
“Bentar ya, aku mau nelpon abang. Takut dia nunggu lama di sekolah.” Bohong Dira mencari alasan, Alexio mengangguk setuju.
Dira menekan panggilan pada Bisma.
“Halo om Bisma.” Panggil Dira saat telponnya dijawab.
“Iya Dira.” Sahut Bisma.
“Om bisa mengecek CCTV di jalan Lingga ada pohon beringin di dekat sana.” Pinta Dira
“Jalan Lingga?!!” Bisma terbelalak mendengar nama itu....
“Iya om, Alexio dilarikan ke rumah sakit waktu itu sehabis dari jalan ini. jadi om bisa cek CCTV nya.” Pungkas Dira menutup panggilan.
Di tempat Bisma, ia yang baru akan melaksanakan meeting siang ini kini menekan tombol panggilan yang menghubungkannya langsung kepada asistennya
“Jo batalkan meeting siang ini.” ucap Bisma seraya memijit pangkal hidungnya.
“Tapi bos hari ini rapat bulanan yang aka....” belum selesai asistennya berucap sudah keburu disambar Bisma.
“Kau tidak lupakan siapa aku, Jo? Aku pemilik perusahaan ini, jadi yang menentangku segera buang ke luar.” Titah Bisma berang. Ia yang terkenal tegas bertambah menyeramkan saat dirinya marah.
“Baiklah bos. Akan saya telpon semua staf.” Jawab Jo mematuhi perintah atasan tertinggi di perusahaan ini.
Setelah itu, Bisma menekan tombol yang menyambungkanya pada asisten yang ada di depan ruangannya.
“Sella, batalkan semua jadwal ku hari ini.” titahnya tak terbantah
“Jangan membantah jika kau masih mau bekerja di sini.” Bisma segera menutup panggilan.
Kepalanya berdenyut nyeri selepas menerima telpon dari puteri Kairan Ladh itu.
“Aku bisa gila jika begini.” Serunya frustasi.
Mengambil ponselnya lalu mencari kontak, “Cepat cek CCTV di Jalan Lingga sekarang, saya tidak mau tahu hari ini sudah ada hasilnya.” Perintah Bisma tegas pada pengawalnya di seberang sana.
Hari ini ia menolak semua kunjungan kecuali pengawalnya saja, kepalanya sudah bisa dipastikan akan meledak jika ada yang membantah perintahnya.
“Alexio... ada apalagi ini nak. Kenapa kamu ke sana.” Lirih Bisma frustasi saat tahu puteranya ke sana.
.
.
.
__ADS_1
“Al.” Panggil Dira yang kembali duduk di kursi sebelah Alexio yang memejamkan matanya dengan posisi duduk bersedekap
“Jangan menyimpan kesulitanmu sendiri, bagi denganku biar aku bisa membantumu keluar dari kesulitan itu.” Dira memohon pada Alexio, terlihat dari mata gadis itu yang memancarkan ketulusan di sana.
Alexio merasakan hangat seketika
“Xia.” Ia mulai membuka kata dengan menyebut nama Xia-lun lagi.
“Di usianya yang masih belia, ia harus dilecehkan oleh guru privatnya sendiri.” Ucap Alexio lirih.
Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya, Dira bisa melihat itu. Ada pancaran luka dan marah di sana. Menguar dari tubuh Alexio.
Dira hanya mendengar, ia bertahan untuk tidak menyela.
“Di saat ia membutuhkan keberadaan orang di sisinya, tidak ada siapapun yang mendatanginya. Semua seolah sibuk dengan dunianya sendiri.” Lanjut Alexio
“Hingga....” Kata-kata itu tertahan di tenggorokan Alexio, ia terbatuk keras saking sakitnya yang ia rasakan.
Dira mengelus punggung Alexio, membantu pemuda itu meredakan batuk sekaligus nafas Alexio yang seakan terputus.
Alexio memandang hampa ke depan, tatapannya dan pikirannya seolah terbang mengudara.
“Hingga Xia depresi dan mengkonsumsi zat berbahaya untuk tubuhnya.” Lanjut Alexio.
“Xia yang malang.” Ucap Alexio
“Lalu 3 tahun yang lalu, aku tak sengaja menabraknya saat ia melalui jalan ini.” ceritanya lagi.
“Aku panik karena menabrak orang.” Raut gusar itu muncul namun langsung hilang.
“Tapi syukurlah Xia tak mendapatkan luka apapun padahal benturan itu keras.” Alexio tersenyum lega.
“Dan sejak itu, kami seolah saling bergantung, seolah masalah kami bisa diselesaikan ketika kami berbincang bersama.” Tutur Alexio meringis.
“Dan hingga saat ini, Xia masih bersama ku. Dira, aku adalah satu-satunya teman yang ia miliki.” Alexio menatap Dira dengan wajah penu kesedihan.
Dira merangkul leher Alexio dan memeluk tubuh pemuda yang bergetar saat ini tubuhnya.
“Tak apa, bagus, kau sudah membagi ceritamu, Alexio.” Ucap Dira mengelus punggung Alexio.
“Aku juga akan berada di dekatmu, bersamamu, dan membantumu melalui kesulitan apapun.” Lanjut Dira berjanji.
Dira melepaspelukan itu, dan menggenggam tangan Alexio
“Boleh aku bertemu Xia?” Dira tahu itu konyol... hei hal absurd yang diminta Dira pasti akan ditertawai banyak orang.
__ADS_1
Mau bertemu sosok delusi, kepada penderitanya langsung. GILA KAU DIRA!!!
Dira menatap wajah Alexio lekat, memperhatikan ekspresi yang diberikan ketika dirinya meminta bertemu sosok hayalan yang dibuat Alexio dalam imajinasinya.
Alexio diam, wajahnya seolah ragu menjawab setuju.
“Apa kamu takut kalau aku akan menyakiti Xia. Alexio?” itu yang bisa Dira duga, Alexio seakan melindungi sosok itu dari sentuhan siapapun. Padahal hal berupa sosok imajinatif semata, tapi begitu kuat berada di sisi Alexio.
Dan benar saja, jawaban atas pertanyaan Dira diangguki oleh Alexio.
“Maaf. Dan please” aishhh kata keramat itu muncul kembali.
“Aku tak akan menyakiti Xia, Alexio, janji.” Dira menegakan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V setelah menurunkan 2 jari itu Dira mengangkat jari kelingkingnya sebagai bentuk ikatan janji pada Alexio.
Saat ini, Dira seakan berhadapan dengan pemuda berusia bocah. Wajah Alexio kembali ragu.
“Bukankah kau pernah mengatakan jika Xia adalah gadis yang baik dan manis?” Dira mencoba membujuk Alexio agar percaya padanya. Ia kan sudah berjanji untuk masuk ke dalam dunia yang Alexio ciptakan dan dilindunginya dari sentuhan siapapun.
Sebagai bagian dari terapi yang mengawali dengan tahu dunia penderitanya.
Untuk penderita skizofrenia, mereka tergolong orang yang terlihat normal layaknya orang-orang lainnya. Mereka bisa beraktifitas, berkomunikasi, mencintai, bekerja, sekolah.., hal umum itu mereka juga bisa lakukan.
Hanya saja, saat mereka terpicu alam bawah sadarnya terhadap penyebab penyakit tersebut maka episode dari skizofrenia akan berkembang. Dan menyebabkan penderita akan semakin sulit disembuhkan.
Dan yang dialami Alexio pun sama, tahap delusi pendengaran, penglihatan sudah ia alami dan kini Xia merasuki dunianya sudah semakin jauh hingga tanpa sadar Alexio menjelma menjadi sosok hayalannya. Seperti yang pernah dilihat Bisma, Alexio mengenakan pakaian anak perempuan, luka tanpa tahu penyebabnya, merasa cemas dan takut berlebihan.
“Al.” Panggil Dira.
“Percaya padaku. Dan kenalkan aku dengan temanmu yang bernama Xia itu, karena aku akan menyembuhkan luka yang dialami Xia selama ini.” pinta Dira tulus.
Alexio menatap lekat Dira, ia mengangguk pelan.
“Terima kasih.” Dira memeluk tubuh atletis Alexio.
Malamnya.....
“Ini bos rekaman yang anda minta.” Pengawal bertubuh besar itu menghampiri Bisma yang sudah berada di ruang kerja di rumahnya.
“Kau boleh pergi.” Perintah Bisma mengusir
Tak lama, Bisma menaruh benda kecil itu dalam laptopnya... rekaman CCTV yang disarankan Dira siang tadi.
Dan ketakutaan Bisma muncul kembali...
Saat dilayar laptopnya, terekam Alexio yang berkelahi di malam itu,,, tapi ia memukul dirinya sendiri.
__ADS_1