hati-hati fitnah ntar.” Tutur Paul merasa aneh dengan ucapan ayahnya.
“Bukan begitu, orang tuanya sendiri yang ngomong ke papa.” Jelas Ladh Junior, membantah asumsi puteranya tadi.
Dira mengangkat wajahnya, menggeleng.
__ADS_1
“Gak.” Jawabnya datar.
“Memang ngomong apa orang tuanya, pa.” Paul kembali bertanya, mendadak ia turut kepo akan cerita Alexio.
“Papa gak bisa kasih tahu kelanjutannya.” Jawab Ladh pelan.
“Yaaa papa gak seru. Nanggung nih.” Keluh Paul merasa dipatahkan rasa penasarannya.
Padahal sedikit lagi, ia akan memberikan jawaban itu untuk Dira yang pasti akan mati penasaran setelah ini.
“Papa ini seorang dokter. Sudah kewajiban papa untuk profesional terhadap pembicaraan yang menyangkut informasi klien papa. Walau itu keluarga sendiri yang meminta.” Ujar Ladh.
Memang salah satu yang membuat Dira dan Paul bangga akan ayahnya adalah, profesional beliau yang mampu menjaga informasi, privasi dan data pasiennya siapapun itu.
“Oke deh, tapi tetap aja, jadi gak asik.” Sungut Paul, meneruskan makan malamnya dengan rasa penasaran memenuhi kepalanya.
Semenjak jadi incaran adiknya, apapun perihal Alexio menarik perhatiannya. Apalagi siluet dan apa yang menyertai pemuda itu memang pantas untuk dikagumi.
Jika Paul saja sebegitu penasarannya.
Lalu bagaimana dengan gadis yang masih sibuk mendentingkan sendok, garpu dan piring.
Ia sangat penasaran semua perkataan ayahnya akan Alexio.
Ada apa dengan pemuda itu,.
Tangannya boleh sibuk mengarahkan makan, tapi otaknya bekerja untuk hal lain...
Jangan-jangan......
‘Apa ini menyangkut tingkah absurd Alexio yang pernah aku lihat?’ batin Dira pura-pura serius dengan makannya.
‘Lalu kenapa minta solusi ke papa?’ Lanjutnya membatin.
‘Apa mungkin, orang tuanya mendatangi papa sebagai pasien.?’ Batinnya lagi.
‘Kalo begitu, Alexio datang sebagai pasien?’ ia tertegun akan jawaban pikiran liarnya itu.
“Dira..!!!” Paul melempar potongan brokoli kearah Dira yang seketika tergagap.
“A-a, iya, kenapa?” jawabnya kaget dikejutkan.
“Paul, jangan kebiasaan melempar makanan,. Tak baik, belum tentu besok kamu bisa makan di ruangan nyaman kayak gini.” Tegur Ladh tak suka akan aksi lempar makanan Paul.
“Maaf pa, habisnya Dira dipanggil dari tadi gak denger.” Jawabnya meringis tak enak melihat ayahnya.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Ladh menatap raut terkejut yang masih tersisa di wajah puterinya.
__ADS_1
“Gak-gak apa-apa, hanya memikirkan hal gak penting.” Jawab Dira datar namun menatap Paul tajam, kesal karena dikejutkan, jantungnya masih memompa riuh di dalam sana.
“Mikirin siapa? Alexio ya.”