
Sepeninggal Paul, 5 detik kemudian Alan yang datang. Dengan wajah khawatirnya ia menghampiri Dira yang sibuk membuka tas milik abangnya.
“Hei, kau tak apa-apa?” ia menyentuh pundak Dira lalu mengarahkannya ke kiri dan ke kanan dengan wajah cemas.
“Lepas.” Dira menepis dua tangan kekar milik pria yang selalu mengganggunya. Alan mengambil duduk di sebelah Dira, menatap penuh rasa khawatir akan keadaannya.
“Bajumu, kenapa berganti? Tadi bukan seperti ini, lalu....” Alan melirik tas selempang di hadapan Dira yang tampak mirip kepunyaan laki-laki.
“Pergilah, aku harus mempersiapkan diri untuk ujian sebentar lagi.” Usir Dira yang jengah akan perhatian Alan yang tidak dibutuhkannya.
“Aku akan duduk di belakang.” Alan tidak menuruti ucapan Dira, ia malah beranjak menuju kursi paling belakang, berjarak 3 baris dari Dira.
Selepas Alan, kini giliran satu lagi yang berjalan cepat menghampiri Dira.
“Baby!!!” pekiknya dari ambang pintu.
“Ya elah.” Ia membuang nafas kasar melihat kedatangan Dome di kelasnya. Teriakannya tentu memantik perhatian banyak orang apalagi para wanita. Pemuda yang sedang kinyis-kinyisnya itu tentu patut diperhitungkan, tampan perpaduan wajah Jepang dan Eropa serta Korea, tubuh sudah mulai atletis, putih, harum, hanya saja mereka tidak tahu kegilaan Dome yang doyan melukis kelamin perempuan.
Alan melirik dengan tajam kearah Dome, ia tentu ingat siapa bocah tengik itu. Salah satu rivalnya selain Alexio. semakin tahu siapa saja yang mendekati Dira, membuat Alan semakin bersemangat untuk mendapatkan gadis itu menjadi miliknya.
“Dokter tidak apa-apa?” tanyanya tampak sangat khawatir, dan juga membuat Dira memutar bola matanya jengah.
“Aku tidak apa-apa, sana, kalian benar-benar menggangguku.” Decak Dira risih.
“Aku akan di sini.” Dome melangkahi meja di sebelah Dira lalu mengambil duduk tepat di pojok dan berdampingan dengan dokternya.
“Dome, kau tidak ada jadwal kuliah?” heran Dira, kenapa dua orang manusia berjenis kelamin laki-laki ini begitu banyak waktu luang hingga mengganggunya sedari tadi.
“Masa bodo, aku tidak peduli” santainya Dome menjawab
“Terserah, awas saja menggangguku selama ujian, aku suntik kerongkonganmu.” Ancam Dira yang diacungi jempol serta kerlingan mata dari Dome.
“Cih, bocah tengik itu. Bisa-bisanya menggoda yang lebih dewasa darinya.” Alan kesal dengan Dome yang selalu berhasil mendekati Dira. Padahal ia tidak tahu saja jika Dome adalah pasien yang memang prioritas bagi Dira, karena sampai sekarang bocah itu belum mau diajak bicara jujur alasan ia menggambar kelamin sampai kini.
__ADS_1
Di tempat lain...
“Apa kau bilang, dia kembali lagi ke kelas?” Alexio yang sudah selesai dengan kegiatan perkuliahan pun tercengang mendengar kabar dari Roy, pengawalnya.
“Iya bos. Diantar saudaranya.” Jawab Roy.
“Mobil dan tasnya sudah kau antar ke rumahnya?” ujar Alexio membaca sesuatu dari gadgetnya
“Iya bos.” Roy mengiyakan
“Roy.” Panggil Alexio tanpa memutus netranya dari tulisan yang terpampang melalui benda di tangannya.
“Iya bos.” Kembali Roy menjawab
“Pesan tiket ke Bali malam ini. kita akan ke sana.” Perintah Alexio
“Bali bos?” beo Roy
Roy mendapat info penting dari sebuah email tanpa nama yang menyatakan bahwa tragedi yang menimpa kembaran Alexio ditulis dalam sebuah file berikut beberapa gambar yang bisa menjadi petunjuk para pelaku tersebut.
Ia memang tidak mentah-mentah menerima begitu saja informasi surat kaleng itu, tapi tidak ada salahnya jika bosnya tahu walau akan diterima atau tidak nantinya.
“Tapi bos, tidakkah kita harus mengkonfirmasi dulu kebenaran surat kosong itu. Siapa tahu hanya orang iseng yang pernah mendengar tragedi itu.” Roy mencoba mengajak Alexio berpikir sebelum langsung terjun ke lapangan.
“Konfirmasinya kita lakukan dengan melihat langsung ke sana, Roy. Masalah benar tidaknya akan tahu nanti.” Seloroh Alexio
“Tetap saja kalau tidak benar, rugi kita ke sana bos.” Roy sebenarnya hanya menggumam merutuki keputusan bosnya, tapi Alexio mendengar suara gerutuan itu.
“Rugi katamu, Roy? Itu pesawatku, bahkan 100 kali kita terbang tanpa kejelasan pun tidak akan membuatku bangkrut, Roy.” Sergah Alexio menggelengkan kepala dengan pemikiran konyol anak buahnya.
Roy hanya terkekeh mendengar penjelasan angkuh dari bosnya, ia memang hampir lupa, kekayaan putera tunggal Bisma itu memang sudah melimpah, belum lagi posisinya sebagai cucu satu-satunya seorang Suprapto yang juga memiliki usaha melebihi Bisma saja cukup mendanai keturunan Alexio sampai 10 turunan.
“Hubungi Zero Nollan Andrew kalau aku akan ke Bali.” Perintah Alexio yang diangguki Roy segera.
__ADS_1
Alexio merasa ada yang aneh dengan Roy karena bertingkah seolah kebingungan sejak tadi. “Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Roy?” tanya Alexio namun Roy melakukan dua hal bertentangan sebagai jawaban, mengangguk lalu beralih menjadi menggeleng.
“Kau tahu Roy, jika aku tarik pelatuk ini, maka bisa menembus tengkorak kepalamu.” Kata-kata Alexio sangat serius terdengar, tapi meski sering mengancam, belum pernah sekalipun itu merealisasikan ucapannya.
“Hmm, begini bos.... kekasih anda didekati oleh dua orang itu lagi.” Lapor Roy
“Kekasih? Siapa yang kau maksud, huh?” Alexio pura-pura tak paham.
“Nona Dira, bos.” Sahut Roy
“Dia bukan kekasihku, dan aku tidak peduli mau tidak didekati siapapun.” Imbuh Alexio tak ingin mengakui
“Sekarang saja bilang begitu, lecet dikit langsung dateng.” Seloroh Roy pelan.
“Aku dengar suaramu, Roy.” Geram Alexio
“Kau tidak lupa kan, jika Dira itu puteri dari orang yang telah membuat adikku menderita.” Jelas Alexio.
“Tapi dari yang kita cari selama ini, bukankah tidak ada satupun perbuatan dokter Ladh yang membahayakan nona Alexia, bos.” Roy membuka pikiran Alexio yang dianggapnya konyol tentang ketidak terlibatan Ladh.
“Apakah anda menemukan kejanggalan dalam diary nona Alexia, bos? Siapa tahu itu hanya kesalahpahaman saja. Karena kebetulan dokter Ladh saat itu bertanggung jawab mengoperasi adik anda.” Lanjut Roy memberikan argumentasinya.
“Kau terlalu banyak bicara Roy, tak baik bagi keselamatan jiwamu.” Tegas Alexio mengingatkan
“Kau hanya perlu menuruti apa perintahku. Kau ku pilih karena aku yakin kau bisa loyal dan setia padaku. Tapi jika kau terlalu banyak melewati batas, itu bukan hal yang aku sukai.” Lanjut Alexio mengingatkan posisi bawahannya itu.
Sadar akan peringatan tegas itu, Roy menunduk hormat, “Maaf bos jika saya lancang memberi pendapat.”
Alexio hanya mengangguk dengan wajah datar dan dingin merespon ucapan bawahannya. Mereka boleh mematahkan pandangan Alexio, tapi ada alasan kenapa ia kuat mempertahankan tujuannya itu.
I Gede Roni. Profil pria yang sudah tewas 13 tahun yang lalu. Bajingan brengsek yang merenggut mahkota kembarannya, berikut membuat adiknya yang belia di usianya meregang nyawa karenanya. Hanya karena dendam orang dewasa, mereka yang masih anak-anak dan harusnya bahagia, bermain dengan teman-temannya, harus pupus akibat ulah mereka.
Dan Alexio yang telah mengantongi 5 nama orang yang berkaitan langsung dengan kematian Alexia, akan dimulai dengan pria brengsek itu dulu. Beruntungnya Alexio, jejak Roni masih bisa ia gapai melalui kelalaian pria itu yang meninggalkan bukti berupa benda yang sampai saat ini tersimpan rapi di labirin milik Alexio.
__ADS_1